NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obsesi Sang Nona Besar

Matahari siang menyinari jalur pejalan kaki di taman kampus yang asri. Di kanan-kiri jalan setapak yang bersih, deretan gedung tinggi bergaya arsitektur klasik kokoh berdiri, kontras dengan rimbunnya pohon-pohon besar yang memberikan keteduhan di sepanjang jalan. Shasha dan Bima berjalan beriringan di bawah bayang-bayang dedaunan hijau, masing-masing dengan buku catatan di genggaman mereka.

“Astaga, aku menjawab salah di soal nomor tujuh tadi!” keluh Bima setelah memeriksa catatannya. Pandangannya terus membaca kata demi kata di sana, seolah berharap jawaban itu bisa berubah dengan sendirinya.

Shasha terkekeh melihat wajah frustrasi sahabatnya. Ia sendiri memilih menutup buku catatannya rapat-rapat. Ia tidak ingin menambah beban pikirannya setelah ujian harian yang cukup menguras otak tadi.

“Tutup saja bukunya. Kau hanya akan tambah sakit hati jika terus melihatnya.”

Bima mendengus kesal, namun akhirnya menurut. Ia memasukkan bukunya ke dalam tas dengan gerakan lesu.

“Seharusnya aku belajar lebih giat lagi semalam.”

“Sudah, sudah. Yang penting kau sudah berusaha semaksimal mungkin,” hibur Shasha sambil menepuk lengan Bima pelan.

Bima mengangguk lemah, namun perhatian mereka tiba-tiba teralih. Pandangan keduanya tertambat pada sosok wanita yang berjalan lurus ke arah mereka dari ujung jalan taman.

“Aish... dia lagi,” gerutu Bima pelan. Ia segera memalingkan wajah ke arah deretan bangku taman kayu di sisi jalan, berusaha menyembunyikan keberadaannya seolah sedang sibuk mengamati rumput.

Shasha menahan tawanya melihat reaksi panik Bima. Ia kemudian kembali menatap wanita yang sedang melangkah mantap itu. Wanita itu tampak sangat cantik dan feminin, mengenakan terusan abu-abu tanpa lengan bermotif kotak-kotak yang dipadukan dengan kemeja putih berlengan balon. Detail pita pada pergelangan tangan dan rok dengan ujung berserabut memberikan kesan modis sekaligus manis.

Shasha membatin dalam hati. Ia yakin pakaian itu pasti sangat mahal, mungkin harganya setara dengan biaya hidupnya selama beberapa bulan di kota ini. Kepercayaan diri wanita itu memancar dari setiap langkahnya yang teratur.

“Bima!” panggil wanita itu sambil melambaikan tangan. Senyumnya terkembang sangat lebar. Ia sedikit berlari kecil, memastikan pria itu tidak memiliki celah untuk kabur seperti yang sudah-sudah.

Lana Giordino. Dialah wanita itu.

Lana sudah mengenal Bima sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Meskipun di universitas ini mereka mengambil jalur yang berbeda karena Lana di jurusan Seni, kekagumannya pada Bima tidak pernah pudar. Sudah berulang kali ia menyatakan perasaan, dan sebanyak itu pula Bima menolaknya.

Namun, Lana bukanlah tipe wanita yang mengerti kata menyerah. Lahir di keluarga Giordino yang memiliki segalanya, ia terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau. Dan saat ini, yang ia inginkan hanya satu yaitu Bima.

Lana berhenti tepat di depan mereka, napasnya sedikit terengah namun matanya berkilat senang, “Akhirnya aku menemukanmu! Kenapa ponselmu susah sekali dihubungi?” tanyanya manja, sama sekali mengabaikan keberadaan Shasha di samping Bima.

“Lowbat,” jawab Bima dengan nada acuh, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Lana.

“Ck, kau pasti berbohong,” ucap Lana sambil menyilangkan tangan di depan dada, matanya memicing curiga.

“Ya, itu kau sudah tahu,” sahut Bima datar yang seketika membuat Lana mengerucutkan bibir karena kesal.

Shasha yang merasa terjebak sebagai orang ketiga di tengah ketegangan itu, mulai merasa tidak nyaman. Ia merapatkan tasnya dan perlahan mundur, “Emm... kalian lanjutkan saja mengobrolnya. Aku permisi.”

“Tunggu, Shasha!” Bima dengan cepat menarik lengan Shasha, menahan langkah gadis itu.

Lana yang melihat pemandangan itu, merasa hatinya terbakar karena api cemburu. Ia menatap Shasha dengan tatapan tajam, seolah ingin melubangi wajah gadis itu dengan kemarahannya. Shasha yang bisa merasakan hawa menusuk dari tatapan Lana, segera melepaskan tangan Bima dengan canggung.

Bima tampak kecewa, namun akhirnya ia memilih untuk melepaskan lengan Shasha.

“Bima! Kenapa kau malah mencegahnya pergi? Apa kau sengaja ingin mengabaikanku demi dia?” ucap Lana dengan suara yang mulai meninggi.

Bima berdiri tegak, memutar tubuhnya untuk menatap Lana dengan tatapan paling serius yang pernah ia tunjukkan, “Lana. Sudah berulang kali kukatakan, aku tidak pernah menaruh perasaan apa pun padamu. Hanya teman. Sebatas itu.”

“Tidak!” Lana menyambar tangan Bima untuk digenggam, tapi Bima segera menariknya menjauh, “Aku tahu kau sebenarnya menyukaiku. Jika tidak sekarang, aku akan membuatmu menyukaiku nanti. Berikan aku satu kesempatan saja, ya?”

“Bisakah kau bangun dari mimpimu itu?” tanya Bima dengan nada menyindir yang sangat dingin.

Bukan hanya Lana yang terkejut, Shasha pun ikut mematung. Kata-kata Bima barusan terdengar sangat tajam, seolah-olah seluruh kekesalan yang ia pendam selama ini tumpah begitu saja.

“Aku tidak pernah menyukaimu. Jangan membuang waktumu untukku. Di luar sana, kau masih bisa menemukan pria lain yang mencintaimu dengan tulus,” lanjut Bima lagi.

Bukannya marah atau menangis, Lana justru menyunggingkan senyum kemenangan, “Nah, benar kan? Kau masih memedulikanku. Kau berharap aku menemukan pria yang mencintaiku dengan tulus. Dan aku sudah menemukannya. Itu kau, Bima. Karena cinta selalu berawal dari kepedulian.”

Bima memalingkan wajahnya ke arah lain, rasa kesal mulai menggerogoti dadanya. Ia benar-benar tidak habis pikir, terbuat dari apa sebenarnya kepala Lana hingga logika sederhana pun tidak bisa menembus egonya.

Shasha yang merasa suasana semakin panas, akhirnya memilih untuk pergi dengan berlari kecil agar Bima tidak memiliki kesempatan untuk mencegahnya lagi.

“Aku permisi!”

“Shasha! Tunggu!” Bima hendak mengejar, tapi dengan sigap Lana menarik lengan pria itu kuat-kuat.

“Bima...” rengek Lana dengan suara manja, “Jangan tinggalkan aku sendiri di sini.”

“Lepas!” Bima menyentak lengan Lana dengan kasar hingga wanita itu merintih pelan. Tanpa memedulikan Lana lagi, Bima berlari sekencang mungkin mengejar punggung Shasha yang mulai menjauh.

“Ishhh!” Lana mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Ia menatap punggung Bima yang sedang mengejar Shasha dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam, “Awas saja kau, wanita murahan! Beraninya kau membuat Bima terus mengejarmu dan mengabaikanku!”

......................

Di bangunan megah milik keluarga Giordino, suasana sore itu tampak tenang. Di dalam ruang tamu yang luas dengan pilar-pilar marmer yang tinggi, Belinda Cooper tengah bersantai. Ia sedang asyik membaca majalah sambil sesekali membenarkan letak kacamata yang bingkainya terbuat dari emas murni.

“Astaga, berita panas tentang perselingkuhan lagi,” ucapnya dengan nada antusias. Meski rambutnya sudah beruban, hal itu sama sekali tidak menurunkan kesukaannya dalam menikmati majalah bertema gosip dan drama kehidupan kelas atas.

BRAK!

“Ya Tuhan!” Belinda berjingkat kaget. Jantungnya serasa akan melompat kala pintu rumah yang besar itu terbuka dengan sangat kasar hingga menghantam dinding.

“Lana?” tanya Belinda setelah menyadari cucunya-lah yang datang. Namun, ia mengernyit melihat wajah Lana yang ditekuk penuh kekesalan. Belinda segera meletakkan majalahnya di atas meja kaca, lalu melepaskan kacamatanya dengan perlahan.

Lana melangkah dengan gontai, sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di atas lantai marmer sebelum ia menjatuhkan diri ke sofa dengan kasar.

“Ada apa denganmu? Kenapa pulang-pulang sudah seperti singa kelaparan?” tanya Belinda bingung.

“Aku sedang sakit hati, Nek!” seru Lana sambil menyandarkan kepalanya dengan frustrasi.

Belinda bangkit dari duduknya, lalu berpindah ke samping cucunya. Ia mengelus lengan Lana dengan lembut, berusaha menenangkan emosi wanita muda itu.

“Siapa pria yang berani membuat cucu kesayangan Nenek sakit hati? Katakan sekarang. Biar Nenek yang suruh orang untuk menghajarnya.”

“Bima! Pria sialan itu, yang dengan beraninya mengambil hatiku dan tidak mau mengembalikannya! Aish! Membayangkan wajahnya saja sudah membuatku merindukannya setengah mati,” adu Lana dengan nada bicara yang campur aduk antara benci dan cinta.

Belinda mendengus keras, tangannya berhenti mengelus, “Pria itu lagi. Kupikir ada pria lain.”

Lana menoleh cepat, matanya membelalak, “Kenapa Nenek malah terdengar kecewa?”

“Kau pikir saja sendiri. Dia sudah berulang kali menolakmu secara terang-terangan di depan umum. Kenapa kau terus mengejarnya seperti orang tidak punya pilihan? Setidaknya, pikirkan sedikit harga dirimu sebagai seorang wanita.”

“Nenek sama saja dengannya! Tidak pernah ada yang mau mengerti apa mauku!” Lana bangkit dengan emosi yang meluap. Tanpa mendengarkan jawaban neneknya lagi, ia berlari menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas.

“Astaga anak itu... benar-benar membuatku jantungan,” ucap Belinda sambil mengusap dadanya, menatap kepergian Lana dengan gelengan kepala.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!