"Hei Betina! Dia Jantan ku! Apa kau berani, menyentuh Milikku?" lembut, namun tajam.
Qingling, gadis dengan sejuta pesona yang selalu menampilkan wajah datar tanpa ekspresi setelah kematian kakeknya.
Tanpa disadari ia telah melakukan perjalanan waktu karena ulah seniornya, hingga sampai zaman dimana, para Orc atau Beastman berkuasa.
"Jantan Tampan, Manis, Arogan, Penurut dan suka Mengintimidasi aku memiliki semuanya."
"Mereka memaksaku untuk kawin dengan mereka semua? yang benar saja!"
Penasaran dengan kisah Qingling dan Jantan Tampan disekelilingnya? Bukan hanya Percintaan, tapi juga tentang Hubungan, Keberanian, Kejujuran, dan Balas Dendam.
Yuk! Simak kehidupan Qingling di Dunia Binatang.
No Plagiat. Karya murni dari isi pikiran Author. Jika ada Kesamaan Nama atau Tokoh, Mohon di maafkan..
Selamat Membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hua chia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Fenomena Langit
Smirk terlihat di sudut bibirnya. Saat melihat wajah pucat dan bingung betina kecil di depannya. 'Ah, lucu sekali.' batinnya menikmati, wajah ketakutan Qingling.
"Siapa kau... Ahh kau... L-lepaskanh Akuh Ahh... Hentikanh..." Desahannya semakin tak karuan saat sosok itu menghentakkan setengah pedangnya.
Baru kali ini Qingling di hadapkan oleh kenikmatan dan ketakutan. Apa saat ini, dirinya telah berselingkuh dari Yuze. Bagaimana caranya menjelaskan kepada Yuze kedepannya, membayangkan wajah kecewa Yuze membuat hatinya sesak.
Melihat betina itu yang tidak memperhatikannya, membuatnya merasa kesal.
Qingling tersentak. "Akh..." jeritnya tertahan saat Orc di depannya menghentakkan pedangnya dengan kasar hingga, masuk sempurna.
Nafasnya tersendat di tenggorokan, tubuhnya menjadi kaku saat pedang panjang itu memenuhi areanya. Qingling mencengkram erat lengan Orc di depannya seolah, menyalurkan rasa sakit kepadanya.
'Oh, aku yang pertama? Menarik' ia mendekap dan menciumi tubuh kecil itu untuk menenangkannya.
Setelah mendapatkan ketenangannya kembali. Qinging mendorong kasar, tubuh Orc di depannya namun tubuh itu diam tak bergeming dan masih mendekapnya.
"Ku mohon lepaskan aku... Aku berjanji tidak akan mengadu kepada Ketua Suku bahwa kau telah memaksaku." suaranya bergetar, menahan ketakutan dan hasrat yang bergejolak.
Orc itu menaikkan sebelah alisnya. "Hmm?" seolah tak peduli dengan ucapan Qingling.
Di sisi lain...
Bangunan terbuka dengan atap langit, yang di penuhi bintang serasa mencekam saat aura dingin menguar dari sosok Orc yang terlihat, sangat marah dengan tangan mengepal.
"Lihatlah... Ini sudah tercatat dalam sejarah. Mau tak mau kau harus menerimanya" ucap Orc tua, kepada seseorang yang sedang memejamkan matanya menahan rasa sesak di hatinya.
Keheningan terjadi di antara mereka. "Baiklah, demi kebaikannya... Aku akan... Menerimanya" ucapnya lelah namun tulus.
Beberapa Orc tua menghela nafas lega, saat sosok itu menerimanya.
Saat akan menjelaskan rencananya. Mereka semua di buat bertanya-tanya dengan fenomena langit yang sangat aneh.
Langit seolah terbelah, menjadi dua di satu sisi berwarna perak kebiruan, yang di taburi bintang dan sisi lainnya berwarna hitam kemerahan, dengan kilat yang menyambar.
Mereka di buat takjub. Saat dua sisi yang berbeda itu mulai menyatu menjadi satu. Gabungan warna langit itu, mengeluarkan semacam aliran air yang turun dengan teratur ke satu titik.
Salah satu dari mereka tertawa gembira seolah, mengetahui sesuatu. "Apa kalian tau? Itu adalah gelombang energi yang di kumpulkan langit, selama lima ribu tahun." suaranya terdengar bahagia, namun di hatinya ada ketakutan tersendiri.
Mereka— yang terdiri dari satu Orc muda dan tiga Orc tua mengernyit heran, tak mengetahui maksud perkataan dari Orc tua yang merupakan Kura-kura.
Qingling tak mengerti, apa yang sedang terjadi dengan tubuhnya. Setelah beberapa warna menerobos masuk ke tubuhnya dan Orc itu, ia merasakan api yang membakar tubuhnya jauh, lebih kuat dari pada sebelumnya.
Orc itu terlihat menggeram kesakitan. Saat beberapa warna itu menembus kepalanya, hingga membuatnya tertunduk dan mendekap erat tubuh Qingling.
Sesaat ia membeku. 'Apa... Aku naik level?' pikirnya tak percaya merasakan terobosan sampai dua kali.
'Bibir bawahku... Tidak sakit lagi' serunya bahagia melihat kesempatan untuk melarikan diri.
Kakinya mendorong tubuh keras Orc itu, dan...
Berhasil.
Ia berenang dengan sangat cepat, tanpa menoleh kebelakang. Bibirnya melengkung membentuk senyuman.
Wajahnya mengeras saat Qingling menendangnya, dengan satu gerakan ia meraih kaki Qingling menariknya, masuk ke dalam telaga.
Tak mau kalah, Qingling meronta menendang Orc itu yang terlihat seperti hantu dengan mata yang berubah menjadi merah darah. Ia ketakutan hingga lupa cara berenang. 'Astaga, dia bukan Orc tapi hantu.'
Melihat betina kecil itu, kesulitan bernapas. Ia menciumnya, memberikan nafasnya dan membawanya ke ujung telaga yang lebih gelap, hingga sinar bulan tak bisa menembusnya.
"Hai, ku mohon lupakan apa yang terjadi saat ini. Pasangan ku pasti mencari ku" ucapnya lirih dengan nafas tersengal-sengal.
Alisnya terangkat sebelah tertarik. "Hmm?" suaranya terdengar berat, namun rendah.
Hening.
Keduanya terdiam menatap satu sama lain.
"Apa yang ku dapat."
Qingling di buat merinding sebadan bukan, karena ketakutan tapi karena sensasi aneh yang menggelitik hatinya.
Hatinya berdebar tak karuan. "Aku tak akan mengadukan mu kepada ketua suku." ucapnya dengan hati-hati.
Tawa kecil terdengar, seperti musik kematian. Suaranya terdengar berat dan tidak bersahaja. "Aku tak takut" ucapnya rendah tepat di telinga Qingling.
"Lalu, apa yang kau inginkan agar mau melepaskan ku?" cukup. Kesabaran Qingling sudah habis, api di hatinya semakin bergejolak saat Orc itu meraba pahanya tanpa henti.
Mata merah darah itu terlihat membara seperti api. "Layani aku" ucapnya dengan sengaja, menjilat telinga Qingling.
Dua kata itu membangkitkan kemarahan di hati Qingling. "Aku tak mau, aku akan membunuhmu" suaranya terdengar bergetar, namun tajam.
Sekali lompatan ia keluar, dari dalam air dan mulai menyerang Orc itu dengan membabi buta. Gerakannya semakin lincah mungkin, karna tak mengenakkan pakaian. Wajahnya merah padam saat Orc itu dengan sengaja meremas gunungnya di sela pertarungan.
Sudut bibirnya berkedut, antara tidak percaya dan menikmati pemandangan manis di depannya. 'Sejak kapan betina anggotaku pintar bela diri?' batinnya kebingungan tapi, ada rasa puas tersendiri.
Qingling akui, Orc di depannya sangat kuat. 'Tidak ada jalan lain, aku harus kabur' jika di lanjutkan lagi sama saja ia mengantarkan tubuhnya ke Orc itu.
Melihat gelagat Qingling yang akan melarikan diri. Ia menarik pinggang kecil itu, hingga menabrak dadanya.
Tiba-tiba dari tangannya muncul bola putih transparan yang menampilkan adegan panasnya dengan Qingling.
Qingling terpaku. Lidahnya kelu seakan, mengerti maksud Orc di depannya menunjukkan adegan itu kepadanya.
Aku di ancam.
Seakan mengerti tatapan membunuh Qingling, ia menunduk, membisikkan sesuatu. "Layani aku."
Tangannya mengepal erat, ia merasa bodoh sesaat. Kemana otak pintarnya yang ia banggakan.
Jika ia menyetujui tawaran itu, Yuze pasti tidak akan tau. Jika ia tolak, Yuze pasti akan kecewa kepadanya. 'Apa yang harus aku lakukan' batinnya terisak, merasakan sakit kepala dan dingin saat angin malam menerpa tubuh polosnya.
Orc itu menyenderkan tubuhnya, di pohon. Ia menikmati ekspresi putus asa, Qingling yang menghibur hatinya. Smirk terlihat di bibirnya, saat betina itu dengan gemetar berjalan ke arahnya.
Qingling mendongak menatap Orc itu, yang juga menatapnya. Ia mengusap lembut dada keras di depannya dan memberikan kecupan ringan di sekitarnya.
Saat akan mengangkat tangannya. Qingling tersentak, saat Orc itu menariknya hingga jatuh di atasnya.
Mereka terdiam, menatap satu sama lain hingga tanpa sadar bibir mereka semakin mendekat. Qingling membalas ciuman panas itu, mereka saling bertukar saliva hingga tanpa sadar, Qingling hanyut dalam permainannya.
Ia melenguh nikmat. Saat Orc itu melumat gunungnya dan memainkan pucuknya. Tangannya mencengkram bahu lebar Orc itu, saat ia merasakan pedang itu mencoba masuk.
"Akh, sakit..." ia mendongak keatas, merasakan sakit yang menjalar ke perutnya saat pedang itu masuk sempurna.
Orc itu mendiamkan cukup lama pedangnya. "Gerakan pinggulmu" suaranya terdengar lirih, namun menggoda.
Mendengar perintah itu, dengan hati-hati Qingling menggerakkan pinggulnya. Rasa sesak dan sakit itu membuatnya tak bisa berpikir jernih.
'Ini... Menyentuh rahimku.'
Entah dapat keberanian dari mana. Qingling mulai mendesah, setengah teriak merasakan kenikmatan yang tidak bisa ia jelaskan.
Perlahan namun pasti, gerakan Qingling semakin cepat. Merasakan pedang itu, semakin mengembang di dalam bibir bawahnya, ia menariknya agar tidak keluar di areanya, namun tindakannya kalah cepat, saat Orc itu menekan pantatnya dan menggoyangkan pinggulnya dengan sangat cepat.
Qingling panik. "Ahh... Jangan kel..." ucapannya terpotong saat merasakan lava hangat itu, mengalir masuk ke rahimnya.
Ia menengadah nikmat, saat Orc itu memperdalam pedangnya, hingga membuat tubuhnya tersentak berulang kali.
Orc itu, menindih Qingling dan memompa pedangnya lagi yang membuatnya mengerang kenikmatan. 'Sial, pedangku berdiri lagi hanya karna mendengar desahannya.'
Tanpa mereka sadari, dari baliknya kabut yang menutupi. Ada sosok tinggi yang menyaksikan kegiatan itu dengan wajah tanpa ekspresi.
"Dewa Binatang, kau mempermainkan ku, kenapa harus bocah idiot itu dulu?"
semangat tor.. /Determined//Determined/
ditunggu ya kelanjutannya author 🤭
jangan lama2 soalnya penasaran nungguin yaa author
jangan lama2 thor
jangan lama-lama😊😊😊😊