Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Dalam kegelapan yang menyelimuti pandangannya akibat kain dasi yang menutup matanya, seluruh indra peraba Liana menjadi jauh lebih sensitif.
Ia bisa merasakan sentuhan jemari kokoh Kenzo yang sedang membopong dan membawanya ke kamar pribadinya.
Sesampainya di kamar, Kenzo kembali mengikat kaki Liana.
Kemudian Kenzo mulai bermain di sepanjang punggungnya yang tegang, menelusuri lekuk tulang selangkanya dengan usapan yang lambat namun menuntut kepatuhan.
Kenzo mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan-kecupan basah dan panas di pundak hingga naik ke tengkuk Liana, membuat wanita itu merinding ketakutan.
Liana mencoba menggeliat pergi, namun rantai di kakinya membatasi gerakannya dengan kejam.
Tanpa memberikan jeda sedikit pun untuk Liana bernapas, Kenzo langsung mencengkeram rahang wanita itu dengan satu tangan, lalu membungkam bibirnya dengan ciuman yang kasar dan menuntut.
Ciuman itu tidak lagi memiliki kelembutan seorang dokter; itu adalah ciuman penuh dominasi dari seorang pemimpin Black Cobra yang sedang menghukum mainannya yang membangkang.
"L-lepaskan aku..." rintih Liana di sela-sela ciuman itu, suaranya tercekat oleh tangis dan pasokan udara yang menipis.
Kenzo menjauhkan wajahnya hanya beberapa sentimeter, membiarkan napas panas mereka beradu dalam jarak yang begitu intim.
"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kamu mengerti bahwa kamu tidak bisa lari lagi dariku," bisik Kenzo dengan suara bariton yang serak dan penuh ancaman posesif.
Setelah melampiaskan amarah dan hasrat dominasinya, Kenzo menghela napas panjang. Ketegangan di tubuh kekarnya perlahan mengendur.
Dengan gerakan yang tak terduga, ia merebahkan tubuh tegapnya di atas kasur, meletakkan kepalanya tepat di pangkuan kaki Liana yang terikat rantai bulu.
Kenzo memejamkan matanya, memeluk pinggang Liana dengan erat seolah menjadikan wanita itu sebagai bantal pribadinya, mengunci Liana agar tidak bisa bergerak ke mana pun sepanjang malam itu.
"Kenzo, aku lapar..." gumam Liana pelan. Suaranya terdengar sangat lemas karena tenaga dan emosinya telah terkuras habis sepanjang hari ini.
Mendengar suara parau itu, Kenzo perlahan membuka matanya.
Ia mendongak, menatap wajah Liana yang masih tertutup dasi hitam miliknya.
"Aku juga, Sayang," sahut Kenzo dengan nada suara yang melembut secara tidak terduga. "Dari pagi sampai sekarang, aku juga belum makan."
Liana tertegun mendengar perkataan Kenzo yang begitu santai mengucapkan hal tersebut.
Rasa heran seketika merayap di hatinya. "Kenapa kamu tidak makan, Kenzo?" tanya Liana lirih, setengah tidak percaya jika pria berkuasa seperti dia bisa melewatkan makan seharian.
Kenzo terkekeh rendah, mengusap perut Liana dengan ibu jarinya dengan gerakan memutar yang lembut.
"Kamu dan anakku belum makan, jadi aku juga tidak makan. Aku tidak akan membiarkan diriku kenyang sementara dua orang paling berharga bagiku kelaparan."
Liana menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak oleh keposesifan pria ini yang begitu ekstrem.
Ia mencoba mencari celah waras dalam otak Kenzo.
"Kenzo, kenapa harus aku? Sahabatku, Rista... dia sangat menyukaimu. Dia wanita yang cantik dan pintar, Kenzo. Kenapa bukan dia saja?"
Mendengar nama wanita lain disebut, tatapan Kenzo langsung mendingin.
Ia bangkit dari pangkuan Liana dan duduk tegak di hadapannya.
"Kamu kira cinta bisa dibeli dengan uang?" tanya Kenzo dingin, meremehkan pertanyaan Liana.
"Aku pimpinan geng Black Cobra, Sayang. Jadi, jangan meminta agar aku mencintai wanita lain. Sekali mataku tertuju padamu, maka selamanya kamu yang menjadi milikku."
"Kenzo, malam itu..." Liana menelan ludah, mengingat kejadian satu malam yang mengubah seluruh hidupnya.
"Malam itu aku hanya ingin membantumu saat kamu terluka. Tidak seharusnya berakhir seperti ini."
Kenzo tersenyum miring, sebuah binar nakal kembali muncul di matanya yang gelap.
Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Liana, berbisik intim, "Bagaimana kalau kita mengulangi malam itu sekarang? Agar kamu ingat betapa indahnya malam itu."
"Kenzo, jangan!!" jerit Liana panik, mencoba menjauhkan kepalanya.
Melihat reaksi ketakutan Liana, Kenzo justru tertawa terbahak-bahak.
Suara tawanya yang renyah sekaligus mengintimidasi menggema di dalam kamar yang sunyi itu.
Kenzo lalu meraba bagian belakang kepala Liana dan melepas ikatan dasi yang menutup mata wanita itu.
Liana mengerjapkan matanya yang perih, mencoba beradaptasi dengan cahaya temaram.
Saat pandangannya mulai jelas, ia melihat dirinya sudah di kamar pribadi Kenzo.
Kenzo mengeluarkan selembar kertas bermaterai dan sebuah pulpen mewah dari saku jasnya.
"Sekarang, tanda tangani ini agar kamu tidak kabur lagi, Sayang," ucap Kenzo, nadanya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh ancaman.
"Atau, aku akan memisahkan kamu dengan anak kita jika ia lahir nanti. Aku akan membuangmu dan merawatnya sendiri."
Ancaman itu bagaikan belati yang menusuk ulu hati Liana.
Memisahkan dia dari darah dagingnya sendiri? Kenzo benar-benar bisa melakukannya.
Dengan gerakan cepat, Kenzo merogoh saku celananya, mengambil kunci, dan melepaskan borgol besi berbulu yang mengikat kaki Liana.
Rantai itu terlepas dengan bunyi dentang yang nyaring di atas marmer.
"Baca dan tanda tangani," perintah Kenzo mutlak sambil menyodorkan kertas tersebut.
Dengan tangan gemetar, Liana menerima kertas itu.
Di bawah temaram lampu kamar, ia membaca lima persyaratan tertulis yang dibuat oleh Kenzo:
SURAT PERJANJIAN ANTARA KENZO DAN LIANA.
Larangan Melarikan Diri: Pihak Kedua (Liana) dilarang keras meninggalkan area kediaman atau markas Black Cobra tanpa izin tertulis dan pengawalan langsung dari Pihak Pertama (Kenzo).
Kepatuhan Medis dan Nutrisi: Pihak Kedua wajib menuruti semua instruksi medis, pola makan, dan vitamin yang diberikan oleh Pihak Pertama demi kesehatan janin.
Pemutusan Hubungan Luar: Pihak Kedua dilarang memiliki alat komunikasi pribadi yang tidak disadap, dan dilarang menghubungi siapa pun dari masa lalunya tanpa pengawasan.
Penyerahan Hak Asuh Mutlak: Jika Pihak Kedua melanggar salah satu poin di atas, hak asuh atas anak yang dikandung akan sepenuhnya jatuh ke tangan Pihak Pertama, dan Pihak Kedua akan diisolasi secara permanen.
Klaim Kepemilikan: Pihak Kedua menyetujui bahwa dirinya adalah calon istri sah dari Pihak Pertama dan wajib tunduk pada seluruh keputusan kepala keluarga.
Liana mendongak menatap Kenzo dengan mata berkaca-kaca setelah membaca kelima poin gila tersebut.
"Kamu benar-benar iblis, Kenzo..." bisiknya gemetar.
Dengan tangan yang masih gemetar hebat dan air mata yang menggenang di pelupuk mata, Liana terpaksa menorehkan tanda tangannya di atas materai kertas perjanjian gila itu.
Ia tidak memiliki pilihan lain. Ancaman dipisahkan dari anak yang sedang dikandungnya benar-benar meruntuhkan seluruh pertahanan dirinya.
Melihat tanda tangan itu terukir manis di sana, Kenzo tersenyum puas.
Ia mengambil kertas tersebut, melipatnya dengan rapi, dan memasukkannya ke dalam saku jasnya.
"Pilihan yang cerdas, Sayang," bisik Kenzo hangat.
Kemudian ia membantu Liana berdiri, merapikan rambut wanita itu yang sedikit berantakan, lalu menggenggam erat tangannya.
"Ayo, semua orang sudah menunggumu di bawah."
Kenzo menuntun Liana keluar dari kamar menuju aula utama markas Black Cobra.
Aula itu sangat luas, diterangi lampu gantung kristal yang megah, dan sudah dipenuhi oleh puluhan anggota geng motor yang tampak sangar dengan jaket kulit hitam mereka.
Begitu Kenzo dan Liana muncul di balkon aula, suasana seketika menjadi sunyi.
Kenzo mengangkat tangan kirinya, lalu berseru dengan suara baritonnya yang menggelegar dan penuh wibawa.
"Semuanya.... perkenalkan, ini ratuku, Liana!"
Mendengar pengumuman sang ketua, aula itu langsung pecah oleh gemuruh sorak-sorai.
Puluhan anggota Black Cobra yang berada di halaman luar langsung menyalakan mesin motor besar mereka.
Suara raungan knalpot motor yang memekakkan telinga saling bersahutan, menjadi simbol sambutan dan penghormatan luar biasa untuk Liana.
Beberapa orang anggota inti kemudian maju satu per satu untuk memperkenalkan diri atas perintah Kenzo.
"Saya Willy, Nona. Senang bertemu dengan Anda," ucap seorang pria bertubuh kekar dengan tato ular di lehernya, membungkuk hormat.
"Hai, aku Bunga. Aku satu-satunya perempuan di jajaran inti, jadi jangan sungkan kalau butuh apa-apa," sapa seorang wanita berambut pendek dengan senyum ramah namun tampak tangguh.
Selanjutnya, Mario melangkah maju dengan wajah yang kini jauh lebih bersahabat dibanding saat ia menyamar menjadi sopir taksi tadi.
"Saya Mario, Nona Liana. Maaf atas tindakan kasar saya yang tadi."
Satu per satu anggota lainnya mulai memperkenalkan diri dengan penuh rasa segan kepada Liana.
Namun, di tengah atmosfer perkenalan yang meriah itu, pintu gerbang utama aula mendadak terbuka lebar.
Langkah kaki yang anggun namun tegas terdengar memecah keheningan yang baru saja tercipta.
Seorang wanita cantik berpakaian seksi dengan riasan wajah tebal masuk ke dalam ruangan dengan dagu terangkat tinggi.
"Wah, wah... ada pesta apa ini di markas?" suara sinis Kania mengalun, memecah keceriaan aula.
Kenzo tidak tampak terkejut dengan kedatangan tamu tak diundang itu.
Dengan santai, ia justru semakin merapatkan tubuh Liana ke pelukannya, memamerkan kemesraan mereka di depan Kania.
"Kania, perkenalkan, dia ratuku dan calon ibu dari anak-anakku," ucap Kenzo dengan nada dingin namun terselubung penegasan yang mutlak.
Mendengar kalimat itu, Kania seketika terdiam kaku di tempatnya berdiri.
Senyum sinis di wajah cantiknya langsung luntur, digantikan oleh ekspresi syok yang mendalam.
Matanya menatap tajam pada perut Liana, lalu beralih ke jemari Kenzo yang menggenggam erat tangan wanita polos di sampingnya.
Kania mencengkeram erat tangannya sendiri hingga kuku-kukunya memutih dan menusuk telapak tangannya.
Amarah dan kecemburuan yang luar biasa membakar dadanya.
Ia—wanita yang selama bertahun-tahun mendampingi pergerakan Black Cobra dan mati-matian mengejar cinta Kenzo—harus menerima kenyataan pahit bahwa ia kalah telak oleh seorang wanita asing yang ia anggap rendahan.
seru ni
up lgi kkak
biasa ny kn CEO perusahaan ,,
tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak