Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 008
Genggaman Tangan
Sejak Yola mengatakan Kevin mungkin suka melihatnya tersenyum, Sekar jadi terlalu sadar pada wajahnya sendiri.
Saat makan siang, ia berusaha tidak terlalu mudah tersenyum. Gagal ketika Kevin tanpa bertanya menaruh air mineral dingin di dekat tangannya. Gagal lagi ketika Bryan menceritakan bagaimana Kevin kemarin hampir salah belok karena terlalu sibuk melihat kaca spion.
"Gue nggak lihat spion," kata Kevin datar.
Bryan mengangguk serius. "Benar. Lo lihat bayangan Sekar di spion."
Kevin meletakkan sendok.
Bryan langsung berdiri. "Gue beli kerupuk dulu."
Yola menunduk menahan tawa, sementara Sekar pura-pura fokus pada piringnya. Namun dari sudut mata, ia melihat Kevin mengalihkan wajah ke jendela kantin. Telinganya merah lagi.
Hari itu, setelah bel pulang, langit mendadak mendung.
Angin membawa bau hujan dari arah jalan besar. Siswa-siswa mempercepat langkah, sebagian berlari ke parkiran, sebagian menelepon jemputan. Sekar baru keluar dari kelas ketika Yola menarik lengannya.
"Lo pulang sama Kevin lagi?"
"Kalau dia datang."
"Dengar nada lo. Kalau dia datang. Kayak nunggu pangeran dari kerajaan motor."
Sekar mencubit lengan Yola pelan. "Jangan keras-keras."
"Satu sekolah sudah tahu, Sekar."
"Tahu apa?"
Yola menunjuk ke gerbang samping.
Kevin berdiri di sana, bersandar pada motor hitamnya. Kali ini ia tidak duduk. Helm tergantung di setang, tetapi mesin motor tidak menyala. Di sampingnya, Bryan sedang memainkan kunci motor sambil melihat awan.
Sekar berjalan menghampiri mereka. "Kenapa nggak naik motor?"
"Bannya kena paku," jawab Bryan sebelum Kevin bicara. "Bro ini lagi mode sok tenang padahal tadi mukanya pengen membunuh paku."
Kevin menatap Bryan.
Bryan mengangkat tangan. "Fakta."
Sekar melihat ban belakang motor. Memang sedikit kempis. "Mau tambal dulu?"
"Nanti," kata Kevin. "Rumah lo nggak jauh. Jalan."
"Kamu mau antar jalan kaki?"
"Ada masalah?"
Sekar menggeleng. Di dalam dadanya, sesuatu berlari kecil. Motor membuat mereka dekat karena tubuh harus menempel. Jalan kaki justru berbeda. Mereka akan berjalan berdampingan, punya waktu untuk bicara, punya kesempatan bagi tangan mereka hampir bersentuhan.
Yola menatapnya dengan wajah sangat tahu. "Aku pulang dulu. Jangan lupa kabari."
Bryan ikut melambai. "Hati-hati, Kak Sekar. Kalau Bro nyasar, tinggal ditarik telinganya."
"Bryan," Kevin memperingatkan.
"Iya, iya, gue jadi orang baik hari ini."
Mereka akhirnya berjalan berdua.
Sekolah perlahan tertinggal di belakang. Jalan sore cukup ramai. Pedagang cilok mendorong gerobak di dekat trotoar, aroma gorengan dari warung kecil membuat perut Sekar yang sudah kenyang tetap tergoda. Kevin berjalan di sisi luar, lebih dekat ke jalan. Setiap kali ada motor lewat terlalu dekat, ia sedikit menggeser tubuhnya sehingga Sekar otomatis berada di sisi dalam.
Di depan toko alat tulis kecil, Sekar berhenti sebentar. "Aku beli buku dulu."
Kevin ikut berhenti. "Buku apa?"
"Buku latihan matematika."
"Yang kemarin lo coret-coret nama orang?"
Sekar langsung menatapnya.
Kevin memasukkan tangan ke saku jaket, wajahnya terlalu tenang. "Yola ngomong keras di kantin."
Sekar masuk toko dengan telinga panas. Kevin menunggu di dekat pintu, tetapi ketika ia memilih buku, Kevin mengambil satu buku bersampul biru gelap dan meletakkannya di atas tumpukan.
"Ini."
"Kenapa?"
"Nggak gampang kotor."
Sekar tidak bertanya lagi. Ia membayar, lalu menyelipkan buku itu ke tas dengan hati-hati, seolah sampul biru gelap itu juga bagian dari rahasia kecil mereka.
Tidak ada yang mengatakan hal itu.
Sekar memperhatikannya diam-diam.
"Jangan lihat gue terus," kata Kevin.
Sekar terkejut. "Kamu tahu?"
"Kelihatan."
"Aku cuma memastikan kamu nggak marah karena motormu bocor."
"Paku yang bikin bocor, bukan lo."
"Tapi kamu jadi harus jalan kaki."
"Lo keberatan jalan sama gue?"
Sekar langsung menggeleng. "Nggak."
Kevin meliriknya. "Cepat banget jawabnya."
Pipi Sekar panas. Ia menunduk, menatap ujung sepatunya menyentuh garis retak di trotoar. Hujan belum turun, tapi udara terasa lembap. Di depan mereka, lampu penyeberangan pejalan kaki baru saja berubah merah. Kendaraan masih mengalir deras.
Sekar berhenti di tepi trotoar.
Kevin berdiri di sampingnya, bahunya hampir menyentuh bahunya. Suara jalan raya memenuhi telinga. Ketika lampu berubah hijau, orang-orang di sekitar mulai menyeberang.
Sekar baru melangkah ketika sebuah motor dari arah samping menerobos pelan, tidak terlalu cepat, tapi cukup dekat membuatnya refleks mundur.
Tangan Kevin langsung menangkap pergelangan tangannya.
"Lihat jalan."
Nada suaranya rendah, tetapi genggamannya hangat.
Sekar membeku.
Kevin menariknya ke sisi yang lebih aman, lalu mulai menyeberang. Awalnya ia memegang pergelangan Sekar. Namun di tengah zebra cross, ketika arus kendaraan berhenti dan mereka berjalan di antara suara klakson tertahan, genggaman itu bergeser.
Dari pergelangan ke telapak tangan.
Jari Kevin menutup di sela-sela jari Sekar.
Sekar nyaris lupa bernapas.
Tangannya tidak besar, tetapi tangan Kevin jauh lebih hangat. Kapalan tipis di telapak tangannya terasa kasar, mungkin dari bengkel, dari stik biliar, dari motor, dari terlalu banyak hidup yang ia pikul sendirian. Sekar menggenggam balik tanpa sadar.
Kevin tidak menoleh.
Namun genggamannya mengencang sedikit.
Mereka sampai di seberang jalan.
Sekar menunggu Kevin melepas.
Ia tidak melepas.
Mereka berjalan lagi. Pedagang kaki lima, toko fotokopi, minimarket kecil, semua lewat di sisi mereka seperti latar yang kabur. Sekar bisa mendengar detak jantungnya sendiri lebih jelas daripada suara kendaraan.
"Kev," panggilnya pelan.
"Hmm?"
"Tangan."
Kevin melihat tangan mereka yang bertaut, lalu menatap ke depan lagi. "Kenapa?"
"Sudah lewat jalan besarnya."
"Masih banyak motor."
"Di trotoar?"
"Bisa aja."
Sekar menggigit bibir agar tidak tertawa. "Alasanmu jelek."
"Tapi tangan lo dingin."
Sekar terdiam.
Kevin mengucapkannya seolah itu penjelasan paling masuk akal di dunia. Karena tangan Sekar dingin, ia menggenggam. Karena ada motor, ia menggenggam. Karena ia ingin, mungkin, tetapi belum mau mengaku.
Sekar menatap tangan mereka.
Di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah memegang tangan Kevin saat mereka sama-sama hidup. Ia baru menyadari perasaannya ketika semuanya sudah terlambat, ketika tangan Kevin hanya bisa menyentuh batu nisan dan hujan.
Sekarang, telapak tangan itu hangat di genggamannya.
Sekar perlahan membalas genggaman Kevin lebih erat.
Kevin tidak berkata apa-apa.
Sampai mereka tiba di depan gang rumah Oma Lien, gerimis baru mulai turun. Tetes pertama jatuh di punggung tangan mereka yang masih bertaut.
Kevin berhenti.
Sekar mengira kali ini ia akan melepas.
Namun Kevin justru menariknya sedikit ke bawah atap warung terdekat, menunggu gerimis mereda. Tangan mereka tetap menyatu, tersembunyi di antara tubuh mereka dan bayangan sore.
"Besok tunggu di gerbang samping," kata Kevin.
Sekar menatap tangan mereka. "Kalau motormu sudah ditambal?"
"Tetap tunggu."
"Kalau nggak hujan?"
"Tetap."
"Kalau nggak ada motor di trotoar?"
Kevin akhirnya menoleh. Matanya gelap, tapi sudut bibirnya bergerak tipis.
"Sekar."
"Iya?"
"Jangan banyak alasan kalau mau digandeng."
Panas langsung naik ke wajah Sekar.
Kevin memalingkan wajah, tetapi kali ini ia tidak berhasil menyembunyikan senyumnya.
Dan sampai Sekar benar-benar berdiri di depan pagar rumah Oma Lien, Kevin tidak melepaskan tangannya.