Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 026: Nadia Memilih Dirinya
Pagi itu Nadia membawa dua map ke kantor Pak Surya.
Map pertama berisi bukti. Mutasi rekening, foto kotak perhiasan kosong, rekaman Bu Marni, pesan Dimas, screenshot Livia, foto tas yang kembali tanpa gantungan N, dan daftar barang yang belum jelas.
Map kedua berisi CV.
Pak Surya melihat dua map itu, lalu tersenyum singkat. "Bagus. Hidup lama dan hidup baru datang bersamaan."
Nadia duduk di kursi depan meja. "Saya belum seberani kedengarannya."
"Tidak apa. Berkas tidak menunggu keberanian penuh."
Sari duduk di samping Nadia. Ia tidak bicara. Sejak berangkat, ia menahan diri untuk tidak memberi terlalu banyak nasihat. Nadia sedang berjalan dengan kakinya sendiri. Sari hanya memastikan lantainya tidak sengaja dibuat licin oleh orang lain.
Pak Surya membuka kronologi yang Nadia tulis semalam. Ada bagian yang terlalu panjang, ada bagian yang terlalu emosional, ada bagian yang masih memakai kata "mungkin".
"Kita rapikan," katanya. "Pengadilan butuh fakta."
Nadia mengangguk.
"Saat Bu Marni mengambil perhiasan, Ibu tahu dari siapa?"
"Dari Dimas. Dia bilang nanti ditebus."
"Ada chat?"
"Ada."
"Saat transfer dari rekening bersama ke rekening Bu Marni, apakah Ibu pernah memberi persetujuan?"
"Tidak."
"Saat kunci rumah diganti?"
"Dimas mengirim pesan agar saya tenang di rumah Mama."
"Bagus. Itu kita lampirkan."
Nadia menatap kata bagus di mulut pengacara. Aneh sekali. Hal-hal yang membuatnya sakit kini disebut bagus karena berguna sebagai bukti.
Pak Surya berhenti di bagian Livia. "Untuk dugaan hubungan pihak ketiga, kita tulis hati-hati. Tas Ibu berada pada Livia berdasarkan screenshot dan pengakuan pesan. Kita tidak perlu memakai kata yang belum bisa dibuktikan."
"Selingkuh?"
"Kalau belum siap dibuktikan penuh, jangan tulis sebagai kesimpulan. Tulis kejadian."
Nadia menarik napas. "Ternyata marah pun harus punya tata bahasa."
Sari berkata, "Kalau tidak, marahmu dipakai balik."
Pak Surya mengangguk. "Betul."
Setelah dua jam, draf cerai gugat pertama selesai. Nadia membaca namanya di bagian penggugat. Dimas di bagian tergugat. Kata-kata itu membuat perutnya dingin.
"Saya boleh belum daftar hari ini?"
"Boleh," kata Pak Surya.
"Tapi kalau saya tunda terus?"
"Itu juga keputusan. Pertanyaannya, tunda untuk berpikir atau tunda karena takut?"
Nadia menatap kertas.
Sari tetap diam.
Beberapa detik kemudian, Nadia mengambil pulpen. "Daftarkan."
Sari menoleh.
Nadia tidak melihat ibunya. Kalau ia melihat, mungkin ia akan menangis. Ia menandatangani surat kuasa, halaman demi halaman. Tangannya gemetar di tanda tangan pertama, lalu lebih stabil di tanda tangan berikutnya.
"Baik," kata Pak Surya. "Kami ajukan hari ini."
Nadia meletakkan pulpen. "Rasanya tidak lega."
"Memang belum," jawab Sari.
"Aku kira setelah tanda tangan, aku akan merasa bebas."
"Kadang bebas datang belakangan. Hari ini kamu baru membuka borgol."
Nadia menutup map pertama.
Pak Surya menunjuk map kedua. "Sekarang hidup baru?"
Nadia hampir tertawa. "Saya dapat info RS Pejaten buka posisi dokter umum. Ada kemungkinan jalur rekomendasi untuk program spesialis tahun depan. Saya kirim CV tadi malam."
"Bagus."
"Semua orang hari ini suka sekali bilang bagus untuk hal yang membuat saya mual."
Pak Surya tertawa kecil. "Mual bisa berarti tubuh Ibu tahu ini penting."
Di luar kantor, Nadia menerima email pertama dari RS Pejaten.
Undangan interview.
Besok pukul sepuluh.
Ia membaca email itu tiga kali. "Ma."
Sari melihat layar. "Besok?"
"Iya."
"Datang."
"Aku baru daftar cerai."
"Dan?"
"Rasanya terlalu banyak."
"Hidup tidak menunggu satu masalah selesai untuk membuka pintu lain."
Nadia menatap ibunya. Ada lelah, takut, dan sesuatu yang hampir mirip harapan.
"Kalau mereka tanya kenapa pindah kerja?"
"Jawab jujur secukupnya. Kamu sedang menata ulang hidup dan ingin kembali ke jalur profesional."
"Kalau mereka tahu proses cerai?"
"Cerai tidak mencabut STR kamu."
Nadia tertawa. Kali ini lebih utuh.
Mereka makan siang di warung soto dekat ruko. Nadia tidak banyak makan, tetapi ia menghabiskan teh hangat. Di meja kecil itu, Sari membantu membaca CV. Ia mencoret kalimat yang terlalu merendah.
"Jangan tulis 'membantu penanganan pasien' kalau kamu memang menangani."
"Tapi ada dokter senior."
"Tulis berkolaborasi."
"Mama seperti HRD."
"Ibu seperti perempuan yang bosan melihat anaknya mengecil."
Nadia diam, lalu mengganti kalimat itu.
Sore harinya, Sari kembali ke kios. Nadia pulang ke kontrakan untuk menyiapkan dokumen interview. Ia menyetrika kemeja putih, memeriksa STR, sertifikat pelatihan, dan fotokopi ijazah. Beberapa kali ia hampir membuka chat Dimas. Beberapa kali ia berhenti.
Pukul tujuh malam, Dimas mengirim pesan.
Aku dengar kamu mau gugat cerai. Kamu serius menghancurkan semuanya?
Nadia mengambil screenshot. Lalu membalas:
Semua komunikasi tentang proses hukum lewat Pak Surya.
Dimas:
Kamu masih istriku.
Nadia menatap kalimat itu. Dulu kalimat tersebut seperti atap. Sekarang lebih mirip pagar.
Ia tidak membalas.
Di tempat lain, Arman menerima laporan dari tim HR Pradipta Health. Nama Nadia Wulandari masuk undangan interview RS Pejaten. Laporan itu sampai ke mejanya karena semua rekrutmen dokter senior dan jalur spesialis di jaringan Pradipta sedang dipantau ketat setelah audit internal.
Asistennya bertanya, "Pak, ini putri Bu Sari?"
Arman membaca CV itu.
Pengalaman IGD. Pelatihan trauma dasar. Catatan kerja yang rapi. Tidak berlebihan.
"Ikuti prosedur normal."
"Tidak diberi catatan khusus?"
"Catatan khususnya hanya satu. Jangan dipermudah karena ibunya saya kenal. Jangan dipersulit karena masalah pribadinya."
"Baik, Pak."
Arman menutup berkas. Ia tahu Sari akan marah jika Nadia diterima karena belas kasihan. Perempuan itu bahkan menolak harga buah dinaikkan tanpa alasan. Anak perempuannya pasti memiliki keras kepala yang sama, hanya bentuknya lebih tenang.
Malam itu, Sari menerima telepon Arman saat sedang menutup kios.
"Bu Sari, saya perlu memberi tahu sesuatu agar tidak ada salah paham."
"Ada masalah pesanan?"
"Bukan. RS Pejaten berada dalam jaringan Pradipta Health. Nama Nadia masuk proses interview."
Sari diam.
"Saya tidak akan ikut campur hasilnya," lanjut Arman. "Saya sudah instruksikan prosedur normal."
"Bagus."
Arman terdengar hampir tertawa. "Saya kira Ibu akan lebih curiga."
"Saya masih curiga. Tapi setidaknya Bapak memberi tahu dulu."
"Nadia akan dinilai dari kemampuannya."
"Harus."
"Saya setuju."
Setelah telepon ditutup, Sari mengirim pesan kepada Nadia:
Besok datang sebagai dokter. Bukan sebagai istri Dimas. Bukan sebagai anak Ibu. Sebagai Nadia Wulandari.
Balasan Nadia masuk beberapa menit kemudian.
Aku takut, Ma.
Sari mengetik:
Takut boleh. Menunduk jangan.
Di kontrakan, Nadia membaca pesan itu sambil memegang kemeja putih yang baru disetrika. Di atas meja ada map cerai dan map interview. Dua map itu berdampingan seperti dua pintu.
Besok, ia akan membuka salah satunya di rumah sakit.
Yang satu lagi sudah mulai terbuka di pengadilan.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari Mira.
Nad, kamu benar-benar daftar? Aku senang. Jangan mundur.
Nadia membalas:
Aku takut ditanya soal rumah tangga.
Mira menelepon langsung. Suaranya ramai, mungkin dari kantin rumah sakit.
"Dengar, kalau mereka tanya, jawab cukup. Kamu sedang proses pribadi dan tetap bisa bekerja profesional. Titik."
"Kalau mereka menganggap aku bermasalah?"
"Semua orang punya masalah. Bedanya, kamu masih bisa triase pasien sambil dunia runtuh. Itu bukan kelemahan."
Nadia duduk di tepi kasur. "Aku sudah lama tidak merasa seperti dokter."
"Kalau begitu besok pakai sepatu yang nyaman dan ingat tanganmu pernah menyelamatkan orang. Jangan biarkan Dimas dan ibunya membuatmu merasa hanya istri gagal."
Setelah telepon ditutup, Nadia membuka kotak kecil berisi stetoskop lama. Karet hitamnya sedikit kusam, tetapi masih baik. Ia mengelapnya dengan tisu basah, lalu memasukkannya ke tas.
Di cermin kecil, wajahnya terlihat lelah. Bukan wajah perempuan yang menang. Belum.
Tapi untuk pertama kalinya, ia melihat seseorang yang sedang kembali bekerja untuk dirinya sendiri.
Ia mematikan lampu sebelum tengah malam. Tidak semua rasa takut hilang, tetapi besok ia tidak akan datang dengan kepala tertunduk lagi di hadapan siapa pun, terutama pada dirinya sendiri.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??