Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Sikap Ivan berubah
"Semua tuduhan Mama tidak benar!" tiba-tiba sebuah suara menjeda. Perhatian semua orang teralih ke sumber suara. Di ambang pintu penghubung ruang keluarga, berdiri sosok Ivan. Dengan sorot mata tajam ke arah ibunya.
Bu Cindy kaget melihat kemunculan Ivan, putranya. Terlebih Kakek Lukas. Namun, sikap Edgar biasa saja, cendrung cuek melihat Ivan.
"Maafkan Ivan, Kakek!" Ivan lantas berlutut di hadapan sang kakek. Bu Cindy, Kakek Lukas, terlebih Edgar terkejut dengan ekspresi berbeda.
Kalau Bu Cindy, kaget tidak percaya melihat prilaku putranya. Kakek Lukas dengan mimik melongo. Beda lagi dengan Edgar, senyum sinis, lantas menghiasi wajahnya. Kagetnya cuma sekejap.
Dia paham, bibinya sama saudara sepupunya itu, tengah memainkan peranannya. Seperti yang sudah-sudah. Buat apalagi. Palingan cuma mau mengelabui kakeknya, lagi.
Permintaan maaf itu, hanya topeng untuk mengelabui kakeknya. Karena perbuatannya tempo hari. Licik seperti domba berbulu singa. Bukan lagi berbulu serigala. Karena menurut Edgar, kelicikan bibi dan sudara sepupunya itu, sudah kelas hiu. Ngalahin si kakap..
Buktinya, sudah berkali-kali kakeknya jadi korban kelicikan mereka. Berpura-pura tobat hanya sebentar dan kedok saja.
"Kakek, maafkan Ivan. Ivan salah telah berbuat buruk sama Kakek selama ini. Dan menghilangnya aku, itu bukan atas ulahnya Edgar. Aku tersesat di hutan Kakek. Selama tersesat itu, aku merenungkan sikapku selama ini. Ternyata aku telah banyak berbuat salah pada Kakek. Maafkan aku Kakek." kali ini Ivan terisak. Karena benar-benar dililit rasa sesal.
Kedua netra Bu Cindy membulat sempurna, melihat sikap Ivan. Entah kesambet dimana putranya itu, tiba-tiba seperti orang kesurupan mengaku-ngaku salah di hadapan ayahnya.
Itu bukan sifat anaknya yang manja dan egois. Anaknya pasti telah kemasukan roh halus, pasti.
Edgar, menautkan kedua alisnya. Senyum sinisnya semakin menguar saja.
"Kamu dengar sendiri ucapan anak kamu Cindy. Mulutmu memang sangat beracun. Selalu saja menebar fitnah." amuk Kakek Lukas, menatap tajam putrinya.
"Ivan! Apa-apan kamu. Bukankah ...," Bu Cindy tidak melanjutkan ucapannya, karena Ivan mengangkat tangannya.
"Ivan belum menjelaskan apa-apa ke Mama. Bahkan Mama sendiri tidak ingin tahu apa yang aku alami selama seminggu ini. Mama hanya menyimpulkan sendiri." Wajah Bu Cindy memerah, mendengar ucapan putranya sendiri.
Benar-benar tidak menduga tingkah putranya.
"Kamu menghilang selama seminggu, Ivan. Mama sudah mencarimu kemana-mana. Siapa lagi yang punya ide jahat, untuk melenyapkanmu. Hanya Edgar, Ivan. Dia punya motif untuk melakukannya!"
"Cukup Mama! Semua tuduhan Mama jatuhnya fitnah kalau tidak benar!" hardik Ivan. Bu Cindy lagi-lagi kaget akan ulah Ivan.
"Selama ini Ivan selalu mengacau di kehidupan Kakek. Ivan pantas mendapatkan hukuman jika Edgar membunuhku sekalian. Tapi, itu tidak dia lakukan. Edgar malah melepasku. Dan aku murni tersesat di hutan karena tidak tau jalan, pulang." serunya tegas.
Ruangan mendadak sepi mencekik. Dada Bu Cindy turun naik menahan emosi, atas pengakuan Ivan. Dia yang sudah susah payah sampai disini. Selalu berusaha menjatuhkan nama, Edgar demi mengangkat nama anaknya dihadapan ayahnya.
Eh, malah anaknya sendiri membantah dan mempermalukannya.
"Sudahlah, Ivan. Hentikan sandiwaramu. Apalagi tujuanmu sekarang hah!" gertak Edgar muak. Edgar sama sekali tidak percaya semua ucapan sepupunya.
"Edgar, aku tau kamu tidak akan percaya. Tidak semudah itu untuk meraib kepercayaanmu. Mengingat apa yang telah aku lakukan selama ini. Aku tau rekam jejakku terlalu hitam untuk diputihkan. Aku akan buktikan dengan waktu kalau aku telah berubah. Semoga nanti aku bisa mendapatkan maafmu."
Deg!
Edgar merasakan salivanya sedikit sepat, mendengar katak-kata Ivan. Sepertinya ucapannya penuh kesungguhan. Apa yang terjadi dengannya? Apakah selama seminggu di hutan telah mengubah cara pandang hidupnya.
Sepertinya dia memang kesambet jin baik, selama di hutan. Tapi seperti permintaan Ivan, yang katanya butuh waktu untuk meraih kepercayaannya. Oke, tidak ada yang salah dengan permintaan itu. Mari buktikan Ivan, sejauh mana kanu mau berubah. Monolog Edgar.
"Hem, seperti katamu itu. Lakukanlah apa yang hendak kamu buktikan." dengus Edgar sinis, lalu pergi menuju kamarnya.
Sikap Edgar itu memicu amarah Bu Cindy.
"Lihat Ayah! Betapa sombong cucu kesayangan Ayah itu."
"Cukup Cindy. Harusnya kamu belajar seperti anakmu. Menurunkan ego mu dan sifat culasmu. Sebenarnya apa yang kamu banggakan. Kamu itu seolah lupa dengan umurmu. Selalu saja menilai buruk orang lain."
"Ivan, Kakek tidak tau apa sebenarnya rencanamu. Dan apa yang terjadi seminggu ini padamu. Terlalu cepat untuk mempercayai kalau kamui sudah berubah. Lakukanlah yang terbaik menurutmu. Jangan lagi mau distir kepentingan orang lain. Jadilah dirimu sendiri." sindir Kakek Lukas pada putrinya.
Wajah Cindy memerah, karena dia tau tujuan kata-kata itu juga di alamatkan padanya. Namun, hatinya terlalu angkuh untuk mau berubah.
"Kakek, Ivan mohon bimbingan Kakek. Ivan mengerti kalau kesalahan Ivan sulit untuk dimaafkan." tutur Ivan sedih.
"Kamu itu sudah dewasa Ivan. Ada banyak bimbingan yang mudah kamu dapatkan. Tapi hanya ada salah satu jalan yang bisa kamu lewati. Jika kamu memang sungguh-sungguh bertobat. Kembalilah ke jalanNya."
"Hanya dari Dia kamu akan mendapatkan pengampunan. Jika kamu ingin diterima kembali di rumah ini, berbuatlah yang baik. Benahi keluargamu. Hingga hari itu tiba, kamu harus buktikan sepenuhnya perjuanganmu itu."
"Kakek, terima kasih, Kek. Atas kesempatan yang Kakek berikan. Aku mohon doakan aku Kakek." Ivan menciumi kedua telapak tangan Kakek Lukas. Membuat hati Kakek Lukas trenyuh.
Bagaiamanapun, cucunya itu baik. Hanya saja sikap putrinya lah yang telah salah mendidik sang cucu.Kakek Lukas mengusap kepala Ivan. Dan perlakuan kakeknya itu sudah lebih dari cukup, menguatkan Ivan.
Ivan mengusap air mata yang merebak di sudut matanya. Terharu dengan kakeknya yang masih mau menerimanya. Padahal sudah diperlakukannya sedemikian buruk.
Ivan mohon diri. Mau menemui keluarganya katanya. Tentu saja hal itu membuat kaget Bu Cindy.
"Kakek, terima kasih nasehatnya Kakek. Mulai hari ini, Ivan akan mencoba berubah. Ivan akan mencari anak dan istri Ivan. Akan Ivan bawa kembali ke rumah ini."
"Iya, cucu. Pergilah! Pungut kembali apa yang kamu buang, jika kamu sudah tau kalau kamu sudah menyadari kesalahanmu. Pastinya tidak akan semudah yang kamu bayangkan. Tapi percayalah, sesulit apapun cobaan itu. Jangan lupakan Dia, yang akan memberimu kekuatan."
**
Ameera menyusun berkas sketsanya yang berserakan. Kemarin Richi mengabarinya, mengingatkannya akan pertemuan mereka yang tertunda kemarin itu.
Richi juga mengingatkan Ameera untuk menyiapkan beberapa berkas lagi untuk diperlihatkan pada temannya itu.
Setelah selesai mengumpulkan beberapa berkas sketsa, versi terbaik menurutnya. Ameera bermaksud ke rumah induk. Hendak menitip Celia karena besok dia akan pergi bersama Richi, mengikuti pertemuan yang tertunda.
Ketika Ameera mengetuk pintu, setelah itu dia masuk. Ameera kaget saat melihat Saras tergeletak pingsan di lantai, dan Celia menangis menarik-narik kaki Saras.***