Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. PWB
...~•Happy Reading•~...
Jefase tidak mau konsentrasi dan semangatnya terganggu oleh apa yang dilakukan Lorna. Dia berjalan cepat ke kelas untuk menemui Hernita. "Ayo, Nita. Kita temui kepsek."
"Oh, benaran? Tadi aku kira..." Hernita tidak meneruskan. Dia mengira tindakan Jefase hanya untuk menghindari dia dari gangguan Lorna.
"Benaran. Tadi kepsek telpon aku di jalan. Beliau mau bertemu kita..." Jefase menjelaskan.
"Oh...." Hernita segera menyimpan buku yang sudah dikeluarkan ke laci. "Apa ada perubahan, Jefa?" Hernita jadi was-was.
"Mungkin. Semoga perubahan ke arah lebih baik. Ayoo...." Jefase tidak mau keraguan Hernita mengurangi semangatnya. Dia meletakan ransel begitu saja di atas meja, sebagai tanda dia sudah hadir di kelas, lalu mengajak Hernita mengikuti dia.
Mereka berjalan cepat menuju ruang kepala sekolah tanpa menghiraukan pandangan heran dari teman-teman yang melihat mereka berjalan cepat.
Semangat Jefase menular dan menyingkirkan keraguan serta mendongkrak semangatnya untuk bertemu kepala sekolah. Sejingga dia melupakan kejadian dengan Lorna di lorong.
Dia ingin kepastian dari kepala sekolah, karena mereka belum terdaftar sebagai peserta kompetisi olimpiade matematika.
Hernita makin bersemangat karena setelah berbicara dengan Papahnya dan sikap baik Jefase menggerakan hatinya untuk koreksi motivasi ikut kompetisi.
Tidak hanya untuk mendapatkan hadiah uang. Tapi bisa mengangkat nama sekolah harapan yang telah memberinya tumpangan, saat sekolah pelita membuangnya.
Motivasi baru melengkapi niatnya untuk segera bertemu dengan kepala sekolah. Posisi ruangan kepala sekolah tidak jadi satu dengan ruang guru, memudahkan mereka menemuinya tanpa melewati para guru.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Jefase dan Hernita setelah masuk ke ruang kepala sekolah.
"Selamat Pagi. Good. Kalian sudah datang. Duduk." Kepala sekolah menyambut mereka dengan hati senang.
"Apa kalian sudah bicarakan untuk ikut kompetisi sebagai team?"
"Sudah, Pak." Jefase menjawab, cepat. Hernita diam, membiarkan Jefase menjawab. Agar Jefase tahu, dia yang jadi pemimpin dalam team.
"Tidak ada kendala?" Kepala sekolah bertanya sambil melihat Jefase dan Hernita bergantian.
"Ada, Pak. Sebagai team, kami perlu ruangan untuk kerjakan soal dan atur strategi, agar tidak terganggu..." Jefase menjelaskan rencana dan strategi mereka.
"Hernita bisa menyesuaikan dengan kondisi seperti ini?" Tanya kepala sekolah, karena Hernita hanya diam.
"Sama seperti Jefa bilang, Pak. Agak sulit membahas cara dan strategi, kalau tidak duduk bersama seperti ini..." Hernita menjelaskan.
"Apa kalian bisa kerja di ruangan bapak ini? Nanti bapak minta penjaga pindahkan whiteboard ke sini."
"Bisa Pak." Hernita dan Jefase jawab bersamaan. Mereka lega, telah menemukan solusi agar bisa menghemat waktu untuk cari tempat.
"Baik. Lihat ruangan ini, catat yang kalian perlukan untuk tambahkan." Kepala sekolah mengambil ponsel dari atas meja untuk telpon. Hernita dan Jefase segera mencatat yang dibutuhkan.
"Selain keterbatasan waktu, bapak tidak bisa menggunakan dana ekstra sekolah untuk menyewa tempat khusus dan tidak ada kelas kosong." Kepala sekolah menjelaskan, berharap Hernita dan Jefase mengerti.
"Ini sudah sangat baik, Pak. Dari pada kami berdiskusi di taman." Ucap Jefase
"Baik. Kita harus gerak cepat, karena minggu depan kompetisi sudah dimulai. Hari ini, bapak mau mendaftar supaya kalian diberikan dispensasi tidak mengikuti beberapa mata pelajaran."
"Hernita, bisa terima dan siap hadapi berbagai omongan miring kalau bapak daftar sekarang?"
"Bisa, Pak." Hernita menjawab cepat, karena mengerti maksud kepala sekolah.
"Ini rencana bapak setelah daftarkan kalian....." Kepala sekolah menjelaskan rencananya, karena ada beberapa hal yang dilakukan sehubungan dengan rencana pendaftaran peserta.
"Mungkin keputusan bapak ini akan membuat pihak-pihak tertentu terkejut dan tidak terima atau protes. Jadi kalian harus siap."
"Iya, Pak. Kalau ruangan sudah siap, tolong kasih tahu kami. Supaya kami bisa ke sini untuk belajar." Jefase merespon baik saran kepala sekolah.
"Baik. Kalian sudah boleh ke kelas, agar ruangan ini bisa diatur..." Kepala sekolah berdiri dan bergerak cepat. Hernita dan Jefase juga bergerak cepat balik ke kelas.
"Nita, kau mengerti maksud kepsek?" Tanya Jefase sambil jalan balik ke kelas.
"Iya. Pasti ada yang tidak suka aku ikut mewakili sekolah harapan." Hernita sudah siap hadapi ucapan negatif dari sekolah pelita, jika tahu dia maju mewakili sekolah harapan.
"Ok. Kalau kau siap. Aku agak susah konsentrasi, kalau ada gangguan." Jefase mengakui kelemahannya.
~▪︎▪︎~
Beberapa waktu kemudian saat tiba waktu istirahat kedua, terjadi keributan di lorong sekolah harapan. Para murid ribut setelah membaca pengumuman dua nama siswa yang diutus oleh sekolah untuk ikut kompetisi. Jefase dan Hernita.
Ada yang bersorak, ada yang diam dan menghindar, ada yang berkomentar dan saling berbisik. Hal yang sama juga terjadi di ruang guru. Para guru saling bertanya dan berkomentar setelah tahu murid baru yang masuk ke sekolah mereka adalah Hernita, murid berprestasi dari SMA Pelita.
Kepala sekolah langsung dipanggil oleh ketua yayasan untuk mempertanggung jawabkan keputusannya. "Pak Eltam, tolong jelaskan keputusan anda mengutus Hernita. Saya tidak terima kalau ini adalah strategi licik untuk ikut kompetisi."
"Pak, ini bulan strategi licik. Tapi ini adalah anugrah yang tidak terduga bagi kita dengan kedatangan murid Hernita ke sini...." Kepala sekolah menjelaskan proses Hernita datang menemuinya, yang dikatakan sebagai minta suaka.
"Apa anda sudah cek kebenarannya?" Ketua yayasan masih belum terima.
"Tidak secara terang-terangan, Pak. Tapi di sana sedang terjadi perpecahan atas kepergian Hernita. Ada yang masih ingin dia di sana, sebagai aset sekolah."
"Tapi penyangga dana minta dia harus pergi dari sekolah. Agar anak-anak mereka bisa dapat kesempatan untuk berkompetisi."
"Mereka tidak berani adakan seleksi, karena prestasi dan nilai Hernita sangat jauh di atas anak-anak mereka. Hal itu akan memalukan dan anak-anak mereka tidak bisa ikut kompetisi."
"Seperti yang terjadi dengan kita, tunda merilis hasil seleksi, karena nilai Jefasa sangat jauh dari murid yang lain. Jadi saya yakin, angin baik sedang bertiup ke arah sekolah kita dengan kedatangan Hernita."
"Apa maksudmu?"
"Saya ambil keputusan ini, karena sebentar lagi akan buka penerimaan siswa baru. Jika mereka menang kompetisi, sekolah kita secara langsung dipromosikan. Banyak orang tua akan mendaftar anak mereka untuk sekolah di sini."
"Kau sudah pikirkan sampai ke situ? Ini akan jadi gelombang yang bisa membawa dampak positif dan negatif." Ketua yayasan masih berpikir dan belum lega.
"Mungkin ini bisa dikatakan berjudi, tapi saya mau lakukan. Jika keputusan saya membawa dampak negatif bagi sekolah ini, saya bersedia meletakan jabatan kepala sekolah." Kepala sekolah berkata serius, karena yakin dengan keputusannya.
"Anda sudah mendaftar mereka sebagai utusan sekolah?" Ketua yayasan bertanya setelah lama berpikir.
"Sudah, Pak. Saya daftar dulu baru umumkan nama mereka. Supaya tidak banyak perdebatan sebelum pendaftaran. Mereka butuh waktu untuk persiapan sebagai team...." Kepala sekolah menjelaskan pertimbangannya sebelum mengambil keputusan.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...