Lunara Angelita selalu percaya bahwa pernikahannya dengan Halden Nathaniel—pelukis jenius yang menjadi kebanggaan kota kecil mereka—adalah rumah paling aman yang pernah dimilikinya. Lima tahun bersama, lima tahun bahagia… atau setidaknya begitu yang ia yakini.
Hingga pada malam hujan yang sunyi, saat listrik padam, Luna tanpa sengaja menemukan sebuah kanvas tersembunyi di gudang. Dan di balik kain putihnya terpampang wajah perempuan yang seharusnya telah lama hilang dari hidup mereka—Karina, mantan kekasih Halden. Dilukis dengan detail yang hanya diberikan oleh seorang pria pada seseorang yang masih memenuhi hatinya.
Lukisan itu baru. Sangat baru.
Saat Luna menuntut kebenaran, Halden tidak berbohong—tetapi jawabannya jauh lebih menyakitkan dari pengkhianatan.
Melukis, katanya, bukan tentang siapa yang menemani hari-harinya.
Melainkan tentang siapa yang tak pernah benar-benar pergi dari hatinya.
Seketika dunia Luna runtuh.
Apakah selama ini ia hanya menjadi istri di ata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mga_haothe8, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Hal-Hal yang Tidak Terucap"
Nathan kembali ke rumah sakit pada hari ketika Luna percaya ia sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan.
Ia berangkat pagi-pagi sekali, sebelum Luna benar-benar terbangun. Amara masih tidur, memeluk boneka kelincinya. Luna hanya setengah sadar ketika Nathan mencium keningnya.
“Hati-hati di jalan,” gumam Luna.
Nathan mengangguk. “Aku pulang besok malam.”
Ia membawa tas kerja biasa—di dalamnya, tersembunyi map cokelat berisi jadwal pemeriksaan lanjutan, surat rujukan, dan hasil awal yang sudah ia hafal di luar kepala.
Rumah sakit yang kali ini ia datangi lebih besar. Lebih ramai. Lorong-lorong panjang dengan kursi tunggu yang dipenuhi wajah-wajah asing—sebagian lelah, sebagian pasrah, sebagian berpura-pura baik-baik saja.
Nathan duduk sendirian.
Ia menjalani serangkaian pemeriksaan: pencitraan lanjutan, biopsi, tes darah tambahan. Setiap prosedur dilakukan dengan penjelasan singkat, profesional, seolah tubuhnya hanyalah peta yang harus dibaca dengan cermat.
Menunggu hasil adalah bagian tersulit.
Dua hari kemudian, ia kembali dipanggil ke ruang dokter spesialis onkologi.
Dokter itu perempuan, usianya lebih muda dari dokter sebelumnya, dengan suara tegas namun tidak keras. Ia membuka hasil pemeriksaan di layar besar.
“Pak Nathan,” katanya, “dari hasil pemeriksaan lanjutan, kami bisa memastikan diagnosis.”
Nathan menegakkan tubuhnya.
“Jenis kanker yang Anda alami adalah limfoma non-Hodgkin,” lanjut dokter itu. “Berdasarkan penyebaran dan hasil biopsi, ini berada di stadium dua.”
Nathan mengangguk. Ia sudah menyiapkan diri untuk mendengar itu—setidaknya secara teori.
“Artinya,” lanjut dokter, “sel kanker sudah melibatkan lebih dari satu area kelenjar getah bening, tetapi masih berada di sisi yang sama dari diafragma. Ini penting.”
“Karena…?” tanya Nathan.
“Karena ini masih tergolong tahap awal-menengah,” jawab dokter. “Dan peluang respons terhadap pengobatan cukup baik, terutama jika ditangani sejak sekarang.”
Nathan menarik napas panjang. “Pengobatannya?”
“Kemoterapi adalah pilihan utama,” kata dokter itu jujur. “Namun kita juga bisa mempertimbangkan terapi obat tertentu sebagai tahap awal untuk menstabilkan kondisi Anda sebelum masuk ke terapi intensif.”
Nathan terdiam.
“Apakah Anda sudah mendiskusikan ini dengan keluarga?” tanya dokter itu hati-hati.
“Belum,” jawab Nathan singkat.
Dokter tidak mendesak. “Baik. Tapi saya perlu jujur—menunda terlalu lama tanpa pengawasan bisa berisiko.”
“Saya tidak berniat menunda,” kata Nathan. “Saya hanya… perlu waktu.”
Dokter mengangguk. “Saya akan resepkan obat untuk membantu menekan aktivitas sel kanker sementara dan mengurangi gejala. Ini **bukan pengganti pengobatan utama**, tapi bisa membantu menjaga kondisi Anda.”
Ia mencetak resep dan menyerahkannya pada Nathan.
“Efek sampingnya?” tanya Nathan.
“Mual ringan, kelelahan, kadang pusing,” jawab dokter. “Dan sangat penting—obat ini harus diminum teratur.”
Nathan menerima kertas itu. Tangannya sedikit bergetar, tapi suaranya tetap stabil.
“Saya mengerti.”
Ia keluar dari rumah sakit dengan kantong plastik kecil berisi obat-obatan. Tidak ada rasa lega. Hanya rasa… menunda sesuatu yang tak terelakkan.
Di rumah, ia menyembunyikan obat-obatan itu di laci terdalam lemari kerjanya—di balik map-map lama dan buku catatan yang jarang disentuh Luna.
Ia mulai meminumnya malam itu juga.
Nathan menjadi ahli dalam kebohongan kecil.
Ia minum obat setelah Luna tertidur. Ia menyamarkan rasa mual dengan alasan masuk angin. Ia menolak makan dengan alasan perut tidak enak. Ia mencuci seprai sendiri ketika keringat malamnya semakin sering.
Tubuhnya bereaksi pelan.
Ada hari-hari ketika ia merasa cukup baik—cukup untuk tertawa bersama Amara, cukup untuk mengantar Luna kontrol kehamilan. Ada hari-hari lain ketika ia harus duduk lama di kamar mandi, menunggu pusing itu mereda.
Luna mulai curiga.
“Kamu minum obat apa?” tanyanya suatu malam ketika mencium bau obat yang samar.
Nathan menoleh cepat. “Vitamin.”
“Vitamin apa?” Luna bertanya lagi.
“Dari kantor,” jawab Nathan. “Program kesehatan.”
Luna menatapnya beberapa detik. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi rasa lelah mengalahkan naluri.
Namun tubuh Nathan semakin sulit berbohong.
Ia lupa janji kecil. Ia kehilangan fokus di tengah percakapan. Kadang ia menatap Luna terlalu lama, seolah ingin menghafal wajahnya.
Suatu malam, Luna terbangun karena Nathan muntah di kamar mandi.
Ia berlari menghampiri. “Nathan!”
Nathan mengusap mulutnya cepat. “Aku tidak apa-apa.”
“Kita ke dokter,” kata Luna, hampir memohon.
Nathan menatapnya—mata Luna berkaca-kaca, perutnya besar, napasnya berat.
“Nanti,” kata Nathan pelan. “Tolong.”
Luna mengangguk, tapi tangannya gemetar.
Malam itu, Luna menangis diam-diam. Bukan karena tahu, tapi karena merasakan jarak yang tidak bisa ia jembatani.
Sementara itu, Nathan duduk sendirian di ruang kerja, botol obat di tangannya. Ia membaca kembali labelnya—dosis, peringatan, efek samping.
Ia tahu ia tidak bisa menyembunyikan ini selamanya.
Namun untuk sekarang, ia masih memilih diam.
Sedikit lagi, katanya pada dirinya sendiri.
Biarkan mereka tetap merasa aman.
Di luar kamar, Luna tidur dengan satu tangan di perutnya. Di dalam tubuh Nathan, perang kecil sedang berlangsung—sunyi, teratur, dan tak terlihat.
Dan setiap pil yang ia telan adalah pengingat bahwa rahasia ini bukan hanya tentang ketakutan—melainkan tentang waktu yang sedang ia pinjam.
sekarang Nathan juga pergi menghadap Tuhan....kasian Luna
dan akhirnya pria baik, penuh cinta dan kasih sayang itu telah pergi untuk selama lamanya
Nathan, pria yg selalu memberi kekuatan utknya. kini tlh meninggalkannya selama-lamanya