NovelToon NovelToon
My Boyfriend Is Daddy'S Friend

My Boyfriend Is Daddy'S Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Duda / Cintapertama
Popularitas:699
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Tiga bulan telah berlalu sejak badai yang nyaris menghancurkan kewarasan Sintia mereda. Musim telah berganti, begitu pula dengan atmosfer di kediaman Sintia yang kini terasa lebih hidup. Jika dulu tirai jendela selalu tertutup rapat, kini cahaya matahari pagi bebas masuk, memantul di atas meja makan tempat Sintia sedang mencoba merangkai bunga—sebuah hobi baru yang disarankan terapisnya untuk melatih fokus dan ketenangan.

Arga masih menjadi sosok yang sama: kaku, irit sedikit bicara, dan selalu waspada. Namun, ada perubahan kecil yang hanya bisa dirasakan oleh Sintia. Sorot mata Arga yang biasanya sedingin es, kini selalu melunak tiap kali menangkap bayangan Sintia di jarak pandangnya.

Pagi itu, Arga datang lebih awal. Ia membawa sebuah kotak kecil berisi perlengkapan melukis yang Sintia minta kemarin. Saat melangkah masuk, ia melihat Sintia sedang berada di dapur bersama asisten rumah tangganya.

"Arga?" Sintia menoleh dan tersenyum. Ia tidak lagi berjengit saat mendengar suara langkah kaki pria di belakangnya.

Arga meletakkan kotak itu di meja. "Barang yang kamu minta."

Sintia mendekat, lalu tanpa ragu, ia meraih tangan Arga untuk membantunya membukakan segel kotak tersebut. Sentuhan itu terasa alami. Sintia sudah bisa menggenggam tangan Arga, menyentuh lengannya, bahkan memeluknya dari belakang saat Arga sedang sibuk dengan laptopnya. Bagi orang lain, itu mungkin hal sepele, namun bagi Arga, setiap sentuhan dari Sintia adalah sebuah kemenangan besar atas trauma masa lalu gadis itu.

"Makasih ya, Ga. Kamu beneran cari merek yang aku mau," ujar Sintia sambil mengeluarkan kuas-kuas baru.

Arga mengangguk singkat. "Sagara yang bantu cari. Aku nggak paham soal kuas."

Sintia tertawa kecil. Kejujuran Arga yang apa adanya selalu berhasil membuatnya merasa aman. Tidak ada manipulasi, tidak ada rahasia gelap lagi. Semuanya transparan.

Sesuai janji, sore harinya Arga mengajak Sintia keluar untuk makan malam di sebuah restoran semi-terbuka. Ini adalah langkah besar. Biasanya, mereka hanya pergi ke taman yang sepi atau tempat-tempat privat.

"Kamu beneran siap?" Arga memastikan sekali lagi saat mereka di dalam mobil. "Restorannya nggak terlalu ramai, tapi pasti ada orang lain di sana."

Sintia menarik napas dalam-dalam, menggenggam jemari Arga yang berada di atas kemudi. "Aku harus coba, Ga. Aku nggak bisa selamanya sembunyi di balik punggung kamu."

Namun, realita terkadang lebih sulit daripada teori. Saat memasuki restoran, suasana terasa cukup nyaman sampai serombongan pria berpakaian kantor masuk dan duduk di meja besar tak jauh dari mereka. Suara tawa yang keras dan gerakan-gerakan tiba-tiba dari sekumpulan pria itu seketika membuat tubuh Sintia menegang.

Sendok di tangannya beradu dengan piring, menimbulkan denting kecil yang gemetar. Matanya mulai bergerak gelisah, memindai setiap pergerakan pria-pria di seberang sana. Memorinya tentang Jefry dan yang kasar seolah ingin merangkak naik kembali ke permukaan.

Arga, yang sejak awal tidak pernah melepaskan pandangannya dari Sintia, langsung bereaksi. Ia tidak bertanya "kamu kenapa?", karena ia tahu jawabannya.

Arga segera berpindah duduk ke kursi tepat di samping Sintia, bukan lagi di hadapannya. Ia memosisikan tubuhnya yang tegap sebagai penghalang pandangan Sintia terhadap kerumunan pria tersebut. Dengan tangan besarnya, ia menangkup wajah Sintia, memaksa gadis itu untuk menatap matanya saja.

"Sin, fokus ke aku," suara Arga berat dan memerintah, namun ada nada protektif yang sangat kental. "Tarik napas. Hitung sampai lima."

Sintia mengikuti instruksi itu. "Ga... mereka..."

"Mereka nggak akan ke sini. Ada aku di sini. Nggak akan ada yang berani lewat batas ini," tegas Arga. Tatapan matanya yang tajam sempat melirik ke arah meja sebelah dengan aura mengancam yang membuat suasana di sana mendadak agak sunyi, seolah mereka tahu ada "singa" yang sedang menjaga wilayahnya.

Setelah beberapa menit, detak jantung Sintia mulai stabil. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arga, menghirup aroma kayu manis dan maskulin dari kemeja Arga yang selalu menjadi jangkar baginya.

"Maaf, aku masih sering ketrigger," bisik Sintia malu.

"Nggak perlu minta maaf. Progres bukan garis lurus, Sin. Ada kalanya kamu mundur satu langkah, tapi kita bakal maju lagi dua langkah," balas Arga sambil mengusap rambut Sintia lembut.

Keadaan yang mulai membaik membuat Sintia mulai memikirkan masa depannya yang sempat tertunda. Malamnya, setelah kembali ke rumah, Sintia memberanikan diri membuka topik yang selama ini menjadi area sensitif bagi Arga.

"Ga, aku sudah cek portal akademik. Semester baru mulai bulan depan. Aku rasa aku mau coba ambil satu atau dua mata kuliah saja. Biar nggak terlalu tertinggal jauh," ujar Sintia hati-hati.

Wajah Arga yang tadi mulai rileks saat menonton televisi seketika berubah mengeras. Rahangnya mengatup rapat. Ia mematikan televisi dan menoleh sepenuhnya ke arah Sintia.

"Nggak. Belum boleh," jawab Arga singkat dan mutlak.

"Tapi Ga, aku sudah jauh lebih baik. Terapis aku juga bilang aku butuh sosialisasi yang—"

"Kampus itu tempat terbuka, Sin," potong Arga dengan nada dingin yang kembali muncul. "Banyak laki-laki yang nggak bisa dikontrol. Kamu lihat tadi di restoran? Kamu cuma lihat lima orang dan kamu hampir kolaps. Di kampus, ada ribuan orang. Aku nggak bisa di samping kamu 24 jam di dalam kelas."

"Aku bisa bawa pepper spray, aku bisa lapor ke keamanan kalau ada apa-apa—"

"Keamanan kampus nggak akan bisa bertindak secepat aku," Arga berdiri, berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Bayangan tentang Sintia yang dikelilingi kerumunan pria di lorong kampus membuat protektifitasnya yang ekstrem kembali menyala. "Jefry memang di penjara, tapi sisa-sisa trauma kamu itu musuh yang lebih nyata sekarang. Aku nggak mau ambil risiko kamu hancur lagi cuma karena satu orang asing yang nggak sengaja menabrak kamu di koridor."

Sintia menatap Arga dengan nanar. "Lalu sampai kapan, Ga? Sampai aku tua dan cuma tahu jalanan rumah sama taman kota?"

Arga berhenti melangkah. Ia menatap Sintia dengan intensitas yang menyesakkan. "Sampai aku yakin kamu nggak akan gemetar lagi saat aku nggak ada di samping kamu. Untuk saat ini, jawaban aku tetap nggak. Kamu bisa ikut kelas online kalau memang mau belajar. Tapi masuk kampus? Belum waktunya."

Arga kemudian mendekat, berlutut di depan Sintia yang duduk di sofa, menggenggam kedua tangannya dengan erat—nyaris terlalu erat. "Aku bukan mau mengurung kamu, Sin. Aku cuma nggak sanggup lihat kamu ketakutan lagi. Mengerti?"

Sintia hanya bisa mengangguk pelan, meski ada rasa kecewa. Ia tahu, di balik sikap kaku dan otoriter Arga, ada rasa takut yang sama besarnya. Arga takut gagal menjaganya lagi.

Beberapa hari setelah perdebatan itu, Arga mencoba menebus rasa bersalahnya karena telah bersikap terlalu keras soal kampus. Ia mengatur agar Sintia bisa bertemu dengan beberapa teman wanitanya di rumah dalam pengawasannya yang bijaksana—ia memantau dari ruang kerja, namun membiarkan mereka memiliki ruang privasi.

Arga menyadari bahwa cintanya pada Sintia adalah jenis cinta yang menuntut tanggung jawab penuh. Ia bukan tipe pria yang bisa merangkai kata-kata manis setiap saat, namun ia adalah pria yang akan memastikan tidak ada satu helai rambut pun di kepala Sintia yang terluka.

Sore itu, saat Sintia sedang asyik berbincang dengan temannya di teras, Arga memperhatikan dari balik jendela kaca lantai dua. Ia melihat Sintia tertawa. Sebuah tawa yang tulus.

Arga mengambil ponselnya, menghubungi Sagara. "Pastikan orang-orang kita tetap berjaga di sekitar rumah Sintia dan rute manapun yang dia lalui. Dan soal izin kampusnya... mulai riset sistem keamanan di sana. Kalau memang dia harus kembali suatu saat nanti, aku mau gedung itu seaman penjara bawah tanah."

Arga menutup telepon. Ia kembali menatap Sintia di bawah sana. Baginya, Sintia adalah kepingan kaca yang baru saja ia rekatkan kembali. Indah, namun masih sangat rapuh. Dan selama Arga masih bernapas, ia bersumpah tidak akan membiarkan siapapun, atau situasi apapun, membuat kepingan itu hancur untuk kedua kalinya.

Bagi Arga, bersikap "kaku" dan protektif bukanlah pilihan, melainkan satu-satunya cara yang ia tahu untuk mencintai wanita yang telah meruntuhkan tembok dingin di hatinya.

1
Ekasari0702
kenapa lama sekali up nya
Nadhira Ramadhani: nanti malam insyaallah up kak🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!