Selby dan Bagas saling mencintai dalam diam. Saat Bagas menyatakan cinta Selby menolak karena berpikir mereka saudara sedarah.
Padahal mereka bukan sedarah. Akankah hal itu bisa terungkap?
Akankah ibu dari Bagas mengungkap rahasia yang selama ini dia simpan rapat?
Dapatkah Bagas dan Selby bersatu.(Disarankan baca lebih dulu novel Benih Kakak Iparku.)
Baca kisah mereka hanya di Mangatoon/Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss ning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Kamar apartemen milik Bagas
Bagas membawa Selby ke apartemen miliknya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat
Selby tidak bisa tidur.
Ia marah. Ia kesal. Saat mengingat ucapan papanya yang menghina ibunya.
Anak jalang yang kotor dan menjijikkan.
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinga Selby.
Sejak masuk ke dalam kamar, Selby hanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang sulit diartikan.
Selby menatap jam dinding. Hampir tengah malam. Seharusnya ia sudah tidur. Besok harus bekerja.
“Sial gara-gara ucapan papa aku jadi susah tidur.” Selby mengumpat lalu turun dari ranjang.
Ia berjalan ke arah jendela lalu menyingkap gorden dan membuka pintu balkon. Selby berdiri disana. Melihat langit yang penuh dengan Bintang. Sang rembulan pun bersinar dengan penuh.
Sungguh indah pemandangan malam ini. Selby menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa tubuhnya. Menarik nafas dalam lalu memejamkan mata menikmati sapuan dingin angin yang menerpa kulitnya.
Udara malam sedikit menenangkan Selby.
Pintu kamar Selby tidak terkunci. Bagas masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu. Bagas berpikir Selby pasti sudah tidur mengingat hari sudah lewat tengah malam. Bagas tidak menemukan Selby di ranjang. Lalu ia melihat ke arah balkon yang gelap. Meski minim penerangan ia dapat memastikan itu Selby.
“Kau belum tidur?”
Selby membuka mata. Ia terkejut melihat ke arah samping sudah ada Bagas berdiri disana.
“Kau sedang apa disini?”
Selby mengangkat bahu. “Aku tidak bisa tidur.”
“Karena papa?”
Selby mengangguk. Bagas memeluk bahu Selby membuat gadis itu langsung menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.
“Aku hanya tidak suka dia terus-terusan menghina mami. Rasanya sakit. Meski mami bukan ibu terbaik tetapi dia tetap ibuku Bagas.”
“Aku mengerti. Apapun itu aku akan terus mendukungmu. Jangan pernah tinggalkan aku apapun yang terjadi. Meski papa mengancam kau tidak boleh pergi dariku. Aku tidak mengijinkan itu.”
Selby tertawa kecil.
Alis Bagas berkerut. Kenapa Selby tertawa?
“Aku lebih khawatir kau yang meninggalkanku. Bukankah kau akan segera bertunangan dengan Lili?”
“Tidak akan.”
“Kau yakin sekali.”
“Kau tidak percaya padaku?”
“Percaya. Tetapi aku tidak percaya dengan papa. Pasti dia akan terus memaksamu.”
“Aku tidak peduli.”
“Tetapi papa peduli. Dia pasti akan menggunakan berbagai cara untuk memaksamu. Mungkin dengan membuatku jauh darimu. Atau mungkin kau akan dipaksa dengan ekstrim agar lebih dekat dengan Lili.”
Bagas menunduk melihat Selby. Ia menatap dalam gadisnya. “Apa maksudmu?”
Selby tersenyum.
Bagas seolah lupa bagaimana dunia tipu-tipu dalam bisnis. Jebak menjebak untuk melicinkan usaha. Tidak peduli dengan norma agama yang penting tujuan mereka tercapai.
“Mungkin saja kau akan dipaksa meniduri Lili dengan cara kotor. Dengan memberimu obat perangsang mungkin.”
Benar.
Pasti rencana itu ada. Iya yakin. Sudah banyak wanita yang melakukan itu padanya. Beruntung Bagas selalu menyimpan obat penawar di dalam saku.
Bagas mengangguk pelan lalu menggenggam tangan Selby.
“Kau tidak perlu khawatir. Aku selalu menyimpan penawar obat seperti itu.”
Bagas mencium punggung tangan Selby. Matanya memancarkan hal lain.
Selby mengangguk. Ia tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi. Tetapi entah kenapa masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang akan terjadi entah itu pada dirinya atau Bagas.
“Jangan tinggalkan aku Bagas. Apapun yang terjadi.”
“Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu. Kau jiwaku. Jantung hatiku. Tanpamu duniaku gelap Selby.”
Mereka berpelukan. Bagas membenamkan wajahnya di lekuk leher Selby. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Selby yang wangi. Tangannya membelai lembut punggung Selby. Memberikan kenyamanan disana.
“Tidak ada hal yang membahagiakan di dunia ini selain memilikimu Selby.”
Pipi Selby merona merah. Ia mengeratkan pelukan di pinggang Bagas.
“Dunia terasa gelap tanpa kau disisiku. Kau cahayaku. Kau matahariku.”
“Sejak kapan kau pandai merayu?”
Bagas menghirup kembali aroma tubuh Selby. Bibir pria itu menekan pipi kiri Selby.
Selby memejamkan mata merasakan sapuan nafas yang menyentuh pipinya. Terasa hangat. Tangan Selby merayap naik. Dalam beberapa detik ia langsung menangkap wajah Bagas.
Cup
Kecupan singkat mendarat di bibir Bagas. Tidak puas. Masih kurang. Mau lagi. Harus yang lama.
“Lagi.” Bisik Bagas dengan nada memohon.
Selby kembali mencium Bagas. Ciuman yang dalam. Saling membelit menciptakan decapan yang lembut. Bagas menekan dalam. Selby mengimbangi. Bagas mengangkat tubuh Selby seperti koala. Kaki Selby membelit pinggang Bagas. Ciuman masih berlangsung. Terlepas sesaat lalu kembali ciuman.
Bagas membawa Selby masuk ke dalam kamar tanpa melepas ciuman mereka.
Semakin lama mereka ciuman maka semakin besar ga*irah yang dirasakan Bagas. Sesuatu di bawah sana sudah besar dan berdiri kokoh seperti beton. Kuat dan berotot.
Bagaimana cara Bagas mengatasinya?
Bayu melepas ciuman. Mata mereka saling tatap. Memancarkan cinta yang begitu besar. Bagas kembali menyambar bibir Selby. Tidak ada kata puas. Semakin banyak ia mencium Selby rasanya semakin haus.
Selby seperti oase di padang pasir. Semakin ia minum semakin membuatnya haus. Rasanya tidak puas ia ingin memiliki Selby.
Gadis itu mengerang pelan. Tubuhnya panas. Seperti kobaran api yang membara.
“Bagas.”
“Iya By.”
“Kau membuatku gila Bagas.”
Bagas menurunkan lengan gaun tidur yang dikenakan Selby. Ia turunkan keduanya sampai bawah dada. Selby tidak menolak. Bagas membenamkan wajahnya disana. Mencium wangi aroma dada Selby yang lembut.
Ujung jari Bagas mengusap lembut ujung dada Selby yang berwarna merah muda. Pas ditangan dan sangat kenyal.
Selby mendesis seperti ular.
Uh
Rasanya aneh. Ada sensasi geli tetapi nikmat. Selby meremas rambut Bagas saat mulut lelaki itu mengulum ujung dadanya.
“Bagas apa yang kau lakukan?”
“Sebentar Selby. Biarkan aku menikmatinya sesaat.”
Selby membiarkan. Ada yang aneh. Sangat aneh. Sensasi apa ini. Kenapa rasanya masih kurang? Seperti ada sesuatu yang lebih yang Selby inginkan. Rasanya dicium saja tidak cukup. Ia ingin lebih tapi apa? ia tidak tahu.
“Bagas, Uhhh.”
Selby melenguh. Suaranya sedikit serak. Bagas semakin bersemangat. Tubuhnya terbakar. Has*ratnya melambung tinggi. Milik Bagas menekan milik Selby yang masih sama-sama terbungkus kain.
Kring-kring
Ponsel berdering. Menyadarkan Selby dan Bagas atas kesalahan yang baru saja mereka lakukan. Selby turun dari pangkuan Bagas. Ia menaikkan kembali tali baju tidurnya yang sempat diturunkan oleh Bagas.
Sial
Siapa yang menelepon. Mengganggu saja. Bagas pusing. Sangat pusing. Bukan hanya kepalanya saja tetapi tubuhnya juga terasa lemas.
“Selby, maafkan aku. Aku khilaf.”
Selby menggeleng.
Ia tahu tadi Selby yang mulai mencium Bagas. Tidak seharusnya ia melakukan itu. Jika Bagas salah maka ada andil dia di dalamnya. Ia tidak bisa menyalahkan Bagas sepenuhnya.
Bagas menggeram. Ia menahan sesuatu yang tidak jadi meledak. Ia sakit tidak bisa mengeluarkan itu. Ia harus keluar. Mendinginkan tubuhnya. Menidurkan miliknya.
“Aku juga salah tidak mampu menolakmu.”
wah dalton akhirnya muncul ayo bikin bsyu menyesal dan malu
duh kemana si dalton ko GK muncul