Kelahiran Senja Putri Baskara bukanlah awal, melainkan akhir.
Awalnya, ia adalah janin yang dikandung ibunya, janin yang membawa badai-badai kehadirannya merenggut nyawa kakak laki-lakinya, Fajar Putra Baskara, menghancurkan bisnis keluarga, dan melenyapkan kebahagiaan sang ibu. Sejak hari pertama dirinya hadir, Senja adalah bayangan yang dicap sebagai pembawa sial.
Satu-satunya cahaya di hidupnya adalah sang ayah. Pria yang memanggilnya 'Putri' dan melindunginya dari tatapan tajam dunia. Namun, saat Senja beranjak dewasa, cahaya itu pun padam.
Ditinggalkan sendirian dengan beban masa lalu dan kebencian seorang ibu, Senja harus berjuang meyakinkan dunia (dan dirinya sendiri) bahwa ia pantas mendapatkan kebahagiaan.
Apakah hati yang terluka sedalam ini bisa menemukan pelabuhan terakhir, ataukah ia ditakdirkan untuk selamanya menjadi Anak pembawa sial? ataukah ia akan menemukan Pelabuhan Terakhir untuk menyembuhkan luka dan membawanya pada kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Kemenangan Damar atas skandal yang dirancang Sofia ternyata menyebar seperti api di padang rumput kering. Namun, bukan hanya keberhasilan bisnis Damar yang dibicarakan, melainkan "sosok di balik layar" yang membongkar kebohongan itu: Fajar Arun, putra sulungnya yang belum genap berusia tiga tahun. Berita tentang balita yang memiliki ketajaman visual setara ahli forensik digital menjadi legenda urban di kalangan elit Jakarta.
Bagus, dalam sebuah jamuan makan malam bersama para kolega internasional, tanpa sengaja menunjukkan rekaman CCTV kantor di mana Fajar dengan tenang menunjuk anomali bayangan pada foto tersebut. Video itu bocor ke kalangan terbatas, memicu rasa penasaran dari lembaga-lembaga pendidikan dunia.
Tak butuh waktu lama bagi Senja untuk merasakan dampaknya. Di depan gerbang rumah mereka, kurir silih berganti mengantarkan undangan mulai dari acara bincang-bincang televisi hingga tawaran riset dari universitas luar negeri.
"Damar, ini semakin tidak terkendali," ujar Senja sambil menatap tumpukan amplop di meja ruang tamu. Salah satu amplop terlihat sangat mencolok; berwarna biru tua dengan segel lilin emas bertuliskan Global Genius Institute (GGI).
Senja merasakan getaran di tangannya. Ia mengenal logo itu. Itu adalah lembaga yang pernah mencoba "membeli" masa kecilnya ketika Paramita ibu kandungnya masih berambisi menjadikannya pelukis nomor satu di dunia. Bagi Senja, logo itu bukan simbol kecerdasan, melainkan simbol eksploitasi.
Damar, dengan insting pelindungnya, menyadari kegelisahan Senja. Ia merangkul bahu istrinya, memberikan kehangatan yang stabil. "Kita tidak akan membiarkan sejarah berulang, Senja. Tapi kita juga tidak bisa menutup mata bahwa anak-anak kita butuh arahan. Mari kita dengar apa yang mereka katakan, tapi di bawah syarat kita."
Syarat itu mutlak: Dr. Aris, kepala perwakilan GGI, hanya boleh datang sebagai "tamu biasa", tanpa jas putih, tanpa kamera, dan tanpa memaksa anak-anak melakukan tes formal.
Dr. Aris tiba pada suatu sore yang cerah. Ia disambut oleh keheningan rumah yang asri, jauh dari kesan laboratorium. Namun, saat ia melangkah ke ruang bermain, ia langsung disambut oleh fenomena yang membuatnya terperangah.
Binar Mentari sedang duduk di lantai, menyusun balok-balok kayu dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Begitu Dr. Aris duduk, Binar menengadah. "Anda bernapas 22 kali per menit saat berjalan masuk, sekarang turun menjadi 18 kali. Apakah udara di rumah kami membuat Anda lebih tenang, atau Anda sedang mencoba menstabilkan hormon adrenalin Anda?"
Dr. Aris terdiam. Ia bahkan belum membuka mulut untuk menyapa. Binar tidak hanya menghitung, ia menganalisis fisiologi manusia layaknya seorang dokter senior.
Di sudut lain, Fajar Arun sedang asyik dengan palet warnanya. Ia tidak menggambar pemandangan taman. Ia menggambar Dr. Aris, namun dengan cara yang aneh. Ia mencampur warna biru pucat dengan garis-garis merah tajam di bagian dahi sketsanya.
"Kenapa warnanya seperti itu, Fajar?" tanya Dr. Aris penasaran.
"Karena itu warna pikiranmu," jawab Fajar tanpa menoleh. "Biru untuk rasa ingin tahu, merah untuk ambisi yang berisik. Anda ingin membawa kami pergi, kan?"
Dr. Aris merasa telanjang di depan anak berusia dua tahun. Sementara itu, Cahaya Surya mendekat dengan sebuah buku klasik karya Victor Hugo di tangannya. Ia tidak hanya membacanya; ia sedang menandai bagian-bagian diksi yang menurutnya "kurang tepat" dalam terjemahan bahasa Indonesia.
"Bahasa adalah jembatan rasa, Dok," ujar Cahaya dengan nada bicara yang dewasa namun suara yang tetap cadel menggemaskan. "Jika jembatannya retak karena terjemahan yang salah, rasa itu tidak sampai ke seberang."
Di ruang kerja Damar, Dr. Aris akhirnya meletakkan semua dokumennya. Wajahnya yang biasanya tenang kini penuh dengan gairah intelektual.
"Tuan Saputra, Nyonya Senja... ini bukan lagi soal kejeniusan. Ini adalah evolusi. Ketiga anak Anda memiliki kemampuan kognitif yang jika dikuantifikasi mungkin mencapai IQ di atas 180. Jika mereka tetap di lingkungan rumah biasa, mereka akan mengalami stagnasi. Bakat mereka akan tumpul oleh rutinitas yang membosankan."
"Lalu apa tawaran Anda?" tanya Damar dingin.
"Akselerasi total. Kami memiliki fasilitas di Singapura. Mereka akan didampingi oleh profesor dari MIT dan Oxford. Di usia tujuh tahun, mereka bisa menguasai kalkulus kompleks. Di usia sepuluh tahun, mereka bisa memberikan kontribusi nyata bagi sains dunia. Mereka adalah aset peradaban, bukan hanya anak Anda."
Senja berdiri tiba-tiba. Wajahnya pucat, namun matanya menyala. "Aset? Anda bilang mereka aset? Mereka bukan barang tambang yang harus digali hingga kering, Dr. Aris! Mereka adalah manusia yang butuh pelukan, yang butuh merasa gagal, yang butuh menangis karena es krimnya jatuh! Anda ingin merampas itu semua demi 'sains dunia'?"
Ingatan Senja melesat ke masa lalunya. Ruang latihan yang dingin. Paramita yang berdiri dengan penggaris di tangan jika garis lukisannya tidak lurus. Senja yang tidak pernah tahu rasa cokelat karena takut merusak konsentrasi. Ia pernah menjadi "aset peradaban" versi ibunya, dan hasilnya adalah jiwa yang retak dan hampir hancur sebelum Damar menemukannya.
"Aku tahu rasanya menjadi 'jenius' yang Anda maksud," suara Senja bergetar namun tajam. "Rasanya seperti berada di puncak gunung yang sangat indah, tapi Anda tidak punya oksigen untuk bernapas. Kesepian yang mematikan. Aku tidak akan membiarkan anak-anakku mengalami itu."
Damar memegang tangan Senja, memberikan dukungan moral yang tak tergoyahkan. Ia menatap Dr. Aris dengan tatapan sang Jenderal. "Keputusan kami bulat. Kami tidak butuh MIT. Kami tidak butuh Oxford untuk saat ini. Kami adalah benteng mereka. Jika mereka ingin belajar kalkulus, aku akan mendatangkan pengajarnya ke sini, tapi setelah mereka selesai bermain petak umpet.
Sebelum Dr. Aris pergi, ia meminta satu hal terakhir: izin untuk bertanya langsung kepada anak-anak. Damar mengizinkan.
Ketiga anak itu berdiri berjejer. Cahaya yang paling depan, sebagai juru bicara yang alami.
"Anak-anak, maukah kalian pergi ke tempat di mana kalian bisa belajar semua hal hebat di dunia? Ada laboratorium besar, perpustakaan raksasa, dan kalian bisa menjadi orang paling terkenal," tanya Dr. Aris dengan nada membujuk.
Cahaya tersenyum tipis. "Di sana ada Papa yang membacakan dongeng sebelum tidur tidak?"
Binar menyela, "Di sana ada Mama yang mencium kening kami saat kami mimpi buruk tidak?"
Fajar menambahkan sambil mengangkat kuasnya, "Di sana ada taman yang boleh kami buat kotor dengan cat tidak?"
Dr. Aris terdiam. Jawaban-jawaban itu sederhana, namun mengandung logika emosional yang tak terbantahkan. Ketiga anak itu, meski jenius, tahu persis di mana sumber kebahagiaan mereka.
"Kami mau jadi pintar, Dok," pungkas Cahaya Surya. "Tapi kami mau jadi pintar sambil pegangan tangan dengan Mama dan Papa."
Setelah Dr. Aris pulang dengan tangan hampa namun hati yang penuh kekaguman, Damar mengumpulkan keluarga besarnya. Bagus dan Fatimah pun hadir. Damar mengumumkan keputusan besar: Pembentukan "Akademi Tiga Cahaya".
Ia tidak akan mengirim anak-anak keluar, namun ia akan mengubah rumah mereka menjadi pusat pembelajaran terbaik. Ia merekrut tutor-tutor terbaik dunia untuk mengajar secara privat, namun dengan kurikulum yang dirancang oleh Senja—kurikulum yang menyeimbangkan IQ dengan kebahagiaan jiwa.
Malam itu, mereka merayakannya dengan cara yang paling tidak "jenius" yang bisa dibayangkan: Berkemah di halaman belakang.
Damar mendirikan tenda besar. Mereka menyalakan api unggun kecil. Senja menyiapkan cokelat panas dengan marshmallow. Di bawah langit malam yang bertabur bintang, kelima orang itu berbaring beralaskan rumput.
"Papa," panggil Binar pelan. "Jarak bintang Sirius dari sini adalah 8,6 tahun cahaya. Secara matematis, kita sedang melihat masa lalu."
Damar tertawa rendah, memeluk Binar di sisi kirinya. "Mungkin begitu, Sayang. Tapi hari ini, Papa tidak peduli seberapa jauh bintang itu. Yang penting adalah kalian ada di sini, di pelukan Papa dan Mama."
Senja memejamkan mata, menghirup aroma tanah dan kayu terbakar. Ia merasa bebannya terangkat. Di tangan Damar, kejeniusan anak-anak mereka bukan lagi sebuah kutukan atau beban, melainkan hadiah yang dijaga dengan cinta yang waras.
"Tuhan, terima kasih telah mengirimkan Damar ke dalam hidupku. Dia bukan hanya Pelita bagiku, tapi dia adalah cakrawala bagi anak-anak kami. Hari ini, aku belajar bahwa menjadi hebat itu penting, tapi menjadi bahagia adalah mutlak." ucap Senja dengan penuh rasa syukur
Maaf kalo kemarin aku gak up ya, karna satu dan lain hal aku bolong up.. kalo sempat hari ini aku doubel deh. Semoga saja yaa aku sanggup kasi doubel hari ini
Gak suka lah/Cry/