NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Buruk Rupa

Transmigrasi Ke Tubuh Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Transmigrasi / Fantasi Wanita
Popularitas:53k
Nilai: 5
Nama Author: cute women

Dikhianati oleh sahabatnya sendiri dalam misi rahasia, Xiao Su tewas dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab.

“Kenapa…?”

“Karena kau menghalangi jalanku.”

Ia mengira kematian adalah akhir.
Namun saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis bangsawan yang dihina semua orang — Xiao Mei.

Wajah buruk rupa. Tubuh lemah. Keluarga penuh kepalsuan.
Saudari tiri yang menginginkan kematiannya. Tunangan yang memandangnya dengan jijik. Dunia kuno yang kejam dan penuh intrik.
Tapi mereka tidak tahu…

Jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi Xiao Mei yang lemah.

Ia adalah Xiao Su. Seorang wanita modern yang tak akan membiarkan dirinya diinjak dua kali.

Kali ini, ia tidak hanya akan bertahan hidup — Ia akan mengubah takdir. Menghancurkan mereka yang meremehkannya.
Dan membuktikan bahwa bahkan wanita yang disebut “buruk rupa” pun bisa menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya.
Karena untuk kedua kalinya… Ia tidak akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cute women, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan yang terencana

“Satu langkah salah, dan semua yang kau perjuangkan bisa runtuh.”

HAPPY READING>.<....

 

Fajar belum sepenuhnya muncul ketika Xiao Mei dan Duke Wang meninjau desa hilir yang sebelumnya dilanda kekeringan. Udara pagi lembap, bercampur aroma tanah basah, kayu, dan rerumputan yang terguyur embun. Kabut tipis masih menempel di permukaan sungai, menutup kilauannya di bawah cahaya redup matahari yang perlahan menembus pepohonan. Suasana tampak tenang, tapi ketegangan tetap mengambang—seolah desa menahan napas, menunggu sesuatu yang tak terlihat.

“Xiao Mei,” bisik Duke Wang, matanya menelusuri rumah kayu, pepohonan kecil, dan jalur setapak yang menghubungkan gudang ke ladang, “ada sesuatu yang terasa tidak biasa. Jejak yang kita temukan semalam… sepertinya sengaja memancing kita ke sini.”

Xiao Mei mengerutkan alis, matanya menyapu lorong-lorong sempit desa. Rerumputan basah menempel di sepatu, aroma tanah lembap bercampur bau kayu basah memenuhi hidungnya. “Kalau benar… ini jebakan. Dalang ingin melihat reaksi kita. Mereka tahu kita akan bergerak,” gumamnya, suara pelan tapi tegas.

Mereka turun dari kuda, menyusuri gang sempit menuju gudang cadangan air. Pintu kayu sedikit terbuka, seperti sengaja membiarkan celah. Di tanah, bekas roda gerobak bercampur jejak kaki—seolah sengaja meninggalkan petunjuk. Tiap lekuk jejak, tiap bekas pijakan, menuntut perhatian penuh.

“Perhatikan baik-baik,” kata Xiao Mei, matanya meneliti setiap lekuk jejak, noda tanah, bahkan serpihan kayu yang menempel di sepatu pasukan. “Ini bukan kebetulan. Ini jebakan yang terencana.”

Duke Wang mengangguk, memeriksa formasi pasukan. “Kita tidak bisa tergesa-gesa. Setiap langkah harus diperhitungkan.”

Mereka masuk perlahan ke gudang. Bau kayu basah dan udara lembap menyambut mereka, bercampur tanah basah yang menempel di lantai. Beberapa karung gandum telah dipindahkan, tersusun rapi namun tidak sesuai catatan distribusi. Sesuatu terasa janggal. Xiao Mei menunduk, memeriksa catatan.

“Ini bukan sekadar manipulasi data. Semua diarahkan untuk menipu kita. Lihat… desa yang seharusnya menerima jatah penuh, malah dicatat kosong. Dan sebaliknya,” ujarnya sambil menunjuk catatan yang penuh coretan, tinta basah, dan angka yang tampak sengaja dibalik-balik.

Duke Wang menyentuh bahunya, menatap karung-karung yang dipindahkan. “Ini lebih dari sabotase. Dalang ingin menciptakan kekacauan dengan cara halus. Pola ini… terlalu teratur untuk dilakukan orang biasa.”

Tiba-tiba terdengar suara langkah ringan di luar. Pasukan segera membentuk formasi, pedang dan tombak siap. Bayangan bergerak cepat di antara pepohonan, lalu menghilang sebelum bisa dikenali. Angin dingin meniup daun basah, menimbulkan suara desiran yang membuat hati berdebar.

“Dalang ini… menguji kita lagi,” gumam Xiao Mei, tangan mengepal di pedang, mata menatap pintu gudang. “Mereka ingin kita bereaksi, menentukan strategi.”

Duke Wang menatap lorong gelap, menenangkan napasnya. “Dan kita harus tetap tenang. Setiap gerakan mereka memancing kita. Kita harus lebih cerdas dari mereka.”

Xiao Mei menoleh ke anak-anak desa yang mengintip dari balik pintu. Mata mereka penuh harap tapi juga takut. “Ini bukan hanya tentang air. Ini soal opini rakyat. Jika kita salah langkah… kepercayaan bisa runtuh dalam hitungan jam.”

Mereka meninggalkan gudang, mengikuti jalur yang sudah mereka telusuri sebelumnya. Di jalan setapak, tanah lembap menahan langkah kuda, daun basah menempel di sepatu. Aroma tanah basah, suara burung pemangsa yang terbang rendah, dan gesekan ranting menambah ketegangan. Setiap langkah diperhatikan, setiap jejak dianalisis.

Beberapa anak kecil berlari di belakang pagar, menahan napas saat melihat pasukan melewati. Xiao Mei tersenyum tipis, tapi matanya tetap waspada. “Setiap langkah kita memengaruhi mereka. Kita harus memastikan setiap desa aman, distribusi tepat, dan setiap jejak diperiksa.”

Duke Wang mengangguk, matanya menembus bayangan pepohonan. “Ini perang psikologi. Dalang tahu kapan ketakutan muncul, kapan kebohongan diterima, dan kapan kita bereaksi. Kita harus mematahkan pola itu.”

Mereka tiba di ujung desa, di mana saluran air sebagian tersumbat. Batu dan kayu tersusun rapi, bukan sembarangan. “Ini bukan kerja rakyat biasa,” ucap Xiao Mei. “Ini orang yang terlatih, yang ingin kita tersandung.”

Duke Wang memeriksa sekitar. “Jebakan ini dirancang rapi, tapi kita bisa memanfaatkannya. Setiap pola bisa dipecahkan, setiap strategi bisa dibalikkan.”

Mereka mulai membersihkan sumbatan dengan pasukan. Perlahan, air kembali mengalir ke ladang dan sumur. Beberapa warga menatap lega, tapi tetap waspada. Bau tanah basah dan kayu terbakar samar terasa di udara, menandakan aktivitas malam sebelumnya yang misterius.

Xiao Mei menatap aliran air yang kembali lancar. “Ini bukan sekadar distribusi. Ini simbol—kepercayaan yang kita pulihkan. Tapi dalang masih menunggu di bayang-bayang.”

Duke Wang menghela napas panjang. “Dan saat kita menemukan pusat operasi mereka… seluruh jaringan bisa terbongkar. Tapi kita harus hati-hati. Sekali salah… semua bisa hancur.”

Malam menjelang, mereka kembali ke pos terdepan desa. Pasukan beristirahat, tapi mata Xiao Mei tetap waspada. Setiap detik berharga. Dalang yang terampil tidak akan membiarkan mereka merasa aman terlalu lama.

Xiao Mei menatap kegelapan, mengingat semua jejak. “Setiap gerakan mereka… pesan atau jebakan, masih menjadi misteri. Tapi satu hal jelas: permainan belum selesai.”

Duke Wang berdiri di sampingnya, matanya menembus gelap. “Bayangan itu terus bergerak, menunggu bidak berikutnya. Kita harus siap, dan lebih cepat dari mereka.”

Xiao Mei menutup mata sejenak, merasakan beban tanggung jawab. “Ini bukan hanya soal distribusi air, Duke. Ini pertempuran untuk hati rakyat. Dan kita tidak boleh gagal.”

Udara malam semakin dingin. Sungai yang kini mengalir pelan menjadi saksi ketegangan hari itu. Namun bagi Xiao Mei dan Duke Wang, permainan bayangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Setiap langkah harus diperhitungkan. Setiap keputusan harus tepat. Dan satu kesalahan… bisa menjadi bencana.

 

Teaser Bab 29 – “Dalang dalam Bayangan”

Bayangan itu tak lagi sekadar mengintai dari kejauhan—tanda-tanda dalang mulai muncul.

Tapi siapa sebenarnya kambing hitam yang selama ini disalahkan? Apakah dia benar pelakunya, ataukah ada rencana lebih besar yang tersembunyi di balik layar?

Xiao Mei menatap gelap yang menebal di tepi desa, hatinya bergetar. Setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka lebih dekat… tapi juga lebih dekat ke bahaya yang belum sepenuhnya mereka mengerti.

“Setiap jawaban yang kita temukan,” bisik Duke Wang, “hanya akan menimbulkan pertanyaan baru… dan jebakan berikutnya mungkin sudah menunggu.”

Satu kesalahan… dan semuanya bisa runtuh.

Apakah kambing hitam yang selama ini disalahkan benar-benar bersalah, ataukah ada permainan besar yang menunggu untuk terungkap?

 

Siapa sebenarnya dalang di balik sabotase ini?

Apa rencana besar yang masih tersembunyi di bayangan?

Bisakah Xiao Mei dan Duke Wang mematahkan pola jebakan ini sebelum terlambat?

 

BERSAMBUNG…..

________________________________________

Hai para pembaca setia 🌸, sekadar info aja ya, author up-nya selang-seling. Misal hari ini up, besok enggak. Sekali up bisa 1–3 bab. Nantikan update-an bab selanjutnya ya 👋

 

1
Nurlaila Hidayah
ya terlalu byak berfikir, kta'a agen tpi kok ga ada tndakan apa2 mlah cma byk berdikir
Anjani Manurung
mampir
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Hhmm 🤔 apaa yaa ceritana kaya bertumpuk-tumpuk, ga runtut, padahal bacana pelan 🤧
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Hhmmm
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
ini ceritana jaman kerajaan cina apa barat sih 🤔
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Rencana jahatmu ga akan berhasil
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Mantuul 😊
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Mayan lah
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Hhmm 🤔 apa ga dikasih bekel gitu itu setelah transmigrasi
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Lanjuutt
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Okeh nyimak
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Cakeepp
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Mampir
Retno Palupi
kata kata nya d ulang apa babnya diulang? jd tambah pusing
evi carolin
terlalu banyak bermonolog dalam hati n pikiran ,ga ada strategi sama sekali
Retno Palupi
permainan blm selesai kok terus, kata katanya banyak yg diulang
Retno Palupi
ini bab nya d ulang g sih
Retno Palupi
MC nya terlalu banyak mikir tp g ada solusi
Meeraa Biyyu
MC mleyot
Andira
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!