NovelToon NovelToon
JODOH KU CEO DINGIN

JODOH KU CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nabila claraaa

Aku, *Aira Putri*, dipaksa nikah sama *Arka Mahendra* demi bayar utang rumah sakit mamaku.
Dia CEO dingin, tajir, dan paling benci sama wanita matre. Aku? Cuma karyawan biasa yg apes.

Aturannya jelas:
1. Gak boleh saling cinta
2. Gak boleh pegang tangan
3. Cerai setelah 1 tahun

Masalahnya...
Kenapa dia yg paling pertama nolongin pas aku diganggu?
Kenapa dia yg marah pas aku deket sama cowok lain?
Kenapa tatapan dinginnya bikin jantungku anget?

*Arka Mahendra* bersumpah gak akan jatuh cinta.
Tapi takdir bilang: *"Jodoh gak akan kemana"*

Akankah pernikahan kontrak ini berakhir di meja hijau... atau di pelaminan beneran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nabila claraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - KAMU MAU ABORSI

Tanganku masih gemetar hebat memegang tespek yang sudah remuk. Plastiknya penyok karena diremas Arka semalam.

Suara bentakannya masih terngiang jelas di kepala. _“Jangan pernah berpikir mau pakai anak ini buat mengikatku! Aku benci dijebak!”_

Aku tertawa getir sambil duduk di lantai kamar mandi. Mengikat?

Aku aja yang terikat di pernikahan ini karena utang 500 juta dan nyawa mama.

Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Matahari belum terbit. Tapi aku sudah tidak bisa tidur sama sekali. Perutku masih kosong, tapi mualnya datang bergelombang.

Di lantai atas, aku dengar suara langkah kaki. Bolak-balik. Arka pasti juga tidak tidur.

Pukul 5.15 pagi. Pintu kamarku diketuk 3 kali. Ketukannya tegas, tapi tidak sekasar semalam.

“Aira. Turun. 10 menit.”

Suara Arka. Dingin. Datar. Tanpa emosi seperti biasa.

Aku buru-buru bangun. Wajahku pasti kusut. Mata bengkak karena semalaman nangis. Aku wudhu, ganti baju dengan dress biru polos lengan panjang dan kerudung segi empat. Sengaja pilih yang longgar. Menutupi perut yang bahkan belum terlihat.

Di ruang makan, dia sudah duduk. Jas hitam rapi, dasi sudah terpasang, kopi hitam di depannya mengepul. Di sebelahnya ada koran bisnis dan laptop yang terbuka. Seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi.

“Silakan duduk,” perintahnya tanpa menatapku.

Aku duduk di ujung meja. Jarak kami 3 kursi. Jarak yang aman. Jarak yang dia inginkan.

Bu Yati meletakkan sarapan. Bubur ayam, roti, buah. Aku tidak nafsu sama sekali. Tapi tetap aku paksa suapin ke mulut. Takut kalau protes malah dimarahi.

“Jam 8 kita ke rumah sakit,” katanya akhirnya. Matanya masih di layar laptop. “Cek. Kalau positif... kita diskusi.”

Diskusi. Kata itu terdengar mengerikan.

“Diskusi apa, Pak?” tanyaku pelan, suaraku hampir tidak terdengar.

Baru kali ini dia menatapku. Tatapan cokelatnya tajam. “Kamu pintar. Pasti tau maksudku.”

Jantungku mencelos. Gugurkan. Dia mau aku menggugurkan anak ini.

“Aku... aku tidak mau, Pak,” jawabku memberanikan diri. Air mata sudah menggenang.

Arka menutup laptopnya. Suaranya pelan tapi menusuk. “Aira. Ini bukan tentang mau atau tidak mau. Ini tentang tanggung jawab. Aku tidak bisa memberikan itu.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak mau jadi seperti ayahku,” potongnya cepat. “Orang yang meninggalkan. Orang yang berbohong. Lebih baik tidak ada, daripada ada tapi menyakiti.”

Dia berdiri. “Bersiap. 15 menit lagi berangkat.”

---

Jam 7.45 kami berangkat. Mas Bayu yang menyetir. Aku di belakang bersama Arka. Tapi jarak di antara kami sejauh kutub utara dan selatan.

Sepanjang jalan tidak ada yang bicara. Hanya suara ketikan HP Arka dan suara hujan rintik-rintik.

Tiba-tiba dari gang kanan, sebuah motor matic menerobos lampu merah. Kencang.

“Hati-hati!” teriak Mas Bayu.

BRAKKK!!!

Mobil banting setir ke kiri. Badanku terlempar ke kanan.

Refleks, tubuh Arka yang besar itu langsung menutupi tubuhku. Dia melindungiku dengan badannya. Punggungnya menghantam pintu mobil.

“Aduh,” rintihnya pelan.

“Pak! Tuan!” Mas Bayu panik.

“Nggak apa-apa,” jawab Arka dengan napas tertahan. “Lanjut ke RS. Sekarang.”

Setelah kejadian itu, suasana makin tegang. Tapi ada yang berbeda. Tangan kirinya masih memegangi lenganku. Bukan menggenggam. Hanya menahan. Takut aku jatuh lagi.

Aku menatap tangannya. Tangan besar dengan jam mahal. Hangat.

“Pak, sakit?” tanyaku hati-hati.

Dia menarik tangannya cepat. “Tidak.”

Sampai di RS, kami langsung menuju poli kandungan. Perawat yang ramah menyuruhku masuk. Arka menunggu di luar. Duduk. Tidak main HP. Hanya menatap lantai.

Proses USG berlangsung 10 menit yang terasa seperti 10 tahun.

_“Selamat ya Bu. Usia kandungan 5 minggu 3 hari. Detak jantung janin bagus dan kuat.”_

Dokter menunjukkan layar. Bintik kecil yang berdenyut. Anakku.

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Di luar ruangan, Arka berdiri. Wajahnya tetap datar. Tapi aku lihat, tangannya mengepal di samping tubuh.

“Ke ruangan saya,” katanya singkat.

Kami masuk ke ruangan dokter. Pintu ditutup.

Arka langsung ke intinya. Tanpa basa-basi. “Dok, ada cara untuk... menggugurkan kandungan ini dengan aman?”

Dunia ku runtuh.

“Pak!” Aku menatapnya tidak percaya. “Ini anak kita!”

Arka menoleh padaku. Matanya dingin. “Ini bukan anak ‘kita’. Ini kecelakaan. Dan kecelakaan harus diperbaiki.”

Dokter batuk canggung. “Maaf Pak, Bu. Untuk aborsi kami tidak bisa sembarangan. Harus ada alasan medis kuat.”

“Uang bukan masalah,” kata Arka dingin. “Saya transfer 50 juta sekarang juga.”

Aku tidak kuat lagi. Lututku lemas. “Nggak,” isakku. “Aku nggak mau. Aku mau jaga anak ini. Meskipun... meskipun aku sendirian.”

Arka mendekatiku. Tinggi 185cm itu menekan. Aku bisa mencium wangi parfumnya yang familiar.

“Kamu pikir gampang jadi single parent? Kamu pikir aku akan biarkan anakku hidup tanpa ayah? Sama seperti aku dulu?” suaranya rendah, penuh amarah dan... sakit.

“Aku tidak minta kamu jadi ayah,” jawabku dengan suara bergetar. “Aku cuma minta hak untuk menjaga darah dagingku sendiri.”

Kami saling diam. Saling adu tatap.

Akhirnya Arka mengalah. Dia mengusap wajahnya kasar. “Pulang.”

---

Malamnya, aku demam tinggi. Mungkin karena stres, mungkin karena kehamilan.

Jam 2 pagi. Aku menggigil di atas ranjang. Pintu terbuka pelan.

Arka masuk. Tidak pakai jas. Hanya kaos hitam dan celana rumah. Di tangannya ada nampan. Bubur, air putih, obat, dan handuk kecil.

“Duduk,” katanya.

Aku nurut. Lemah.

Dia duduk di tepi ranjang. Menyuapiku pelan. Satu suap. Dua suap.

“Kenapa... kenapa Bapak nolongin saya?” tanyaku lirih di antara suapan.

Arka diam lama. “Karena kontrak. Kamu dan anak itu... tanggung jawabku selama 1 tahun ini.”

“Bukan karena kasihan?”

“Jangan tanya hal bodoh,” jawabnya ketus. Tapi tangannya mengusap dahiku untuk cek demam. Gerakannya lembut. Sangat bertolak belakang dengan kata-katanya.

Setelah aku habis makan dan minum obat, dia berdiri mau pergi.

“Pak,” panggilku.

“Apa.”

“Besok... boleh saya minta pindah kamar? Kamar ini jauh dari kamar mandi. Saya sering mual.”

Alasan bohong. Kamar ini terlalu sepi. Terlalu mengingatkanku pada penolakan semalam.

Arka menatapku lama. “Baik. Besok pindah ke kamar tamu sebelah kamarku. Di lantai 2.”

Lantai 2. Tempat yang selama ini terlarang.

“Terima kasih, Pak.”

Dia berjalan ke pintu. Berhenti. Tanpa menoleh dia bilang, “Jaga diri baik-baik. Dan... jaga anak itu.”

Pintu tertutup.

Aku memeluk bantal dan menangis. Bukan karena sedih. Tapi karena untuk pertama kalinya, CEO dingin itu... terdengar seperti manusia.

---

*BERSAMBUNG KE BAB 3 - "PINDAH KAMAR TERLARANG"*

---

*CATATAN PENULIS* ✍️

Hii readersku yang paling sabar dan paling aku sayang 😭❤️

*MAKASIH* udah nunggu bab 2 yang panjang ini ya! Aku ngetiknya sambil nangis juga sumpah.

*EKSPLANASI SEDIKIT:*

*Kenapa Arka nolak anak itu?* Karena trauma. Ayahnya dulu selingkuh dan ninggalin ibunya pas ibunya hamil. Jadi dia takut mengulang sejarah.

*Adegan kecelakaan* itu penting banget. Itu pertama kalinya Arka secara insting melindungi Aira. Tandanya es di hatinya mulai retak pelan-pelan.

*Pindah kamar* di bab 3 bakal jadi awal mula mereka sering ketemu. Dan bakal ada adegan: Arka masakin bubur buat Aira yang ngidam tengah malam 😏

*VOTING YUK!*

Menurut kalian Arka bakal luluh di bab berapa?

A. Bab 10

B. Bab 20

C. Gak akan pernah luluh

Komen alasannya yaa! Aku bakal pilih 3 komen terbaik buat dapat shoutout di bab 5!

*JANGAN LUPA:*

Vote ⭐, Komen 💬, dan Follow biar gak ketinggalan update!

Bab 3 rilis *Besok jam 8 malam* judulnya "PINDAH KAMAR TERLARANG"

Spoiler: Bakal ada adegan Arka cemburu pas liat Aira video call sama temen cowoknya!

Makasih udah baca sampai akhir. Peluk jauh buat kalian semua 🤍

Love you❤

1
Nureliya Yajid
Lanjut thor 👍
Nureliya Yajid
Lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!