Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantara gosip
Pagi setelah konferensi pers, suasana rumah Pradipta masih terasa seperti habis lewat badai,namun sedikit tenang, tapi masih ada reruntuhan ketegangan yang tersisa. Cantika bangun lebih awal dari biasanya, bukan karena harus siap jadi nyonya rumah konglomerat, tapi karena hari ini dia kembali masuk kerja. Ya, sebagai kurir di sebuah startup logistik yang namanya lucu banget: #“Cepet Sampe.id”#
Ia duduk di depan cermin, memakai seragamnya yang udah agak kekecilan, sambil mengikat rambutnya jadi ponytail yang rapi-rapi asal. Di meja rias, ada secangkir kopi instan yang nyaris dingin. Di sampingnya, ponsel terus bergetar—grup WhatsApp kantornya lagi rame bahas "si Cantika yang nikah sama Yoga Pradipta".
Ia menghela napas.
“Ya Tuhan, aku cuma pergi nganter paket, bukan jadi bintang sinetron...”
Tapi kenyataannya? Kemarin, foto-fotonya duduk di samping Yoga dengan wajah gugup tapi manis itu udah jadi trending di Twitter lokal. Headline-nya mulai dari “Misteri Pengantin Dadakan mulai dari “Misteri Pengantin Dadakan Keluarga Pradipta” sampai “Kurir Cantik yang Gantikan Calon Tunangan Bos” (padahal nggak gantikan siapa-siapa!).
Tapi Cantika sudah janji sama diri sendiri:
#Hari ini, aku balik ke hidupku yang biasa. Nggak akan kabur. Nggak akan malu. Dan pasti nggak bakal nangis gara-gara komentar orang.#
---
Di tempat kerjanya sepeda motor kesayangannya,Si Hitam Legam,sudah siap tempur. Cantika memasang helm, mengatur tas selempang, lalu menoleh ke jendela mobilnya ,Di sana, Yoga sedang memandangnya dari balik kaca. Ia melambaikan tangan kecil.
Cantika tersenyum, melambaikan balik.
(Yaudah, semangat jadi kurir, Cantik.)
---
08.15 WIB – Kantor Cepet Sampe.id.
Kantor mereka cuma ruko dua lantai di pinggir jalan raya. AC rusak, Wi-Fi lemot, tapi timnya solid. Dan yang paling setia menemani Cantika sejak
Dan yang paling setia menemani Cantika sejak awal kerja di sini: #Rani#, sahabat sejati yang wajahnya kayak abang ojek tapi hatinya selembut kapas.
“Woy! Masih hidup, ya?” seru Rani begitu Cantika masuk, langsung menyeretnya ke sudut dapur mini sambil ngeteh.
“Iya, masih hidup. Walaupun hati sempet greget kemarin,” jawab Cantika sambil nyengir.
“Jangan pura-pura kuat,” Rani memberikan biskuit ke tangan Cantika. “Aku liat berita tadi pagi. Yoga keren banget, sih. membela kamu gitu...”
Cantika langsung nyengir malu-malu. “Iya, dia... baik.”
kamu tetep masuk hari ini? Beneran nggak istirahat dulu? Banyak yang bilang kamu sekarang udah ‘naik kelas’, nggak perlu kerja lagi,” Rani nyeletuk dengan nada iseng.
Cantika geleng-geleng. “Aku nikah, bukan menang undian mobil. Masih butuh uang buat beli kuota dan jajan bakso.”
Rani ketawa keras. “Itulah kenapa aku sayang sama kamu. Nggak sombong kayak seleb dadakan yang lain.”
Tapi suasana santai itu langsung pecah saat (Deon)cowok sok gaul yang kerjanya pamer motor baru,datang sambil nyengir.
“Eh, Cantika? Masih nganterin paket? Bisa minta tanda tangan nggak? Buat koleksi, soalnya kamu udah jadi istrinya orang kaya,” ejeknya, diikuti tawa cekikikan dua temannya.
Rani langsung berdiri, menatap Deon dengan mata menyala. “Kamu ngomong ke temen gue, ya? Kalau nggak bisa ngomong yang bener, mending jualan es dulu di depan sini.”
Deon cengengesan. “Iya-iya, maaf. Cuma bercanda doang.”
“Bercanda? Bercanda itu kalau orang yang kamu ejek juga ketawa. Tapi Cantika nggak ketawa, kan? Jadi itu namanya JAHAT bukan bercanda,” balas Rani tajam.
Cantika menarik lengan Rani pelan. “Sudah, Ran. Aku udah biasa diomongin.”
“Tapi gue nggak biasa liat temen gue diinjek-injek,” protes Rani.
Cantika memeluk Rani sebentar. “Makasih, Ran. Tapi hari ini aku pengin tunjukin, aku masih Cantika yang dulu. Yang kerja keras, nggak mengandalkan status.”
Rani mendengus. “Kalau kamu butuh bantuan menampar mulut Deon, tinggal bilang. Aku siapin sendal jepit cadangan.”
---
**09.30 WIB – Di Jalan**
Order pertama hari itu ke sebuah kantor startup di Senopati. Cantika nyampe tepat waktu, menyerahkan paket ke resepsionis, lalu berbalik,dan tiba-tiba dihentikan oleh seorang perempuan berambut sebahu yang memakai parfum mahal
“Kamu Cantika, kan?”
Cantika mengangguk, waspada. “Iya, Mbak.”
Perempuan itu tersenyum tipis. “Aku Marsha. Teman lama Yoga.”
Cantika langsung merasa seperti ketemu bos level akhir di game hidupnya.
“Wah... hai, Mbak Marsha,” jawabnya seadanya.
“Yoga masih se-boring dulu?” tanya Marsha dengan nada nyinyir halus.
Cantika cuma bisa cengengesan. “Eh... iya, Mbak?”
Marsha tertawa kecil, lalu pergi tanpa basa-basi.
Cantika menatap punggungnya, lalu berbisik ke diri sendiri:
“Ini orang ngomong apa sih? Aku aja belum tahu Yoga itu boring apa nggak...”
---
**13.00 WIB – Jam Makan Siang**
Cantika duduk di taman kecil dekat kantornya, makan nasi bungkus sambil scrolling media sosial. Banyak komentar negatif, tapi ada juga yang dukung:
#“Cantika itu asli, gak kayak artis-artis yang nikah buat konten.”#
#“Lihat caranya dia nunduk pas konferensi... jelas bukan pencari sensasi.”#
#“Aku fans Cantika sekarang. Semoga bahagia sama Mas Yoga!”#
Ia tersenyum tipis. “Nggak semua orang jahat, ya...”
Tapi jari-jarinya berhenti saat melihat DM dari akun anonim:
#“Kamu cuma pengganti. Yoga masih sayang Viona. Nikah sama kamu cuma pelarian.”#
Jantungnya nyaris berhenti.
Namun sebelum air mata sempat turun, Rani muncul tiba-tiba dan merebut ponselnya.
“Berhenti baca omongan orang, Cantika! Kamu lebih penting dari semua itu.”
Cantika menghela napas. “Tapi... gimana kalau itu beneran?”
“Kalau beneran, Yoga nggak bakal belain kamu di depan semua media kemarin,” jawab Rani tegas. “Dia liat kamu, bukan masa lalunya. Dan kamu liat dia, bukan hartanya. Itu udah cukup.”
Cantika menatap Rani, lalu tertawa kecil. “Kamu harus jadi motivator, Ran. Gaji kamu bakal naik.”
“Kalau gue jadi motivator, kamu jadi manager gue. Biar kita kerja bareng terus,” balas Rani sambil nyengir.
---
**17.30 WIB – Pulang Kerja**
Yoga sudah menunggu di parkiran kantor dengan mobil SUV-nya yang kelihatan kayak mau rapat darurat PBB.
“Kamu kerja seharian?” tanyanya, wajahnya campur antara kagum dan kesal.
“Iya. Dan semua sudah beres ,” jawab Cantika
Yoga membukakan pintu mobil. “Besok aku antar lagi.”
“Nggak usah. Aku masih bisa pakai ojek ” Cantika bersikeras.
“Tapi aku pengin,” jawab Yoga pelan.
Dan itu... itu bikin Cantika nggak bisa ngotot lagi.
Di perjalanan pulang, mereka nggak banyak ngomong. Tapi saat lampu merah, Yoga tiba-tiba bilang:
“Marsha ngomong apa ke kamu tadi?”
Cantika terkejut. “Kamu tahu?”
“Resepsionis kantornya teman,asistenku ,” jawab Yoga datar. “Dan iya, dia mantanku dulu .”
Cantika nahan napas. “Dia bilang kamu boring.”
Yoga tertawa kecil. “Mungkin karena aku nggak suka main kata-kata manis kayak dia.”jawab yoga dengan raut muka yang berubah .
"Kenapa muka kamu seperti itu ,seperti orang yang sedang marah ?"
“Kenapa aku marah? Kamu cuma jawab pertanyaannya. Tapi...” Yoga menatap lurus ke depan, “Aku nggak suka kamu ketemu dia. Nggak nyaman.”
Itu pertama kalinya Yoga jujur soal perasaannya.
Dan Cantika... mulai sadar, mungkin pernikahan ini bukan cuma soal kebetulan.
---
**Malam Hari – Kamar Cantika**
Cantika duduk di ranjang, memandang langit-langit. Hari ini melelahkan, tapi... ia tersenyum.
Ia bukan istri yang sempurna.
Ia bukan juga orang kaya.
Tapi hari ini, ia tetap jadi dirinya,Cantika, kurir yang gigih, sahabat yang setia, dan istri yang mulai belajar mencintai bukan karena tekanan, tapi karena ada alasan untuk percaya.
Di layar ponsel, Rani kirim voice note:
#“Besok kalau Deon ganggu lagi, gue bakal suruh dia nganterin 100 paket ke Bekasi pake sepeda.”#
Cantika tertawa keras, lalu membalas:
#“Siap, Jenderal! Tapi jangan lupa, aku masih kurir. Dan aku masih sahabat kamu.”#
Di luar jendela, Jakarta masih ribut.
Tapi di dalam hatinya, Cantika mulai menemukan ketenangan,yang datang bukan dari gelar atau harta, tapi dari keberanian tetap jadi diri sendiri... di tengah badai.