Warning!! Adult content, dibawah umur dilarang mampir!
Bijaklah dalam memilih bacaan, novel ini bergenre Adult romance.
Membaca novel ini bisa membuat senyum-senyum, panas dingin dan baper berkepanjangan. Mengandung konten dewasa, pembaca dibawah umur dilarang ngintip, atau nanti akan penasaran.
Sofia Anna harus tercebur kedalam dunia yang tak pernah dibayangkannya. Satu masalah hidup membuat dia menjalani pekerjaan yang tak biasa. Menjadi simpanan pria-pria beristri.
Hingga suatu hari seseorang dari masa lalu menemukannya dan merubah segala yang ada di hidup Sofia.
"Apa kamu adalah kak Niko?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama Kali?
*
*
Satria menunggu dengan tenang, versinya, di ruang VIP bandara. Menelfon ke nomer Sofia setiap 10 menit sekali, seperti biasa. Memastikan perempuan itu telah sampai dimana, setelah sopir pribadinya menjemputnya dari gymnasium tempat dia bekerja.
Setelah dua jam tigapuluh menit dengan berbagai drama telfon dan chat yang tak penting, akhirnya perempuan itu tiba di ruang tunggu tempat sang papi tengah merebahkan tubuhnya di atas sofa besar. Diantar sopir pribadi Satria yang selalu setia menemani kemanapun majikannya itu pergi.
"Aku sampai tertidur gara-gara menunggu." umpat Satria, yang telah menyadari keberadaan Fianya didalam ruangan itu.
"Jakarta macet, pih." jawab Sofia, mendelik.
"Sudah tau macet kenapa kamu tidak pergi dari pagi?" Satria masih kesal.
"Fia kan harus beresin dulu kerjaan. Pergi seminggu lho ini. Ijin nya juga ribet." Sofia beralasan.
"Nanti akan aku beli tempat kerjamu itu, biar kamu gampang mau pergi kemanapun." Satria mulai ingin menunjukkan kekuasaannya.
Sofia memutar bola mata nya, jengah. Niat hati ingin melepas rindu yang hampir dua Minggu ini dia pendam, namun kenyataanya pria di depannya ini moodnya sedang buruk sehingga dia bertingkah menyebalkan.
Memangnya siapa dirimu ini tuan, segampang itu mengatakan akan membeli perusahaan tempatku bekerja. Kamu kira itu toko kecil yang hanya seharga puluhan juta? Batin Sofia. Dia tidak tahu saja pria dihadapannya ini bahkan mampu membeli ratusan perusahaan dengan uang dan kekuasaan yang dimilikinya.
Akhirnya dua orang dengan perbedaan usia cukup jauh ini segera keluar dari ruang tunggu itu setelah mendapat pemberitahuan dari petugas bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi akan segera lepas landas.
Satria tak melepaskan tangan Sofia, menggenggam terus tangan perempuan itu hingga mereka tiba diambang pintu pesawat. Sofia menghentikan langkahnya ketika mereka hampir memasuki burung besi raksasa itu.
"Pertama naik pesawat?" tanya Satria, melihat kegugupan di wajan Sofia. perempuan itu mengangguk.
Pria itu tersenyum, lebih mengeratkan genggaman tangannya.
"Jangan takut, ada aku." katanya, yang kemudian menarik Sofia untuk segera memasuki pesawat.
Sofia menatap ke sekeliling pesawat dengan dahi mengernyit. Kemudian keanehan tampak diruang pesawat yang hanya terdapat beberapa kursi penumpang. Bahkan terdapat sofa panjang di dekat jendela. Dengan nuansa yang berbeda dari pesawat pada umumnya yang sering dilihatnya di film atau video.
"Kenapa nggak ada penumpang lain, pih?" Sofia bertanya dengan polosnya.
"Kenapa harus ada penumpang lain?" Satria balik bertanya
"Ya biasanya kan kalau naik pesawat ada penumpang lain. Pesawat sebesar ini masa hanya kita yang naik. Memangnya ini angkot?" Sofia terkekeh.
"Kalau kamu pergi denganku ya seperti ini." Satria menyela.
"Hah, maksudnya?"
Satria lupa bahwa perempuan dihadapannya ini adalah orang yang tak tahu apa-apa mengenai dirinya. Tak mengetahui seberapa besar kekuasaan, kekayaan dan kemampuan yang dimilikinya.
"Ini pesawat pribadi, sudah tentu penumpangnya hanya kita."
Sofia terdiam. Mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Satria.
"Cepat duduk, sebentar lagi kita take off." katanya, menarik tubuh Sofia hingga perempuan itu duduk di kursi penumpang. Lalu diapun duduk disampingnya Sofia yang masih terdiam dengan pikirannya.
"Maksud papi, pesawat ini punya papi, begitu?" Sofia penasaran.
"Yeah, seperti itulah."
"Apa? serius?" Sofia memekik seakan tak percaya.
Satria hanya tersenyum. Merebahkan punggung kokohnya ke sandaran kursi penumpang. Mulai merasa bangga dengan dirinya sendiri.
Sofia menatap kagum pria disampingnya. Sepanjang pengetahuannya yang sedikit itu, biasanya hanya orang-orang tertentu saja yang mampu memiliki hal semacam pesawat pribadi ini. Dan itu bukanlah orang sembarangan. Kini dia menyadari bahwa kak Niko nya ini bukanlah pengusaha biasa seperti yang dia bayangkan selama ini.
Tiba-tiba Sofia merasa sangat kecil dihadapan Satria.
"Kenapa diam?" Satria meraih tangan Sofia, menautkan jari-jari mereka berdua.
Pesawat mulai bergerak, bersiap lepas landas.
"Bersiaplah, pesawat akan segera terbang, kamu mungkin akan sedikit kaget." Satria memperingatkan setelah terdengar pemberitahuan dari pilot di kabin.
Benar saja, guncangan jelas terasa kemudian pesawat melesat dengan kecepatan yang tidak bisa dibayangkan Sofia. Dia merasa jantungnya seakan lepas dari tempatnya untuk beberapa detik. Hingga perempuan itu memekik, meremat kencang tangan Satria yang menautkan jari mereka berdua.
Pria itu hanya terkekeh.
*
*
Pesawat yang mereka tumpangi tiba di Bandara Iternasional Sam Ratulangi, Manado Sulawesi Utara setelah kurang lebih mengudara selama 3,5 jam dari Jakarta. Setelah itu mereka berkendara ke kota Manado selama 40 menit. Kemudian segera menuju ke pesisir pantai pelabuhan ITC Marina Plaza. Dari sana , mereka menaiki speedboat menuju pulau Bunaken dengan perjalanan memakan waktu satu jam.
Sofia dibuat berdecak kagum dengan segala hal yang dia lihat dalam perjalanan dari Jakarta ke Bunaken. Ini pertama kalinya perempuan itu pergi jauh dari rumah. Benar-benar jauh.
Selama ini, tempat terjauh yang dia kunjungi hanya sekitar kota Bandung. Pernah juga ke Jakarta, mengunjungi Monas atau Ancol, itupun ketika liburan dan bisa dihitung dengan jari.
Satria menatap perempuan yang tengah berdiri di pinggir speedboat itu, menatap lautan lepas sambil berpegangan pada besi pembatas. Rambut hitam sebahunya berkibar diterpa angin lautan yang berhembus kencang.
Pria itu menghampiri Sofia, merangkul pinggangnya dan mengecup pelipis nya dengan lembut.
"Hati-hati, nanti kamu terjatuh ke bawah sana." Satria menunjuk air gelombang berbuih di bawah soeedboat yang mereka tumpangi.
Sofia hanya tersenyum. Menyandarkan kepalanya di bahu Satria.
Setelah memakan waktu hampir satu jam, akhirnya mereka tiba di sebuah pulau cantik nan eksotis. Dengan air laut berwarna biru kehijauan.
Speedboat bersandar di anjungan, para penumpang pun turun.
Sofia kembali dibuat takjub dengan pemandangan didepannya matanya yang begitu cantik. Gunung Tumpa yang menjulang tinggi dengan hutan lebat nan hijau di sekelilingnya. Kemudian pesisir pantai yang tertata begitu rapi dan cantik dengan pasir putih yang bersih. Belum lagi pemandangan dibawah anjungan yang lagi-lagi membuatnya berdecak kagum. Terumbu karang indah dapat dia lihat karena air laut yang jernih biru kehijauan.
Mereka berjalan menuju sebuah mobil Van yang tersedia, yang kemudian membawa mereka menuju villa.
Lagi-lagi Sofia berdecak kagum ketika sampai didepan villa yang akan mereka tinggali satu minggu kedepan. Villa dipinggir pantai yang langsung menghadap ke laut. Bangunan ini terpisah jauh dari bangunan lainnya yang dia lewati. Bisa disebut agak terpencil. Seperti sengaja dibangun di area itu agar mendapatkan suasana hening yang menenangkan.
Para petugas villa pergi setelah membereskan barang bawaan Satria dan Sofia. Begitupun pak Amir yang terakhir pamit. Meninggalkan majikannya di Villa miliknya.
Sofia masih berdiri di teras belakang villa sambil menatap pemandangan didepannya yang begitu memanjakan mata. Matahari hampir tentenggelam dibarat menyisakan semburat kuning kemerahan dilangit Bunaken.
"Kamu suka? pemandangannya indah ya?" Satria melingkarkan tangan kokohnya di pinggang perempuan itu yang agak terkejut dengan kehadirannya.
Sofia menoleh, tersenyum kemudian mengangguk.
"Sayang Dygta tidak bisa ikut." ucap Satria, menyadarkan ingatan Sofia yang sempat terpecah.
"Ah, ... iya. Tadi pagi dia merengek minta ikut." jawab Sofia, mengingat putrinya yang sempat merajuk.
"Nanti kapan-kapan kita bawa." ucap Satria lagi, membuat Sofia mengernyitkan dahinya.
"Papi begitu baik sama Dygta, ..."
"Kenapa? Tidak boleh?"
"Bukan begitu, hanya saja ..." Sofia menggigit bibir bawahnya, berpikir. "Jangan terlalu dekat dengan Dygta, nanti dia tidak mau lepas dari papi."
"Memangnya kenapa?"
"Kasihan, dia kan kekurangan kasih sayang dari ayahnya. Dekat dengan papi akan membuat dia manja."
Satria tersenyum. "Biarlah, aku suka dekat dengan dia. Mungkin dia juga harus terbiasa nantinya." ucap Satria, kembali membuat Sofia mengerutkan dahi. Heran dengan ucapannya.
Satria menarik perempuan itu kedalam villa, "Kamu tidak kena jetlag? biasanya yang tidak terbiasa naik pesawat akan kena jetlag parah." Satria terkekeh.
Sofia menggeleng.
"Kita harus istirahat, banyak hal yang akan kita lakukan besok." ucap Satria lagi.
"Kita kemana besok.?" Sofia mengikuti langkah Satria kedalam.
"Banyak tempat indah untuk dikunjungi." jawab pria itu, merebahkan tubuh tingginya ketika dia menemukan ranjang besar di ujung ruangan. Menepuk sisi kosong disampingnya, meminta Sofia datang kepadanya.
Perempuan itu menelan ludahnya kasar, melihat seringaian aneh diwajah Satria.
Istirahat?
Sepertinya malam ini tidak akan terlewati dengan mudah, begitu juga malam-malam selanjutnya.
*
*
Bersambung ...
like
koment
vote!!
ya ampun padahal udah 5 tahun lalu tapi masih apal 🤭🤭