NovelToon NovelToon
Istri Kedua Untuk Suamiku

Istri Kedua Untuk Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Dokter / Ibu susu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tulisan_nic

Albie Putra Dewangga dan Qistina Aulia, pasangan muda yang tengah berbahagia dengan kehadiran bayi perempuan yang mereka beri nama Eloise Humaira Alqista.

Namun ditengah kebahagiaan itu, mereka terpaksa menerima kenyataan pahit.

Hasil biopsi dan aspirasi sumsum tulang Qistina keluar. Vonis Leukemia Myeloid akut bersarang ditubuhnya. Kondisinya sangat agresif. Dalam kondisi tersebut, produksi ASI-nya menurun. Sedang putri kecilnya alergi sufor.

Khalisa Hanifa hadir dalam hidup mereka. Perempuan malang yang kehilangan bayinya setelah menjadi korban pelecehan, rela menjadi ibu susu putri Qistina. Ketulusannya membuat Qistina percaya, jika suatu hari ajal menjemput, Khalisa adalah satu-satunya wanita yang tulus mencintai putrinya seperti darah daging sendiri.

Dengan hati yang hancur, Qistina membuat keputusan paling menyakitkan. Menikahkan suaminya dengan Khalisa.

Bagaimana kisah pengorbanan cinta mereka? Akankah Albie menerima keputusan Qistina?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertolongan yang Tak Disangka

*

*

*

"Mbak ... " suara perempuan terdengar lembut ditelinga Khalisa, "Kalau memang lapar, masuk saja ke dalam. Roti di dalam masih banyak."

Jemari Qistina menyentuh lengan Khalisa, hati-hati. Khalisa membeku. Sentuhan itu terasa begitu asing. Sejak semalam, yang ia terima hanyalah tatapan jijik, bentakan dan tuduhan. Namun perempuan di hadapannya bahkan tanpa mengenalnya, justru menegurnya dengan kelembutan. Bibir khalisa bergetar. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan mata yang mulai dipenuhi air mata.

"Saya ..." bibir Khalisa bergetar. "Saya nggak punya uang."

Mendengar pengakuan itu, tatapan Qistina melunak. Rasa iba dihatinya semakin jelas. Tak ada raut wajah meremehkan, Qistina justru menggenggam lengan Khalisa lebih erat.

Langkah seseorang terdengar mendekat. "Sayang ... ada apa?"

Qistina menoleh sambil tersenyum. "Mas kita ke restoran itu dulu yuk. Mbak ini sepertinya belum makan dari tadi."

Albie mengalihkan pandangannya, menatap Khalisa. Saat itulah Khalisa mengangkat wajah. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. "Pria ini ... Dokter yang tadi pagi menghentikan orang-orang menuduhku di masjid." batinnya.

Khalisa menundukkan pandangan. Dari cara perempuan itu memanggilnya, dari tatapan hangat yang mereka saling berikan, Khalisa bisa menebak kalau mereka adalah sepasang suami-isteri. Terlebih dengan bayi yang berada dalam gendongan perempuan itu.

"O ... ya sudah, ayo kita ke sana." Albie tidak banyak bertanya.

Qistina masih memegang lengan Khalisa, lembut sekali ia memperlakukan perempuan itu, padahal ia sama sekali belum mengenalnya.

Restoran Padang yang mereka tuju berada tepat di sebelah Bakery. Hanya beberapa langkah dari pintu belakang, mereka sudah tiba di dalam.

Jemari Khalisa menggenggam erat. Rasanya masih sulit percaya, di tengah rentetan hinaan dan penolakan yang ia alami sejak semalam, Allah masih mempertemukannya dengan dua orang yang begitu baik. Bahkan tanpa bertanya siapa dirinya. Hati Khalisa menghangat. Sudah lama sekali ia tidak diperlakukan sebagai manusia.

Seorang pelayan pria mendekati meja mereka. Albie mengambil buku menu, lalu menyebutkan beberapa hidangan tanpa perlu berpikir lama. Hampir semuanya adalah menu favorit Qistina. Iya sudah hafal bahkan tanpa harus bertanya lagi. Sesaat ia terdiam, lalu kembali menambahkan, "Satu jus wortel tanpa gula."

Pelayan mengangguk sambil mencatat pesanan mereka.

Qistina mengernyit, "Mas , jus wortelnya buat siapa?"

Albie tahu, Qistina pasti heran dengan jus itu. Tapi sejak melihat hasil biopsi itu, ia ingin mulai memperhatikan setiap asupan yang masuk ke tubuh istrinya. "Buat kamu, kamu minumnya itu aja ya ..."

Qistina mengerucutkan bibir, "Tapi kan aku nggak suka sama rasanya, Mas."

Albie hanya tersenyum. Sementara menunggu pesanan datang, Eloise mulai merengek pelan di pelukan Qistina. Bayi itu menggeliat kecil, pipinya memerah karena hawa siang yang mulai terasa hangat.

Albie segera mengulurkan kedua tangannya. "Sayang ... El sama Mas dulu. Kayaknya dia mulai gerah."

Qistina mengecup singkat dahi Eloise, lalu menyerahkannya ke pelukan Albie. "Anak manisnya Papi ya?" godanya sambil terkekeh kecil.

"Iya nih, anak papi." balas Albie yang kemudian terampil menggendong Eloise. Mengusap punggung mungil putrinya, hingga rengekan itu mereda.

Dari seberang meja, Khalisa memandangi pemandangan itu dalam diam. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. Jarang sekali ia melihat seorang suami yang begitu telaten memperhatikan istri dan anaknya. Cara mereka menunjukkan kasih sayang yang begitu lembut, membuat hati Khalisa berbisik. "Beginilah rasanya ... memiliki keluarga yang saling menjaga? beruntung sekali perempuan ini..."

Mata Khalisa berkaca-kaca, tanpa sengaja membandingkan kehidupannya sendiri yang begitu kontras dengan kehidupan yang di terima oleh perempuan di hadapannya.

"Mbak ..."

Suara lembut Qistina membuyarkan lamunan Khalisa. Hampir bersamaan dengan itu, seorang pelayan membawakan pesanan mereka satu per satu diletakkan di atas meja.

Nasi putih yang masih mengepulkan uap, rendang dengan kuah coklat yang begitu kental, ayam pop, daun singkong rebus, hingga segelas jus wortel dan es jeruk.

"Mbak, makan dulu ya ..." Qistina tersenyum hangat. "Jangan sungkan, dan nggak perlu memikirkan apa-apa. Semua ini sudah kami bayar."

Khalisa menatap hidangan di hadapannya tanpa berkedip. Aroma rempah dari rendang yang masih hangat perlahan memenuhi indra penciumannya. Perutnya yang sejak tadi kosong seakan langsung bereaksi. Bunyi lirih dari dalam perutnya membuat ia buru-buru menundukkan kepala, menahan rasa malu.

Jemarinya bergerak pelan, tetapi berhenti sebelum menyentuh sendok. Air matanya tiba-tiba menggenang.

"Kenapa?" tanya Qistina sambil menggenggam jemari Khalisa di atas meja.

Khalisa menggeleng cepat. Bibirnya berusaha tersenyum, meski suaranya bergetar. "Saya ... Saya cuma nggak nyangka, masih ada orang yang sebaik Mbak dan Suami Mbak."

Qistina tersenyum, "Silahkan Mbak makan dulu, kelihatannya Mbak sudah sangat lapar."

Khalisa mengangguk, menghapus air mata yang sempat jatuh kepipinya. Tangan yang gemetar itu meraih sendok, mulai menyuapkan nasi rendang ke dalam mulutnya. Mata Khalisa terpejam, betapa nikmat ini menyentuh hatinya. Berulang kali ia mengucap "Alhamdulillah... terimakasih ya Allah..." dalam hatinya.

Qistina ikut menyuapkan nasi ke mulutnya. Sejak kemarin, memang ia sudah ingin sekali makan makanan favoritnya ini. Meski lidahnya masih terasa pahit, tapi melihat Khalisa yang lahap, sedikit membangkitkan selera makannya.

Albie sendiri, belum menyentuh piringnya. Ia memilih menggendong Eloise yang mulai menggeliat kecil. Jemari Albie menggelitik permukaan perut kecil putrinya. Lalu mengajaknya berceloteh riang. "Anak Papi udah kenyang, hem?" tanyanya sambil mengusap pipi Eloise. "Sekarang gantian Mommy yang makan ya ..."

Eloise terkekeh kecil, bayi mungil itu seakan sudah mengerti ucapan Ayahnya. Qistina yang melihat itu ikut tersenyum.

"Mas ..."

Albie menoleh.

"Mas udah laper belum? Sini, aku suapin."

Albie mengangguk, dia memang terbiasa makan dari suapan tangan Qistina dari awal mereka kenal dulu. Bahkan moment itu, adalah moment yang selalu ia rindukan. Lalu ia mengangguk, mendekatkan wajahnya, "Boleh."

Tak ingin membuat suaminya menunggu, Qistina mengambil sesendok nasi bercampur rendang, lalu menyuapkannya ke mulut Albie.

"Makasih, Sayang."

"Sama-sama." jawab Qistina dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Khalisa menghentikan gerakan sendoknya. Menatap pada pasangan itu. Perhatian-perhatian kecil yang lahir begitu saja, menunjukkan bahwa keduanya memang saling menjaga, dan sudah menjadi kebiasaan dalam rumah tangga.

Dada Khalisa terasa sesak. Sekilas ia menunduk. Menatap jemarinya sendiri di bawah meja. Jemari yang pernah menggenggam begitu banyak mimpi. Kini, bahkan ia tak lagi berani membayangkan masa depannya. "Setelah kehormatanku direnggut dengan begitu kejam, apa masih ada laki-laki yang menerima aku, tanpa menanyakan masa laluku."

Pertanyaan yang singgah begitu saja di hati Khalisa. Ia mengembuskan napas. Mencoba menghalau sesak di dadanya. Tanpa sadar kepalanya menggeleng, "Nggak ... Aku nggak boleh larut dalam sesuatu Byang belum tentu menjadi takdirku. Bukankah Allah, hari ini sudah menunjukkan bahwa rahmat-Nya masih begitu luas? Saat semua seolah menutup pintu, Allah mengirimkan pertolongan melalui pasangan suami istri ini. Bahkan mereka saja belum mengenal namaku."

Bibir Khalisa membentuk senyum tipis. "Alhamdulillah..." lirihnya dalam hati.

"Ini... sudah lebih dari cukup."

*

*

*

~Salam hangat dari Penulis 🤍

1
neny
cerita nya bagus,,ini mengingatkan kita akan kesabaran dlm menghadapi semua ujian hidup kita di dunia,,dan tentang cinta yg tulus dr suami yg menyayangi keluarga nya❤️
neny: sama2 kak❤️
total 2 replies
neny
yg kuat ya qis,,Allah sedang menguji sampai dmn kesabaran dan keikhlasan mu ketika dilanda sebuah musibah,,dan nanti pun km akan menuai hasil dr semua itu,, khalisa akan mendonorkan asi nya buat baby El,,
neny: iya kak,,semoga jng jd ibu sambung ya kak🤭
total 2 replies
neny
peyuk jauh khalisa,,tp aq yakin orang yg merudapaksa km itu bukan orang biasa,,pasti dia dijebak olah rekan bisnis nya,,smg laki2 itu kelak bs mempertanggung jawabkan perbuatannya itu,,dan semoga orang itu ada disekitarnya lingkungan albie
neny: aamiin ya mujibassailin🤲
total 2 replies
neny
dan disini lah terjadi nya peristiwa lucnut itu terjadi,,🤔
_Nic: Betul kak, huaaa Khalisa 😭 sad aku nulisnya kak🥹
total 1 replies
ℵ⁺⁺💚𝓐𝓾𝓻𝓸𝓻𝓪⁷⁹💚ℵ⁺⁺
Si Omaaaaa ... pen tak cubit ginjalnya deh, orang lagi sakit malah diminta hamil lagi 🫣
ℵ⁺⁺💚𝓐𝓾𝓻𝓸𝓻𝓪⁷⁹💚ℵ⁺⁺: Seteeeel Kak, seteeellll yang kuenceng! Biar bangun si Oma dari mimpinya ... 🤣🤣🤣🤣🤣. #Siap2 joget aku mah ...🤣.
total 2 replies
neny
berat banget ujian khalisa,,smg ajh gk terulang lg,dan bs menjalani hidup nya dng normal
neny: iya,, berarti berat banget beban yg dipikul oleh khalisa
total 2 replies
ℵ⁺⁺💚𝓐𝓾𝓻𝓸𝓻𝓪⁷⁹💚ℵ⁺⁺
Tadi sungsang, sekarang terlilit tali pusar ... Ya Allah, belum lahir aja udah banyak cobaannya, Kak ... sesar aja, sesaaar ...🫣🫣🫣
ℵ⁺⁺💚𝓐𝓾𝓻𝓸𝓻𝓪⁷⁹💚ℵ⁺⁺
Iya, Mas ... Hati2, ya ...😁😁😁.
ℵ⁺⁺💚𝓐𝓾𝓻𝓸𝓻𝓪⁷⁹💚ℵ⁺⁺
Akoooh mampir, Kak...Semangat🥳
ℵ⁺⁺💚𝓐𝓾𝓻𝓸𝓻𝓪⁷⁹💚ℵ⁺⁺: Sama2, Kak ... 🫰🏻🫰🏻🫰🏻💚💚💚
total 2 replies
neny
😭😭😭qistina,,peluk jauhh,,aq jg akan mendampingi mu di sini qis,, Jangan takut,,berdoa lah sm Allah,,smg km disehatkan lg,,❤️
_Nic: Aamiin, semoga kak🫶🤍
total 1 replies
neny
albie,,apapun penyakit yg diderita oleh qistina km hrs jujur sm qistina,,yakin lah qistina pasti ada semangat untuk sembuh dan spy cepat2 diobati,,demi dirimu dan baby El,,
Miranda.
khalisa mau kemana ya thor? mengingat... seluruh anggota keluarganya telah menganggapnya sebagai aib🤔🤔
Miranda.
masih penasaran. bagaimana khalisa melalui hari² ketika dia masih mengandung di ponpes itu ya thor?

apa... gaada yang curiga? selain anggota keluarganya?🤔🤔
_Nic: Next chapter akan menjawab pertanyaan kamu kak🫶😀
total 1 replies
mawar merah
Kamu harus berusaha sembuh Qistina ada anakmu yang menantikanmu
_Nic: Iya kak🤍🤍
total 1 replies
mawar merah
Bagaimana perasaannya Qistina saat diberitahukan bahwa ia sakit leukimia akut..Ya Allah nggak sanggup banget melihatnya
M. T🌻
jadi penasaran siapa yang sudah menodai khalisa
neny
apaan sih,,hamil itu hak prerogatif nya Allah,,gk bs direncanakan,,emng Oma gk tau qistina lg sakit,,tp jng suruh hamil ath,,suruh mah makan banyak kek,,jalan2 ke LN
neny: iya🤣🤣🤣
total 4 replies
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Astaghfirullah, sampai segitunya
Isma Iis
ujian ini terlalu berat ya Albie. Tapi begitulah, semakin tinggi keimanan seseorang semakin berat juga ujian yang menghampiri. semoga Allah melindungi keluargamu, istri dan anakmu, Albie
Mingyu gf😘
Semoga qistina baik baik aja😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!