NovelToon NovelToon
Istri Misterius Sang Jenderal

Istri Misterius Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Fantasi Wanita / Nikah Kontrak / Kerajaan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.

Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.

Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?

*

Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Keesokan paginya, saat Orion hendak membawa kedua tahanan itu ke Aula Hukum Kerajaan, ia justru mendapati sel mereka telah kosong.

Raungan amarahnya menggema ke seluruh manor, membuat suasana pagi yang semula tenang berubah mencekam.

“Apa yang kalian lakukan semalam sampai kedua tahanan itu bisa melarikan diri?!” bentak Orion.

Seluruh prajurit yang bertugas menjaga penjara bawah tanah segera menundukkan kepala. Tubuh mereka gemetar, tak seorang pun berani menatap sang jenderal.

“Kenapa kalian hanya diam? Apa kalian semua bisu? Jawab!”

Suara hentakan sepatu Orion menggema di lapangan latihan, membuat suasana semakin menegangkan.

“K-kami tidak sengaja, Tuan...” jawab salah seorang prajurit dengan suara bergetar.

Namun, begitu melihat tatapan Orion yang dipenuhi amarah, lidahnya seakan kelu. Tak ada satu kata pun yang mampu keluar lagi dari mulutnya.

“Aku tidak peduli bagaimana caranya.” Suara Orion terdengar dingin dan tegas. “Temukan mereka. Jika gagal, jangan pernah berharap bisa kembali menginjakkan kaki di manor ini.”

“Siap, Tuan!”

Tak seorang pun berani membantah.

Orion segera berbalik dan meninggalkan lapangan bersama Rigel.

Sementara itu, dalang di balik kekacauan tersebut justru menghabiskan pagi dengan tenang.

Arina duduk di dekat jendela kamarnya sambil membaca sebuah buku. Cahaya matahari pagi menyinari halaman-halaman yang sedang ia baca, seolah dunia di luar sana tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Brak!

Pintu kamar mendadak terbuka dengan keras.

Orion melangkah masuk dengan wajah yang dipenuhi amarah, lalu membanting pintu hingga terdengar bunyi nyaring.

Arina menutup bukunya perlahan, kemudian bangkit menghampiri Orion yang duduk di tepi ranjang.

“Ada apa denganmu?” tanyanya dengan nada datar. “Kau terlihat sangat marah.”

Tatapan tajam Orion seketika tertuju pada Arina. Tanpa berkata apa pun, ia melangkah mendekat, meraih pergelangan tangan Arina, lalu membantingnya ke atas ranjang.

“Kau orang terakhir yang datang ke penjara bawah tanah.” Orion menahan tubuh Arina agar tetap berbaring. Tatapan matanya yang dipenuhi amarah bertemu dengan mata biru Arina yang dingin dan tenang. “Apa yang sebenarnya kau lakukan di sana? Kau yang membebaskan mereka?”

Tuduhan itu begitu tepat.

Karena memang benar.

Namun, sekalipun hari ini nyawanya dipertaruhkan, Arina tidak akan pernah mengakuinya.

“Aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya berjalan-jalan dan melihat para tahanan.” Suara Arina tetap datar. “Kau bisa bertanya kepada Saiph. Dia yang menemaniku selama di sana.”

Arina dapat merasakan embusan napas Orion yang memburu menyapu wajahnya. Tangan pria itu juga sedikit bergetar, pertanda ia sedang berusaha keras menahan amarah.

“Kau tidak perlu mengajariku apa yang harus kulakukan.” Rahang Orion mengeras. “Aku pasti akan menyelidiki semuanya. Dan kalau sampai kau memang terlibat...”

Ia berhenti sejenak. Tatapannya semakin tajam, sementara giginya bergemeletuk menahan emosi.

“...aku sendiri yang akan mengantarmu ke tiang gantung.”

Setelah mengatakan itu, Orion melepaskan Arina dan melangkah mundur.

Arina perlahan bangkit hingga duduk di tepi ranjang. Pandangannya mengikuti punggung Orion yang kini membelakanginya.

Diam-diam, ia membuka tangan kanannya yang sejak tadi terus mengepal. Percikan-percikan kecil menyerupai serbuk berlian ungu melayang sesaat di atas telapak tangannya sebelum perlahan menghilang.

“Ayo kita tanyakan sekarang juga.” Arina berdiri dengan tenang. “Aku bisa menemanimu menginterogasi Saiph. Jika memang terbukti aku terlibat, kau boleh langsung menyeretku ke tiang gantung.”

Saat kalimat itu berakhir, telapak tangannya telah kembali bersih, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Orion mengernyit.

Sebagai seorang jenderal yang telah ditempa di medan perang, ia terbiasa membaca gerak-gerik lawan hanya dari sorot mata atau perubahan napas mereka. Namun, entah mengapa, Arina justru terasa mustahil untuk ditebak.

Selama ini, semua orang mengenal Arina sebagai putri keluarga Volans yang tidak pernah dianggap keberadaannya. Para pelayan di kediaman Volans bahkan terang-terangan menyebutnya sampah.

Namun, melihat cara Arina berbicara dan ketenangannya menghadapi situasi ini...

Benarkah wanita seperti ini pantas disebut sampah?

“Baiklah. Ikut denganku.”

Orion akhirnya menerima usul Arina.

Ia segera memerintahkan Rigel untuk memanggil Saiph ke ruang kerjanya.

Tak lama kemudian, Saiph memasuki ruangan dengan kepala tertunduk.

“Angkat kepalamu dan jawab pertanyaanku,” perintah Orion.

“Baik, Tuan.”

Saiph perlahan mengangkat wajahnya. Tanpa sengaja, pandangannya bertemu dengan mata biru Arina yang dingin.

Di luar dugaan, Arina menyunggingkan senyum tipis kepadanya. Jantung Saiph seketika berdegup lebih cepat.

Apa maksud senyuman Nona Arina? batinnya bingung.

“Apa yang dilakukan Arina di penjara bawah tanah?” tanya Orion tanpa basa-basi.

“Katakan yang sebenarnya, Saiph,” ujar Arina dengan tenang. “Aku tidak ingin kau menyembunyikan apa pun.”

Saiph semakin gugup.

Namun, entah mengapa, ia tiba-tiba merasa bahwa yang diinginkan Arina justru kebalikan dari kalimat yang baru saja diucapkannya.

“Nona Arina hanya menyusuri lorong-lorong penjara bawah tanah,” jawab Saiph. “Saya sendiri tidak mengerti mengapa Nona ingin pergi ke sana, Tuan.”

Senyum tipis di wajah Arina menghilang. Ekspresinya kembali datar seperti biasa.

“Kau yakin?” tanya Orion.

Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan pelan, sementara Rigel yang berdiri di belakangnya tanpa sadar menggenggam gagang pedangnya.

“Saya yakin, Tuan.” Saiph mengangguk cepat.

“Orion mencurigaiku sebagai orang yang membebaskan kedua tahanan itu.” Arina menatap Saiph tanpa berkedip. “Menurutmu, apakah itu mungkin?”

Saiph menelan ludah sebelum menjawab.

“Saya tidak tahu, Nona. Namun, selama saya menemani Anda, saya tidak melihat Anda melakukan hal seperti itu.”

Jawaban yang bagus, puji Arina dalam hati.

...\=\=\=...

Interogasi terhadap Saiph tidak membuahkan hasil. Dan hal paling menguntungkan bagi Arina adalah Orion tidak menginterogasi tahanan lainnya. Dengan reputasinya, tentu saja Orion tidak akan merendahkan diri dengan bertanya kepada para tahanan itu.

Menjelang sore, Orion pergi ke istana bersama Hadar untuk melaporkan situasi ini kepada raja. Sementara itu, Arina tetap berada di manor dan memutuskan memeriksa gudang penyimpanan guna mengecek persediaan bahan pangan.

“Sepertinya persediaan beras harus segera diisi kembali,” ujar Arina kepada para pelayan yang mengikutinya.

“Itu tugas Anda, tidak ada hubungannya dengan kami,” balas salah seorang pelayan dengan nada ketus.

Arina hanya meliriknya sekilas.

“Aku tahu.”

“Lebih baik kita pergi. Nona ini tidak perlu ditemani,” ujar pelayan itu kepada rekan-rekannya.

Mereka pun berbalik dan meninggalkan Arina seorang diri di dalam gudang.

Arina hanya mengangkat bahu acuh. Ia sama sekali tidak memedulikan sikap mereka. Dengan tenang, ia terus menyusuri setiap rak sambil mencatat seluruh persediaan dengan teliti.

“Nona.”

Tiba-tiba Saiph masuk ke dalam gudang sambil memanggul sebuah karung gandum. Ia meletakkan karung itu di sudut ruangan dengan hati-hati, lalu menoleh ke arah Arina.

“Kenapa kau berbohong?” tanya Arina tanpa basa-basi.

Gerakan Saiph terhenti sejenak.

Ia menundukkan kepala memberi hormat sebelum menjawab. “Saya tahu anda tidak ingin ada orang yang mengetahui pembicaraan di penjara bawah tanah itu.”

Lalu mengangkat pandangannya perlahan. “Saya memang tidak tahu siapa yang membebaskan kedua tahanan itu. Namun, jika orang itu adalah anda...”

Saiph melangkah dua langkah ke samping, lalu mengambil dua butir anggur dari keranjang di dekatnya.

Dengan perlahan, ia menggenggam keduanya hingga buah itu hancur. Cairan merah keunguan menetes dari sela-sela jemarinya, membasahi lantai dan tampak menyerupai darah.

Arina mengangkat sebelah alis.

Kenapa hanya dua butir? Dan... apa maksudnya melakukan itu?

“Saya percaya...” lanjut Saiph dengan suara tenang. “...Anda tidak akan pernah melakukan sesuatu yang membahayakan kerajaan.”

Ia kemudian membuka telapak tangannya.

Anehnya, kedua butir anggur yang semula telah hancur perlahan menyatu kembali. Kulitnya utuh tanpa sedikit pun bekas remasan, seolah waktu diputar kembali.

Anggur itu tergeletak sempurna di atas telapak tangan Saiph.

Tatapan Arina sedikit berubah.

Ini benar-benar menarik.

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Nda
kayanya Orion mulai cemburu nggak sh🤭
Nda
novelmu selalu menarik thor😍😍
ociii
🥰🥰
ociii
cerita'y bagus...♥️♥️
Mila Sari
Thor jgn setengah 2 ceritanya,, yg bnyk updatenya
Mila Sari: ditunggu ya Thor,, semangat berkarya
total 2 replies
Mila Sari
ceritanya smkin seru,, Thor yg bnyk updetnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!