Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Zhao Heng tidak menjawab Wang jinya, karena.. Wang jinya sudah diseret kawanan serigala kedalam hutan lebat.
Setelah semua itu selesai, barulah ia bersama Zhao Xuan pulang ke rumah.
Datang tanpa suara pergi tanpa jejak, seolah kejadian itu tidak pernah terjadi.
***
Karena kamar A Bao sekarang ditempati oleh ah Xiang yang masih belum sadarkan diri, malam itu A Bao tidur dikamar Zhao Xuan. Si kecil itu tidur dengan nyenyak, sampai-sampai ia tidak sadar saat Zhao Xuan sempat keluar sebentar.
Awalnya Zhao Xuan membungkus A Bao dengan selimut seperti kepompong ulat sutra dan membiarkannya tidur sendiri. Tapi saat tidur A Bao benar-benar tidak bisa diam. Ia terus menerus mendesak ke arah Zhao Xuan, hingga saat fajar menyingsing, Zhao Xuan hampir jatuh terguling dari kang karena terdorong.
"Kakak." entah sudah berapa lama berlalu, A Bao membuka matanya.
Zhao Xuan bergumam mengiyakan. Ia melihat sikecil mengucek mata danbertanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Apa bibi sudah bangun?" A Bao dengan rambut acak-acakan seperti sarang ayam, kembali menyusup kedalam pelukan Zhao Xuan.
Zhao Xuan menggeleng, "Sepertinya belum."
"Apa ibu dulu kenal bibi itu?" tanya A Bao lagi. Semalam ibunya bicara panjang lebar, tapi ia tidak mengerti sama sekali.
Zhao Xuan mengangguk. Melihat A Bao menatapnya dengan pandangan penuh rasa ingin tahu, ia mencoba menjelaskan sesederhana mungkin, "ayah punya teman baik, namanya paman Lin. Paman Lin sering berada di barak militer, jadi ia kurang memperhatikan adiknya. Kemudian adiknya pergi kawin lari dengan orang lain. Paman Lin mencarinya kemana-mana tapi tidak ketemu. Akhirnya paman Lin gugur di Medan perang,dan sebelum meninggal ia memanggil-manggil nama bibi Lin."
" Kawin lari itu artinya apa?"A Bao tidak mengerti. Ia memiringkan kepala kecilnya, menatap Zhao Xuan dengan bingung.
Zhao Xuan menggaruk kepalanya, bingung bagaimana menjelaskan kata itu pada anak kecil."anggap saja dia kabur mengikuti orang lain."
"ohhh.." A Bao berusaha memahami."bibi bukan anak baik,"
Zhao Xuan memejamkan mata, pura-pura tidur.
***
Karena semalam banyak warga yang memadamkan api, pagi-pagi sekali Wang chunniang sudah berkeliling dari rumah ke rumah. Ia membawa bingkisan,sebagian besar berupa telur ayam, sebagai ucapan terima kasih atas bantuan mereka.
Rumah terakhir yang dikunjungi adalah rumah goudan. Baru saja Wang chunniang meletakkan bingkisan,ibu goudan menariknya dan mengajaknya mengobrol sehingga ia tidak bisa langsung pulang.
Saat mereka sedang asyik bicara, terdengar suara gedoran keras di pintu rumah keluarga Wang disebelah.
"Pagi-pagi begini,sudah ada dua rombongan yang mencari Wang jinya. Pasti penagih utang." ibu goudan berbisik sambil bergosip kepada Wang chunniang. "Dengar-dengar dari ayah goudan,Wang jinya kalau dapat uang langsung dipakai main perempuan di kota kabupaten,sama sekali tidak menabung. Omong-omong beberapa tahun lalu dia pernah membawa pulang seorang istri. Banyak orang desa yang tahu. Tapi karena dia telah melahirkan tiga anak perempuan berturut-turut, setelah itu dia tidak pernah terlihat lagi."
Tangan Wang chunniang yang tergantung di sisi tubuhnya terkepal erat. Orang yang dibicarakan ibu goudan ini pasti Lin Xiang. Dulu Lin Xiang kabur mengikuti orang lain, sepertinya ia bertemu orang jahat dan akhirnya dijual.
"Kakak ipar,nanti kalau aku ada waktu main lagi. Aku harus pulang beres-beres rumah. Sepupu jauh suamiku baru datang menumpang dirumah kami." kata Wang chunniang dengan ekspresi pura-pura tak berdaya. Ia mulai menyebarkan alasan untuk menutupi kemunculan Lin Xiang.
" Ahh.. Adik ipar ya! Aku mengerti,cepat lah pulang dan urus urusanmu." ibu goudan melihat ekspresi pasrah Wang chunniang dan mengira ia sedang menghadapi adik ipar yang menyebalkan,jadi ia buru-buru mengantar Wang chunniang keluar.
Saat Wang chunniang dalam perjalanan pulang,A Bao sudah bermain didepan pintu.
Zhao Xuan dengan cekatan mengikat dua kuncir kecil di kepala A Bao,lalu menyuapinya sebutir telur rebus. Melihat adiknya yang ingin main diluar,ia pun membawanya main di tanah lapang depan rumah.
"Kakak,ada semut." A Bao duduk berjongkok di bawah pohon,mengamati dengan seksama barisan semut yang sedang pindahan.
" Kue gula putih manis,kue gula putih manis," saat A Bao sedang asyik menonton semut, terdengar teriakan pedagang keliling yang menjajakan kue gula putih (Baitang Gao). Melihat A Bao tiba-tiba mendongak dan menatap pedagang itu dengan penasaran, Zhao Xuan segera merogoh saku, mengeluarkan dua keping uang tembaga,dan membeli beberapa potong.
Kue gula putih itu sepertinya baru matang,masih terasa hangat. Zhao Xuan berjongkok di samping dan menyuapi A Bao. A Bao makan dengan lahap, terlihat sangat menikmatinya.
Kecelakaan tepat terjadi pada saat itu. Tiga butir telur busuk melayang dari arah berbeda menyasar kepala A Bao. Bagaimanapun Zhao Xuan hanyalah anak berusia sembilan tahun,ia tidak mungkin menepis semua telur busuk itu dengan sekaligus. Ia hanya bisa memeluk erat A Bao untuk melindunginya. Ketiga telur busuk itu pun pecah mengenai tubuhnya sendiri.
Bau busuk yang menyengat langsung menyebar. A Bao menatap sekeliling dengan bingung. Entah dari mana munculnya, beberapa anak laki-laki berusia empat atau lima tahun melompat keluar. Melihat A Bao menengok,mereka hendak memukul lagi sambil menunjuk-nunjuk dan memakai,"pembawa sial! Kebun buah keluargamu habis terbakar gara-gara kamu."
Zhao Xuan menatap anak-anak itu dengan tatapan dingin. Ia menahan diri untuk tidak membalas,dan segera menggendong A Bao yang gemuk itu untuk kembali kedalam rumah,lalu menutup pintu halaman. Namun teriakan anak-anak itu masih sempat terdengar oleh telinga A Bao.
"Huwaaa.." setelah terisak pelan sebentar,tangis A Bao pun pecah dengan keras.
Zhao Heng sedang berjalan di halaman dengan bantuan tongkat. Mendengar tangisan A Bao,hatinya seketika mencelos. Suaranya terdengar serak saat bertanya,"Apa yang terjadi?"
"Ayah,barusan..." belum sempat Zhao Xuan selesai berbicara,suara lantang A Bao sudah memotongnya."ayah,mau digendong ayah! Mereka bilang aku pembawa sial,dan... Dan melempar telur busuk ke kakak." dari tangisan A Bao yang tersendat-sendat, Zhao Heng bisa menebak apa yang terjadi.
Ia meraba-raba mengambil alih A Bao dari pangkuan Zhao Xuan,lalu menyuruh Zhao Xuan pergi mengganti baju. A Bao duduk dipangkuan Zhao Heng sambil terus menangis tersedu-sedu.
Zhao Heng memeluk gumpalan daging di pangkuannya itu dengan ekspresi wajah yang sangat tenang.
"Menangis tidak ada gunanya," ujar Zhao Heng.
A Bao terisak sekali,lalu kembali menangis keras.
"Kau harus memukul balik,pukul sampai mereka yang menangis." kata Zhao Heng lagi.
A Bao masih terisak, suaranya terdengar sangat menyedihkan," mereka sangat gemuk,aku... Aku tidak bisa mengalahkan mereka."
"Aku akan cari cara." jawab Zhao Heng tanpa ekspresi.
***
Saat Wang chunniang pulang,tidak ada tanda-tanda A Bao maupun Zhao Xuan di halaman. Hanya ada Zhao Heng yang sedang memegang ranting pohon dan meraut sesuatu.
Melihat pisau di tangan Zhao Heng,jantung Wang chunniang seketika berdegup kencang karena cemas.
" Suamiku,tanganmu berdarah?" Wang chunniang Duduk disampingnya dan mengingatkan dengan suara pelan.
" Luka kecil,tidak masalah, sebentar lagi selesai." jawab Zhao Heng dengan nada biasa.
Wang chunniang ragu sejenak,bingung harus merespon apa. Saat awal Zhao Heng mengalami kebutaan,ia sering memaksa berlatih pedang dan tongkat hingga tubuhnya penuh luka. Semakin banyak darah keluar, semakin ia tidak bisa berhenti.
Tapi hari ini, sepertinya... Ia sudah kembali normal.
"Suamiku,apa kau sedang membuat ketepel untuk A Bao?" tanya Wang chunniang sambil bersandar di sisinya,Menatap ketepel mini di tangan suaminya.
Zhao Heng mengangguk." A Bao diganggu orang."
"Hah?"