Jaka Sakti, seorang anak yang terlahir dari desa kecil, namun ia dilahirkan dengan takdir yang kuat.
Ia dipilih oleh Dewa Suci untuk meneruskan warisannya. Jaka berkelana ke seluruh dunia untuk menemukan 10 Siluman Dewa Suci yang akan menjadi gurunya dan memberikannya kekuatan yang tiada tara.
Aku, Jaka Sakti, Seseorang yang akan berada di puncak, bukan hanya tanah kelahiranku, melainkan mendominasi seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kemal costa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 27 - Berburu Siluman III.
"Kau bukan tak bisa untuk memakan daging siluman, tapi kakek itu melarangmu memakan beberapa jenis siluman, coba kau makan daging siluman yang lain."
Zhurong menyarankan serta memberi solusi pada Jaka mengenai kondisi tubuh Jaka yang mendadak menjadi aneh.
"Baiklah, selagi hari belum gelap aku akan melanjutkan perburuanku, aku tidak memiliki sisa bekal lagi dan hanya tinggal buah-buahan, aku tidak akan kembali malam ini, jadi jangan menunggu ku." Jaka tersenyum menggoda Zhurong.
Zhurong mendengus kesal. "Cih! Siapa juga yang mau menunggumu, yang aku harap di mana pun kau berada, jangan mati, hanya itu..."
Jaka kemudian kembali menyusuri hutan setelah meninggalkan goa. Kali ini ia tak perlu waktu lama, hanya beberapa saat setelah ia mulai berjalan menyusuri hutan, ia langsung merasakan adanya hawa jahat dan segera menghampiri sumber hawa jahat tersebut.
"Lebih cepat dari dugaanku, aku tak menyangkanya, keberuntungan masih berpihak kepadaku."
Tak lama setelah Jaka mengikuti arah keberadaan hawa jahat tersebut, ia melihat seekor siluman dengan tinggi hampir dua meter, berbulu lebat berbadan kekar dan besar, serta memiliki dua tanduk banteng pada kepalanya. Siluman ini merupakan siluman dua ratus tahun.
"Hmm... Siluman Gorilla Tanduk Banteng," gumam Jaka.
Siluman itu menatap Jaka dengan tajam, ia terlihat sedang mencoba mengukur kemampuan Jaka. Setelah beberapa saat siluman itu bertatapan dengan Jaka, ia kini merasa yakin bisa mengalahkan Jaka dan mulai berlari menyerang ke arah Jaka.
Jaka menghunuskan pedangnya. "Oh ... Hoo ... Sudah yakin bisa mengalahkan ku? Baiklah, kemarilah! Akan kubuat perhitungan denganmu karena sudah meremehkanku."
Siluman itu berlari ke arah Jaka dan berniat menyeruduknya. Jaka dengan sigapnya menahan tanduk Siluman itu menggunakan pedangnya dan menggenggam erat pedangnya dengan kedua tangannya.
Jaka mengerutkan dahinya. "Ternyata besar juga tenagamu, sedikit saja aku lengah mungkin aku akan terpental."
Saat Jaka sedang menahan tanduk Siluman itu dengan pedang yang tengah ia genggam menggunakan kedua tangannya. Siluman itu terlihat mengangkat tangan kanannya dan langsung mendaratkan pukulan yang telak menghantam pinggang Jaka.
Kekuatan besar ditambah Jaka yang belum sempat mengalirkan tenaga dalam pada pinggangnya, membuat Jaka terpental ke samping dan menghantam tanah dengan kerasnya.
"Sial! Aku lupa jika ia memiliki lengan dan bukan kaki!" Jaka meringis menahan sakit pada pinggangnya.
Saat Jaka masih dalam posisi terlentang di tanah, siluman itu kembali melayangkan tinjuan ke arah wajah Jaka. Jaka segera berguling ke samping demi menghindari pukulan tersebut.
Namun, belum sempat Jaka berdiri, siluman itu kembali mengarahkan tanduknya pada Jaka.Jaka mencoba menahan tanduknya menggunakan kedua kakinya yang sudah dialiri tenaga dalam dan mendorong kepala siluman itu agar menjauh untuk memberikan jarak.
Setelah siluman tersebut termundur beberapa langkah, Jaka lalu berguling ke belakang, berdiri dan melompat mundur.
"Dia memiliki dua pola serangan, tanduk dan juga pukulannya, aku harus lebih waspada terhadap serangan yang ia berikan."
Jaka mengalirkan tenaga dalam untuk mengurangi rasa sakit pada pinggangnya, namun siluman tersebut tampak tak memberikan sedikit pun waktu untuk Jaka memulihkan luka yang ia derita.
Siluman itu kembali menyeruduk Jaka, kali ini Jaka mencoba menggunakan cara lain. Saat kepala siluman itu sudah sangat dekat dengan perutnya, ia segera melompat dengan cukup tinggi, lalu memegang puncak kepala siluman itu dan melompat tepat ke arah belakang tubuh siluman tersebut.
Jaka tampak berniat menyerang bagian belakang siluman itu menggunakan pedangnya, namun tepat saat Jaka baru saja mendarat, ia langsung disambut dengan tendangan kedua kaki belakang siluman itu yang tepat mengenai perutnya.
Tendangan keras tersebut membuat Jaka terpental ke belakang dan jatuh dengan posisi terduduk.
"Apa-apaan!! Tiga pola serangan, kurang ajar! Aku hanya membaca tiap jenis siluman dan cara mengalahkannya dan tidak membaca bentuk dan pola serangan siluman-siluman ini, seharusnya aku lebih banyak membaca."
Jaka mengepalkan tangan kirinya, ia merasa tak percaya bahwa dirinya masih saja terkecoh dengan pola serangan acak dari siluman tersebut.
Jaka berdiri, lalu membuat kuda-kuda. "Baiklah tuan siluman! Bagaimana jika tanduk banteng bertemu banteng."
"Teknik Pedang Bumi! Teknik Banteng Besi!"
Jaka mengangkat pedangnya dengan satu tangan sambil membuat posisi bertahan.
Siluman itu kembali menyerang Jaka dengan tanduknya. Jaka menyambut serangan itu, mengayunkan pedangnya untuk menangkis tanduk banteng tersebut.
Pedang Jaka dan tanduk siluman tersebut kembali bertemu. Kali ini benturan tersebut menghasilkan bunyi yang cukup nyaring.
Siluman itu dan juga Jaka sama-sama tidak bergeming setelah benturan tersebut. Keduanya sama-sama memiliki kuda-kuda yang sangat kuat. Jaka menggunakan kuda-kudanya dan siluman itu menggunakan kedua kaki serta kedua lengannya sebagai pondasi.
Siluman itu mencoba kembali melayangkan pukulan tangan kanannya ke arah pinggang Jaka, namun Jaka sudah mengetahui jelas pola serangan siluman itu dan segera menahan pukulan siluman tersebut menggunakan telapak tangannya yang sudah dialiri tenaga dalam.
Berkat teknik banteng besinya, Jaka dapat dengan mudahnya menahan tandukan siluman itu hanya dengan satu tangan, sehingga tangan yang lain dapat menahan pukulan dari siluman tersebut.
Siluman itu tak dapat menggunakan lengannya yang lainnya, sebab ia gunakan sebagai penopang tubuhnya.
Jaka kemudian mengalirkan tenaga dalam yang cukup besar pada lutut kanannya dan menendang dagu siluman itu dengan sekuat tenaga. Alhasil siluman itu terpental ke belakang, sebelum akhirnya mengantam tanah dengan kerasnya.
"Tanduk bantengmu itu tidak ada apa-apanya, melainkan hanya mainan anak-anak bagi teknik banteng besiku!" ucap Jaka meniru perkataan Zhurong, "Keren juga kata-kata pak tua Zhurong itu untuk meremehkan musuh," ucap Jaka dalam hati, lalu tertawa kecil.
Siluman itu segera berdiri, ia menatap Jaka yang masih dengan posisi bertahannya dengan geram sambil sesekali mendengus.
Siluman tersebut kemudian berlari menghampiri Jaka dengan menggeram. Kini ia menggunakan kedua tangannya untuk menyerang Jaka, ia mengayunkan pukulan demi pukulan dengan membabi buta.
Jaka berhasil menghindari setiap pukulan yang dilayangkan siluman itu dengan mudahnya, sambil mencari celah untuk melakukan serangan balik.
Saat Jaka melihat celah, ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung mengaliri pedangnya dengan tenaga dalam.
"Teknik Pedang Bumi! Tebasan Harimau Dewa! "
Jaka mengayunkan pedangnya ke arah lengan kiri siluman itu dengan cepat dan sekuat tenaga. Dan akhirnya, lengan siluman itu pun terpotong dan jatuh ke tanah. Siluman itu meraung kesakitan, menahan sakit pada lengannya yang megucurkan darah.
Siluman tersebut merasa semakin geram dengan Jaka, ia lalu menyerang Jaka kembali dengan tanduknya.
Jaka dengan sigapnya menahan serangan itu dengan kakinya yang dialiri tenaga dalam, sehingga tanduk dan tulang kering Jaka bertemu.
Jaka menahan tanduk siluman tersebut dengan kakinya, lalu mengalirkan dua puluh persen tenaga dalam pada pedangnya dan langsung memotong tanduk kanan serta tanduk kiri siluman itu secara bergantian dengan dua tebasan pedang yang cukup cepat.
Kini kedua tanduk Siluman itu terpotong, membuat siluman itu menjadi kalap. Siluman itu melayangkan tinju kanannya ke arah Jaka, ia tampak tak perduli dengan kondisi tubuhnya.
Jaka dengan mudahnya menangkis tinjuan itu menggunakan lengan kirinya dan langsung menyerang balik dengan memberikan tebasan pedang yang cepat ke arah dada siluman itu, namun tidak terlalu kuat, sehingga tak meninggalkan luka yang dalam.
Siluman itu kembali menyerang Jaka dengan serudukan kepalanya, Jaka menerima serangan itu dengan senang hati, ia mengalirkan tenaga dalam pada perutnya untuk menahan serudukan kepala siluman tersebut.
"Apakah kau lupa? Kau tidak lagi memiliki tanduk, seranganmu ini bukan lagi masalah besar bagiku, baiklah aku akan segera mengakhiri ini." Jaka tertawa kecil sambil mengalirkan tenaga dalam pada tangan kirinya.
Jaka lalu memukul pucuk kepala siluman dengan kerasnya, hingga kepala siluman tersebut menghantam tanah, ia kemudian mengalirkan tenaga dalamnya kembali pada kaki kanannya.
Jaka segera memijak kepala siluman itu dengan keras dan menahan kepalanya agar tetap di tanah. Jaka kemudian mengangkat pedangnya dan menusuk leher siluman itu hingga tertembus melewati kerongkongannya, yang di mana bagian leherlah yang menjadi kelemahan siluman tersebut.
Akibat tusukan yang sangat fatal tersebyt, siluman itu menghembuskan nafas terakhirnya dan jatuh ke tanah.
"Sudah kubilang padamu di awal, jangan meremehkanku! " ucap Jaka tersenyum bangga.
zhia kan umi kepala suku bintang