Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Dimas Pradipta datang ke Menteng Regency dengan alasan yang sangat buruk.
"Mas Arka minta gue cek tanaman."
Bella menatap pria di depan gerbang villa Lim Mei Li tanpa berkedip.
Dimas mengangkat kedua tangan, senyumnya lebar, rambutnya sedikit berantakan seperti orang yang sengaja ingin terlihat tidak berbahaya. Ia memakai kaus hitam di balik jaket kasual, jauh lebih santai daripada penghuni lain di cluster itu.
"Oke, itu terdengar bodoh bahkan setelah gue ucapkan."
"Memang," kata Bella.
Dimas melirik ke taman depan. "Tapi serius, rumah sebelah katanya ada masalah penyiraman otomatis. Gue cuma lewat, terus lihat villa ini ramai. Jadi ya... sekalian say hi?"
Bella tidak bergerak.
Dimas menelan ludah. "Kalian semua selalu seserius ini?"
"Hanya pada orang yang datang dengan alasan bodoh."
Pintu utama terbuka sebelum Dimas sempat membalas. Lim Mei Li keluar dengan tablet di tangan. Pagi itu ia memakai kemeja putih longgar dan celana kain gelap, rambutnya diikat rendah. Tidak ada riasan pesta, tidak ada perhiasan mencolok, tetapi Dimas langsung paham kenapa Mas Arka yang biasanya tenang mendadak peduli pada tetangga baru.
Perempuan ini tidak sekadar cantik.
Ia membuat orang merasa sedang berdiri di depan pintu ruangan yang tidak boleh dimasuki sembarangan.
"Dimas Pradipta?" tanya Mei Li.
Dimas terkejut. "Wah. Sudah tahu nama gue."
"Kamu berdiri di depan rumahku. Tentu timku tahu."
"Masuk akal." Dimas menggaruk belakang kepala. "Saya sepupunya Arka. Maksudnya, Mas Arka. Dimas."
"Kamu sudah mengulang namamu dua kali."
"Karena biasanya yang pertama gagal berkesan."
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Mei Li bergerak tipis. Bella melihatnya, lalu memutuskan Dimas belum perlu diusir.
"Apa Arka menyuruhmu datang?" tanya Mei Li.
Dimas langsung membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Sial. Perempuan ini berbahaya.
"Tidak persis menyuruh," katanya hati-hati. "Mas cuma bilang, kalau gue punya waktu, coba cek apakah lingkungan aman setelah kejadian semalam. Dia khawatir media atau orang Tan datang ganggu."
"Dan bagian tanaman?"
"Improvisasi gagal."
Mei Li menatapnya beberapa detik, lalu menutup tablet. "Katakan pada Mas Arka, lingkungan aman. Kalau dia ingin tahu, dia bisa bertanya sendiri."
Dimas mengangkat alis. "Boleh gue sampaikan persis begitu?"
"Silakan."
"Wah, ini menarik."
Bella melangkah setengah langkah.
Dimas langsung mundur. "Maksud gue, pesannya menarik. Bukan yang lain."
Dari seberang jalan kecil, pintu rumah Arka terbuka. Arka keluar membawa map tipis, seolah kemunculannya hanya kebetulan. Dimas menoleh dan langsung memasang wajah orang tidak bersalah.
"Bro," panggil Dimas. "Tanaman aman."
Arka berhenti di tengah jalan.
Mei Li menatapnya.
Satu detik sunyi.
Arka menarik napas pelan. "Dimas."
"Iya, Mas?"
"Pulang."
"Belum sarapan."
"Pulang."
Dimas menghela napas dramatis, lalu menunduk sopan pada Mei Li. "Senang akhirnya ketemu, Nona Lim. Kalau butuh info soal restoran, lounge, atau cara membuat Mas Arka panik, hubungi saya."
Mei Li mengangkat alis. "Cara membuat Arka panik?"
Dimas menunjuk dirinya sendiri. "Biasanya cukup dengan keberadaan gue."
Arka memejamkan mata sejenak.
Mei Li benar-benar tersenyum kali ini, kecil dan cepat, tetapi Dimas melihatnya. Ia juga melihat Arka melihat senyum itu.
Oh.
Jadi separah itu.
***
Di rumah sebelah, Arka menutup pintu ruang kerjanya setelah menyeret Dimas masuk.
"Aku menyuruhmu memastikan tidak ada media di cluster, bukan mengobrol di depan rumahnya."
Dimas menjatuhkan diri ke sofa. "Mas, kalau mau tahu kabarnya, tanya aja. Kenapa harus kirim gue?"
"Aku tidak mengirimmu untuk itu."
"Mas, wajahmu waktu dia senyum tadi seperti orang baru lihat sunrise setelah sepuluh tahun tinggal di bunker."
Arka menatapnya datar. "Kamu terlalu banyak metafora."
"Dan kamu terlalu banyak denial."
Arka membuka map di meja, mencoba kembali serius. Namun Dimas belum selesai.
"Dia tahu aku datang karena kamu. Dalam sepuluh detik. Serius, Mas, perempuan itu bukan level sosialita biasa. Tatapannya saja bikin gue ingin mengaku dosa padahal gue cuma bohong soal tanaman."
"Jaga ucapanmu."
"Nah. Ini dia." Dimas menunjuk. "Kamu protektif."
Arka diam.
Dimas yang biasanya senang menggoda mendadak menurunkan suara. "Mas, aku tahu kamu tidak suka dekat-dekat dengan perempuan. Kalau kali ini beda, jangan pura-pura tidak beda."
Arka menatap jendela yang menghadap taman samping. Dari celah pohon, bagian atap villa Mei Li terlihat samar.
"Dia baru kehilangan banyak hal," katanya pelan.
"Atau dia baru kembali untuk mengambil semuanya."
"Keduanya."
Dimas mengangguk. "Kalau begitu, jangan jadi orang yang menghalangi."
"Aku tidak berniat."
"Jadi?"
Arka menutup map. "Aku hanya ingin dia tahu, tidak semua orang yang mendekat ingin mengambil sesuatu."
***
Menjelang sore, Mei Li kembali dari ruang kerja ke lantai bawah.
Di depan pintu, ada satu rangkaian melati putih segar. Tidak mewah. Tidak berlebihan. Hanya bunga-bunga kecil yang disusun rapi dalam kotak kayu tipis, dengan kartu kosong tanpa tanda tangan.
Amy memeriksa lebih dulu. "Aman."
Bella menambahkan, "Kurir dari toko bunga langganan keluarga Pradipta. Nama pengirim disembunyikan, tapi tidak terlalu pintar menyembunyikannya."
Mei Li mengambil satu kuntum melati.
Aromanya lembut, bersih, menyentuh sesuatu yang terlalu lama ia simpan di tempat gelap. Di masa kecil, Lim Yun sering menyelipkan bunga seperti itu di rambutnya sebelum keluarga Tan mengubah rumah menjadi tempat yang dingin.
"Melati putih," bisik Mei Li.
Amy menatapnya. "Nona?"
Mei Li tidak menjawab. Ia hanya melihat ke arah rumah sebelah, tempat lampu ruang kerja Arka sudah menyala.
"Bagaimana dia tahu aku suka bunga putih?"