NovelToon NovelToon
Obsesi Adik Ipar

Obsesi Adik Ipar

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Obsesi / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.

Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.

Sampai Rayhan Liem kembali.

Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.

Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.

Dan Yola memang berlari. Dua kali.

Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.

Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?

Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?

⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 021

Undangan Celine

Di bawah lampu ballroom, buku-buku jari Rayhan memutih.

Ardi melihatnya. Celine juga.

Yola tidak.

Yola masih berdiri di dekat meja minuman, mendengarkan Daniel menjelaskan daftar supplier dengan nada sabar. Naomi sesekali menyela, terutama saat Daniel menyebut istilah teknis yang terdengar terlalu serius untuk acara penuh gaun mahal dan kamera media.

"Jadi strip tester itu kertas kecil buat nyium parfum?" tanya Naomi.

"Kurang lebih," jawab Daniel.

"Kenapa nggak bilang kertas cium aja?"

Daniel tertawa pelan. "Karena nanti terdengar seperti alat mencium orang."

Naomi tertawa duluan.

Yola ikut tertawa, lebih ringan daripada yang ia rencanakan.

Di seberang ruangan, Celine menatap tawa itu seperti menatap noda di gaunnya.

"Rayhan," panggilnya lembut.

Rayhan akhirnya menoleh.

"Papa Hartono menunggu," kata Celine, seolah ia hanya mengingatkan. "Kamu tidak ingin membuat beliau menunggu karena... hal kecil, kan?"

Rayhan menatapnya.

Celine tersenyum.

Ia tidak menyebut Yola. Tidak menyebut Daniel. Justru itu yang membuat kata-katanya lebih tajam. Rayhan meletakkan gelasnya di meja terdekat. Kaca itu berbunyi pelan saat menyentuh permukaan marmer.

"Ardi."

"Siap, Pak."

"Pastikan Rizal tetap di titiknya."

"Siap."

Celine mendengar perintah itu. Senyumnya tidak berubah, tetapi matanya menjadi lebih dingin.

Rizal.

Jadi Rayhan memang menempatkan orang untuk mengawasi Yola.

Bukan hanya malam ini. Mungkin sejak sebelumnya.

Sesuatu di dada Celine mengeras. Ia sudah tahu Rayhan bukan pria hangat. Ia sudah tahu perjodohan mereka lebih banyak bicara tentang saham, akses proyek, dan posisi Tan Corporation dalam lingkar Liem. Ia tidak keberatan. Dalam dunia mereka, pernikahan yang berguna lebih aman daripada cinta yang merepotkan.

Namun ia tidak pernah mengira Rayhan akan menjadi merepotkan karena janda kakaknya sendiri.

"Ayo," kata Rayhan.

Celine menggandeng lengannya lagi, cukup ringan agar tidak ditolak di depan orang banyak.

Mereka berjalan menuju meja Papa Hartono. Celine tersenyum pada tamu, menjawab sapaan, dan memainkan peran calon pendamping Rayhan dengan sempurna. Tapi di kepalanya, sebuah rencana mulai menyusun diri.

Perempuan seperti Yola tidak bisa diusir hanya dengan kata-kata.

Terlalu banyak orang menyukainya sekarang. Mama Liem. Naomi. Papa Hartono. Daniel Wijaya. Bahkan staf rumah yang melihatnya seperti orang baik yang harus dilindungi.

Kalau Celine menyerang terang-terangan, ia akan terlihat buruk.

Maka Yola harus terlihat buruk dulu.

Setelah acara utama selesai, para tamu bergerak lebih bebas. Papa Hartono memberikan sambutan singkat tentang keamanan dan kerja sama. Rayhan naik panggung sebagai perwakilan Liem Group. Celine berdiri di meja depan, tersenyum setiap kali kamera mengarah.

Yola berdiri jauh di belakang bersama Naomi.

"Kak Rayhan kalau pidato kaku banget," bisik Naomi. "Kayak baca putusan pengadilan."

"Dia Direktur Utama, bukan pembawa acara."

"Tetap aja bisa senyum dikit."

Yola tidak menjawab.

Rayhan memang tidak tersenyum. Namun suaranya stabil, rendah, dan membuat semua orang mendengarkan tanpa perlu meminta. Saat ia menyebut kerja sama dengan keluarga Hartono, matanya bergerak singkat ke arah Papa Hartono. Saat ia menyebut keberanian tamu yang membantu dalam insiden keamanan, matanya berhenti di bagian belakang ruangan.

Terlalu cepat untuk disebut menatap.

Terlalu tepat untuk disebut kebetulan.

Yola menunduk sebelum mata mereka benar-benar bertemu.

Celine melihat itu.

Ia menyimpan senyum.

Usai sambutan, Celine tidak langsung kembali ke Rayhan. Ia justru berjalan ke arah Yola dan Naomi dengan dua gelas sparkling water di tangan. Wajahnya ramah, bahkan lebih ramah daripada sebelumnya.

"Yola," katanya. "Naomi."

Naomi langsung memasang wajah tidak percaya. "Ada apa?"

"Aku ingin meminta maaf kalau beberapa hari lalu kata-kataku terdengar terlalu keras." Celine mengulurkan satu gelas kepada Yola. "Aku sedang khawatir soal Rayhan. Kadang aku bicara terlalu tajam."

Yola menatap gelas itu.

Naomi mendengus pelan. "Kadang?"

Celine tertawa kecil. "Naomi selalu jujur, ya."

"Iya."

Yola mengambil gelas itu bukan karena percaya, tetapi karena menolak di depan orang banyak akan membuat adegan yang lebih besar. "Terima kasih."

"Aku dengar kamu mulai studio parfum di Kemang." Celine menatapnya dengan minat yang terlihat hangat. "Atelier Yola, kan?"

Yola menegang sedikit. "Masih tahap awal."

"Justru bagus." Celine tersenyum. "Minggu depan aku mengadakan private social preview untuk beberapa brand perempuan. Fashion kecil, aksesori, skincare, fragrance. Tidak terlalu besar. Banyak istri investor dan buyer butik datang."

Naomi menyipitkan mata. "Sejak kapan kamu peduli brand kecil?"

"Sejak calon keluargaku punya seseorang yang sedang memulai brand kecil."

Kalimat itu terdengar manis. Terlalu manis.

Yola menjaga suaranya tetap tenang. "Terima kasih atas tawarannya, tapi produk saya belum siap untuk dipamerkan."

"Tidak perlu pamer produk jadi. Datang saja. Lihat pasar. Kenalan dengan orang. Kalau kamu ingin berdiri sendiri, kamu perlu jaringan, bukan?"

Kata-kata itu mengenai bagian yang sulit ditolak.

Celine tahu.

Naomi langsung berkata, "Kak Yola bisa datang ke acara lain. Bukan harus acaramu."

"Tentu." Celine menatap Naomi dengan sabar. "Tapi acara lain belum tentu memberi tempat untuk orang yang baru mulai dan belum punya portofolio. Aku bisa."

Yola memegang gelas lebih erat.

Jika ia menolak, ia terlihat takut. Jika ia menerima, ia masuk ke ruang yang dikendalikan Celine.

"Saya akan pikirkan," kata Yola.

"Jangan terlalu lama." Celine membuka tas kecilnya dan mengambil kartu undangan putih. "Tempat terbatas."

Ia menyerahkan kartu itu.

Di atasnya tertulis nama hotel butik di Senopati, tanggal, jam, dan dress code: soft ivory.

Yola menerima kartu itu.

Celine mendekat sedikit, suaranya turun menjadi bisikan yang hanya bisa didengar Yola.

"Datanglah. Buktikan kamu memang bisa berdiri sendiri, bukan hanya berdiri di balik nama Liem dan Hartono."

Naomi tidak mendengar kalimat itu, tetapi ia melihat wajah Yola berubah.

Celine mundur lagi, senyum publiknya kembali sempurna.

"Aku tunggu, Yola."

Lalu ia pergi, meninggalkan kartu putih di tangan Yola seperti undangan, atau mungkin seperti perangkap yang dibungkus terlalu cantik.

1
Nia Nara
Dalam budaya chindo, belum pernah nemu adik ipar menikahi cici ipar (soso)nya. Menikahi koko iparnya (cihu), di generasi mama saya masih ada. Generasi saya tidak pernah saya dengar lagi.
Nia Nara
Thor, bakcang gak afdol kalau gak pake daging babi, setidaknya itu di keluarga saya. Jarang yg suka ayam kecuali saya 🤣
Nia Nara
Pas baca festival makan bakcang, baru ngeh ini cerita keluarga chindo ya.. Liem.. Tan… baru ngeh 😄
Nia Nara
Apa Rayhan sudah ada rasa jauh sebelum Yola jadi istri Kevin ya?
👣Sandaria🦋
novel yg benar-benar tidak bisa membuatku berhenti👍
👣Sandaria🦋
tiga bab sehari, Author. pliss🤗😅
Lily
keknya seru nih
👣Sandaria🦋
Novel ter-epic yg kubaca di 2026 ini👍
up lagi, Author. banyak-banyak!😅
👣Sandaria🦋
seharusnya Adrian bilang "silahkan panik!" 🤣
👣Sandaria🦋
gaya tulisan authornya punya aura magis😅
👣Sandaria🦋
wow. sepertinya aku jatuh cinta dengan cerita ini, Kak😍
Fitri Yastuti
lanjutt kak, lg seru ini
Fitri Yastuti
bagus ceritanya, nm bahasanya jg bgus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!