NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 002

Dapur Miliknya

"Kamu belum makan, kan?"

Pertanyaan itu masih menggantung ketika perut Kiara memilih berkhianat.

Bunyinya tidak keras, tapi cukup jelas di antara mereka berdua. Kiara langsung menunduk. Panas naik sampai telinganya, lebih memalukan daripada ketahuan menangis.

Rayhan menatapnya selama dua detik.

Lalu sudut bibirnya bergerak sedikit.

Hanya sedikit. Tapi karena wajah Rayhan biasanya seperti laporan kasus pembunuhan, perubahan kecil itu terasa seperti lampu seluruh rumah tiba-tiba menyala.

"Ganti baju," katanya. "Lima belas menit."

"Aku bisa bikin mi sendiri."

"Aku tidak bilang kamu tidak bisa."

"Terus?"

"Aku bilang aku masak."

Kiara kehabisan kalimat. Dengan sisa harga diri yang tipis, ia berbalik dan naik ke lantai dua. Di kamar, ia bersandar pada pintu sebentar sambil menekan dada.

Ini cuma makan malam.

Rayhan memang begitu. Ia praktis. Ia terbiasa mengurus orang. Ia membayar tagihan Kevin karena Kevin teman satu angkatannya. Ia memasak karena mungkin tidak tega melihat manusia kelaparan berdiri di tangga.

Tidak ada yang spesial.

Ponsel Kiara bergetar di dalam tas.

Cici:

Udah sampai belum, Ki?

Cici:

Tetangga misterius aman?

Cici:

Jangan-jangan duda tajir?

Kiara menggigit bibir agar tidak tertawa keras.

Kiara:

Aman.

Cici:

Jawaban singkat \= mencurigakan.

Kiara:

Besok aku cerita.

Cici:

JANJI. Kalau ganteng, gue harus tahu.

Kiara menatap layar beberapa saat, lalu mengunci ponsel. Kalau Cici tahu tetangga misterius itu bukan hanya ganteng, melainkan suami sah Kiara, mungkin satu kantor bisa mendengar teriakannya.

Ia mengganti blus kantor dengan kaus putih longgar dan celana panjang rumah. Sebelum keluar, matanya jatuh ke cermin. Wajahnya masih terlihat lelah. Di bawah mata ada bayangan tipis. Rambutnya yang tadi diikat asal kini ia biarkan terurai sampai bahu.

Untuk apa rapi-rapi?

Pertanyaan itu muncul tepat ketika tangannya mengambil sisir.

Kiara diam, lalu meletakkan sisir kembali.

Tetap saja, ia merapikan rambut dengan jari.

Aroma bawang putih dan mentega sudah memenuhi lantai bawah ketika Kiara turun. Dapur rumah itu terbuka ke ruang makan, semua permukaannya bersih, putih, dan mahal. Namun di tengah ruangan yang terlalu modern itu, Rayhan berdiri seolah dapur memang wilayah kekuasaannya.

Ia sudah melepas seragam. Kaos hitam polos melekat di bahunya, mempertegas punggung lebar dan lengan yang bergerak tenang saat mengaduk wajan. Rambutnya sedikit basah setelah mandi cepat. Di pergelangan tangannya tidak ada jam, hanya urat halus yang muncul ketika ia memegang spatula.

Kiara berhenti di dekat meja makan.

Rayhan tidak menoleh. "Duduk."

"Aku bisa bantu."

"Duduk, Kiara."

Nada itu bukan marah. Lebih seperti polisi yang terbiasa memberi perintah di TKP. Tubuh Kiara, entah kenapa, lebih cepat patuh daripada pikirannya. Ia menarik kursi dan duduk, lalu menyaksikan Rayhan memecahkan telur dengan satu tangan.

Sial.

Bahkan memecahkan telur pun bisa terlihat berbahaya kalau Rayhan yang melakukan.

"Besok kamu masuk jam berapa?" tanya Rayhan.

"Jam sembilan. Tapi Bu Ratna minta aku datang lebih pagi buat rapat liputan."

"Liputan apa?"

"Belum tahu. Mungkin kasus kriminal kecil atau acara pemerintah kota. Aku masih magang, jadi biasanya kebagian yang orang lain nggak mau."

Rayhan menuang nasi ke wajan. "Kamu suka?"

"Suka apa?"

"Kerjamu."

Kiara terdiam. Tidak banyak orang menanyakan itu. Kebanyakan hanya bertanya berapa gajinya, kapan jadi pegawai tetap, atau kenapa perempuan muda harus repot mengejar berita malam-malam.

"Suka," jawabnya pelan. "Kalau tulisanku naik, rasanya... seperti aku punya suara."

Gerakan tangan Rayhan melambat sepersekian detik.

"Bagus."

Hanya itu.

Satu kata, tetapi dada Kiara terasa hangat dengan cara yang menyebalkan. Ia cepat-cepat mengambil gelas dan menuang air putih untuk dirinya sendiri.

"Kak Rayhan sendiri?" tanya Kiara sebelum keberaniannya habis. "Suka jadi polisi?"

Rayhan mematikan kompor. "Tidak selalu."

Kiara mengangkat wajah.

"Tapi ada orang yang harus ditangkap," lanjutnya. "Ada orang yang harus dipulangkan dengan selamat. Jadi suka atau tidak, aku tetap kerja."

Kalimat itu jatuh sederhana. Tidak dibuat keren. Tidak seperti pidato. Justru karena itu, Kiara mendadak melihatnya dengan cara lain.

Pria ini bukan hanya dingin.

Ia berat.

Seolah ada banyak hal yang ia bawa sendirian dan tidak pernah ia letakkan di meja siapa pun.

Rayhan menyajikan nasi goreng ke piring, menambahkan telur ceplok dengan bagian kuning yang masih setengah matang, lalu meletakkannya di depan Kiara. Di sisi piring ada irisan timun dan kerupuk yang entah kapan ia siapkan.

"Makan."

Kiara menatap piring itu. "Kak Rayhan nggak makan?"

"Nanti."

"Nanti itu kapan?"

"Setelah kamu selesai."

"Kenapa harus nunggu aku?"

Rayhan menarik kursi di seberangnya, duduk, lalu menyandarkan lengan di meja. "Karena kalau aku tidak lihat, kamu cuma makan tiga suap dan bilang kenyang."

Kiara membuka mulut untuk membantah, tapi gagal karena itu benar.

Ia mengambil sendok. Suapan pertama masuk ke mulutnya, hangat, gurih, sedikit pedas. Perutnya langsung mengendur seperti akhirnya berhenti bertengkar dengan tubuhnya sendiri.

Rayhan memperhatikan wajahnya. "Terlalu pedas?"

Kiara menggeleng cepat. "Enak."

"Jangan cuma sopan."

"Beneran enak." Ia menyendok lagi, kali ini lebih banyak. "Aku nggak nyangka Kak Rayhan bisa masak."

"Aku hidup sendiri sejak Akpol."

"Aku pikir anak keluarga Tan tinggal tunjuk, semua datang."

"Di rumah Opa, iya. Di Akpol, kalau cuma bisa tunjuk, yang datang hukuman."

Kiara tertawa kecil sebelum sempat menahan diri.

Rayhan menatapnya.

Tawa Kiara berhenti perlahan. "Apa?"

"Tidak apa-apa."

Tapi tatapan Rayhan tidak segera pergi. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang tidak dingin, tidak juga sekadar sopan. Kiara menunduk, pura-pura fokus pada piring.

Ponselnya menyala lagi. Kali ini dari grup magang redaksi.

Cici:

Besok semua wajib datang 08.00. Bu Ratna ngamuk karena draft Dimas typo judul wali kota.

Dimas:

Ci, jangan sebut nama.

Cici:

Udah terlanjur.

Kiara tersenyum sendiri.

"Cici?" tanya Rayhan.

"Iya. Dia selalu heboh."

"Dia tahu kamu tinggal di sini?"

Sendok Kiara berhenti.

"Nggak. Aku bilang tinggal di tempat saudara."

"Bagus."

Kiara mengangkat wajah. "Bagus?"

"Semakin sedikit orang tahu, semakin aman."

Aman. Kata itu seharusnya menenangkan. Tapi entah kenapa, malam itu terdengar seperti dinding. Kokoh, tinggi, dan membuat Kiara berdiri di sisi yang tidak bisa ia pilih sendiri.

"Sampai kapan?" tanyanya.

Rayhan diam.

Kiara menyesal begitu pertanyaan itu keluar. Ia cepat-cepat menyendok nasi lagi, tapi ada sebutir nasi menempel di sudut bibirnya.

Rayhan bergerak sebelum Kiara sadar.

Jari telunjuknya menyentuh sudut bibir Kiara, ringan, hangat, terlalu dekat. Ia mengambil butir nasi itu, tetapi tidak langsung menjauh. Ujung jarinya menyapu bibir bawah Kiara selama satu detik yang terasa terlalu panjang.

Napas Kiara berhenti.

"Maaf," kata Rayhan.

Suaranya datar.

Namun matanya, gelap dan tenang, sama sekali tidak tampak menyesal.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!