NovelToon NovelToon
Return To You

Return To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Wanita Karir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.

Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.

Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.

Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.

Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.

Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.

Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#11

Keheningan yang sarat akan ketegangan dan sisa-sisa amarah di dalam kamar VIP itu mendadak terbelah oleh suara dering ponsel yang teramat nyaring.

Bzzzzz... Bzzzzz...*

Suara getaran di atas meja nakas marmer itu seolah menjadi alarm yang memutus paksa atmosfer melankolis yang baru saja terbangun di antara mereka.

Evander Vale-Knight tertegun, perlahan menegakkan tubuhnya yang semula berlutut di samping ranjang. Jemari kekarnya terulur meraih benda pipih tersebut.

Pada layar digital yang menyala terang, tertera sebuah nama yang seketika mengubah garis wajah Evander menjadi kaku: Gabriella Margareth.

Detik itu juga, atmosfer di dalam ruangan berubah total.

Evander mendadak dilingkupi rasa canggung yang teramat sangat. Pria yang beberapa detik lalu mengemis pengampunan dan meracik khayalan masa depan tentang anak kembar, kini berdiri terpaku dengan tatapan mata yang beralih gelisah ke arah Zacheriyya Tengiz.

Ada keraguan, ada binar rasa bersalah yang bercampur dengan kebingungan yang tertangkap jelas oleh sepasang mata hazel milik Cherry.

Cherry yang menyaksikan perubahan riak wajah itu hanya mampu mengulum senyum yang teramat pahit.

Jiwanya yang hancur kembali disadarkan oleh realitas yang menamparnya tanpa belas kasihan.

Segala bentuk perhatian, tatapan protektif, hingga kegilaan Evander menyuruh dokter menyiapkan mesin USG tadi langsung menguap, tergantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang.

"Pergilah..." kata Cherry kemudian, memecah keheningan dengan nada suara yang teramat datar, hampir tidak beremosi. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela besar, menolak menatap mata pria itu lagi.

"Dia lebih membutuhkanmu sekarang. Wanita hamil tidak boleh dibiarkan menunggu terlalu lama, bukan?"

Evander menatap ponselnya yang masih bergetar hebat, lalu kembali menatap Cherry.

Alih-alih merasa bersalah karena telah tertangkap basah masih terikat dengan wanita yang menghancurkan hubungan mereka, pria itu justru menarik napas dalam, seolah-olah situasi ini adalah hal yang wajar.

"Terima kasih, Cherry," ucap Evander, suaranya terdengar begitu canggung namun ada nada kelegaan yang egois di sana.

"Aku memang harus menjemputnya dari mansion kakakku. Dia baru saja menelepon... mungkin ada hal penting terkait kondisinya."

Evander terdiam sejenak, lalu dengan raut wajah tanpa dosa dan tidak tahu diri, ia melanjutkan, "Kau... mau ikut bersamaku untuk bertemu dengannya? Mungkin kalian bisa meluruskan beberapa hal."

Mendengar tawaran yang teramat tidak tahu diri itu, Cherry tidak repot-repot menoleh. Ia hanya mendengus sinis, mencengkeram seprai rumah sakit kuat-kuat di bawah selimut hingga buku-buku jarinya memutih.

"Tidak," jawab Cherry dengan cepat dan tajam. "Aku tidak memiliki urusan apa pun dengan calon istrimu. Jangan pernah membawa namanya atau kehadirannya ke dalam ruang lingkup hidupku lagi, Evander. Keluar."

Evander tidak membantah. Pria itu justru melangkah mendekat ke arah ranjang.

Sebelum Cherry sempat menghindar, Evander menundukkan tubuhnya, menempelkan bibirnya yang hangat di atas kening Cherry yang terbalut perban.

Sebuah kecupan yang lama, penuh perasaan, seolah-olah ia masih memiliki hak penuh atas tubuh wanita itu.

"Aku akan kembali, sayang. Istirahatlah dengan baik. Aku akan menyuruh anak buahku menjaga pintu kamarmu," bisik Evander lembut di dekat telinga Cherry, sebelum akhirnya ia berbalik dan melangkah lebar meninggalkan kamar VIP tersebut.

Klik.

Pintu bergeser menutup.

Cherry perlahan mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah pintu yang kini tertutup rapat.

Sepasang matanya yang sembab menatap punggung pria itu hingga menghilang dari balik kaca pembatas. Punggung yang kokoh, namun kini terasa begitu asing. Punggung yang benar-benar telah berubah sekarang.

Tentu saja berubah.

Cherry membatin dengan dada yang berdenyut begitu linu.

Mereka tidak lagi memiliki hubungan apa pun sekarang. Mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan memiliki masa lalu yang berdarah.

Walaupun beberapa menit yang lalu Evander mengatakan hal-hal yang teramat intim, mengucapkan kata-kata mesra, dan memberikan perhatian yang luar biasa layaknya seorang kekasih yang takut kehilangan belahan jiwanya... rupanya semua itu hanyalah delusi sesaat.

Kenyataan pahitnya adalah prioritas pria itu telah berganti sepenuhnya.

"Aku... bukan lagi prioritas utamanya," kata Zacheriyya pelan, suaranya pecah menjadi bisikan pilu yang langsung ditelan oleh kesunyian kamar rumah sakit.

Rasa melankolis yang teramat pekat kembali merayap, mencekik paru-parunya hingga air mata yang sempat mengering kini kembali meleleh membasahi pipinya yang lecet.

Di tengah keheningan dan aroma obat-obatan yang membekukan itu, pikiran Cherry yang lelah mendadak ditarik paksa oleh arus memori.

Ingatan itu melesat jauh, membawanya kembali ke bertahun-tahun yang lalu. Masa di mana luka belum tercipta, dan dunia mereka hanya dipenuhi oleh warna-warna cerah yang hangat.

Flashback On – Delapan Tahun Lalu

Malam itu, langit di atas perbukitan Los Angeles bertabur miliaran bintang yang bersinar teramat terang, menemani rembulan yang memancarkan cahaya keperakan yang magis.

Udara pegunungan yang dingin berhembus lembut, menerbangkan ujung gaun putih yang dikenakan oleh Zacheriyya yang baru berusia 18 tahun.

Hari itu adalah hari upacara kelulusan mereka dari High School.

Di atas puncak bukit yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk pesta kelulusan teman-teman mereka, Evander remaja yang mengenakan setelan tuksedo longgar menggenggam kedua tangan Cherry dengan teramat erat.

Tatapan mata pria muda itu begitu membara, dipenuhi oleh ketulusan cinta yang belum ternoda oleh ego dan kecemburuan duniawi.

"Aku mencintaimu, Zacheriyya Tengiz!" teriak Evander tiba-tiba ke arah lembah di bawah mereka, membuat suaranya bergema membelah keheningan malam pegunungan.

Ia tertawa renyah, lalu berbalik menatap Cherry dengan mata yang berbinar jenaka sekaligus penuh pemujaan.

Cherry tersenyum lebar, pipinya merona merah di bawah sinar rembulan. Ia ikut menarik napas panjang, lalu berteriak tak kalah keras ke arah hamparan lampu kota di bawah sana.

"Aku juga mencintaimu, Evander Vale-Knight!!!"

Mereka berdua tertawa bersama, saling merengkuh tubuh satu sama lain di bawah langit yang menjadi saksi bisu ikatan masa remaja.

Evander memeluk pinggang Cherry dari belakang, menenggelamkan wajahnya di antara ceruk leher gadis itu, menghirup aroma lavender yang selalu menjadi favoritnya.

Namun, di tengah kebahagiaan yang membuncah itu, sebentuk kekhawatiran yang acak mendadak melintasi benak Cherry muda. Ia menengadah, menatap garis rahang tegas kekasihnya yang tampan.

"Evan..." panggil Cherry lembut. "Jika di masa depan nanti... karena suatu hal, hubungan kita harus berakhir, apa kita akan menjadi dua orang yang saling asing?"

Evander terdiam sesaat.

Pelukannya pada pinggang Cherry mendadak mengerat, seolah-olah pertanyaan itu adalah ancaman nyata yang menakutkan baginya. Ia memutar tubuh Cherry agar mereka saling berhadapan, menatap lurus ke dalam manik mata hazel milik gadis itu dengan sorot mata yang mendadak berubah menjadi sangat serius dan intens.

"Jika di masa depan aku harus kehilanganmu, Cherry... aku lebih baik memilih mati sebelum waktu membawaku menuju masa depan itu," jawab Evander dengan nada suara yang berat dan sarat akan komitmen.

"Aku tidak bisa membayangkan hidup di dunia yang tidak ada dirimu di dalamnya. Aku teramat mencintaimu."

Cherry terkekeh pelan, memukul dada Evander dengan manja. "Tidak, Evan. Aku tidak mendoakan hal buruk terjadi. Aku hanya mengatakan... seandainya. Seandainya takdir mempermainkan kita."

Raut wajah Evander muda berubah menjadi datar dan dingin, sebuah ekspresi yang kelak akan menjadi ciri khasnya saat dewasa. Ia menatap Cherry dengan pandangan yang menembus langsung ke dalam jiwanya.

"Aku tidak menginginkan pengkhianatan, Cherry," ucap Evander dengan nada yang teramat tegas.

"Aku sangat membenci pengkhianatan. Jikalau suatu hari nanti di masa depan kau sudah tidak memiliki rasa cinta lagi untukku, lebih baik kau jujur. Katakan langsung di hadapanku, bersikaplah kejam dengan memutuskan hubungan kita secara terhormat. Jangan pernah sekalipun... jangan pernah menghadirkan orang ketiga di antara kita. Karena jika itu terjadi, duniaku akan hancur."

Cherry menatap kesungguhan di mata kekasihnya. Ia menangkup kedua pipi kokoh Evander dengan jemari tangannya yang hangat.

"Tidak mungkin, Evan. Itu tidak akan pernah terjadi. Aku sudah menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku padamu. Hatiku, impianku, dan seluruh apa yang kupunya di dunia ini sudah menjadi milikmu sejak lama. Lalu bagaimana mungkin aku akan mengkhianatimu?"

Evander menatap tangan Cherry di pipinya, lalu sebuah senyuman misterius yang sarat akan kepahitan masa depan terukir di bibirnya. Ia memegang pergelangan tangan Cherry, lalu berkata dengan untaian kalimat yang kelak akan menjadi kutukan paling nyata dalam hidup mereka.

"Kata putus... mungkin hanya akan keluar dari mulutmu suatu hari nanti, Cherry. Dan Kalaupun suatu saat kita terpisah lalu takdir membawa kita kembali bersama setelah kata putus itu terucap... ingatlah satu hal ini baik-baik," Evander menjeda kalimatnya, matanya memancarkan kedalaman emosi yang mengerikan.

"Aku tidak akan pernah bisa mencintaimu lagi dengan cara yang sama seperti caraku mencintaimu di masa lalu. Rasa cinta itu akan berubah menjadi sesuatu yang cacat dan penuh racun. Jadi... kusarankan lebih baik kau tidak usah menerimaku lagi di masa depan jika kita sempat hancur."

Cherry muda tertegun mendengar kalimat yang teramat berat itu. Namun, didorong oleh kepolosan cinta remaja yang merasa mampu menaklukkan dunia, ia mengangguk mantap.

"Kupegang kata-kata dan janjimu itu, Evander Vale-Knight. Kita tidak akan pernah berpisah."

Flashback Off

Ingatan manis namun beracun itu mendadak kabur, buyar seketika bagai asap yang ditiup angin kencang, menyisakan Cherry yang kini terisak sendirian di atas ranjang rumah sakit yang dingin.

Dada Zacheriyya terasa sesak luar biasa, sebuah rasa sakit yang meremukkan tulang-tulang rusuknya hingga ia harus meremas kaus rumah sakit yang dikenakannya tepat di bagian jantung.

Setiap patah kata janji Evander delapan tahun lalu kini kembali terngiang, menjelma menjadi ironi yang paling kejam.

Kata putus memang keluar dari mulutku dua tahun lalu, Evan... batin Cherry dengan tangisan yang tertahan di tenggorokan, suaranya di dalam kepala menjerit penuh penyesalan dan kepahitan yang mendalam.

Tapi kau... kau yang memaksa kata putus itu keluar dari bibirku! Kau yang menghadirkan orang ketiga itu! Kau yang membawa Gabriella ke atas ranjangmu!

Cherry memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya meringkuk di atas ranjang.

Kata-kata Evander terbukti sangat nyata hari ini.

Pria itu kini kembali menghampirinya, mengucapkan kata mesra, namun caranya mencintai Cherry sudah tidak lagi sama seperti di masa lalu.

Rasa cinta pria itu telah bertransformasi menjadi sesuatu yang egois, cacat, dan penuh dengan racun prioritas yang terbagi.

Pria itu tidak lagi menjadi milik Cherry sepenuhnya; ada wanita lain, ada bayi lain, dan ada masa depan lain yang sedang Evander bangun di atas puing-puing kehancuran rahim dan jiwa Zacheriyya.

Rasa sesal dan kepahitan itu kini menetap abadi di dalam dadanya, membakar sisa-sisa cinta yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam sejak dua tahun lalu.

1
Mei TResna Rahmatika
sedihh bangett part ini😭
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Hennyy exo
kurang banget🤭🤭

omg evander aku padamu😘😘
Rosdianah 🌷: heheh anak author 🤣
total 1 replies
Hennyy exo
sangat suka dengan alurnya dan penulisannya juga bagus mudah dipagami
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pliss thor sehari upnya 4 atau 6 bab ya🤭
Rosdianah 🌷: heheh nggak janji ya kak🤭
total 1 replies
Hennyy exo
wow makn menanyang thor babnya
Hennyy exo
sumpah thor alurnya makin bagus banget😍
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak sudah stay baca🫶
total 1 replies
Hennyy exo
baca di bab ini.kaya orang gila🤣🤣🤣
gemes deh ama merka berdua
Hennyy exo
di bab ini suka banget ma alurnya
nayla tsaqif
Apa kbr Gabriella margareth,,?? 🤭
Rosdianah 🌷: tunggu kak🤭🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
emang minus kayanya ini laki,yang bengkokin siapa,yang lurusin siapa/NosePick/berasa yang paling ...banget deh/Hammer/
Rosdianah 🌷: perlu digampar 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
yaudah sih Evander bilang jujur aja ke Cherry kalo masih suka dan gak punya hubungan sama Gabriela 🤨 balikan lagi nih pasangan serasi 😍
Rosdianah 🌷: hihi🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Ati2 cherry,, awas kena PHP,, jangan gmpang luluh,, 😌
Bonny Liberty
denger dulu dong omongan si E,biar jelas /Shy/ suka banget sok pintar 🏏
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Buat misi penyelamatan lg thor,,, mungkin bom di sekolah ponakan evan,, 🤭 q suka tokoh heroik, 🤣
Rosdianah 🌷: Ok Kakak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
baru jelas nih alur ceritanya 🫡 ternyata wanita hamil itu Gabriela dan Evander blom nikah 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤭 Semoga suka ya Kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
😍😍😍 The vale knight series lover
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Bonny Liberty
maaf kisanak, bukan pecahan kaca tapi ranjau darat yang kena bayangan dirimu aja bisa meledak.../Grievance/
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
kata cintanya murahan, ga sadar diri,harusnya kamu tau kurang mu apa,hubungan toxic jadinya kan,dah gitu kehilangan real love gara..gara EGO LAKI,dia ga mikir apa cewe juga punya
Rosdianah 🌷: Semoga suka cerita Baru nya kak🫶
total 1 replies
Bonny Liberty
salah satu masalah dunia EGO LAKI..LAKI../Smug/
Rosdianah 🌷: huhuhu 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!