Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Psikologi Hubungan
Kamis pukul dua belas lewat lima puluh, Keira sudah duduk di baris paling belakang ruang kelas Psikologi Hubungan.
Itu bukan karena ia rajin.
Itu strategi bertahan hidup.
Ruang kelasnya lebih kecil dari yang ia bayangkan. Hanya ada sekitar tiga puluh kursi, meja dosen, papan tulis, dan jendela besar yang menghadap pohon kampus. Terlalu kecil untuk bersembunyi. Terlalu terang untuk pura-pura tidak terlihat.
Celine duduk di sebelahnya sambil membuka game di HP.
"Lo tegang banget," kata Celine tanpa melihat.
"Aku menghormati proses akademik."
"Lo menggenggam pulpen kayak mau menusuk orang."
Keira menurunkan pulpen dari posisi mencurigakan. "Refleks DKV."
Celine akhirnya menoleh, matanya menyipit. "Xavier juga ambil kelas ini?"
"Mungkin."
"Kei."
"Aku tidak punya kewajiban melaporkan aktivitas akademik tetangga seberang."
"Jawabanmu makin panjang kalau bohong."
Keira pura-pura membuka notebook.
Dalam tasnya, Nokia tua diam. Diam yang terasa seperti seseorang duduk di pojok ruangan sambil mengawasi.
Lima menit kemudian, suasana kelas berubah.
Pintu terbuka.
Xavier Sia masuk.
Tidak ada efek musik, tentu saja. Tapi beberapa mahasiswa perempuan benar-benar menarik napas kecil. Satu orang di depan langsung menunduk ke HP, mungkin mengabari grup. Dua mahasiswa laki-laki di sisi kanan melirik, lalu saling sikut. Xavier memakai kemeja putih lengan digulung, celana gelap, dan tas selempang hitam. Sederhana, rapi, menyebalkan karena tetap terlihat seperti poster promosi fakultas.
Keira menunduk pura-pura menulis tanggal.
`Kamis.`
Tangannya berhenti.
Tanggalnya salah.
Celine menendang pelan kaki Keira di bawah meja. "Dia lihat sini."
"Jangan lapor."
"Dia jalan sini."
"Cel."
"Dia benar-benar jalan sini."
Keira mengangkat kepala tepat saat Xavier berhenti di sisi mejanya. Matanya turun ke kursi kosong di sebelah kanan Keira, lalu ke wajah Keira. Alisnya terangkat sedikit.
"Kosong?"
Keira butuh dua detik untuk menjawab. "Kelihatannya."
"Kalau ternyata ada orang?"
"Berarti orangnya belum datang."
"Logis."
Xavier duduk.
Di sebelah kanan Keira.
Celine, di sebelah kiri, langsung membelalakkan mata sebesar mungkin sambil menunjuk Xavier dengan dagu. Keira menatap lurus ke depan seperti murid teladan yang tidak punya dosa.
Aroma sabun dan kopi tipis dari Xavier sampai ke hidungnya. Jarak bahu mereka tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat Keira sadar pada setiap gerakan kecil. Saat Xavier mengeluarkan pulpen, ujung jarinya hampir menyentuh buku Keira.
Napas Keira tersangkut.
"Kamu selalu datang cepat?" tanya Xavier pelan.
"Kalau ingin duduk belakang."
"Kenapa harus belakang?"
"Supaya bisa kabur kalau dosennya aneh."
Xavier menatap ruang kelas. "Terlambat. Pintu di depan."
Keira menahan senyum. "Jangan merusak strategi orang."
Celine membuat suara batuk palsu yang sangat tidak halus.
Sebelum percakapan itu semakin berbahaya, seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan masuk dengan tote bag kain dan setumpuk handout. Rambutnya dipotong sebahu, kacamatanya bertengger di ujung hidung, dan senyumnya terlalu ramah untuk ukuran dosen yang akan mengajar hubungan manusia.
"Selamat siang semuanya. Saya Ratna Dewi, tapi kalian boleh panggil Bu Ratna."
Kelas menjawab serempak.
Bu Ratna tidak langsung membuka materi. Ia berdiri di depan meja, memandang seluruh kelas, lalu tersenyum seperti orang yang sudah menyiapkan kejutan.
"Mata kuliah ini namanya Psikologi Hubungan. Jadi kalau kalian berharap hanya duduk, mencatat teori, lalu ujian pilihan ganda, sayang sekali, harapan itu harus kita kubur hari ini."
Beberapa mahasiswa tertawa gugup.
Keira merasakan firasat buruk mengetuk pintu.
Bu Ratna mengangkat satu lembar handout. "Semester ini, kalian akan berpasangan untuk observasi perilaku hubungan."
Kelas langsung riuh.
"Tenang, bukan berarti kalian harus pacaran." Bu Ratna tertawa. "Kalian hanya akan mengamati kebiasaan, pola komunikasi, respons emosi, dan cara seseorang membangun batas dalam relasi sosial. Semua ilmiah. Tapi karena manusia tidak bisa diamati dari jarak terlalu jauh, kalian perlu partner tetap."
Keira perlahan menoleh ke Celine.
Celine sudah mengangkat kedua alis dengan ekspresi `gue tidak bertanggung jawab`.
Bu Ratna mulai berjalan di antara barisan, menunjuk pasangan berdasarkan posisi duduk. Dua mahasiswa di depan. Dua di tengah. Satu baris kiri. Lalu langkahnya berhenti di belakang.
Tepat di depan Keira dan Xavier.
Bu Ratna melihat Xavier, lalu Keira, lalu Celine yang duduk di sisi lain.
"Kalian berdua," katanya sambil menunjuk Keira dan Xavier, "jadi partner ya."
Keira membuka mulut. "Bu, sebenarnya..."
"Yang sebelah kiri kamu dengan mahasiswa di depan sana." Bu Ratna sudah menunjuk Celine ke arah seorang mahasiswi lain.
Celine langsung mengangkat jempol pada Keira, wajahnya penuh simpati palsu.
Keira ingin melempar penghapus.
Xavier, di sebelahnya, hanya berkata, "Baik, Bu."
Tenang sekali. Terlalu tenang. Seperti tidak ada sejarah salah masuk rumah, pacar palsu, cek lima miliar, dan komentar @unparfess di antara mereka.
Di dalam tas, Nokia tua bergetar satu kali.
Keira nyaris melompat. Ia tidak berani membuka tas di tengah kelas, jadi ia hanya menekan resletingnya dengan lutut, berharap benda itu tidak tiba-tiba menyala seperti lampu diskotek berhantu.
Pesannya pasti soal misi. Tentu saja sistem senang. Ia baru saja mendapatkan alasan akademik untuk duduk di sebelah target selama beberapa minggu.
Bu Ratna membagikan handout. "Tugas pertama sederhana. Selama satu minggu, catat tiga kebiasaan partner kalian yang paling sering muncul. Boleh kebiasaan kecil, seperti cara memegang gelas, cara menjawab pesan, atau ekspresi ketika tidak nyaman. Minggu depan kita diskusikan."
Keira menulis dengan tangan agak kaku.
`Observasi kebiasaan partner.`
Partner.
Kata itu tampak terlalu resmi untuk menggambarkan Xavier yang duduk di sebelahnya, tetapi juga terlalu dekat untuk dibiarkan aman.
Saat kelas berjalan, Bu Ratna meminta mereka saling memperkenalkan diri, meskipun sebagian sudah saling tahu. Xavier menyebut nama, fakultas, dan satu kalimat pendek tentang alasan mengambil kelas ini.
"Butuh SKS pilihan."
Bu Ratna tertawa. "Jujur sekali. Keira?"
Keira menelan gugup. "Saya Keira, DKV. Saya ambil kelas ini karena..."
Karena HP Nokia menyuruh saya.
"Karena tertarik memahami perilaku manusia untuk karakter webtoon."
Bu Ratna tampak senang. "Bagus. Seni dan psikologi memang dekat."
Xavier meliriknya. Keira bisa melihat dari sudut mata bahwa ia sedang menahan komentar.
Setelah dua jam yang terasa seperti latihan jantung, kelas selesai. Mahasiswa berhamburan keluar sambil mengeluh soal tugas. Celine lewat di samping Keira, berbisik, "Selamat menjadi bahan penelitian dan peneliti sekaligus."
"Aku benci kamu."
"Love you too."
Keira memasukkan notebook ke tas. Ia berharap bisa keluar cepat sebelum Xavier mengatakan sesuatu. Harapan itu gagal, seperti biasa.
"Keira."
Ia menoleh.
Xavier berdiri di samping mejanya, tas sudah tersampir di bahu.
"Untuk tugas observasi," katanya, "mulai besok aku akan mencatat kebiasaanmu."
Keira menegang. "Kebiasaanku normal."
Sudut bibir Xavier bergerak sangat tipis.
"Termasuk kebiasaan berpakaian sama denganku."