NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mantan istri Gunawan Santoso kembali berdiri di rumah itu, bukan sebagai wanita yang dipaksa pergi, melainkan sebagai ibu yang datang menjemput putrinya.

Ruang tamu keluarga Santoso hening seperti seseorang baru saja mematikan semua suara.

Gunawan masih terduduk di lantai, satu kaki tertindih rangka Lampu Gantung, wajahnya memerah oleh sakit dan amarah. Alvin memegang lengannya yang tergores. Seline berlutut di samping mereka, air mata palsu yang tadi mengalir lancar kini menggantung kaku di pipinya.

Mei Lin melangkah masuk.

Tumit sepatunya menyentuh lantai marmer dengan bunyi pelan, tetapi setiap langkah terasa lebih tajam daripada teriakan. Pak Chen tetap di ambang pintu, membawa tas kecil Keira dan menatap kekacauan itu dengan wajah tanpa ekspresi.

"Mei Lin?" Gunawan berkedip, lalu senyum sinis muncul di wajahnya meski ia masih meringis. "Akhirnya kamu kembali juga."

Keira menoleh ke ibunya.

Mei Lin tidak melihat Gunawan sebagai mantan suami yang pernah melukainya. Ia melihatnya seperti melihat noda lama yang ternyata belum pernah benar-benar hilang dari lantai.

"Aku datang untuk Keira."

Gunawan tertawa pendek. "Untuk Keira? Setelah belasan tahun baru ingat punya anak?"

Jari Keira mengencang di bagian Lampu Gantung yang ia pegang.

Mei Lin berhenti di sampingnya. Satu tangannya menyentuh punggung Keira, ringan tetapi tegas. Sentuhan itu seperti jawaban tanpa perlu kata-kata.

"Kamu sudah cukup busuk waktu kita menikah," kata Mei Lin pelan. "Ternyata sekarang lebih busuk lagi."

Wajah Gunawan berubah.

Alvin langsung berdiri setengah. "Jaga bicara Anda."

Mei Lin menatapnya. "Aku sedang bicara dengan orang yang mengusir anakku di tengah hujan sampai hampir mati. Kalau kamu merasa kalimatku kasar, mungkin telingamu masih lebih sehat daripada hati kalian."

Seline menunduk. Tangannya meremas ujung gaunnya.

Gunawan mengertakkan gigi. "Jangan sok mulia. Kamu pikir aku tidak tahu kenapa kamu datang? Hidupmu di luar tidak seindah yang kamu bayangkan, kan? Sekarang kamu datang mengambil Keira karena butuh alasan untuk kembali."

Keira hampir ingin tertawa.

Mei Lin hanya tersenyum.

Senyum itu indah, tenang, dan cukup dingin untuk membuat ruangan turun beberapa derajat.

"Kamu tidak tahu siapa suamiku sekarang, kan?"

Gunawan terdiam.

Untuk sesaat, ada keraguan tipis di wajahnya. Namun kesombongan lamanya segera menutupinya.

"Siapa pun dia, jangan bawa drama keluarga miskinmu ke rumah saya."

Seline melirik Keira diam-diam. Di matanya ada kilatan puas yang cepat disembunyikan. Mungkin ia membayangkan Keira akan dibawa pergi ke rumah kecil jauh dari lingkaran mereka. Mungkin ke kota kecil, mungkin ke hidup sempit yang bisa ia jadikan bahan gosip di kampus.

Keira melihatnya, lalu menunduk pada Lampu Gantung di tangannya.

"Kita pergi," kata Mei Lin.

"Keira tidak boleh membawa barang rumah ini!" Alvin membentak.

Keira mengangkat potongan rangka lampu. "Ini barang yang kalian abaikan sampai jatuh. Aku akan memperbaikinya."

"Itu rongsokan."

Lampu Gantung mendengus di kepala Keira. "Rongsokan ini baru saja bikin dua orang sombong duduk di lantai. Hormat dikit."

Keira menahan senyum.

Mei Lin meraih tangan Keira. "Pak Chen, barang Keira?"

"Sudah di mobil, Nyonya."

Panggilan itu membuat Gunawan menoleh tajam. "Nyonya?"

Mei Lin tidak menjawab. Ia membawa Keira keluar melewati pintu depan, melewati halaman yang terlalu rapi, melewati pagar tinggi tempat Keira pernah berdiri kehujanan tanpa seorang pun membukakan pintu.

Di belakang mereka, Gunawan berteriak sesuatu. Alvin ikut memaki. Seline menangis dengan suara yang kembali manis.

Untuk pertama kalinya, Keira tidak berhenti.

Mobil yang menunggu di depan bukan Rolls-Royce Engkong, melainkan sedan hitam lain milik keluarga Tanuwijaya. Pak Chen membukakan pintu. Keira masuk bersama Mei Lin, memangku bagian Lampu Gantung yang rusak dan tas berisi HP serta laptopnya.

Saat pagar rumah Santoso tertutup di belakang mobil, Keira menatapnya melalui kaca belakang.

Tidak ada rasa kehilangan.

Yang ada hanya rasa lelah panjang yang akhirnya bisa diletakkan.

Mobil melaju melewati jalan basah. Hujan deras sudah berhenti, tetapi gerimis tipis turun lagi seperti sisa ingatan buruk. Setengah jam kemudian, Keira mengenali jalan pinggiran Kota S yang pernah menjadi tempat ia hampir mati.

Dada Keira mengetat.

"Pak Chen," katanya. "Bisa berhenti sebentar?"

Pak Chen melirik lewat spion. "Di sini, Nona?"

"Sebentar saja."

Mei Lin menatap keluar, lalu memahami. "Berhenti, Pak Chen."

Mobil menepi. Keira turun dengan payung hitam di tangan, tetapi ia tidak langsung membukanya. Gerimis jatuh di rambutnya, jauh lebih lembut daripada hujan malam itu.

Lampu Jalan berdiri di tempat yang sama, tinggi, sedikit tua, cahayanya mati karena siang belum gelap. Namun begitu Keira mendekat, suaranya meledak di kepalanya.

"Neng! Lu hidup!"

Keira berhenti di bawahnya.

"Gue kira lu udah jadi berita tragis! Semalam gue sampai kedip-kedip sendiri walau listrik lagi stabil. Tetangga tiang sebelah bilang gue lebay, tapi dia nggak ngerti ikatan batin penyelamat dan korban!"

Keira tertawa pelan. Gerimis masuk ke sudut bibirnya, kali ini tidak terasa seperti akhir hidup.

"Aku selamat. Engkong juga selamat."

"Tuh kan! Gue bilang mobil sombong itu berguna. Eh, lu sekarang dianter mobil bagus lagi. Naik kelas, neng?"

"Mungkin."

Lampu Jalan terdengar bangga. "Bagus. Jangan balik ke rumah yang buang lu itu. Dari jauh aja auranya udah pengap."

Keira mengangkat tangan dan menyentuh tiangnya yang dingin.

"Ikut aku?"

Suara Lampu Jalan mendadak berhenti.

Di belakang, Mei Lin berdiri di samping mobil, tidak mendesak. Pak Chen menunggu dengan payung. Jalan Raya di bawah kaki Keira berbisik pelan, berat dan tua.

"Kalau dia pergi, gelap di sini."

Lampu Jalan berdehem.

"Neng, gue tersentuh. Serius. Tapi gue punya jabatan resmi di sini."

Keira berkedip. "Jabatan?"

"PNS."

"Apa?"

"Pegawai Negeri Sipil penerangan jalan," jawab Lampu Jalan dengan bangga yang sangat tidak proporsional. "Tugas gue nerangin jalan buat orang lewat. Malam itu gue nolong lu karena lu ada di wilayah kerja gue. Kalau gue ikut lu, siapa yang ngawasin tikungan ini? Tiang baru sebelah masih magang. Belum bisa diandalkan."

Keira tertawa sampai matanya panas.

Ia tidak tahu apakah air di pipinya gerimis atau air mata. Mungkin keduanya.

"Kalau begitu, terima kasih sudah menjalankan tugas."

"Sama-sama. Tapi kalau nanti lu sukses, jangan lupa mampir. Bawa cerita. Benda juga butuh gosip."

"Aku akan sering mampir."

"Janji?"

"Janji."

Lampu Jalan berkedip sekali, padahal siang belum membutuhkan cahaya.

"Pergi sana, neng. Hidup yang bener. Biar kalau lewat sini lagi, lu bukan gadis yang dibuang, tapi orang yang pulang sambil milih sendiri mau ke mana."

Keira menempelkan telapak tangan sekali lagi pada tiang dingin itu, lalu kembali ke mobil.

Di perjalanan menuju Menteng, Mei Lin mulai bercerita tentang rumah yang akan menjadi tempat tinggal Keira.

"Suamiku namanya Hendry Tanuwijaya. Dia sudah tahu tentang kamu. Dia..." Mei Lin tersenyum sedikit gugup. "Dia selalu ingin punya anak perempuan."

Keira menatap ibunya.

"Dia punya enam anak laki-laki," lanjut Mei Lin. "Yang paling sering di rumah Ko Darren, anak pertama. Dia mengurus Yanzhen Jewelry. Lalu Brandon, anak keenam. Dia seumuran denganmu, kuliah di Universitas S juga, tapi lebih sering sibuk dengan esports."

Universitas S.

Keira mengingat nama itu. Seline juga sering menyebut seorang pemain esports dari kampus mereka yang sangat mengaguminya.

Mobil memasuki kawasan Menteng saat sore mulai turun. Mansion Tanuwijaya berdiri di balik pagar besi hitam, bangunan kolonial megah dengan pilar putih, balkon lebar, dan taman yang dirawat seperti lukisan. Bukan kemewahan dingin seperti rumah Santoso. Rumah ini besar, tetapi anehnya tidak membuat Keira ingin menahan napas.

Pintu utama terbuka sebelum mobil berhenti sempurna.

Seorang pria paruh baya keluar. Hendry Tanuwijaya memiliki wajah tenang, mata lembut, dan senyum yang seolah sudah lama menunggu.

"Keira," katanya, langsung memakai namanya dengan hangat. "Selamat datang di rumah."

Keira turun dari mobil, masih memegang Lampu Gantung yang dibungkus kain.

Kata rumah membuat dadanya terasa asing.

Sebelum ia sempat menjawab, suara langkah cepat terdengar dari lorong dalam.

Seorang pemuda tinggi dengan hoodie hitam dan headset menggantung di leher muncul sambil melihat layar ponsel. Ia hampir melewati mereka begitu saja, lalu berhenti mendadak.

Matanya melebar.

"Keira Santoso?!" suaranya naik tajam. "Kenapa kamu di sini?!"

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!