Tahap Revisi ❤️❤️❤️
Mencintai dan dicintai lalu menikah dengan orang yang dicintai adalah impian setiap wanita. Begitupun dengan Livina. Seorang gadis miskin berusia 21 tahun yang pendiam dan pemalu yang tengah berjuang untuk mencari kebahagiaanya. Impiannya hanya sederhana yaitu dapat hidup bahagia dan memiliki pasangan hidup yang dapat menerimanya apa adanya kelak. Namun, takdir berkata lain. Hidupnya yang sejak kecil sudah penuh dengan air mata karena kebencian orang tuanya, kini harus bertambah karena ia terpaksa harus menikah dengan atasannya di perusahaan tempat ia bekerja. Yang lebih menyakitkan adalah pernikahan itu bukan hanya tanpa didasari oleh cinta, tapi paksaan akibat dari emosi, amarah, kecewa, dendam, sakit hati, dan keinginan balas dendam tanpa ia mengerti alasannya kenapa ia bisa terjebak dalam pernikahan itu. Lalu bagaimanakah kehidupan pernikahannya? Berakhir bahagia ataukah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'wie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.27 Amarah Shella
"Oh, disini kamu rupanya gadis brengsekk. Aku akan buat perhitungan padamu."
Tanpa aba-aba, Shella mendekati Livina lalu menjambak rambutnya.
"Dasar gadis jalaang, nggak tahu malu, apa yang kau lakukan pada Zevan, hah? Pasti kau berusaha menggodanya, bukan? Kemari kau!" Shella menyeret Livina seperti menyeret seekor binatang, tanpa ampun, tanpa belas kasihan.
"Ampun nyonya, tolong lepaskan, maafkan saya. Ampun nyonya Shella." Livina terus memohon tapi Shella seakan sudah kehilangan kewarasannya. Ia terus menyeret-nyeret Livina dengan menarik tangannya dari dapur ke ruang depan.
"Ampun Nya, salah saya apa mengapa nyonya Shella memperlakukan aku seperti ini?" tanya Livina sambil terus menangis.
"Kau masih tanya kenapa jalaang? Baik, jelaskan apa yang kau lakukan semalam dengan Zevan di ruang kerjanya, hah? Cepat jelaskan!!" Bentak Shella.
'Bagaimana nyonya Shella bisa tau ada yang terjadi antara aku dan tuan Zevan di ruang kerjanya?' batin Livina.
"Kau tak mau bicara, hah! Baik tak usah jelaskan karena aku sudah tau semua."
Lalu Shella beranjak ke meja makan dan meraih kopi Zevan yang belum sempat ia minum dan byurrrr ...
Ia menumpahkannya ke tubuh Livina.
"Aaaah ... Panas, ampun Nyonya, ampun!" Livina terus terisak menahan sakit karena kulitnya yang mulai melepuh
"Hentikan ... !!! Kak Shella hentikan perbuatanmu!!" Tiba-tiba Mevan datang dan berteriak pada Shella.
"Apa yang kakak lakukan pada Livina, hah?" Mevan mendekati Livina lalu mengecek kulitnya yang mulai memerah dan melepuh karena siraman kopi panas yang ditumpahkan Shella.
"Kenapa kakak jahat sekali pada Livina?" Teriak Mevan.
"Kau tak usah membela jalaang itu Van, dia tak lebih dari jalaang. Dia yang sudah menggagalkan pertunangan kakak." Tutur Shella dengan wajah dibuat sedih.
"Apa kakak mempunyai bukti kalau itu memang perbuatan Livina? Aku takkan pernah percaya sebab aku sangat tau sifat Livina sebenarnya. Dia bukan gadis murahan yang hanya karena harta atau apapun lalu rela melakukan perbuatan yang tercela." Sentaknya penuh ketegasan.
"Kau tau apa, Van? Kau tak tau apa-apa tentang gadis brengsekk itu."
"Aku tau kak. Bahkan aku sangat tau. Jadi jangan pernah kak Shella merendahkannya apalagi menyakitinya karena aku takkan tinggal diam."
"Mevan!!!"
"Oh, jadi kau pun mencoba mendekati Mevan juga gadis brengsekk supaya ada yang membelamu, hah!" Shella ingin mendekati Livina dan kembali menjambaknya tapi tiba-tiba tangannya dicengkeram Mevan.
"Kataku berhenti disitu!!" Mevan berteriak dengan sangat kencang membuat semua pelayan termasuk keamanan di rumah itu datang dan melihat apa yang terjadi.
Shella pun berhenti.
"Baiklah, hari ini kau selamat! Tapi lain kali takkan ku biarkan kau selamat." Ucap Shella sinis lalu pergi meninggalkan rumah Zevan dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun.
Di dalam mobil Shella
"Aaarggg, kenapa Mevan harus datang di saat seperti itu?" Pekiknya sambil memukul stir mobilnya..
Di dalam rumah
"Liv, kamu nggak papa?" Mevan membantu Livina berdiri. Ia iba melihat penampilan Livina yang acak-acakan. Ia melihat baju Livina telah basah karena siraman kopi. Di lantai pun terlihat gumpalan rambut Livina yang putus akibat jambakan Shella.
"Aku nggak papa, kak." Jawab Livina yang masih terisak.
"Awwww ..." tiba-tiba Livina menjerit saat Mevan memegang lengannya.
"Kenapa Liv?" Lalu ia memeriksa tangan Livina. Bekas siraman itu sepertinya makin meradang.
"Aku antar kamu ke klinik ya?" Tawar Mevan.
"Nggak usah kak, aku nggak mau ngerepotin kakak."
"Aku nggak repot kok. Justru aku dengan senang hati membantu kamu."
Livina pun akhirnya menuruti perintah Mevan agar ikut dengannya pergi ke klinik terdekat untuk berobat.
hehehe......jadi curhat