Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Kevin Berlutut di Hujan
Kevin berlutut saat ambulans Keira meninggalkan gerbang Menteng.
Hujan memukul atap kendaraan dan menutup pandangan ke halaman. Petugas keamanan mendekat untuk menyuruhnya pergi, tetapi Rayhan yang duduk di samping tandu Keira mengangkat satu tangan.
"Jangan paksa dia pergi. Jangan juga panggil Keira untuk melihatnya. Kalau kondisinya memburuk, panggil tenaga medis."
Keira tidak mendengar perintah itu. Ia melihat seorang laki-laki berlutut di balik kaca yang dipenuhi air, tetapi ambulans sudah bergerak sebelum ia mengenali wajahnya.
Di rumah sakit, CT kepala menunjukkan tidak ada perdarahan baru yang memerlukan operasi. Pemeriksaan THT menemukan gangguan pendengaran sensorineural berat pada kedua telinga. Keira tidak merespons suara pada tingkat yang biasanya terasa menyakitkan bagi orang lain.
Dokter menulis penjelasan di tablet.
`Trauma pada kedua sisi kepala kemungkinan merusak telinga dalam atau jalur saraf. Kami akan memberi terapi awal dan mengulang audiometri. Pemulihan belum bisa dijanjikan.`
Keira membaca kalimat terakhir tiga kali.
Seorang audiolog mengajarkan tiga aturan darurat kepada orang-orang di sekelilingnya: panggil Keira dengan sentuhan ringan pada bahu atau masuk ke bidang pandang, jangan berbicara dari belakang, dan tulis informasi medis yang tidak boleh salah. Membaca bibir membutuhkan latihan dan tidak bisa menangkap semua bunyi, terutama nama serta angka.
Keira menerima kartu kecil bertuliskan `Saya tidak bisa mendengar. Tolong menghadap saya atau tulis.` Ia menyimpannya di saku dalam jubah. Amanda mengaktifkan transkripsi langsung di ponsel, lalu menguji hasilnya dengan kalimat pendek. Banyak kata masih salah, tetapi alat itu cukup untuk keadaan darurat sampai evaluasi berikutnya.
Rayhan duduk di sisi meja pemeriksaan, selalu memastikan mulutnya terlihat ketika bicara. Untuk kalimat panjang, ia mengetik. Amanda menyimpan jadwal obat dan nomor layanan rehabilitasi pendengaran. Tidak seorang pun berkata Keira harus bersyukur karena CT-nya tidak menunjukkan pendarahan.
Hilangnya suara tetap kehilangan.
Tiga jam kemudian, Keira diizinkan kembali ke rumah Menteng dengan pengawasan dokter keluarga. Ia belum boleh pulang jauh ke PIK malam itu karena mual dan keseimbangannya belum stabil.
Dari jendela kamar tamu lantai dua, ia melihat Kevin.
Ia masih berlutut di tempat yang sama.
Kemeja hitamnya menempel pada tubuh. Rambut menutup dahi. Air mengalir dari wajah hingga ujung jari. Batu halaman tidak rata, dan warna merah tipis muncul di bawah kedua lututnya sebelum segera larut oleh hujan.
Amanda berdiri di depan jendela, menghalangi pandangan. Ia mengetik di ponsel dan menunjukkan layar.
`Kei, dia tidak pantas dikasihani olehmu.`
Keira menjawab dengan suara yang tidak bisa ia dengar sendiri. "Aku tahu. Tapi dia tetap kakakku."
Amanda menatapnya. "Kakak yang membiarkanmu mati di lapas."
Keira hanya menangkap kata `kakak` dan `lapas` dari bibir. Amanda akhirnya menulis seluruh kalimat.
`Aku tidak lupa, Manda.`
Rayhan masuk membawa mantel hujan. Ia menunjukkan satu pertanyaan di layar.
`Kamu mau menemuinya atau meminta dia pergi? Keduanya boleh.`
Keira mengambil ponsel.
`Lima menit. Di bawah atap. Aku tidak mendekat ke halaman.`
Rayhan mengangguk. Dokter keluarga memeriksa tekanan darahnya lagi sebelum mengizinkan turun. Brandon menyiapkan kursi di teras, tetapi Keira memilih berdiri dengan tongkat dan satu tangan pada lengan Rayhan.
Pintu depan dibuka.
Kevin mengangkat kepala.
Matanya bengkak. Begitu melihat jubah merah dan memar di wajah Keira, ia mencoba berdiri. Kakinya tergelincir, lalu ia kembali berlutut.
"Kei."
Keira melihat mulutnya membentuk nama itu. Ia menunjuk telinganya, lalu menggeleng.
Kevin membeku.
"Dia tidak bisa mendengar," kata Brandon. "Hadap wajahnya. Bicara pelan. Saya akan menulis bagian yang tidak dia pahami."
Rasa bersalah di wajah Kevin berubah menjadi ketakutan baru. "Karena tadi?"
Brandon mengetik pertanyaan. Keira membacanya dan mengangguk.
Kevin menutup mulut dengan tangan. Tangisnya pecah, tetapi Keira hanya melihat bahunya berguncang di tengah hujan.
"Kei, maafkan aku. Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu. Piagam, gudang, ginjal, lapas... aku tidak tahu apa-apa."
Brandon menyalin kalimat itu ke layar tanpa menghaluskan.
Keira membaca, lalu menatap Kevin.
"Ko Kevin, kamu tidak tahu karena kamu tidak pernah bertanya."
Kevin menunduk sampai kedua telapak tangannya menyentuh batu basah. "Benar."
"Kamu menandatangani surat sekolah tanpa membaca. Kamu melihat aku berjalan pincang dan mengira aku mencari perhatian. Kamu bersaksi untuk Van karena lebih mudah mempercayainya."
Setiap kalimat harus diulang pelan atau ditulis Brandon. Percakapan berlangsung tersendat, tetapi tidak ada seorang pun mengambil kata-kata Keira dan menggantinya dengan ringkasan yang lebih nyaman.
"Aku menemukan semua suratmu," kata Kevin. "Kartu ulang tahun dari kertas bekas. Catatan Fufu. Aku menempelkan piagammu di dinding gudang."
"Piagam itu bukan untuk membuat gudang menjadi tempat suci."
Kevin mengangkat wajah.
"Gudang tetap tempat kalian mengurungku," lanjut Keira. "Kalau kamu ingin memperbaiki sesuatu, jangan ubah penderitaanku menjadi altar untuk rasa bersalahmu. Simpan bukti. Cari siapa yang mengambil ginjalku. Hentikan Papa memakai perusahaan untuk menghapus jejak."
Kevin mengeluarkan amplop plastik dari balik kemeja. Kertas di dalamnya tetap kering. Ada surat penunjukan auditor independen, perintah penyimpanan luar kantor, daftar server lama, serta pengalihan hak menjaga piagam dan buku harian kepada pihak yang dipilih Keira.
"Aku tidak datang membawa hadiah," katanya. "Ini semua yang masih bisa kuakses sebelum mengundurkan diri. Kamu boleh memberikan hak simpannya kepada siapa pun."
Keira tidak mengambil amplop langsung. Ia meminta Brandon memeriksa nomor dokumen dan tanda tangan lebih dulu. Setelah dipastikan, map itu diterima sebagai bukti, bukan sebagai tanda damai.
Kevin mengangguk berulang kali. Air hujan dan air mata tidak bisa dibedakan di wajahnya.
"Aku akan melakukannya. Bukan agar kamu memaafkanku."
Ia menelan napas. "Ada satu hal lain. Di persidangan, aku bilang melihatmu mengejar Evelyn ke tangga. Itu benar. Tapi aku tidak melihatmu mendorongnya."
Brandon berhenti mengetik sepersekian detik, lalu menyalin setiap kata.
"Papa bilang kalau aku menjelaskan pertengkaran kalian dengan tegas, hakim akan memahami urutannya. Lucas menyusun pernyataan. Ketika kalimatnya berubah menjadi seolah aku melihat dorongan, aku tetap menandatangani."
Keira memandang wajah kakaknya lama.
"Jadi kamu bukan tidak tahu. Kamu tahu bagian yang tidak kamu lihat, lalu membiarkan mereka mengisinya."
Kevin menutup mata. "Ya."
"Besok buat pernyataan koreksi di hadapan notaris dan pengacara independen. Kirim ke penyidik, pengadilan, dan pengacaraku. Bukan konferensi pers. Bukan video menangis."
"Aku akan buat."
"Cantumkan siapa yang menyusun kalimat dan siapa yang memintamu menandatangani."
"Semuanya."
Keira terdiam lama.
Rayhan tetap di sampingnya. Amanda berdiri di balik pintu dengan tangan mengepal, tetapi tidak menyela. Oma mengawasi dari tangga, membiarkan keputusan berada pada Keira.
"Ko Kevin," kata Keira akhirnya, "aku tidak bisa memaafkanmu. Belum bisa. Tapi aku tidak membencimu."
Kevin membungkuk sampai dahinya menyentuh batu.
Tubuhnya bergetar hebat. Luka operasi lambungnya belum pulih sepenuhnya, dan tiga jam berlutut di hujan membuat bibirnya pucat. Petugas medis maju satu langkah, tetapi Kevin mengangkat tangan tanda masih sadar.
Keira tidak turun dari teras untuk mengangkatnya. Ia juga tidak menyuruhnya terus berlutut.
"Pulang," katanya. "Rawat lukamu. Setelah itu lakukan apa yang baru kamu janjikan."
Brandon menuliskan kalimat tersebut agar Kevin tidak salah memahami.
Keira berbalik.
Ia berjalan tiga langkah, lalu berhenti tanpa menoleh.
"Ko Kevin, terima kasih sudah datang ke sini."
Kalimat itu bukan pengampunan. Hanya pengakuan bahwa untuk pertama kalinya Kevin datang ketika Keira masih bisa melihatnya, bukan setelah peti bukti ditutup.
Keira masuk ke rumah. Rayhan mengikuti setelah memastikan dokter keluarga menunggu di dalam. Amanda menjadi orang terakhir yang menutup pintu.
Kevin tetap berlutut.
Satu jam berlalu.
Kevin tidak lagi menganggap tambahan waktu itu sebagai alat menukar rasa sakit dengan pengampunan. Kakinya mati rasa dan tubuhnya mulai menggigil. Ia tetap di sana karena belum mampu berdiri tanpa jatuh, sekaligus karena harus menerima bahwa pintu bisa tertutup setelah Keira memilih selesai bicara.
Brandon keluar membawa payung besar dan kotak pertolongan pertama. Ia membuka payung di atas Kevin, lalu meletakkan kasa steril di kursi teras.
"Kak Keira sudah memberi jawaban," katanya. "Berlutut lebih lama tidak akan mengubahnya. Kalau Pak Kevin pingsan, yang terjadi hanya menambah pasien malam ini."
Kevin perlahan mengangkat kepala.
"Dia bilang tidak membenciku."
"Jangan jadikan itu izin untuk mendesaknya."
"Aku tahu."
Brandon mengulurkan tangan. Kevin tidak mampu berdiri pada percobaan pertama. Petugas keamanan akhirnya membantu dari kedua sisi, berhati-hati pada luka operasi. Kulit kedua lututnya lecet dan berdarah, tetapi tidak ada tulang yang patah.
"Payungnya bawa," kata Brandon.
Kevin menerima. "Terima kasih."
"Kembalikan setelah kering. Itu inventaris rumah Menteng."
Humor tipis itu tidak menghapus berat malam, tetapi cukup membuat Kevin ingat bahwa dunia terus bergerak setelah permintaan maafnya.
Ia masuk ke mobil dengan pakaian basah dan menggigil. Pemanas dinyalakan. Sebelum meninggalkan halaman, ia menelepon Sekretaris Nia.
"Pak Kevin? Dokter melarang Anda bekerja malam ini."
"Carikan semua dokumen Pratama Group tentang Keira. Termasuk yang dari delapan tahun lalu, laporan pemeriksaan kesehatan itu."
"Audit eksternal baru mulai menarik arsip. Saya butuh otorisasi akses server lama."
"Gunakan surat yang kutandatangani sebelum mundur dari kewenangan. Salin ke penyimpanan independen. Jangan beri tahu Edmond sampai bukti aman."
Kevin melihat rumah Menteng melalui kaca berembun.
Rasa bersalah tidak hilang. Namun untuk pertama kalinya, ia mengubahnya menjadi pekerjaan yang mungkin melindungi kebenaran.