NovelToon NovelToon
HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Tamat
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Penyergapan di Celah Badai

Meninggalkan hiruk-pikuk Kota Batu Pasir, Kala dan Zian bergerak cepat menuju Celah Badai, sebuah jalur ngarai sempit yang dikelilingi oleh tebing-tebing batu terjal. Menurut informasi dan perhitungan Zian, ini adalah satu-satunya jalur yang harus dilewati oleh karavan logistik rahasia milik Klan Badai Angin. Karavan tersebut membawa batu spiritual kualitas tinggi yang akan digunakan untuk memperkuat fondasi Formasi Badai Sembilan Langit.

Angin di dalam ngarai menderu kencang, berputar-putar di antara dinding batu laksana pisau tak kasat mata.

"Senior, mereka datang," bisik Zian dari balik sebuah batu besar di puncak tebing. Tangannya memegang kuas tembaga kuno, siap menggambar simbol formasi pengikat.

Dari ujung celah ngarai, terdengar deru langkah kaki dari belasan Binatang Buas Angin—makhluk hibrida menyerupai serigala raksasa berkaki enam yang berlari sangat cepat. Di belakang mereka, lima gerobak besi berat yang dilapisi kain mantra pengunci energi bergetar hebat. Karavan ini dikawal oleh lima belas pendekar tangguh. Tiga di antaranya mengenakan jubah perwira hijau tua, menandakan mereka adalah Master Ranah Raja Bumi Tingkat Awal. Sisanya adalah murid elit di Ranah Pengendali Jiwa.

"Siapa pun yang berani mengincar logistik klan kita, pastikan mereka menjadi pupuk di ngarai ini!" teriak salah satu perwira berbaju zirah hijau, matanya tajam menyapu sekeliling tebing.

Kala berdiri di ujung jalan ngarai, tepat di jalur karavan yang sedang melaju kencang. Jubah hitamnya berkibar liar dihantam angin kencang. Kain kasa hitam masih menutupi matanya, namun getaran Netra Kosmos Black Hole di balik kain itu sudah mengunci mati detak jantung lima belas pengawal tersebut.

"Musuh di depan! Hancurkan dia!" Kapten pengawal berteriak gila.

Lima belas pendekar langsung melompat dari Binatang Buas Angin mereka. Energi Qi elemen angin berwarna hijau pekat meledak serentak, menciptakan lusinan tebasan angin sabit raksasa yang meluncur membelah tanah batu ngarai, mengarah langsung ke tubuh Kala yang berdiri diam.

“Kala, bersiaplah. Level mereka semua di bawahmu. Hukum waktu valid secara absolut,” suara wanita misterius dari sarung pedang kayu Yggdrasil bergaung anggun di kepalanya.

Kala merendahkan kuda-kudanya. Tangan kirinya mencengkeram sarung pedang putih perak, sementara telapak tangan kanannya bertumpu pada gagang pedang Jian hitam yang tipis bagai kertas.

CHIIING!

Dentingan mistis yang sangat jernih memotong gemuruh badai ngarai. Kala menarik bilah pedang hitamnya keluar sepanjang tepat sepuluh sentimeter.

DENG!

Gelombang distorsi waktu berbentuk lingkaran meledak dari tubuh Kala, menyapu seluruh isi ngarai sejauh seratus meter. Seketika, semesta kehilangan seluruh warnanya, berubah menjadi abu-abu monokrom yang sunyi senyap.

Lusinan tebasan angin sabit yang tajam membeku kaku di udara, hanya berjarak beberapa senti dari ujung jubah Kala. Lima belas pendekar Klan Badai Angin terpaku kaku di atmosfer; ada yang masih berteriak dengan urat leher menonjol, ada yang jubahnya melambai kaku, dan ada yang matanya melotot tanpa kedipan. Bahkan debu-debu pasir yang berhamburan akibat hantaman kaki binatang buas melayang diam laksana kristal kaca di udara hampa.

Hukum Sepuluh Senti telah mengunci realitas secara absolut.

Kala berjalan santai melewati celah-celah tebasan angin yang membeku. Langkah kakinya sunyi, tanpa meninggalkan jejak di atas debu ngarai. Dia berjalan mendekati tiga perwira Ranah Raja Bumi yang membatu di barisan depan.

Kala tidak menarik pedangnya penuh. Dia hanya mengangkat tangan kirinya, lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah dada tiga perwira tersebut. Pupil kiri mata Kala yang berbentuk Black Hole berputar berlawanan arah jarum jam.

"Menelan Kehidupan," bisik Kala dalam keheningan total.

Gaya tarik gravitasi nihilisme meledak secara mikro. Energi kehidupan, esensi batin, hingga umur alami dari tiga perwira Ranah Raja Bumi dan dua belas murid Pengendali Jiwa tersebut disedot paksa masuk ke dalam pusaran mata kiri Kala. Di dalam satu detik yang dijeda tersebut, kulit mereka berkerut secara instan, rambut mereka memutih laksana salju, dan seluruh daging di tubuh mereka menyusut drastis, menyisakan lima belas mumi kering yang terbungkus zirah perang.

Kala melangkah kembali ke posisi semula, lalu mendorong bilah tipis hitamnya masuk kembali ke dalam sarung kayu Yggdrasil.

KLIK.

Satu detik keheningan berakhir. Warna dunia kembali normal, dan waktu semesta berputar kembali dengan dentangan yang keras.

BRUUUK! BRUUUK! BRUUUK!

Lima belas pendekar tangguh Klan Badai Angin yang tadinya melompat gagah melepaskan jurus pamungkas, tiba-tiba jatuh berhamburan ke atas tanah batu ngarai sebagai mayat-mayat kering yang keriput. Tebasan angin sabit mereka di udara langsung buyar menjadi angin sepoi-sepoi karena pemilik energinya telah tewas seketika akibat usia hidup mereka yang habis dalam satu detik keheningan.

Binatang-binatang Buas Angin yang menarik gerobak besi mendadak berhenti, melolong ketakutan merasakan aura kematian yang begitu masif dari tubuh pemuda berjubah hitam di depan mereka.

Zian melompat turun dari puncak tebing dengan mata melotot tidak percaya. Meskipun dia sudah pernah melihat kekuatan ini di kedai perbatasan, menyaksikan tiga orang di Ranah Raja Bumi tumbang dalam satu detik tanpa sempat mengayunkan senjata tetap saja membuat bulu kuduknya berdiri.

"Se... Senior... ini benar-benar mukjizat dewa," ucap Zian dengan suara bergetar penuh rasa hormat.

Kala menyeka seteguk darah tipis yang keluar dari sudut bibirnya akibat menggunakan hukum waktu skala luas, lalu menatap lima gerobak besi berisi batu spiritual. "Zian, ambil seluruh batu spiritual ini dan gunakan untuk memperkuat formasi kultivasimu malam ini. Besok, kita akan menggunakan identitas para penjaga ini untuk masuk ke gerbang utama Klan Badai Angin."

Zian bersujud dengan satu lutut. "Baik, Senior! Dengan batu spiritual kualitas tinggi ini dan cetak biru yang saya bawa, besok malam saya akan memastikan Formasi Badai Sembilan Langit mereka berbalik menjadi jebakan maut bagi mereka sendiri!"

Di bawah bayang-bayang Celah Badai yang berdarah, Kala menatap langit Benua Tengah yang mulai menggelap. Detak jam di kepala Kala kembali berbunyi dengan ketukan yang mantap. Tik... Tok... Tik... Tok... Skenario pembalasan dendam terhadap klan suci pertama telah siap dijalankan, dan tidak ada satu pun dewa di langit yang bisa menghentikan jarum jam kematian mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!