"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.
Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.
Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Reza menatap foto marketplace seperti melihat medali.
"Harga tiga kali lipat," katanya. "Itu berarti demand nyata."
"Itu berarti pemain nyata tidak bisa membeli," jawab Raka.
Di layar, Farhan mengirim foto kedua. Ia tidak memakai kartu identitas AKN. Ia datang sebagai pembeli biasa, berdiri di antrean, mencatat jam buka toko, jumlah paket yang tersedia, dan orang-orang yang membeli berulang. Ia tidak merebut barang dari tangan siapa pun. Ia tidak menuduh. Ia hanya merekam pola.
Satu akun marketplace membeli dua puluh pack.
Tiga akun memakai nomor telepon berbeda tetapi alamat pengiriman sama.
Di depan satu toko, dua siswa SMP menawar pack dari orang dewasa dengan harga hampir tiga kali lipat. Salah satu dari mereka berkata di video Farhan, "Kalau nunggu restock, takut harganya makin naik."
Raka menghentikan video di sana.
"Ini bukan kebanggaan."
Reza masih keras. "Kelangkaan membangun nilai. Kalau semua mudah didapat, brand mati."
Bima masuk dengan data platform. "Pendapatan AKN tidak naik dari harga calo. Yang naik adalah risiko komplain, risiko anak beli di luar batas, dan risiko orang menyalahkan kita saat harga tidak masuk akal."
"Tapi buzz naik."
"Buzz bukan uang kita. Dan bukan kepercayaan."
Dimas yang duduk di ujung meja biasanya cepat membuat slogan. Kali ini ia diam cukup lama sebelum berkata, "Kalau orang pertama kali kenal Saga lewat harga calo, mereka tidak ingat gamenya. Mereka ingat rasanya diperas."
Reza menoleh tajam. "Kamu sekarang ahli brand?"
"Tidak," jawab Dimas. "Saya cuma pernah jadi orang miskin yang lihat barang viral dan langsung tahu saya tidak boleh ikut senang."
Kalimat itu membuat ruangan berhenti.
Raka tidak menambahkan apa pun. Ia hanya membiarkan kalimat itu jatuh tepat di tengah meja. Reza bisa berdebat dengan data. Lebih sulit berdebat dengan pengalaman yang terlalu telanjang.
Raka meminta Farhan melanjutkan observasi satu hari lagi. Anak itu mengirim catatan rapi: toko mana yang habis dalam menit pertama, akun mana yang mengulang, dan jam ketika harga mulai naik. Ia juga menulis satu hal yang membuat Raka berhenti lama.
Pembeli anak-anak tidak marah pada calo. Mereka marah pada AKN karena merasa tidak diberi jalan resmi.
Keputusan dibuat sore itu.
Harga eceran resmi dipaku dan diumumkan.
Satu akun hanya boleh membeli jumlah terbatas.
Restock calendar dibuka tiga minggu ke depan.
Toko mitra harus menandatangani kebijakan harga, antrean, dan batas pembelian. Mereka bukan diperintah pemerintah; mereka memilih menjadi mitra AKN dengan aturan AKN. Yang tidak mau, tidak mendapat alokasi berikutnya.
Reza berdiri dari kursinya. "Kita sedang membuang aura langka."
"Kita sedang membuang parasit," kata Raka.
"Parasit itu membuktikan pasar panas!"
"Dan anak-anak yang tidak bisa beli membuktikan kita bisa kehilangan pasar lebih cepat."
Ini pertama kalinya perpecahan strategi terasa tajam. Reza melihat merek sebagai api yang harus dibesarkan. Raka melihat api yang sama bisa membakar rumah jika tidak diberi batas.
Raka tidak memotong Reza dari proyek. Ia justru memintanya duduk di sebelah Yusuf untuk menghitung skenario.
"Kalau aturan ini gagal, kamu yang pertama boleh bilang saya terlalu lembut," kata Raka.
Reza menyipitkan mata. "Dan kalau berhasil?"
"Kamu yang pertama saya minta mendesain model turnamen."
Itu bukan pelukan. Itu tali. Raka tidak membuang orang bertalenta hanya karena mereka keras kepala. Ia mengikat mereka ke target yang lebih sulit.
Reza akhirnya duduk. "Saya tidak janji setuju."
"Saya tidak bayar kamu untuk setuju. Saya bayar kamu untuk membuat angka bertahan setelah keputusan benar diambil."
Yusuf batuk kecil, pura-pura tidak mendengar. Naya menunduk untuk menyembunyikan senyum.
Pengumuman keluar malam itu. Naya menulisnya tanpa nada menggurui: harga resmi, jadwal restock, batas akun, daftar toko mitra, dan cara melapor jika ada penjualan di atas harga.
Efeknya tidak instan.
Hari pertama, komentar marah datang dari dua arah. Calo menuduh AKN merusak pasar. Sebagian pembeli menuduh jadwal restock hanya janji. Namun di hari kedua, harga marketplace mulai turun. Akun yang menyimpan puluhan pack tidak lagi bisa menjual dengan mudah karena pembeli tahu tanggal restock berikutnya.
Farhan mengirim foto dari toko yang sama. Kali ini antrean lebih rapi. Di pintu ada kertas harga resmi dan batas pembelian. Dua siswa yang kemarin hampir membeli dari calo kini menunggu jadwal restock.
Satu toko mencoba bermain licin. Mereka memasang harga resmi di pintu, tetapi menawarkan paket "bonus stiker" dengan harga dua kali lipat di dalam toko. Farhan tidak membuat keributan. Ia membeli minuman, duduk di warung sebelah, dan memotret struk dari pembeli yang keluar sambil tertawa kesal.
Bima menelepon pemilik toko sepuluh menit kemudian.
Suaranya tidak tinggi. Justru sangat sopan.
"Pak, mulai alokasi berikutnya toko Bapak kami hentikan. Kalau Bapak ingin kembali, kami butuh pengembalian selisih harga ke pembeli yang bisa diverifikasi."
Pemilik toko awalnya marah. Lalu Bima mengirim tangkapan layar komplain dan klausul mitra. Nada marah itu turun menjadi tawar-menawar. Bima tidak menawar.
Kabar pencabutan alokasi menyebar lebih cepat daripada pengumuman resmi. Toko lain yang semula ingin bermain bonus mendadak memasang harga benar.
Raka membaca laporan itu dan menulis satu kalimat di grup.
Bagus. Aturan tanpa gigi hanya dekorasi.
Bima membalas dengan emoji jempol. Dimas langsung menyimpan kalimat itu untuk bahan poster internal.
Komentar berubah.
Akhirnya ada tanggal.
Mending nunggu resmi.
Terima kasih tidak biarin calo makan semua.
Reza membaca komentar itu tanpa bicara. Ia belum setuju sepenuhnya, tetapi angka tidak berbohong: harga liar turun, waiting list stabil, dan refund komplain tidak naik.
Lebih penting lagi, konten komunitas mulai berubah. Video yang kemarin berisi orang membuka pack dengan teriakan harga kini digantikan meja kecil berisi tiga siswa yang saling mengajari combo murah. Farhan muncul di salah satu video, bukan sebagai bintang, hanya sebagai tangan yang menunjuk kartu.
"Pakai Nelayan Tua dulu. Jangan buang Garam. Tunggu badai."
Komentar di bawahnya ramai.
Deck murah bisa menang?
AKN tolong jual starter begini.
Ini baru game, bukan cuma gacha kardus.
Reza memutar video itu dua kali. Ia tidak memuji. Tetapi di catatan strateginya, ia menulis satu judul baru: produk masuk untuk pemain miskin.
Raka melihat catatan itu dari samping dan tidak mengejek. Kadang orang keras kepala tidak perlu dipaksa berlutut. Cukup diberi jalan untuk berubah tanpa kehilangan muka.
Lalu video anonim muncul.
Seorang anak laki-laki duduk membelakangi kamera. Suaranya diubah, tetapi kalimatnya jelas. Ia mengaku mengambil uang orang tua untuk membeli Saga dari penjual kedua karena takut tidak kebagian. Judul video itu menusuk.
Game AKN membuat anak mencuri uang keluarga.
Dalam satu jam, video itu menyebar lebih cepat daripada klarifikasi harga.
Raka langsung memberi perintah. "Hentikan semua iklan random pack."
Reza menatapnya seperti mendengar mesin jantung dimatikan. "Kita baru menstabilkan pasar."
"Justru karena itu kita hentikan sebelum lebih parah."
"Anda mau membunuh bisnis kedua dengan tangan sendiri?"
Raka melihat dashboard iklan yang masih menghasilkan klik, lalu melihat foto Farhan tentang siswa di antrean toko.
"Kalau bisnis ini hanya hidup dengan membuat anak takut tidak kebagian, dia memang belum pantas hidup."
Ruangan diam. Untuk pertama kalinya sejak masuk AKN, Reza terlihat benar-benar marah.