"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Citra terpaku di tempat. Handuk putih yang membalut tubuhnya hanya sampai paha. Jantungnya berdegup cepat, wajahnya memanas. “Pa... aku kira Bapak masih di ruang kerja,” ujarnya tergagap.
Rama menoleh pelan dari ambang pintu balkon, ekspresinya antara kaget dan geli. “Aku baru aja naik,” katanya santai sambil mengangkat laptop. “Kamu kenapa enggak bawa baju ganti?”
“Lupa...” jawab Citra cepat, matanya panik mencari apapun yang bisa dijadikan penghalang pandangan.
Rama menyandarkan tubuhnya di pintu balkon, matanya sedikit menyipit menatap istrinya yang gelagapan. “Padahal aku baru niat ngopi, malah dikasih pemandangan pagi kedua,” ujarnya dengan nada menggoda.
Citra langsung menutup wajah dengan tangan. “Ih, Pak Rama!” serunya dengan pipi semerah cabai.
“Kenapa? Aku suamimu, bukan maling,” sahut Rama, tertawa kecil.
“Ya tapi kan... malu, Pak.”
Rama berjalan mendekat, langkahnya tenang tapi membuat Citra semakin panik. Ia mundur perlahan sampai punggungnya menyentuh lemari. “Udah, aku enggak lihat kok,” kata Rama sambil menatap jelas ke arah wajahnya.
“Bohong!” Citra mendengus, menatapnya dengan wajah cemberut tapi mata tak berani menatap lama.
“Ya udah, aku pura-pura enggak lihat deh.”
Citra menghela napas panjang, lalu buru-buru mengambil baju dari lemari. “Tunggu di luar, Pak.”
“Tapi kamarnya kan kamar aku juga?” Rama sengaja memancing.
“Pak!” serunya makin keras.
Akhirnya Rama menyerah sambil tertawa pelan. “Oke, oke, tapi boleh cium dikit ya?” katanya sambil menarik Citra masuk dalam pelukannya.
Pipi Citra sudah semerah tomat. Malu sekali hanya pakai handuk saja. Wajahnya kian memanas saat Rama menyentuh bibirnya dengan lembut.
"Pak..." bisiknya pelan, namun itu hanya bisikan yang berganti dengan suara kecapan.
Rama mengelus punggung Citra, tubuh gadis itu jadi merinding. Sampai tangan itu menyentuh kulitnya. Hangat. Halus. Merinding.
Tangan Citra mengusap dada Rama, merambah naik dan mengalung di leher. Ciuman mereka semakin dalam. Semakin tak tenang tangan Rama mengusap turun naik, menyelam masuk ke balik handuk Citra. Hingga benda itu jatuh ke lantai.
Tangan Rama menyentuh kulit punggung Citra, menyusur ke bawah dan ngangkat kaki di atas kakinya. Dalam gendongan suaminya, napas semakin berat, bibir pun sudah merekah.
"Cit... Aku... Ingin lebih..."
Citra menekan tubuhnya hanya agar ujung dada tak terlihat. Ia malu, sudah terlanjur polos begini. Pipi Citra memerah, sangat merah sampai ke telinganya.
"Pak..."
"Kamu belum siap, ya? Tidak sesakit yang kamu pikirkan... Jangan takut... Aku... Akan bersikap lebih lembut..."
Suara Rama lebih terdengar seperti permohonan dari pada bujukan. Napas hangatnya bahkan menerpa wajah Citra.
"Citra... Udah begini... Apa Citra masih bisa nolak?"
Rama terdiam, lalu tertawa pelan. Ia kecup bibir mungil Citra. Kali ini lebih dalam lagi. Kakinya melangkah maju, sempat beberapa kali tubuh Citra terpentok sesuatu, karena Rama juga menutup matanya. Feeling yang kurang saat memeta kamar.
"Sakit pak..." keluh Citra saat tubuhnya kembali terpentok tembok. Rama malah terkekeh. "Mending bapak jalan sambil buka mata..."
"Iya. Maaf."
Tubuh citra jatuh dengan lembut di atas ranjang. Rama menindihnya usai melepas kemeja.
"Ngapain ditutupin?" protes Rama saat Citra menutupi dadanya dengan tangan.
"Malu tau, Pak..."
Rama diam, rasanya aneh sekali saat sedang akan berhubungan begini malah dipanggil pak.
"Bisa enggak jangan panggil Pak?"
"Kenapa?" tanya Citra dengan polosnya.
"Rasanya kayak... Kamu tau... anak sendiri."
"Masa, sih, Pak?" Mata Citra melebar, dan langsung menutup bibirnya dengan tangan, saat itu satu dadanya terbuka. Rama tak menyia-nyiakan kesempatan, dia lahap ujung yang mirip ceri kemerahan itu.
Kini mulut Citra yang terbuka lebar. Untuk pertama kalinya dadanya dicecap seseorang. Rasanya geli, juga... Perih... Lidah Rama yang menyentuh terasa seperti pisau.
"Aahhh~"
Namun, sensasi yang dia rasakan terasa berbeda... Seperti sengatan di seluruh tubuhnya dan berakhir nyut-nyutan di bagian bawah.
"Aaa~aahh~"
"Pak..."
Tangan Rama meraba, menyusur ke perut. Lalu semakin ke bawah.
"Pak..."
Citra menahan tangan Rama, namun sudah terlanjur menyentuh biji salaknya.
"Aaaaa~"
Rasa geli menyenangkan Citra rasakan, belum pernah dia rasakan hal seperti ini sebelumnya...
"Pak~"
"Basah..." bisik Rama...
meninggal Juni 2012
😭😭