Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah berkat? (Prolog)
Cerita Berfokus pada Rio Mahadipa, Seorang Siswa SMA
tahun 26, bulan 1
"sakit!."
"Itu menyakitkan!, Kumohon hentikan!!."
Di sekolah Naraya yang bertepatan di kota kencana barat, Rio Mahadipa sedang mengalami perundungan.
sebuah Ruang kelas yang sunyi, hanya menyisakan beberapa meja kosong , murid-murid hanya sibuk pada urusannya masing-masing dan cahaya redup dari jendela.
Jam pelajaran yang kosong karena hari sudah sore ,itu menandakan bahwa sekolah sudah berada di jam terakhir.
Sekolah terasa begitu luas, namun ruang geraknya seakan semakin mengecil.
"Mengapa semua ini harus terjadi lagi…?."
Pikir Rio ,yang selalu mendapat perundungan pada hari harinya di sekolah.
“Aku benci perundungan."
Kata-kata itu hanya berputar dalam benaknya, berlapis dengan sedih, marah, dan muak yang tak pernah selesai. Setiap hari terasa seperti halaman yang ditulis ulang tanpa perubahan. Pikiran Rio mengaduk-aduk semua rasa itu menjadi satu beban yang menempel di dadanya.
Rio Mahadipa, siswa SMA Naraya , sekolah yang terletak pada Distrik Kencana, Rio telah lama terbiasa menanggung pemandangan seperti ini. Namanya sering terdengar, namun suaranya jarang didengar. Kehidupan sekolah yang mestinya menjadi tempat belajar malah berubah menjadi labirin tekanan.
“Hey Rio, kau melamun lagi. Kau ini memikirkan apa!?, Seharusnya kau tidak ku izinkan untuk berpikir kan?... Apakah aku mengizinkan mu melakukannya?.."
bentak salah satu siswa yang berdiri di depannya. Ucapan berikutnya datang seperti perintah murahan.
"Tidak! ,aku tidak memikirkan apapun.."
Rio hanya pasrah dalam ketakutannya.
“Baguslah,kalau begitu.. Cium sepatu ku!.”
Sosok itu berdiri tepat di depannya, menuntut kepatuhan yang Rio sudah terlalu lelah untuk bantah.
Rio hanya menatap lantai. Pasrah bukan karena ingin, karena tidak ada jalan lain yang terlihat.
"Andai saja bisa melawan… andai saja tubuh ini cukup berani." Pikirannya menggantung seperti doa yang tidak pernah sampai.
Perundungan sudah seperti rutinitas untuknya. Setiap hari berjalan dengan pola yang sama, rasa takut itu selalu menyelinap mengikuti dari belakang. Sekolah menjadi tempat yang terasa lebih dingin dari rumah kosong manapun.
Bukk!!!
Pukulan keras mendarat di pipi kirinya. “Apa yang kau pikirkan?” Suara itu terdengar datar di telinganya. seolah kekerasan sudah menjadi bagian dari hiasan harian.
Dan sampai Hari esoknya...
"Hey Rivaldo beri dia pelajaran!!."
Siswa lain menambah tekanan dengan sorakan yang tidak kalah menyakitkan. Di kelas Rio benar-benar tidak ada yang memperdulikan tentang perundungan.
Tidak ada yang membela nya ,dan tidak ada yang membantunya , selama ini Hanya Rivaldo lah yang merundung nya. Tidak ada yang lain.
Rivaldo adalah nama yang bagi Rio sama saja dengan ancaman. Teman sekelas yang senang memanfaatkan kelemahan orang lain, dikelilingi kelompok yang menikmati tontonan itu. Rambut Rio ditarik ke atas, rasa sakit menelusup hingga ke lehernya.
“Kenapa hanya diam?”
Kriiing.
Bel berbunyi, memotong situasi seperti pisau tumpul.
“hahah kali ini kau selamat.”
Rivaldo dan teman-temannya pergi tanpa rasa bersalah sedikit pun, seolah kejadian barusan hanyalah sebuah sequal.
bahkan siswa lain di kelasnya tidak ada yang memperhatikan nya, apalagi memberikan perhatian.
Rio tetap duduk di lantai, mencoba menenangkan diri. Luka di wajahnya ia sentuh ringan, berharap tidak meninggalkan bekas. "Tidak ada gunanya diam terlalu lama. Sudah sore… Lebih baik aku pulang kerumah."
Dalam perjalanan pulang, pikirannya melayang pada hari-hari yang terus mengulang pola yang sama. Mata lelahnya menatap tanah tanpa harapan, seolah masa depan cuma bayangan tipis.
"Besok pasti sama. Dan setelah itu… sama lagi, Tidak adakah dunia dimana aku hidup normal dan bahagia?!."
Meski begitu, ia tetap berjalan. Keputusasaan tidak sepenuhnya memadamkan langkahnya; ada sesuatu yang masih ia jaga dengan keras. Dan sesuatu itu menunggu di rumah kecilnya.
Di depan gang, seorang perempuan berdiri menghadangnya. Itu adalah Elisa Nova.
Rambutnya panjang setara dengan pundaknya ,dan memakai seragam sekolah berwarna putih Dengan rok hitam . Suara lembut keluar dari bibirnya,
“Kenapa Kau tidak melawan?, paling tidak kau tidak akan di anggap pengecut kan?."
Tatapannya sedih namun senyumnya tulus, seakan melihat luka Rio lebih dalam dari siapapun.
Rio hanya melewatinya dia berjalan menunduk tanpa menatapnya.
“Aku tidak bisa, Aku benci pada diriku sendiri karena aku pengecut. Aku juga tidak tahu caranya.."
Rio pun pergi meninggalkan Elisa sambil menunduk.
Rumah Rio tak jauh dari sekolah, tempat ia tinggal bersama adik perempuannya setelah kecelakaan merenggut kedua orang tua mereka saat ia masih SMP.
Pintu berderit pelan saat dibuka.
“Selamat datang!”
suara ceria menyambutnya, membawa kehangatan yang tidak bisa ia temukan di mana pun. Rani Mahadipa, adik yang menjadi alasan Rio tetap bertahan. Tatapan lembutnya selalu membuat hati yang remuk tetap menyatu.
Rio tersenyum tipis, tubuhnya menemukan tempat pulang yang sebenarnya. Untuk adik ini hidup masih layak diperjuangkan. Ruangan sederhana itu terasa cukup. sofa pudar, meja kayu pendek, TV kecil, dan wangi masakan yang selalu menyambut.
“Aku pulang,”
ucapnya, berusaha menuju kamar. Tetapi Rani langsung menghalangi.
“Tidak boleh! Makan dulu sebelum tidur!”
Tegas namun penuh perhatian. Rambut hitam sepanjang pundaknya bergoyang saat ia menatap kakaknya tanpa kompromi.
Kelelahan masih menempel pada Rio ,namun ia menuruti. Duduk di meja kecil sambil menonton TV, Rio merasakan sedikit ketenangan yang jarang singgah. "Tapi seperti ini saja sudah cukup baik…" Setelah makan, ia akhirnya menuju kamar dan membiarkan tubuhnya terjatuh di kasur tipis.
Rasa pegal menjalar hingga punggungnya. Namun kelelahan segera menariknya seperti tirai yang menutup panggung. Tidurnya hampir lelap sebelum sesuatu yang asing mulai merambat.
Sakit mendadak menghantam kepalanya, begitu kuat sampai hampir membuatnya berteriak.
Ahhhggrr!!
Namun ia menahan, takut membangunkan Rani yang sudah tertidur pulas di kamar sebelah. Sensasinya seperti pecahan kaca yang menekan dari dalam.
“Aku akan sedikit membantumu.”
Suara itu muncul begitu saja di dalam pikirannya. Tidak seperti halusinasi, tetapi juga bukan seperti suara manusia. Rio terkejut, dan rasa sakit justru semakin menjadi.
“Siapa kau?” Ia menanyakan dalam batin, namun tidak ada respons. Hanya denyutan tajam yang menghantam berulang-ulang seperti kapal yang retak dihantam ombak.
"Aku yang akan mengubah Hidup mu!.."
Setahun mengatakan itu ,suara itu pun menghilang .
Tenaga Rio mulai terkuras.
"Mem- Membantu?.."
Tangan yang memegangi kepala semakin lemas, penglihatan mengabur, dan setiap napas terasa berat. Pikirannya porak-poranda, seperti ruang yang runtuh. Dalam kekacauan itu, kesadarannya merosot dan akhirnya hilang sepenuhnya,Dan dia pun pingsan.