Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.
Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.
Apakah Bagas akan kembali?
atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 O, Oh, Kamu Ketahuan!
Sarah mengernyitkan kening saat membuka matanya yang terasa sangat lengket. Bias cahaya menembus retina mata dengan keras—pertanda bahwa waktu sudah menunjukkan siang hari.
Merasa bahwa panas teramat menerpa wajahnya, Sarah mengangkat punggung tangan untuk menutupi-nya. Perlahan wanita itu bangkit dari posisi tidur—duduk dalam keadaan linglung.
Berpikir sejenak, kepala Sarah kontan memutar semua ingatan dari kejadian semalam hingga tadi pagi. Bayangan dua tubuh yang saling bergelut mengejar kenikmatan kian merasuk—membuat Sarah kembali merasakan perasaan sesal, tetapi juga menghadirkan panas menggelora disana.
"Ck, bisa-bisanya malah berakhir seperti ini. Aku harus segera keluar dan menghubungi Rania," gumam Sarah lirih sembari menahan rasa sakit pada bagian bawahnya.
...****************...
Setelah membersihkan diri dan kembali memakai pakaian pelayan yang tadi malam dilepas paksa oleh Bagas—Sarah melangkah keluar kamar dengan mengendap-endap.
Siang hari seperti ini para pelayan biasanya memiliki rutinitas masing-masing. Area ruang tamu, dapur, dan lantai teratas kediaman Aryanaka akan dibiarkan kosong, karena semua orang berpencar ke area-area lain untuk menuntaskan tugas masing-masing.
Namun walaupun begitu, Sarah harus tetap berhati-hati. Ia tidak boleh sampai ketahuan keluar dari kamar Tuan besar. Jika sampai hal tersebut terjadi, bisa-bisa dirinya dituduh yang bukan-bukan.
Ya, meskipun memang seperti itu kenyataannya. Tidak menampik bahwa Sarah telah melakukan sesuatu yang 'bukan-bukan' dengan Bagas Aryanaka.
Dengan langkah tertatih, Sarah berjalan menuruni tangga. Bagian bawahnya masih terasa nyeri akibat di gempur tanpa henti. Mungkin sekarang cara berjalannya sudah seperti anak lelaki remaja yang baru saja selesai sunat.
Sungguh aneh, dan hal tersebut sialnya dilihat oleh salah satu pembantu kediaman Aryanaka yang paling Sarah tidak suka. Siapa lagi kalau bukan Marni si pelayan galak tukang cepu.
"Heh, Thalia! Darimana kamu, ngapain turun dari lantai tiga? Kenapa jalan kamu juga aneh kayak gitu?"
Setelah memergoki Sarah, Marni terus saja menyerbu wanita itu dengan pertanyaan beruntun.
Sarah menjadi sangat terkejut, baru saja menapaki anak tangga terakhir, tapi ia sudah ketahuan oleh entitas yang paling tidak ingin ia temui.
Mengepalkan kedua tangan guna menahan perasaan gugup. Sarah mencoba tidak gegabah dalam menjawab pertanyaan Marni.
"Yee, malah diem aja. Kamu mencurigakan banget loh Sarah. Lantai tiga itu tempatnya Tuan. Mencuri kamu ya?!" tuduh Marni seenaknya dengan raut penuh kesinis-an.
"Eh, nggak mbak. Saya tadi ada urusan," elak Sarah cepat.
Mendengar sanggahan si pembantu baru, tentu Marni tidak bisa percaya begitu saja. Matanya menyipit, menelaah penampilan Sarah yang tampak biasa saja, namun seperti memiliki aura yang berbeda.
"Halah, urusan apa emang? Saya juga baru liat kamu dari tadi pagi loh. Ngaku aja kamu!" cecar Marni sambil menunjuk Sarah dengan tegas.
Dalam hati Sarah merutuki nasibnya, kenapa ia yang sudah sangat berhati-hati malah berpapasan dengan jelmaan nenek sihir itu.
Sarah masih memilih menunduk dan terdiam. Bingung memikirkan kebohongan apa yang akan ia jelaskan. Sungguh, membuang-buang waktu menghadapi Marni disini disaat masih ada urgensi untuk menghubungi Rania secepatnya.
Marni kian mendengus kesal karena si pembantu baru berlagak tidak mengacuhkannya dan memilih diam—bukannya langsung menjawab pertanyaan-nya.
Merasa gemas, Marni bersiap mengeluarkan kata, hendak kembali mendesak Sarah.
Syukurnya, sebelum hal tersebut terjadi, Bik Umi datang dan tanpa peduli dengan ketegangan yang terjadi—wanita paruh baya itu langsung saja memberikan tugas kepada mereka.
"Marni! Ngapain kamu masih disini? Ayo cepat ke pasar beli bahan-bahan buat persiapan nanti malam."
Setelahnya, Bik Umi menoleh ke arah Sarah, turut memberikan tugas. "Thalia, saya tahu dari tadi pagi kamu gak keliatan. Tapi jelasin nanti aja. Sekarang kamu tolong bantu yang lain bersih - bersih taman belakang buat persiapan makan malam pak Bagas dengan keluarga nona Farah."
Sontak, setelah mendengar titah Bik Umi, Sarah terkejut bukan main. Karena jika keluarga Diharja datang ke rumah ini, maka Sarah benar-benar harus bersembunyi. Ia tidak boleh terlihat oleh mereka, atau nanti mereka akan menguak identitas aslinya di hadapan Bagas—bahkan menjadi penghalang dari rencananya di rumah ini.
"Baik Bik," ucap Sarah segera mematuhi Bik Umi. Biar ia pikirkan nanti tentang kedatangan keluarga Diharja.
Bik Umi berlalu dari sana, diikuti oleh Marni yang melenggang menjauh darinya. Namun sebelum itu, wanita dengan seragam pelayan yang sama sepertinya itu, lebih dulu memberikan tatapan tajam ke arah dirinya—layaknya memberikan peringatan secara tersirat.
...****************...
Sesampainya di kamar pelayan, Sarah mendesah lega. Tubuhnya ia baringkan sebentar. Tidak hanya badannya yang merasa lelah, namun batinnya pun merasa gusar.
Setelah Bik Umi memberikan tugas, Sarah akhirnya langsung bergegas melakukannya. Hingga kini waktu telah hampir senja, ia pun belum sempat menelepon Rania.
Semoga gadis itu tidak marah.
Sayangnya, harapnya memang sia-sia belaka. Karena baru saja panggilan tersambung, teriakan membahana langsung menyerang telinga.
"MBAK SARAH! KENAPA BARU TELPON MBAK!!"
Refleks Sarah jauhkan ponselnya, tidak kuasa mendengar suara cempreng yang memekakkan telinga. Bisa-bisa detik itu juga telinganya berdarah karena harus menghadapi gelegar suara Rania disana.
Dengan nada ragu, Sarah menjawab Rania yang sepertinya sedang berselimut emosi berapi-api
"Hehe, maaf deh Ran. Mbak baru sempat telpon karena tadi ada banyak kerjaan."
"Bohong!" cecar Rania kontan.
Sarah terlonjak, tidak menyangka Rania langsung saja menembaknya seperti itu.
"Duh apa dia udah ada firasat ya," pikir Sarah panik.
Walaupun begitu, Sarah akan tetap berusaha mengelak untuk kali ini. "Eh nggak kok Ran. Mbak gak bohong. Emang lagi sibuk."
Setelahnya hanya hening yang terasa. Rania tidak lagi berbicara, membuat Sarah menjadi merasa khawatir.
Tetapi, tidak lama, suara sahabatnya itu kembali menerpa. Dan kali ini membuat Sarah langsung menahan napas seketika.
"Kalo emang begitu, coba ganti jadi video call mbak," pinta Rania menuntut.
Dengan gugup, Sarah menyiapkan diri untuk kemudian menekan tombol ganti mode panggilan. Terpampanglah disana wajah Rania. Matanya menyipit dengan hidung seperti mengendus-endus sesuatu yang mencurigakan.
"Ngapain kamu kek kucing, ngendus-endus begitu Ran?"
Tidak langsung menjawab, Rania masih sibuk mendekatkan wajahnya ke arah layar handphone—meneliti sosok Sarah disana.
Menunggu beberapa menit, Sarah semakin dilanda gusar. Batinnya terus berdoa bahwa Rania tidak akan mengetahui kebenarannya dulu.
Tetapi, beberapa menit kemudian, Rania mundur. Sambil memegang ponsel ia menghembuskan napas, lalu menyandarkan tubuh pada sandaran kursi dibelakangnya.
"Fiks, Mbak bohong!" todong Rania kesal.
Sarah dengan cepat menggelengkan kepala, "Ih nggak ya Ran, udah mbak bilang, mbak gak bohong."
Mendengus, Rania akhirnya membuka kedok Sarah. "Mbak, aku ini titisan Intel loh. Aku yo langsung tahu sekali liat mbak Sarah gini. Misi kita gagal 'kan?"
Sarah melotot tak percaya, bagaimana partner in crime-nya bisa sejago itu?
"Ngaco kamu Ran. Aku belum info apa-apa loh. Misi kita sukses kok."
Sarah masih berusaha mengelak, dan itu membuat Rania semakin kesal hingga memutar bola mata jengah.
"Iya sukses. Sukses gagal-nya 'kan? Percuma mbak, aku gak bakal percaya. Itu leher mbak Sarah merah-merah begitu, pasti ujungnya kalian 'ninu-ninu' toh?"
Mendengar tebakan Rania, Sarah baru tersadar, segera ia berusaha menutup lehernya dengan tangan. "Eh, ini, ini kan bagian dari rencana. Si Bagas kan gak sadar karena obat kamu itu. Dia napsu banget, tapi habis itu langsung aku suntik kok. Gak terjadi apa-apa lagi."
Rania hanya mengangguk saja, sebelum kemudian kembali membuat Sarah semakin tersudut.
"Oh gitu ya mbak, terus itu kenang opo di atas meja ada obat pencegah kehamilan? Seingetku gak ada tuh di rencana kita, kan mbak Sarah nanti pura-pura hamil, bukan mau hamil beneran."
Sarah menoleh ke belakang, ada meja kecil disana. Tanpa ia sadari, tampak jelas diatasnya terdapat pil pencegah kehamilan yang baru ia beli dan minum tadi.
"E-eh, Ran. Ng-ng-gak kok. It-itu, itu anu—"
Sarah sepertinya sudah tidak dapat mencari alasan. Otaknya buntu menghadapi Rania yang cerdiknya luar biasa. Ia pun hanya bisa tergagap dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Ck. Mbak Sarah, Mbak Sarah. O, Oh. Kamu ketahuan!"