Bagaimana jadinya, jika pernikahan harus terjadi akibat tersebarnya sebuah video mesum? Itulah yang dialami Raisa dan Naufal. Dua orang yang memiliki sifat sangat berbeda, terpaksa harus hidup bersama diumur yang masih sangat muda.
Penasaran bagaimana kelanjutan ceritanya?
Ikuti cerita selanjutnya 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firchim04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Selamat Tinggal
Mohon maaf hari ini author telat up karena lagi kurang enak badan 🙏
Happy Reading ❤
...****************...
"Iya beb, aku ngerti" kata Raisa.
Yaah gagal lagi deh.
.
.
.
Tidak terasa, hari ini adalah hari terakhir Raisa mengikuti ujian nasional.
Setelah ujian terakhirnya nanti, ia akan segera melepas masa putih abu-abu dan mulai menentukan pilihannya, yaitu lanjut berkuliah atau tidak.
"Beb, ujian terakhir aku hari ini. Nggak sabar banget pengen cepetan lulus nih" kata Raisa.
"Senang banget yang udah mau lulus" ucap Naufal.
"Iya dong, harus senang".
"Ya sudah. Sarapan dulu baru pergi".
"Oh iya ya, kamu nggak ikut ke sekolah karena libur".
"Iya beb. Kenapa bisa lupa? kan udah beberapa hari ini aku libur".
"Soalnya aku rindu naik bis bareng kamu" kata Raisa dengan raut wajah sedih.
"Udah dong jangan sedih lagi. Mau aku anterin aja sampai ke sekolah?".
"Maksudnya kamu nemenin aku naik bis gitu?" tanya Raisa.
"Iya".
"Memangnya nggak apa-apa?".
"Iya nggak apa-apa. Demi kamu aku mau kok".
"Ihh beb aku terharu. Iya, aku mau kamu anterin".
"Oke, cepat dimakan dulu sarapannya" ujar Naufal.
"Siap beb".
Raisa segera melahap makanan buatan suaminya itu dengan sangat lahap.
Setelah selesai sarapan, Naufal ikut bersama Raisa untuk naik bis.
"Aku gugup beb".
"Gugup kenapa?".
"Karena hari ini ujian terakhir. Terus kalau nanti aku nggak lulus gimana?".
"Kok mikirnya gitu? Harus optimis dong" ucap Naufal.
"Iya beb, kamu benar".
Naufal merasa aneh melihat lengan baju Raisa sangat panjang. Biasanya dia selalu menggulung lengan bajunya yang kebesaran, tapi beberapa hari ini, dia membiarkan seragamnya kepanjangan tanpa menggulungnya.
"Beb, sini aku gulung lengan baju kamu. Kok dibiarin kepanjangan gitu sih".
"Eh nggak usah beb, nggak apa-apa. Nanti dimarahin guru kalau digulung".
"Memangnya iya? Digulung dikit aja beb. Jelek banget kelihatannya itu" paksa Naufal.
"Nggak mau" tolak Raisa.
"Aku curiga deh".
"Curiga kenapa?".
"Pasti kamu sembunyiin contekan dilengan kamu ya" selidik Naufal.
"Kok tahu? Ups" kata Raisa keceplosan.
"Ohh jadi benar ya? Kenapa kamu nyontek beb? Kan aku udah ajarin kamu belajar".
"Tetap aja aku susah ingatnya. Aku tuh nggak pintar kayak kamu".
"Nggak ada orang yang bodoh beb. Yang ada cuma malas doang. Lain kali jangan gini lagi ya, aku cuma nggak mau, nanti kamu tergantung dengan contekan terus" ujar Naufal.
"Iya beb. Maafin aku".
"Ya sudah nggak usah dipikirin lagi. Kayaknya bis nya udah sampai nih beb.
Bis telah berhenti di sekolah Raisa.
"Oh iya udah sampai. Aku pergi dulu ya, doain beb" ucap Raisa.
"Pasti, dadah" kata Naufal sambil melambai.
Raisa balas melambai dan turun dari bis.
Eh bis nya pasti ke arah sekolah aku. Terpaksa harus naik ojol nih. Batin Naufal.
Naufal baru ingat kalau bis nya tidak akan menuju ke arah rumahnya lagi, dengan terpaksa ia turun dari bis dan langsung memesan ojol untuk pulang ke rumah.
Demi mengantar istrinya, Naufal rela harus pulang panas-panasan.
Sesampainya di rumah, Naufal langsung membersihkan seisi rumah, ia juga tidak lupa memasak untuk istrinya pulang nanti.
Naufal sudah terlihat seperti suami idaman para istri. Ia melakukan pekerjaan rumah tanpa mengeluh dan tidak pernah menyalahkan istrinya. Tidak salah, kalau Raisa sangat bersyukur memiliki suami seperti Naufal.
.
.
.
Saat ini Raisa akhirnya bisa bernapas lega. Ia telah melewati ujian terakhirnya dengan lancar.
"Akhirnya selesai juga guys. Kita akan bebas" ucap Dara.
"Nggak sabar pengen jadi anak kuliahan nih gue" kata Serly.
"Iya sama" tambah Sevia.
"Kalian mau kuliah dimana rencananya?" tanya Raisa.
"Kayaknya gue disini sih, nggak mau jauh-jauh" kata Sevia.
"Iya gue juga. Gue mah ngikutin dimana Sevia kuliah. Biar ada teman nebeng gitu" ucap Serly.
"Yeee, cuma mau nebeng aja lo" sahut Sevia.
"Kalau gue disuruh kuliah di luar kota" kata Dara.
"Hah? Dimana? Jadi lo mau ninggalin kita nih?" tanya Serly.
"Terpaksa Ser. Gue disuruh kuliah di Yogyakarta, bareng sama kakak gue" jawab Dara.
"Kalau lo dimana Sa?" tanya Sevia.
"Gue kayaknya tunda kuliah dulu" kata Raisa.
"Kenapa?" tanya mereka bertiga kompak.
"Kalian kan tahu sendiri ekonomi aku sama Naufal gimana. Aku cuma nggak mau dia kesusahan gara-gara gue. Mending gue kerja aja dulu, hitung-hitung bantu nambah ekonomi. Nanti tahun depan baru sama-sama kuliah" ujar Raisa.
"Keren lo Sa, dewasa banget pemikiran lo. Salut gue" ucap Dara.
"Iya benar" setuju Sevia.
"Yaah nggak seru kita berempat bakal pisah" ucap Serly.
"Nggak apa-apa yang penting geng 'wanita buas' tetap dihati" ujar Raisa.
Keempat sahabat itu berpelukan. Mereka akan merindukan masa-masa SMA mereka yang penuh suka dan duka.
.
.
.
Raisa baru saja sampai di rumah. Ia sudah disambut dengan aroma wangi dari masakan Naufal.
"Beb, kamu dimana?".
"Kamu udah pulang? Aku di dapur" sahut Naufal.
Raisa segera menuju ke arah dapur dan melihat Naufal sedang menata meja.
"Beb, kamu kok rajin banget sih. Pakai acara bersihin rumah lagi. Itu kan tugas aku" kata Raisa sambil memeluk Naufal yang masih menggunakan celemek.
"Kan aku libur, jadi mending sekalian aja aku bersihin".
"So sweet banget sih suami aku ini".
"Iya dong" Naufal mencium bibir Raisa singkat.
"Ayo makan beb. Kamu pasti udah lapar kan?" tanya Naufal sambil membuka celemeknya.
Raisa mengangguk dan segera duduk di kursi makan.
"Beb, kamu mau lanjut kuliah dimana?" tanya Naufal disela makan siang mereka.
"Aku kuliahnya nanti tahun depan aja beb".
"Apa? Kenapa gitu?" Naufal menghentikan makannya dan menatap Raisa penuh tanya.
"Aku rencananya mau kerja juga setahun ini. Biar bisa nambah keuangan kita".
"Nggak perlu beb. Aku tahu ekonomi kita kecil, tapi aku udah sisihkan uang dari hasil kerja aku untuk kuliah kamu kok. Insya Allah uang itu cukup untuk biaya kuliah kamu" ujar Naufal.
"Mendingan uangnya untuk beli motor aja beb, biar kita nggak naik bis dan bajaj mulu. Lebih banyak pengeluaran loh".
"Tapi orang tua kamu pastinya sangat berharap kamu kuliah, dan aku nggak mau, gara-gara ekonomi kita kamu harus nunda kuliah".
"Beb, ini keputusan aku. Aku yang udah putusin untuk nunda kuliah. Orang tua aku pasti ngerti kok".
"Terus kamu mau kerja dimana?".
"Di tempat kamu kerja".
"Apa? Jangan".
"Loh kenapa? Jangan-jangan kamu punya selingkuhan ya di kantor" curiga Raisa.
"Bukan beb. Aku nggak selingkuh" bantah Naufal.
"Terus kenapa larang aku kerja di tempat kamu?".
"Dunia kerja keras beb. Sama sekali nggak mudah. Aku takut kamu nggak kuat".
"Nggak apa-apa. Asal bareng kamu, aku siap kok".
"Tapi..".
"Nggak ada tapi-tapi. Pokoknya nanti aku akan hubungin papa Tio, agar bisa jadi pekerja magang kayak kamu" potong Raisa.
"Ya sudah, terserah kamu beb" kata Naufal mengalah.
"Nah gitu dong. Oh iya, soal motor tadi kita beli motor baru ya, terus langsung lunas aja".
"Kita beli motor bekas aja beb yang penting masih layak pakai, uang aku nggak cukup kalau harus motor baru".
"Nanti ditambah pakai uang tabungan aku aja. Aku nggak mau motor bekas beb, nanti gampang rusak. Mending sekalian baru, tapi bisa tahan lama".
"Tapi itu uang tabungan dari orang tua kamu".
"Terus kenapa? Kita kan suami istri, sudah sepatutnya berbagi. Udah beb, jangan diterusin lagi. Pokonya fix kayak gitu. Kalau kamu bantah lagi, aku cium nih sampai adik kamu yang dibawah itu berdiri" ancam Raisa.
"Kok ancamannya ngeri ya?".
Naufal segera menutupi bagian bawahnya dengan tangan.
"Kenapa ditutupin? Apa jangan-jangan bebeb nggak tahan juga ya?" goda Raisa.
"Jangan macam-macam beb" kata Naufal, berlari ke kamar.
"Ihh udah nggak tahan pasti. Beb tungguin aku, aku udah siap kok" teriak Raisa, tertawa cekikikan.
Mampir thor🙋🙋