Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Vitals: Stable, Heart: Taken
Dua Tahun Kemudian.
Heidelberg, Jerman.
Musim dingin di Jerman tidak kenal ampun. Suhu di luar mencapai minus 5 derajat Celcius, membekukan Sungai Neckar menjadi hamparan es kelabu.
Namun, di dalam sebuah apartemen minimalis di pusat kota tua, suasana terasa hangat.
"Rania! Jangan taruh kaos kaki basah di atas heater! Itu bahaya kebakaran dan... tidak estetis!" teriak Adrian dari arah dapur.
Rania, yang sedang meringkuk di sofa tebal sambil membaca buku tebal Advanced Trauma Life Support, hanya memutar bola matanya. "Biar kering, Ad. Lagian kaos kakinya gambar panda, matching sama muka lo kalau lagi marah."
Adrian muncul dari dapur membawa dua cangkir kopi. Dia mengenakan turtleneck wol warna abu-abu dan apron masak. Rambutnya kini sedikit lebih panjang, memberikan kesan "Profesor Eropa yang Seksi".
"Kopi. Arabica 70%, Robusta 30%. Suhu air 92 derajat. Tanpa gula," Adrian meletakkan cangkir di meja dengan presisi milimeter.
"Makasih, Suamiku yang bawel," Rania menutup bukunya, mengambil kopi itu, dan menyesapnya nikmat. "Besok kita pulang ke Indo, ya? Nggak kerasa udah dua tahun."
Adrian duduk di samping Rania, merangkul bahu istrinya. "Dua tahun yang produktif. Kamu dapet gelar Fellow, saya dapet sertifikasi Micro-Surgery tingkat lanjut. Dan yang paling penting..." Adrian menyeringai. "...saya berhasil ngajarin kamu cara misahin sampah organik dan anorganik."
"Halah. Itu karena didenda pemerintah Jerman kalau salah buang, tau!" Rania tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu Adrian.
Mereka menatap ke luar jendela, melihat butiran salju turun.
"Siap balik ke medan perang RS Citra Harapan?" tanya Adrian.
"Siap. Gue denger Kevin udah lulus koas dan sekarang jadi dokter jaga tetap di UGD. Yanti naik pangkat jadi Kepala Keperawatan. Dan bokap lo..."
"Papa?" Adrian terkekeh. "Papa baru aja kirim foto dia lagi facial lumpur di Bali. Sejak dia pensiun dan nyerahin kursi CEO ke manajemen profesional, dia jadi lebih glowing dari saya."
"Hidup itu lucu ya, Ad," gumam Rania. "Dulu kita mau bunuh-bunuhan di UGD. Sekarang kita malah nggak bisa tidur kalau nggak sebelahan."
Adrian mencium puncak kepala Rania. "Itu namanya acquired taste. Kayak kopi pahit. Awalnya nggak suka, lama-lama kecanduan."
Satu Minggu Kemudian.
RS Citra Harapan, Jakarta.
Kedatangan Adrian dan Rania disambut layaknya pahlawan perang yang pulang kampung. Spanduk besar bertuliskan "WELCOME HOME DR. ADRIAN & DR. RANIA" (dengan font Comic Sans yang pasti dipilih Yanti) terbentang di lobi.
"DOKTER RANIAAA!"
Kevin—yang sekarang sudah memakai jas putih dokter umum dengan name tag dr. Kevin Anggara—berlari menyambut. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Adrian.
"Waduh... Dokter Adrian auranya makin serem. Kayak aktor drakor antagonis," bisik Kevin pada Yanti.
"Siang, Kevin," sapa Adrian datar, melepas kacamata hitamnya. "Saya liat kancing jas kamu copot satu. Jahit sekarang atau lari keliling lapangan?"
"SIAP JAHIT, DOK!" Kevin langsung panik meraba jasnya.
Adrian tertawa, lalu menepuk bahu Kevin keras. "Bercanda. Senang bertemu kamu lagi, dr. Kevin. Saya dengar diagnosa kamu makin tajam."
Mata Kevin berkaca-kaca dipuji idolanya.
Rania melihat sekeliling RS. Banyak yang berubah. Lantai lebih bersih, cat dinding baru, dan... ada gedung baru di sayap kiri.
"WIJAYA INTEGRATED CENTER: TRAUMA & AESTHETIC"
"Itu hadiah Papa," bisik Adrian di telinga Rania. "Lantai 1 buat Trauma Center, wilayah kekuasaan kamu. Lantai 2 buat Klinik Estetika, wilayah saya. Kita kerja satu gedung, beda lantai."
"Jadi kalau ada pasien kecelakaan parah..."
"...Kamu selamatin nyawanya di bawah, terus kirim ke atas buat saya benerin wajahnya," sambung Adrian. "Sirkulasi bisnis yang sempurna, kan?"
Rania menyikut perut Adrian. "Dasar otak bisnis! Tapi... gue suka."
Tiga Tahun Kemudian.
Rumah Kediaman Adrian & Rania.
Minggu pagi di rumah keluarga Bratadikara adalah definisi dari "Kekacauan yang Terorganisir".
Rumah itu tidak lagi bergaya minimalis kaku seperti apartemen Adrian dulu. Sekarang, ruang tamu dipenuhi mainan karet, botol susu, dan... bau minyak telon.
"Lia! Jangan makan krayon!" teriak Adrian panik.
Seorang balita perempuan berusia 2 tahun, Amelia Bratadikara, sedang duduk di karpet bulu mahal, belepotan cokelat (atau krayon cokelat?) di seluruh wajahnya.
Amelia adalah kombinasi sempurna dari kedua orang tuanya: Wajahnya cantik dan angelic seperti Adrian, tapi kelakuannya... bar-bar seperti Rania.
"Mama! Papa malah!" adu Amelia dengan cadel.
Rania muncul dari kamar tidur, menguap lebar, rambutnya acak-acakan khas bangun tidur. Dia memakai kaos oblong Adrian yang kebesaran.
"Kenapa sih pagi-pagi udah heboh?" tanya Rania santai.
"Liat anak kamu!" Adrian menunjuk Amelia dengan wajah horor. "Dia melukis abstrak di wajahnya pakai cokelat batangan impor saya! Itu Valrhona 70%, Rania! Dan liat karpetnya... noda cokelat di karpet putih..."
Adrian tampak seperti mau pingsan. Obsesi kebersihannya sedang diuji level maksimal.
Rania malah tertawa terbahak-bahak. Dia duduk di karpet, mengambil tisu basah.
"Sini, Sayang. Mama bersihin," Rania mengelap wajah gembul anaknya. "Papa tuh lebay. Cokelat kan enak ya, Lia?"
"Enak!" seru Lia.
Adrian memijat pelipisnya. "Kalian berdua... benar-benar sekongkol untuk membunuh saya pelan-pelan dengan kuman dan noda."
Rania berdiri, berjalan mendekati Adrian yang sedang stress. Dia melingkarkan lengannya di leher suaminya.
"Tapi lo bahagia kan?" goda Rania.
Adrian menatap Rania. Lalu menatap Amelia yang sekarang sedang mencoba memakaikan kacamata hitam Adrian ke boneka beruangnya.
Adrian menghela napas, lalu senyum tipis muncul di bibirnya.
"Bahagia," aku Adrian. "Sangat bahagia sampai rasanya menakutkan."
"Nggak perlu takut. Gue di sini. Lia di sini," kata Rania. "Kita sterilin bareng-bareng."
Adrian mencium kening Rania. "Kamu belum mandi."
"Lo juga belum. Lo bau susu basi."
"Ini muntahan Lia tadi pagi," Adrian meringis. "Saya butuh mandi kembang tujuh rupa."
Tiba-tiba HP Rania berbunyi. Nada dering khusus dari RS.
Wajah santai Rania langsung berubah serius. Adrian pun refleks menegakkan punggung.
"Halo? UGD?" jawab Rania. "Apa? Kecelakaan konstruksi? Tiga korban? Oke, saya OTW."
Rania menutup telepon. "Panggilan tugas. Minggu pagi batal santai."
"Saya ikut," kata Adrian otomatis. "Pasti ada trauma wajah atau tangan."
"Terus Lia gimana?"
"Pak Wijaya!" seru mereka barengan.
Lima menit kemudian, mereka sudah siap dengan baju rapi. Mereka menitipkan Amelia ke Baby Sitter sementara sambil menunggu Pak Wijaya datang menjemput cucu kesayangannya (Pak Wijaya sekarang lebih sering dipanggil 'Opa Ganteng' dan hobi membelikan Amelia mainan dokter-dokteran berlapis emas).
Di dalam mobil menuju RS, Adrian menyetir dengan cekatan membelah jalanan Jakarta. Rania duduk di sebelahnya, mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda yang praktis.
Adrian melirik Rania. Istrinya itu. Partner kerjanya. Belahan jiwanya.
Dulu, Adrian berpikir pasangan ideal adalah seseorang yang sempurna, rapi, dan sepadan secara sosial.
Ternyata, pasangan ideal adalah seseorang yang bisa diajak lari menerobos badai, yang tidak takut darah, dan yang bisa membuat kekacauan menjadi terasa seperti rumah.
"Rania," panggil Adrian.
"Hm?" Rania sedang mengecek pesan grup UGD.
Adrian meraih tangan kiri Rania, menggenggamnya erat di atas persneling. Cincin pernikahan mereka berkilau tertimpa sinar matahari.
"Tanda-tanda vital saya stabil," kata Adrian tiba-tiba.
Rania menoleh, bingung. "Hah? Lo sakit?"
"Nggak. Tanda vital stabil," ulang Adrian sambil tersenyum menatap jalan. "Tekanan darah normal. Nadi normal. Respirasi normal."
Rania tersenyum, mengerti arah pembicaraan ini.
"Dan jantung?" tanya Rania.
Adrian menempelkan tangan Rania ke dadanya yang berdetak tenang namun kuat.
"Heart: Taken. Forever," bisik Adrian.
Rania tertawa kecil, matanya berbinar bahagia. Dia mengecup punggung tangan Adrian.
"Diagnosis diterima, Dokter Adrian. Prognosis: Bahagia selamanya. Tanpa komplikasi."
Mobil mereka berbelok masuk ke gerbang Rumah Sakit Citra Harapan. Sirine ambulans menyambut mereka. Tugas memanggil.
Mereka bukan lagi Pangeran Bedah Plastik yang sombong atau Tukang Jagal yang kasar.
Mereka adalah Dr. Adrian dan Dr. Rania.
The Scalpel and The Skincare.
Pasangan terbaik yang dimiliki rumah sakit ini.
Dan saat mereka turun dari mobil, berlari berdampingan menuju pintu UGD, tangan mereka sempat bersentuhan sekilas—sebuah janji tanpa kata bahwa apa pun yang terjadi di dalam sana, mereka akan menghadapinya berdua.
...****************...
- TAMAT -
Novel "Scalpel & Skincare: Resep Cinta Gawat Darurat" telah selesai dalam 30 Bab!
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget