Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.
Sialnya, itulah nasib Vivienne.
Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.
Persetan dengan alur asli!
Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.
"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."
Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Melawan Kostum & Pelayan
Baru saja aku bertekad untuk mencari dapur, suara ketukan pintu yang sopan namun tegas terdengar.
"Tok. Tok. Tok."
Tanpa menunggu jawaban—khas pelayan bangsawan yang merasa punya kunci cadangan ke seluruh aspek kehidupan majikannya—pintu terbuka. Seorang wanita muda berseragam pelayan hitam-putih masuk membawa baskom perak berisi air mengepul dan tumpukan handuk.
Namanya... kalau tidak salah Marie. Atau Anne? Ah, semua pelayan di novel ini deskripsinya mirip: rambut cokelat dikepang, wajah berbintik-bintik, dan ekspresi lelah karena digaji rendah. Kita panggil saja dia Marie.
Marie berhenti mendadak saat melihatku sudah berdiri di tengah ruangan dengan rambut acak-acakan ala singa bangun tidur. Matanya membelalak, seolah melihat hantu leluhur Hart sedang joget TikTok.
"Nona Vivienne? A-Anda sudah bangun?" tanyanya, suaranya sedikit gemetar. Baskom air di tangannya bergoyang, membuat sedikit air tumpah ke karpet mahalnya.
"Belum, ini arwah saya lagi gentayangan cari kopi," jawabku asal.
Marie mengerjap, bingung. "Kopi? Maksud Nona... teh pagi?"
Aku menghela napas panjang. Lupa kalau di sini konsep americano belum ditemukan. "Lupakan. Ya, saya sudah bangun. Dan saya lapar. Lapar yang bisa bikin saya makan orang kalau tidak segera dikasih asupan."
Marie buru-buru meletakkan baskom di meja cuci muka. "Maafkan saya, Nona! Saya pikir karena perjalanan jauh kemarin, Nona akan bangun siang. Saya akan segera siapkan gaun Anda agar Nona bisa turun sarapan."
"Bagus," kataku sambil berjalan mendekati baskom. Tidak ada sikat gigi elektrik, tidak ada pasta gigi rasa mint. Hanya ada bubuk aneh yang baunya seperti kapur dan sikat dari bulu babi hutan kasar. Selamat tinggal kesehatan gusi, batinku miris sambil mulai membasuh wajah.
Setelah ritual mandi bebek yang tidak memuaskan—serius, orang zaman dulu cuma ngelap badan pakai kain basah?—tibalah momen yang paling kutakuti: Berpakaian.
Marie mengeluarkan sebuah benda dari lemari. Benda itu terlihat seperti rangka tulang ikan paus yang dililit tali tambang kapal.
Korset.
"Nona, mari," kata Marie dengan senyum profesional yang menyembunyikan niat sadis.
Aku menatap benda itu ngeri. "Marie, jujur sama saya. Itu alat penyiksaan peninggalan zaman Inkuisisi atau pakaian dalam?"
"Ini korset sutra model terbaru dari Ibukota, Nona," jawab Marie polos. "Nona Bianca juga memakai model yang sama."
"Oke, kalau Bianca mau pinggangnya putus, itu urusan dia. Tapi saya nggak mau."
"Tapi Nona harus memakainya agar gaunnya pas."
Dengan berat hati, aku membiarkan Marie melilitkan benda laknat itu ke tubuhku. Awalnya terasa seperti dipeluk erat. Masih oke. Tapi kemudian, Marie mulai menarik talinya.
"Tarik napas, Nona," instruksi Marie.
Aku menarik napas.
Sret!
"Ah!" pekikku. "Marie! Itu terlalu kencang!"
"Sedikit lagi, Nona. Pinggang Anda harus terlihat ramping." Marie menumpukan kakinya ke punggungku—iya, dia beneran nginjek punggung gue—dan menarik tali itu sekuat tenaga kuda.
"HEH! HEH!" Aku menepuk-nepuk lengan Marie panik. "Marie, denger ya! Di dalam situ ada organ ginjal, hati, limpa, sama usus dua belas jari! Itu semua ciptaan Tuhan, Marie! Jangan kamu gencet sampai jadi perkedel! Longgarkan!"
"Tapi Nona..."
"Longgarkan atau saya tuntut kamu pasal penganiayaan organ dalam!"
Marie akhirnya menyerah dan melonggarkan talinya sekitar dua sentimeter. Aku menghirup napas rakus. Rasanya oksigen adalah barang mewah. Pinggangku mungkin tidak seramping biola, tapi setidaknya ginjal saya masih berbentuk kacang, bukan bubur.
"Sekarang, gaunnya," kata Marie, sedikit kecewa karena gagal membentuk tubuhku jadi jam pasir ekstrem.
Dia membuka lemari lebar-lebar. Isinya adalah lautan kain chiffon, sutra, renda, dan pita dalam segala warna pastel.
"Yang ini cantik, Nona," Marie mengeluarkan gaun berwarna pink mencolok dengan ruffles bertumpuk-tumpuk yang membuat gaun itu terlihat seperti kue tart berjalan. "Ada hiasan pita besar di dada dan renda di pergelangan tangan."
Aku menatap gaun itu dengan tatapan menilai. "Marie, itu beratnya berapa kilo?"
"Mungkin sekitar lima kilo, Nona. Dengan rangka roknya."
"Lima kilo?" Aku tertawa hambar. "Marie, kalau tiba-tiba Duke Damian ngamuk bawa senapan berburu, atau ada anjing gila lepas, menurut kamu saya bisa lari pakai gaun seberat tabung gas elpiji itu? Gak bisa. Saya bakal mati konyol keserimpet rok sendiri."
Marie lagi-lagi melongo. "Kenapa... Duke akan ngamuk bawa senapan?"
"Antisipasi, Marie. Hidup di rumah ini butuh kewaspadaan tingkat tinggi," jawabku sambil menggeser gantungan baju. Aku mencari-cari sesuatu yang lebih manusiawi.
Mataku tertumbuk pada sebuah gaun berwarna biru langit. Potongannya sederhana, tidak terlalu banyak renda, dan bahannya terlihat ringan.
"Itu saja," tunjukku.
"Itu? Itu gaun musim lalu, Nona. Kurang mewah untuk sarapan pertama bersama keluarga Hart," protes Marie.
"Justru itu. Saya mau makan, bukan mau fashion show," kataku tegas. "Lagipula warnanya cerah, bikin ilusi kalau saya orangnya ceria dan tidak berbahaya. Strategi kamuflase, Marie. Kamu gak akan paham."
Marie akhirnya pasrah. Dia membantuku memakai gaun biru itu. Masih ribet, tapi setidaknya aku bisa mengangkat tangan tanpa takut ketiak gaunnya robek.
Setelah selesai, aku mematut diri di cermin. Lumayan. Aku terlihat seperti bangsawan sungguhan, bukan cosplayer gagal.
"Ngomong-ngomong, Marie," tanyaku sambil membenarkan posisi kalung mutiara palsu di leherku. "Menu sarapan hari ini apa? Saya butuh rinciannya. Ada protein hewani? Telur, daging, atau ikan? Berapa gram kira-kira? Saya butuh tenaga ekstra hari ini untuk menghadapi tekanan sosial."
Marie menatapku kosong, seolah aku baru saja berbicara bahasa alien. "Ehm... ada sup krim, roti, dan... burung puyuh panggang, Nona."
"Burung puyuh?" Mataku berbinar. "Bagus. Protein tinggi. Pastikan paha burungnya buat saya ya. Jangan dikasih ke Duke semua."
Aku berbalik menuju pintu, meninggalkan Marie yang masih mematung di tengah kamar dengan ekspresi shock berat. Dia pasti berpikir sepupu Nona Bianca ini kepalanya terbentur kereta kuda saat perjalanan ke sini.
Dan dia tidak sepenuhnya salah. Vivienne yang lama memang sudah hilang.
"Ayo, Marie!" seruku dari ambang pintu. "Tunjukkan jalan ke ruang makan. Perut saya sudah demo minta logistik!"