Cassidy tak lagi punya apa-apa untuk diberikan pada dunia. Pernikahannya hancur oleh pengkhianatan, dan seluruh hidupnya kini bertumpu pada satu hal: menyelamatkan putri kecilnya yang sekarat. Ketika biaya operasi menjadi jurang yang mustahil ia seberangi, seorang pria asing bermata dingin datang dengan tawaran gila—satu juta dolar, dengan satu syarat: tiga puluh hari hidup di sisinya.
Pria itu Nicolás Tomasolli, penguasa dunia yang tak boleh disentuh siapa pun. Bagi Cassidy, kesepakatan ini hanyalah jalan keluar. Baginya, ada rencana yang jauh lebih dalam dari sekadar uang.
Tapi tiga puluh hari cukup untuk mengubah segalanya. Cukup untuk membuat dua orang yang seharusnya saling memanfaatkan justru saling jatuh. Cukup untuk membongkar rahasia berdarah tentang siapa Cassidy sebenarnya—rahasia yang bahkan tak pernah ia ketahui, dan yang membuat namanya diperebutkan oleh kerajaan-kerajaan paling berbahaya di dunia.
Dari gemerlap Roma hingga dinginnya Moskow, dari ranjang mewah hingga medan pertumpahan darah, ini kisah tentang cinta yang lahir dari kesepakatan terlarang, tentang perempuan rapuh yang dipaksa takdir menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan dari para pria di sekelilingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pitufina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Mrs. Matzkevich, I hope I don't bother you." (Nyonya Matzkevich, semoga saya tidak mengganggu Anda.) Aku memandang orang-orang yang menemaniku dan memberi isyarat bahwa aku akan bicara di tempat yang lebih terpencil. Kulihat tatapan bingung Magdalena dan María, tapi mereka mengerti panggilan ini penting.
"Hello Dr. Lewis, how are you? Did something happen that is calling me?" (Halo, Dokter Lewis, apa kabar? Apakah ada sesuatu sampai Dokter menelepon saya?) Aku susah menelan ludah, masih ada waktu sebelum kami berangkat ke Amerika Serikat.
Malcom Lewis adalah kardiolog anak yang diakui di seluruh dunia. Ia memberi ceramah di berbagai negara tentang gangguan koroner pada anak, tentang cara mendeteksi dan merawat anak-anak dengan penyakit semacam itu. Sekitar lima tahun lalu aku mendapat kehormatan membuatkan gaun pengantin untuk istrinya, dan kami juga membuat gaun para pengiring pengantin yang mendampinginya waktu itu. Andai ada yang bilang bahwa suatu hari aku akan mencarinya ke mana-mana demi putriku, mungkin aku sudah tertawa. Tapi kenyataannya, tiga tahun kemudian, aku menelepon berbagai negara berusaha menemukannya. Akhirnya aku mendapat alamat dan nomor telepon klinik anak yang ia buka di Los Angeles.
Baik ia maupun istrinya terbang ke Argentina untuk mengenal Hannah dan memahami betul penyakitnya, demi menemukan pengobatan terbaik yang mungkin. Waktu itu gadis kecilku sudah melewati operasi pertama, ketika mereka memasang dua stent agar arterinya tidak tersumbat. Aku ingat bagaimana istrinya menopangku saat kondisi Hannah kembali memburuk dan mereka harus mengoperasinya untuk kedua kali. Hidupku runtuh setiap kali Hannah menangis. Pada rawat inap terakhirnya, Lewis bilang ia ingin menjadi dokter Hannah dan menjelaskan padaku apa yang akan mereka lakukan di negaranya, betapa majunya mereka dalam bidang itu, dan peluang hidup yang akan dimiliki Hannah jika dioperasi. Aku tak ragu sedetik pun, meski mertuaku berpikir mungkin kami perlu konsultasi lagi dengan dokter lain.
"Luckily we are fine and you? How is Hannah?" (Untungnya kami baik-baik saja, dan Anda? Bagaimana kabar Hannah?) tanyanya.
"We are fine, we are still in Italy. It's a long story, in a few days we will travel from here directly to the United States. I have already arranged a temporary rental contract there with an agency to be able to prepare for the operation." (Kami baik-baik saja, kami masih di Italia. Ceritanya panjang, beberapa hari lagi kami akan langsung terbang dari sini ke Amerika Serikat. Saya sudah mengurus kontrak sewa sementara di sana lewat sebuah agen agar bisa bersiap untuk operasi.) Aku mengaku tanpa memberinya banyak detail.
"On the one hand I am happy to know that they took more vacation days, I think the three of them needed it a lot after everything they went through and what is still missing, on the other hand my call is to inform you that we will advance the surgery, maybe we will not wait until Hannah turns four." (Di satu sisi saya senang tahu kalian mengambil lebih banyak hari libur, saya rasa kalian bertiga sangat membutuhkannya setelah segala yang kalian lalui dan yang masih harus dihadapi. Di sisi lain, saya menelepon untuk memberitahu bahwa kita akan memajukan operasinya, mungkin tak perlu menunggu sampai Hannah berumur empat tahun.) Telepon itu hampir terlepas dari tanganku saat ia mengatakannya.
"But why? Did something happen?" (Tapi kenapa? Apa terjadi sesuatu?) tanyaku, takut mendengar jawabannya.
"The sooner the procedure is done the better, apart from that it is not that she is far away from her birthday." (Semakin cepat prosedurnya dilakukan, semakin baik. Lagi pula, ulang tahunnya juga sudah tidak lama lagi.) Kurasa jawaban itu seharusnya melegakanku, tapi entah kenapa aku tetap begitu gugup.
"Well, I will tell Antony to travel from Argentina to there, so we can meet as soon as we land." (Baik, saya akan memberitahu Antony agar terbang dari Argentina ke sana, jadi kami bisa bertemu begitu mendarat.) Aku memberitahunya.
"I thought they were together, but hey, don't worry, we'll wait for you here." (Saya kira kalian bersama, tapi ya sudah, jangan khawatir, kami akan menunggu kalian di sini.) Untungnya ia tidak bertanya apa-apa.
Kami masih mengobrol soal hal-hal sepele sebentar, sementara aku menunggu perasaan ingin menangis itu meninggalkan tubuhku. Setelah menutup telepon, aku tetap sendirian di tempatku, mengumpulkan keberanian untuk kembali ke dapur dan menghadapi pertanyaan yang pasti akan dilontarkan padaku. Selain itu aku juga ingin menenangkan diri dan mencegah air mata jatuh begitu ada yang menyinggung topik ini. Aku harus memikirkan baik-baik bagaimana memberitahu Hannah bahwa kami harus berangkat lebih awal karena dokternya perlu memeriksa dan mengoperasinya. Di satu sisi aku bahagia; jika semua berjalan lancar, baru sepuluh tahun lagi gadis kecilku harus dioperasi kembali. Di sisi lain, aku ketakutan harus melewati itu semua sekali lagi, takut ada yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Aku selalu menjadi lautan emosi, dan kali ini pun tidak berbeda; situasi seperti ini membuatku hampir gila.
Aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali, dan saat merasa siap, kupasang senyum terbaikku lalu masuk kembali ke dapur. Satu-satunya hal yang tidak kusadari adalah bahwa ada seseorang yang menguping dan mengamati apa yang kubicarakan.
Beberapa saat kemudian, aku dan Hannah naik ke atas untuk bersiap. Menurut Nicolás, pukul delapan kami harus sudah siap karena mobil akan menjemput dan mengantar kami ke tempat kami bertemu dengannya. Setelah mandi dan mengeringkan rambut, aku memakaikan Hannah gaun merah cantik dengan tulle pada roknya dan bros kucing kecil di tengahnya. Sementara itu aku memilih gaun hitam pendek yang tadi kucoba. Kalau malam ini mereka akan menghukumku, setidaknya biar menyenangkan juga bagiku. Membayangkan diriku di ranjang bersama Nicolás saja sudah membuat pipiku memerah sedemikian rupa hingga aku tak butuh perona pipi sama sekali.
Tepat pukul delapan, kami sudah berada di luar ketika Guillermo tiba dengan mobil dan turun untuk membukakan pintu bagi kami.
"Selamat malam, Nona-Nona. Semoga kalian siap untuk perjalanan ini," katanya sebelum menutup pintu di belakangku.
Dan begitulah kami berangkat untuk menemuinya, mafioso Italiaku.