NovelToon NovelToon
Perjodohan Dan Pernikahan

Perjodohan Dan Pernikahan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Putritritrii

Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?

Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.

Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.

Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.


"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB27 - MENANGIS

Williams sejenak kaget melihat Dave terdiam dan kedua matanya membola penuh. Ia pun berbalik mengikuti ke mana arah pandangan Dave.

Williams sama seperti respon Dave. Kedua matanya ikuti terbelalak.

"Davina," gumam Williams.

"Agh ... maaf aku bukan mau menguping. Tidak sengaja mau mengantarkan cemilan," ucap Davina menahan sedih yang ada di hatinya. Ia pun berjalan menuju meja yang ada di tengah-tengah kedua pria tersebut. Meletakkan sepiring cemilan cookies. Kedua mata Dave menyoroti setiap gerakan tubuh Davina.

Davina sendiri enggan menatap ke Dave.

"Silahkan di makan Kak sebagai pengganjal sebelum masakan terhidang. Sarapanlah bersama kami. Aku permisi," ucap Davina bergetar. Ia pun melangkah meninggalkan Dave dan Williams.

Kedua pria tersebut mematung seraya mengikuti tubuh Davina yang menghilang ke dapur. Sesampainya di dapur, air mata yang semula ia tahan akhirnya pun tumpah. Sejenak ia berjongkok meluapkan kesedihannya.

"Bukankah dia sendiri yang memintaku untuk belajar mencintainya? kenapa sekarang, dia tidak mengakui dan hanya merasa ibah ke aku." Davina menangis sesenggukan.

Keadaan di ruang tamu pun menjadi kikuk. Williams mengusap kasar wajahnya.

"Kenapa kau hanya diam? apa kau tak merasa kalau Davina mendengar pembicaraan kita?" Williams mencoba menyadarkan Dave.

Dave menarik napasnya kasar.

"Sebentar ... aku mau lihat Davina," ucap Dave seraya beranjak berdiri. Williams cuma bisa menggelengkan kepalanya.

"Suatu saat kau akan menyesalinya, Dave. Jika saja kau masih bermain api dan menyia-nyiakan wanita sebaik Davina. Aku doakan, kau benar-benar tak jatuh cinta dengannya," gumam Williams dalam hati.

Kedua kaki Dave terhenti. Ia tak mendapati keberadaan Davina. Tapi, kompor dan masakan Davina masih menyala. Suara dari penggorangan juga terdengar.

"Kemana dia?" tanyanya dalam hati.

Tiba-tiba, Davina berdiri dengan mengusap air mata yang sempat menggenangi kedua pipinya. Posisi Davina saat itu, sedang memunggungi Dave yang masih berdiri diam menatap Davina. Tanpa Davina sadari, pria itu merasa bersalah akan ucapannya.

Dave memilih menjauh kembali ke Williams. Dia sadar akan kesalahannya. Ia tahu juga, wanita yang sebenarnya sudah mengisi hatinya sedang menangis atas ucapan yang ia katakan tadi.

"Aku gak pantas untuk Davina," gumam Dave dalam hatinya.

Beberapa menit kemudian, Davina datang menghampiri Williams dan Dave. Ia menguatkan hatinya yang sedang rapuh. Memotong obrolan keduanya.

"Ayo kita sarapan. Masakan sudah terhidang," ucapnya dengan menyunggingkan senyum di bibir tipis berwarna peach miliknya.

Dave dan Williams sama-sama menoleh ke Davina. Dave tak melepas kedua mata Davina yang cuma menatap Williams.

"Ia benar-benar pintar menyembunyikan perasaannya. Diluar terlihat baik-baik saja, tapi di dalam hatinya. Aku tahu dia sedang terluka karenaku. Kau bodoh sekali, Dave." Dave membatin.

"Benarkah aku boleh ikut kalian sarapan? aku tidak menganggu kalian, kan?" tanya Williams berbasa-basi.

Davina tersenyum dan menggeleng.

"Tidak dong, Kak. Ayo semuanya ke meja makan," balas Davina. Ia sama sekali tak ingin menemui mata Dave, sedari tadi memandangnya tanpa berkedip.

Williams beranjak berdiri bersamaan dengan Dave. Keduanya sama-sama berjalan menuju meja makan. Setibanya di meja makan, Davina membantu mengambilkan piring untuk Dave. Ia menyendokkan nasi, dan memberikannya ke depan Dave. Dave cuma bisa menunduk dan menerima pemberian Davina.

Williams menatap penuh iri. Sebenarnya, Davina sangatlah sempurna di mata Williams. Wanita sesuai kriteria Williams ada pada diri Davina.

"Silahkan di ambil, Kak," kata Davina ke Williams saat ia memberikan piring.

"Terima kasih, Vin," balas Williams.

Ketiganya pun memulai menyantap makanannya. Kedua pria itu menyendokan suapan pertama ke dalam mulut mereka masing-masing. Keduanya sama-sama terhenti, lalu kembali mengunyah dengan mata menatap Davina. Wanita itu, hanya menunduk menikmati makanan yang ada di hadapannya.

"Sangat enak sekali masakanmu, Vina," ucap Williams memecah keheningan.

Dave menatap wajah Davina yang terangkat memperhatikan Williams. Ia tersenyum membalas tatapan Williams.

"Terima kasih, Kak. Ini masakan pertamaku, untuk Dave. Tapi, karena ada kakak di sini, akhirnya bisa merasakan. Jika suka, seringlah berkunjung ke rumah ini," balas Davina.

"Tidak boleh!" Senyuman Williams surut seketika saat mendengar pengakuan Dave barusan.

Mata Davina menoleh ke arah Dave.

"Gak boleh sering-sering ke sini. Aku tak setuju," balasnya ke Davina. Davina tersenyum simpul, kemudian kembali menoleh ke piring dan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.

"Keterlaluan sekali kau dengan sahabatmu sendiri," cetus Williams.

Dave menoleh ke Williams.

"Segera habiskan makananmu, dan pulanglah. Kau menggangguku saja," balas Dave kesal.

"Kau memang jujur sekali. Baiklah ...."

"Aku mau itu," tunjuk Dave ke Davina. Ia mencari perhatian Davina di depan Williams.

Davina mengarahkan pandangannya ke makanan yang di tunjuk oleh Dave. Ia pun dengan santai, mengambil dan memberikan ke atas piring Dave.

"Terima kasih," ucap Dave.

Davina masih sama seperti sebelumnya. Ia jelas menghindar dari tatapan sang suami, dan Dave pun merasakan itu.

Setelah menghabiskan makanannya. Williams tahu diri, untuk berpamitan pulang dengan si tuan rumah. Davina dan Dave, sama-sama mengantarkan Williams ke depan pintu hingga mobilnya hilang dari tatapan mereka.

Davina berjalan duluan. Memasuki rumah dan kedapur untuk membersihkan meja hingga mencuci piring. Dave datang mendekati Davina yang sedang memunggunginya. Davina cuma berdiam, saat ia tahu bayangan tubuh Dave mendekat ke arahnya.

"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Dave dengan berani.

"Tidak ada. Pergilah ke atas dan segera mandi. Aku sudah mempersiapkan pakaianmu," balas Davina tanpa menoleh ke Dave.

Dave merasa aura dingin dari Davina.

"Apakah kau marah?"

"Tidak," jawabnya singkat seraya sibuk memberikan sabun pada cuciannya.

"Davina. Jika kau marah, aku minta maaf," balas Dave membujuk.

"Jangan terlalu memikirkanku. Aku bukan siapa-siapa. Untuk apa kau repot-repot memikirkan aku marah atau tidak," ucap Davina dengan sekut tenaganya. Ia hanya takut, jika air matanya tumpah di depan Dave. Ia tak mau dikasihani oleh Dave.

Dave menelan salivanya. Ia sangat yakin, kalau Davina memang sakit hati dengan ucapannya tadi.

"Mana mungkin aku tak memikirkan istriku sendiri."

"Itu semua cuma status, Dave. Kau boleh tak menganggapku. Aku sudah pernah katakan, jangan pernah mengasihaniku," balas Davina bergetar.

"Aku tidak menghasihanimu," balas Dave dengan sedikit memaksa.

Davina membawa pandangannya ke arah Dave. Tak tahan dengan ucapan palsu yang Dave katakan sedari tadi.

"Jangan membohongiku. Jangan pula memberikanku harapan banyak darimu. Aku tak bisa mendapati kebaikan dari sebuah rasa kasihan yang kau ciptakan," ucap Davina. Air matanya menggenang. Ia pun tak mampu menutupi segala perasaannya saat itu. Dave benar-benar mengecewakan perasaan yang mulai tumbuh dalam hatinya.

Dave tak kuasa melihat air mata Davina. Tubuh Davina bergetar. Ia tahu, ini benar-benar perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata oleh Davina. Davina menyekah air matanya dan kembali melanjutkan aktivitasnya.

Dave menarik napasnya dalam-dalam dan mengusap kasar wajahnya. Ia sendiri saja bingung dengan keadaan yang di buatnya. Perlahan ia berjalan lebih dekat ke Davina. Ia menyentuh pergelangan tangan Davina, dan menariknya ke dalam pelukannya.

"Lepaskan aku!" bentak Davina seraya mendorong tubuh kekar Dave.

"Aku tidak akan melepasnya," balas Dave.

"Lepaskan aku! jangan mengasihaniku," balas Davina meronta-ronta. Dave menahan tubuh Davina dengan kekuatannya.

"Pergilah sesukamu! Aku tak akan melarang apapun yang kau mau, Dave. Aku tidak akan pernah jatuh cinta dengan pria sepertimu. Jangan pernah mengasihaniku dengan perlakuanmu seperti ini." Davina masih berusaha untuk lepas dari tubuh kekar sang suami.

"Aku salah, Vin," ucapnya dengan tangan kanannya menggenggam kepala Davina dan mengecup puncak kepalanya.

"Lepaskan aku, Dave," teriak Davina.

"Tidak. Aku tak mau," balasnya. Dave benar-benar merasa bersalah membuat air mata menyedihkan itu kembali terulang.

"Tolong, lepaskan aku," ucap Davina di sisa kekuatannya.

Dave masih memeluk erat tubuh Davina, tanpa ingin berniat melepas Davina di keadaan yang serba salah atas perbuatannya. Air matanya hampir kering beberapa saat kemudian. Perlahan, Dave melepas tubuh yang tak lagi bergetar seperti sebelumnya.

Kedua mata mereka saling bertatapan, saat Dave melepasnya. Tangannya hendak terangkat menyentuh mata Davina. Tapi, Davina segera berlari meninggalkan Dave. Tangan Dave menyentuh udara, setelah kepergian Davina. Ia benar-benar terpukul, atas kejadian tak pernah ada dalam pikirannya.

"Apakah aku tak mampu menerimanya dengan sepenuh hatiku?" tanyanya pada dirinya sendiri.

***

Tidak ada tempat untuk mengadu. Kini, Davina memilih mengurung diri di kamar kosong. Ia tidak ingin satu kamar dengan Dave saat itu. Ia meratapi dirinya yang cuma bisa menerima rasa kasihan dari orang sekitarnya, termasuk Dave. Pria yang mulai masuk dan menyentuh hatinya.

"Sesedih ini kah kehidupan yang aku punya?" tanya Davina dalam hatinya.

"Apakah aku tak layak untuk dicintai?"

Tokkk ... Tokkk ... Tokkk ...

"Vin ... tolong buka pintunya. Jangan menghukumku seperti ini," ucap Dave dari luar pintu.

Tokkkk ... Tokkkk ... Tokkkk ...

"Vin ... aku mohon maafkan aku. Berikan aku kesempatan, Vin," kata Dave panik sendiri.

"Pergilah! Aku tak butuh dikasihani," balas Davina dari dalam.

"Aku bukan bermaksud begitu, Vin. Percayalah kepadaku," kata Dave membujuk.

"Aku tak bisa mempercayaimu," balas Davina pelan.

Dave tidak mendengar suara sautan dari dalam. Ia memilih duduk di depan pintu kamar yang ditempati oleh Davina. Ia sendiri terpukul dengan perlakuannya.

"Aku sendiri tidak mengerti dengan perasaanku," kata Dave.

Beberapa jam kemudian. Ruangan terlihat sudah sangat gelap. Tanpa sadar, Davina tertidur di atas lantai dingin kamar kosong itu. Ia pun mengerjap. Perlahan ia meraskaan matanya sangat perih. Ia yakin, ini sudah malam dan dengan cepat ia duduk dan mengumpulkan kesadarannya.

"Ternyata sudah gelap. Aku harus memasak, mempersiapkan makan malam untuknya," ucap Davina sendiri.

Kedua kakinya berjalan menuju pintu. Memutar kunci, lalu menarik handle pintu kamar bercat putih. Ia terkesiap, saat melihat Dave terbaring di depan pintu. Seperti dirinya tadi, ia terbaring di atas lantai dingin yang menyelimuti tubuh mereka yang sepi.

Bersambung.

Like dan komentarnya tolong dikondisikan ya. Pleaseeeee 🤭

1
Margareta Djawan
Lumayan
Margareta Djawan
Biasa
Micke Rouli Tua Sitompul
ecca pelakor
Micke Rouli Tua Sitompul
tinggalkan aja si dave
muhammad anshari
Kecewa
muhammad anshari
Buruk
srimusvita
seru
Vera Wilda
terima kasih Thor...
Vera Wilda
Alurnya agak bolak balik, 🤔🤔🤔
Vera Wilda
selalu aja ada yg mengganggu jd gak selesai2 🤭😄😄😄
Vera Wilda
kelamaan banget Thor dg situasi SPT ini, belum ada perkembangan mereka berdua, jd bosan dikit 🤭😊
Vera Wilda
kok Dave ngomong nya jd begitu ? ngomong SM Davina nya mau sama2 belajar mencintai sekarang ngomong k William lain lagi...
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔
Vera Wilda
masak iya Davina cuma gara2 d cium aja marah, dia kan suami mu, agak lebay sich sikap Davina ... 😊
Vera Wilda
hadir nich Thor ....
Rari
Cerita menarik tidak bertele2
Melani Mardiansyah
rekomemded banget cerita ny
Siti Aminah
😊
Ayu Prasetyowati
❤️❤️
Risti Sari
👍❤
sari emilia
kl gtu hrs nya byk berdoa ucp syukur krn selamat bukan mlh minun2an....dasar manusia tdk berguna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!