NovelToon NovelToon
Cinta Ksatria Yudha Di Ufuk Cakrawala

Cinta Ksatria Yudha Di Ufuk Cakrawala

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Keluarga / Karir / Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:730k
Nilai: 4.9
Nama Author: sinta amalia

Deminya ia rela mempertaruhkan nyawa. Pengabdian dan sumpah setia selalu menjadi prinsip di atas segalanya. Namun ketika pengabdian dan sumpah setia itu diuji dengan penghianatan, akankah ia berpaling dari janjinya?

"Kami mengabdi tanpa menghitung untung, berjuang di atas harapan sang bumi pertiwi, di seluruh penjuru langit khatulistiwa kami mengudara, mengumandangkan sumpah setia pada negri."

Bersama gadis pujaan hati, kisah Lettu Pratama Adiyudha mengudara melintasi cakrawala bumi pertiwi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Mahasiswa versus aparat part 3

Bukan bergandengan tangan kaya model video klip lagu romantis, tapi lebih seperti pak tentara yang lagi gandeng bocah tk ilang. Begitulah potret gaya pacaran mas tentara dan Clemira.

"Kita mau kemana, mas?" tanya Clemira bertanya, namun tak jua mendapatkan jawaban dari Tama hanya tatapan menoleh singkat sebagai bukti kalau telinga Tama mendengar pertanyaan dari Clemira meskipun kini pendengarannya tak karuan, ya suara orasi, ya suara sapuan angin, ya orang ngobrol, ya tukang kopi berseliweran di pinggiran bahu jalan didampingi suara toa tukang tahu bulat. Fix, demo kali ini tuh meriah! Kaya bazzar.

"Kemana?" kedua alisnya kini naik kembali bertanya, memastikan jika Tama mendengar dan menjawab kali ini.

"Ke neraka, mau?" geramnya penuh penekanan ketegasan ciri khas aparat, berharap Clemira takut dan menyesali tingkahnya hari ini. Rasa kesal masih menyelimuti hati, di tengah cuaca panas, hatinya ikut-ikutan mendidih karena melihat Clemira yang mengikuti demo, dan si alnya ia tak tau itu sedari awal. Apakah wanita memang begitu?

Bukannya takut, Clemira justru malah tergelak, tak memperdulikan para mahasiswa dibelakangnya kembali teriak-teriak sampai urat putus atau bikin hujan lokal berbau jengkol kepada mahasiswa yang ada di bawahnya, tau gitu besok-besok kalo demo bawa payung umi! Bahkan ia sampai lupa nasib Sani, yang entah dimana rimbanya.

Tama membawa Clemira berjalan dengan sangat hati-hati melewati para pendemo hingga sampai ke pembatas barikade diantara jalanan dan pagar luar gedung hijau.

"Ngga usah ngaco. Kalo mau ke neraka, mas aja sendiri, ngga usah ajak-ajak aku...aku masih normal, cinta surga..." jawabnya menerima uluran tangan Tama yang membantunya menaiki tembok meninggi di sisi luar area pendemo demi melintas dan menyebrang ke barikade aparat secara aman. Bahkan Tama tak sungkan menggendong Clemira saat medannya sedikit menyulitkan bagi Clemira. Really? Cinta surga tapi doyannya bikin abi Ray dan umi Eyi ngelus dadha.

Gendong-gendongan di acara demo tentu tak ada dalam list moment romantis idaman Tama ataupun Clemira, namun justru adegan tak disengaja itu mampu membuat Clemira senang jedag-jedug di dalam hatinya.

Kini warna-warni jas almamater berganti dengan warna gelap, muka-muka glowing karena berminyak berubah jadi muka serem dan gahar seiring masuknya Clemira ke barisan barikade aparat.

"Bang," sapa beberapanya angguk pada Tama namun tatapannya tak bisa lepas dari gadis mahasiswa yang dibawa Tama kaya lagi bawa anak tuyul meski sedetik kemudian tangan Tama turun pasa genggaman yang saling mengisi sela-sela jari Clemira.

Love at the war...

Tama membuka helmnya dan membawa Clemira menuju pos aparat, "kalo mas tinggal, kamu bisa diem dan tunggu aja, kan?" tanya Tama memastikan, ia tak mau kecolongan lagi kali ini. Alis Clemira naik sebelah.

"Ndan," angguk beberapa personel aparat yang menghuni pos aparat pada Tama. Dan Tama menarik satu kursi untuk di duduki Clemira.

"Mas mau kemana emangnya?" tanya nya, ingin rasanya Tama menggetok kepala Clemira dengan palu.

"Nugas." Ia lantas berjongkok di depan gadisnya yang dipenuhi peluh, Tama lantas menaruh sejenak senjatanya berdiri di tembok samping. Meminta Clemira melepas tasnya lalu membuka resleting tas yang digendong oleh kekasihnya itu, ia selalu tau isian tas milik Clemira, tissue, tumbler minum, dompet dan pocket bedak kecil, hmmm.

Dirogohnya tissue dan botol tumbler milik Clemira, lalu memberikan itu pada gadisnya, "keringetan. Minum dulu," titahnya membuka serta buff miliknya, di luar tadi cukup panas dan bikin pengap rupanya.

"Ngapain ikut beginian? Mas yakin abi ngga ijinin." Tebaknya, Clemira menyerahkan tumbler miliknya pada Tama, tau jika mas gula arennya itu sama hausnya dengan dirinya, dan Tama menerima itu meski saat meminumnya, pria itu menjauhkan bibir botol jauh di atas bibirnya, lalu menenggak air mineral itu seperti sedang menenggak air terjun.

Namun jawaban di luar ekspektasi Tama bikin Tama terkejut tak percaya, karena Cle justru menggeleng, segera ia menyelesaikan tegukannya karena hampir tersedak.

"So tau. Yang anaknya abi tuh aku apa mas Tama?"

Dan demi apa, alis Tama jomplang sebelah kaya jumlah pengeluaran dan pemasukan negara.

Tapi untuk saat ini, apapun jawabannya, urusan tugas negara lebih penting, meskipun hatinya sudah kelojotan tak percaya dengan jawaban bohong Clemira, dan ingin mendebat gadisnya itu saat ini.

Tak semudah itu ia percaya pada ucapan Clemira, karena percaya pada pacarnya ini sungguh menyesatkan.

Tama berdiri dari jongkoknya, "tunggu disini. Nanti mas balik lagi kesini kalo kerjaan selesai, terus anter kamu pulang. Nanti mas titipin ke bawahan yang jaga disini."

Namun alisnya menukik tajam, "kenapa ngga bawahan mas aja yang suruh ke depan gantiin posisi mas. Ngapain juga Cle nunggu disini kaya induk ayam yang lagi ngeramin telor..."

"Mana ngga dikasih makan pula. Mas, ngga ada niat pesenin siomay atau baso gitu? Minimalnya nasi kotak gitu, ransum tentara, lumayan lah buat ganjel perut..." sewotnya tawar menawar, membuat Tama tak habis pikir, udah tau demo bikin laper kenapa pake so-so'an ikut-ikutan demo?! Ia menghela nafasnya lelah.

"Nyesel deh Cle ngga bawa bekel dari rumah tadi," ujarnya dengan santai. Tama terkekeh kecil sebab gemas juga pada akhirnya, yang benar saja, dikira demo ini acara nobar film?!

Tama berkacak pinggang dan menunduk agar wajahnya menatap Clemira dalam jarak yang lebih dekat lagi, "tau kan resikonya ikutan beginian, kenapa ngga diem aja di rumah, nonton kartun kaya biasanya, nduk?! Untung ini situasinya ngga chaos, kalo sampe rusuh disana terus mas ngga tau kamu disana, mau gimana?" tantang Tama kesal, ia meninggikan nada bicara meskipun tidak berteriak, namun gadis ini tak pernah kehabisan akal untuk menjawab pertanyaan Tama.

"Cinta sejati mah selalu tau dimana separuh hatinya berada, iye kannn?!" angguknya mantap, dasar budak micin!

"Nanti Cle kirim sinyal cinta deh..." nyengirnya manis, membuat Tama gemas sekaligus ingin menjedotkan kepalanya sekencang mungkin ke tembok. Kekasihnya itu memang jelmaan barbie fairytopia yang kerjaannya ngehalu. Atau jangan-jangan dia kesini naik kuda pony terbang dianter manusia duyung jejadian....

"Ngeyel." Tama mengusap wajah Clemira kasar membuat wajah nyengir itu seketika berubah mesem.

"Ya gampang lah mas, Cle juga ngga selemah anak kucing...hape Cle masih ada, kuota banyak, ngga usah ribet..." jawaban anak masa kinihhh yang ngga mau ambil pusing dan ujung-ujungnya jawabannya gadget again! Hoft!

"Hah!" serunya, "kalo Cle pesen makan kesini pake aplikasi kira-kira bisa ngga ya mas? mamang ojol mesti lewat kemana ya?!" tanya nya nya, namun sejurus kemudian ia menjawab pertanyaannya itu sendiri, "bisa lah ya, kasih pengawalan gitu."

Kepalanya langsung layu dan menunduk tajam melihat respon slow sang kekasih, yang sepertinya punya nyawa 9. Aturan tuh kalo datang dan liat orang berjubel berhadapan dengan aparat bersenjata lengkap udah pipis duluan di celana, tapi gadis ini anteng saja malah nanyain makan.

"Kamu yang pilih buat ikut-ikutan demo, kalo laper itu resiko yang mesti kamu tanggung, anggap aja lagi puasa...mas balik lagi ke sana. Dan kamu! Tunggu disini, jangan kemana-mana!"

"Ck." ia berdecak, "galak!"

"Hubungi abimu, beliau pasti khawatir..." pinta Tama seraya tangannya memasang kembali buff dan helm. Seketika matanya membeliak, "ya jangan lah!"

Mata Tama langsung memicing, tangannya bahkan sempat terhenti saat sedang memasang helm, klik!

"Hah, ketauan kan ngga ijin?!"

"Ijin kok, ijin!"

"Ijin apa?" tatap Tama menantang.

"Ijin mencintaimu," jawab Clemira.

.

.

.

.

.

1
mrsdohkyungsoo
cimoy dijadikan ancaman
yetti silvia
sukaaaaaa banget
༄⃞⃟⚡Nuyy¹⁸☕
🤣🤣🤣🤣
༄⃞⃟⚡Nuyy¹⁸☕
wakk cerita nya lucu jadi bacanya ikutan mesem²
Anonymous
apa judul novel Gio kak
Anonymous
Terimakasih kak Sin
cerita yang sangat 👍
Anonymous
Sudah aku baca ksk 👍👍👍
Anonymous
Cimoy selamat berbahagia bersama cinta Ksatria Yudha 👍
Anonymous
Jangan sakit Cimoy
Anonymous
lancarkanlah jalannya agar bayi mungilnya dapat diselamatkan
Anonymous
Serba sulit hidup dibumi Timur
Air sulit jalan masih sulit dll fll dll setba sulit
Anonymous
hidup dipedalaman drngan keterbatasan air
Anonymous
Cimoy nggemesin banget
Anonymous
Eh ada yang cekit hati dengar dokter panggil "sayang "
Anonymous
Duh Cimoi .....renang pakai mukena 🤣🤣🤣🤣
Anonymous
ngakak cimoy lucu
Anonymous
Cle lu ngapain diatas panggung 🤣
Anonymous
Clemira .....ngspain disitu🤭
Anonymous
Syukurlah bang Tama dan Bang Pras udah bebas dan tetap dinas di irsatusnnya
Anonymous
Teuku Agrarussel hebat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!