PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ervano. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sambil melihat pada Naima. Gadis itulah yang sudah memberikan tamparan tadi. Mata gadis itu menatap nyalang pada Ervano. Dia sama sekali tidak menyangka pria yang dekat dengannya bisa melakukan hal yang melecehkan harga dirinya sebagai wanita.
“Ima, maafin aku.. aku..”
“Aku ngga nyangka, bang. Serendah itu pikiran abang sama aku!!”
“Ngga, Ima. Ngga begitu. Aku… ngga sengaja. Aku khilaf, maaf.”
“Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menjaga pandangan dan tidak menyentuh yang bukan miliknya. Terima kasih, bang. Aku cukup tahu kelakuan abang seperti apa. Mulai sekarang, lebih baik kita ngga ketemu lagi. Aku tidak membenci abang, tapi bukan berarti aku bisa terus berteman dengan abang.”
Setelah mengatakan itu, Naima segera pergi meninggalkan Ervano dengan perasaan marah, kecewa sekaligus malu. Ervano hanya bisa memandangi kepergian Naima tanpa bisa melakukan apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Lagi
“Siapa kamu?”
“Orang, bang. Sumpah bukan setan,” jawab Iris sambil mengangkat dua jarinya.
“Saya tahu kamu orang, bukan sundel bolong. Ngapain kamu di mobil saya?”
“Maaf bang, mas, kakak, uda, akang, aa.. aku nebeng ya.”
“Ngga ada, turun sana!”
“Please, bang. Saya lagi dikejar-kejar sama depth collector. Orang tua saya punya utang, jaminannya saya. Kalau saya ketangkep bakal dinikahin sama aki-aki bau tanah. Tolongin bang,” Iris menangkupkan kedua tangannya lengkap dengan wajah memelas.
Belum sempat Farzan menjawab, ponselnya berdering. Melihat nama sang pemanggil adalah dokter pembimbingnya, pria itu segera menjawab panggilan. Setelah berbincang sebentar, Farzan menjalankan kendaraannya lagi. Iris bernafas lega ketika mobil yang ditumpanginya kembali berjalan.
Beberapa menit kemudian kendaraan yang dikemudikan Farzan memasuki pelataran parkir rumah sakit Ibnu Sina. Pria itu menghentikan mobilnya di tempat parkir. Dia melepas sabuk pengamannya, lalu melihat ke belakang.
“Turun!”
Tidak ada bantahan dari Iris. Gadis itu segera turun dari mobil Farzan. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Ternyata sekarang dia berada di rumah sakit. Matanya membulat ketika melihat nama rumah sakit adalah Ibnu Sina. Dia harus berhati-hati, jangan sampai bertemu dengan Reyhan atau Aqeel.
Setelah mengunci pintu mobilnya, Farzan memasuki IGD, meninggalkan Iris yang masih terpaku di tempatnya. Iris bermaksud meninggalkan rumah sakit, dia ingin kembali ke hotel. Tapi langkahnya tertahan ketika melihat para pria yang mengejarnya dari Jakarta sudah sampai di rumah sakit.
“Buset, kok bisa aja nemuin jejak gue. Waduh, gue mesti ngumpet nih.”
Sambil mengendap-endap, Iris memasuki lobi rumah sakit. Keadaan rumah sakit cukup ramai dan itu dimanfaatkan Iris untuk menyelinap di antara para pengunjung. Ketika berjalan melintasi tempat pendaftaran, dia bingung saat pandangan orang-orang mengarah padanya.
“Kenapa pada ngelihatin gue? Iya sih gue cantik, tapi masa sih mereka belum pernah lihat bidadari kaya gue,” gumamnya narsis, memuji diri sendiri.
Bingung karena orang-orang terus melihat padanya, gadis itu memasuki toilet yang ada di dekat tempat pendaftaran. Ketika Iris melihat pantulan wajahnya di cermin, matanya membelalak.
“Oh my god, pantes pada ngelihatin gue!”
Iris menaruh kedua tangannya di pipi. Ternyata orang-orang melihatnya karena gadis itu berjalan-jalan di rumah sakit mengenakan piyama dan sandal yang dipakainya pun sandal hotel. Iris segera keluar dari toilet, dia harus keluar dari rumah sakit secepatnya. Gadis itu berjalan sambil menundukkan kepalanya.
Saat akan keluar dari lobi, gadis itu membalikkan tubuhnya. Para bodyguard yang mengejarnya sudah sampai di lobi. Dengan langkah panjang Iris menuju IGD. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Lalu dia mendekati meja perawat. Dengan cepat dia mengambil masker yang disediakan di meja perawat.
Iris buru-buru memakai maskernya ketika melihat empat pria yang mengejarnya masuk ke IGD. Gadis itu dengan asal masuk ke bilik pemeriksaan. Matanya menangkap seorang pria yang tangan dan kakinya dibalut perban. Gadis itu mendekati blankar yang ditempati sang pasien.
“Mas.. kamu kenapa, mas? Kenapa kamu bisa begini? Huhuhu…”
Iris berpura-pura menangisi pria itu ketika para pengejarnya melintas di dekat bilik pemeriksaan. Mendengar ada yang menangis, pria yang sedang tertidur itu terbangun. Dia melihat pada Iris dengan kening berkerut.
“Kamu siapa?”
“Aku istri, mas. Kenapa mas jadi amnesia? Yang luka tangan dan kaki, kenapa yang korslet otaknya?”
Tak berselang lama, seorang wanita masuk ke dalam bilik pemeriksaan, dia terkejut melihat Iris sedang menangisi suaminya.
“Kamu siapa?”
“Ibu siapa?” Iris balik bertanya.
“Saya istrinya.”
“Loh.. ini mas Nono bukan sih?”
“Nono palamu peyang. Ini mas Dono, suamiku!” hardik sang istri.
Farzan yang tengah memeriksa pasien di bilik sebelah segera memasuki bilik di mana Iris berada. Melihat piyama yang dikenakan gadis itu, Farzan langsung mengenalinya. Tangan dokter muda itu mendarat di telinga Iris, kemudian menariknya keluar dari bilik pemeriksaan.
“Aduh.. sakit, bang eh dok.. sakit.. aduh.”
Baru saja Iris hendak melepaskan diri, matanya menangkap salah seorang bodyguard mendekatinya. Refleks dia langsung memeluk lengan Farzan dan membenamkan wajahnya di lengan pria itu.
“Lepas,” seru Farzan.
“Dok, please bawa saya pergi dari sini. Please, dok. Itu depth collector udah sampai di sini.”
Tangan Iris menunjuk salah satu pria yang tengah mencari keberadaannya. Merasa iba dengan keadaan Iris, Farzan membawa gadis itu keluar dari IGD. Dia terus membawa gadis itu menuju ruang istirahat dokter jaga.
“Kamu diam aja di sini.”
“Makasih, dok.”
Iris melemparkan senyum manis. Tanpa menggubris apa yang dilakukan gadis itu, Farzan segera meninggalkan ruang istirahat tersebut. Sambil merentangkan tangannya, Iris menjatuhkan bokongnya di sofa.
“Heran gue, kenapa papa bisa nemuin gue ada di mana? Kenapa papa tiba-tiba berubah jadi cenayang?” Iris menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka. Refleks Iris mengambil bantal sofa lalu menutupi wajahnya. Ternyata yang datang adalah rekan kerja dari Farzan. Sepasang dokter residen yang baru saja masuk terlihat bingung melihat seorang gadis ada di ruang istirahat.
“Kamu siapa?”
“Saya..”
Iris tidak melanjutkan kalimatnya, dia bingung harus menjawab apa. Tadi dia tidak sempat melihat name tag yang dipakai Farzan. Dua dokter yang baru masuk masih menunggu jawaban gadis itu.
“Saya salah satu keluarga pasien di IGD. Tadi saya kepala saya pusing, terus dibawa dokter ke sini.”
“Oh begitu. Sekarang bagaimana keadaanmu?” tanya dokter residen berjenis kelamin laki-laki. Sikapnya langsung berubah ramah melihat wajah cantik Iris.
“Udah mendingan. Tapi saya boleh kan di sini sampai dokter yang membawa saja kembali?”
“Boleh.”
“Kalau kepalanya masih pusing, tiduran lagi aja,” ujar dokter perempuan.
“Makasih.”
Iris memijat pelipisnya yang tidak terasa pusing, lalu merebahkan tubuh di sofa. Dia pura-pura memejamkan matanya. Sebisa mungkin dia terus memejamkan matanya sambil mencuri dengar kedua dokter yang sedang mendiskusikan kondisi pasien yang ditangani oleh mereka. Lama-lama suara mereka tidak terdengar jelas. Iris malah jatuh tertidur.
🍄🍄🍄
Iris membalikkan tubuhnya. Pelan-pelan dia membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan Farzan. Sontak gadis itu bangun dari tidurnya. Tangannya mengusap mulutnya, memastikan tidak ada iler yang keluar dari sela-sela bibirnya.
“Sudah kenyang tidurnya?” tanya Farzan.
“Sudah bang dokter.”
“Kamu ngga mau pulang? Sampai kapan kamu mau di sini?”
“Ehmm.. aku ngga bawa dompet. Bisa pinjam uang buat ongkos pulang?”
Bukan hanya tidak membawa dompet, tapi gadis itu tidak membawa ponselnya. Dia bingung sendiri bagaimana caranya kembali ke hotel. Farzan mengambil dompet dari saku belakang celananya, dia mengeluarkan selembar lima puluh ribu, lalu memberikannya pada Iris.
“Terima kasih, dok. Terima kasih untuk bantuannya hari ini. Saya akan ganti uang yang dokter kasih.”
“Ngga usah. Aku ngasih bukan ngutangin.”
“Kalau begitu nanti aku bakal datang lagi ke sini bawain makanan buat dokter. Sekali lagi terima kasih, dok. Semoga dokter semakin sukses, cepat mendapatkan jodoh, punya banyak pasien, diberikan kesehatan, diberikan..”
“Stop! Udah sana keluar.”
“Siap. Bye dokter ganteng, hehehe..”
Farzan hanya menggelengkan kepalanya. Baru kali ini dia bertemu dengan perempuan antik seperti Iris. Sekeluarnya dari ruang istirahat dokter, Iris bergegas meninggalkan rumah sakit. Perasaannya lega saat tidak melihat para bodyguard yang memburunya. Sebelum kembali ke hotel, Iris mendekati penjual bakpao dulu.
“Mang bakpaonya dua. Satu ayam, satu kacang hijau.”
“Oke, neng.”
Dengan cepat penjual bakpao itu membungkus pesanan Iris. Setelah membayar bakpao tersebut, Iris bermaksud pulang ke hotel. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, siapa tahu ada taksi yang lewat. Gadis itu terkejut ketika seseorang menepuk pundaknya. Sontak dia menolehkan kepalanya.
“Papa..”
“Udah puas main kucing-kucingannya?” tanya Deski, ayah dari Iris.
“Hehehe… papa udah kaya cenayang. Tahu aja aku ada di mana.”
“Ayo pulang.”
“Iya, papa. Eh aku harus ke hotel ambil barang-barang.”
“Sudah papa ambil. Ayo.”
Deski menarik tangan anak bungsunya yang sulit diatur. Karena sudah tertangkap basah. Tidak ada pilihan lain bagi Iris kecuali mengikuti langkah papanya. Gadis itu segera memasuki mobil Deski.
🍄🍄🍄
Aiza (Cucu Fahri & Putri, Vano & Talitha)
Fara (Cucu Farhan & Luna, Agam & Ajeng)
Cyra (Anak Nick & Iza)
Naima (Anak Farel dan Ara)
Iris (Anak Deski & Helga)
Itu silsilah yang cewek ya.
Besok aku libur🤗