NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Monster Tampan

Menjadi Tawanan Monster Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu_Fikri

Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Andin's Flashback

Langkah-langkah kecil itu memecah kesunyian lorong. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui jendela kaca tinggi, menciptakan gurat cahaya dramatis yang menyentuh lantai marmer. Di depan sebuah pintu yang sedikit terbuka, Andin kecil berhenti. Tangan mungilnya meremas erat kaki boneka Teddy bear-nya, seolah benda kecil itu adalah satu-satunya sumber keberanian yang ia punya.

"Mommy...?" bisiknya nyaris tak terdengar.

"Masuk, sayang," sahut sebuah suara, tipis dan parau.

Gadis kecil itu mengintip dari celah pintu. Di sana, ibunya bersandar pucat di tumpukan bantal. Di sisi tempat tidur, berdiri seorang pria berjas putih yang selalu ia panggil Paman Dokter. Keduanya menyambut sang gadis cilik dengan senyum yang dipaksakan, jenis senyum yang menyimpan sesuatu yang besar.

Saat melangkah masuk, Andin tidak langsung memeluk ibunya. Ia justru mendekati sang dokter, jemari kecilnya menarik-narik ujung jas putih yang dikenakannya.

​"Paman Dokter....Mommy...kapan sembuh?"

Mata bulatnya berkaca-kaca, penuh harap yang murni.

Dokter Anton diam, menatap wajah sang ibu sekilas. Kemudian berlutut di depan gadis mungil itu. Diusapnya rambut berpita Itu pelan, penuh kelembutan bak seorang ayah.

"Mommy....akan segera sembuh, setelah beristirahat. Besok, pasti mommy bisa bangun dan bermain bersama Andin." Katanya mencoba terlihat se-riang mungkin, namun di balik kacamatanya ada binar sendu yang pekat.

​"Janji paman? Mommy besok sudah sembuh kan?"

​"Janji, nona kecil," jawab Dokter Anton sambil menautkan jari kelingkingnya pada kelingking mungil Andin. Sebuah janji yang ia tahu takkan pernah bisa ia tepati.

Di atas ranjang, sang ibu hanya menatap sendu. Ia tahu betul bahwa waktunya sudah di ujung tanduk Saat Andin berlari memeluknya, ia hanya bisa mengelus punggung putrinya kecilnya dengan sisa tenaga yang ada, sambil sesekali menghirup aroma rambutnya untuk terakhir kalinya.

​...

keesokan paginya, keheningan rumah mewah itu pecah oleh jeritan yang menyayat.​

"Help!!! Help...mommy!!" Suara Andin terdengar serak, pecah oleh tangis yang belum tuntas.

Wira, kepala pelayan dan beberapa pelayan lain, berlari masuk dengan napas memburu. Takut terjadi hal buruk pada putri majikannya. Tetapi yang mereka temukan pemandangan yang memilik6an.

Nona muda mereka, yang berusia 5 tahun, sedang berada di samping ibunya, diatas kasur yang sama. Tangan gadis itu berlumuran darah segar. Bukan darahnya, melainkan darah ibunya sendiri. Ibunya yang wajahnya sudah pucat pasi, berbaring kaku, tanpa gerakan sedikitpun. Bahkan suara napasnya pun tidak ada. Tak ada gerakan naik turun pada dada di balik selimut itu.

Tangan mungil Andin yang berlumuran darah itu, tampak gemetar.

"H...hel..p! Mo...mm...my," Suaranya parau, sesekali tersedu.

Wira diam, terlalu syok menyaksikan itu. Seorangpun pelayan wanita bernama Mita berlari masuk, saat matanya menangkap hal mengerikan di depannya, wanita itu jatuh terduduk. Kedua tangannya menutup mulut, gemetar.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Kamar itu mendadak sunyi, terlalu sunyi. Semua pasang mata hanya diam, menyaksikan tragedi itu. Sedangkan Andin, disana, sudah kehilangan suaranya. Bibir kecilnya gemetar, ia menangis tanpa suara.

Wira, setelah bangun dari keterkejutannya, segera mendekat, pelayan itu menyentuh pelan lengan majikannya, lalu jatuh terduduk. Lengan itu dingin dan kaku.

"Ce...cepat...te..telpon tu..tuan!" teriaknya terbata-bata.

Wira lalu menoleh ke arah Mita yang masih terduduk di lantai. Menyuruh wanita itu dengan tatapan, agar membawa Andin dari sana. Mita bangun, sedikit terhuyung kemudian bangkit membawa Andin dalam gendongannya.

Gadis kecil itu, masih sesegukan berat, tubuhnya terguncang kecil saat ia mencoba menghirup udara. Mita yang menggendongnya, hanya bisa menangis diam-diam.

Lima belas menit kemudian, Tuan Wijaya datang bersama Dokter Anton. Pemeriksaan dilakukan singkat, karena maut memang telah selesai melakukan tugasnya sejak beberapa jam llalu Ketika kain putih ditarik hingga menutupi wajah ibunya, Andin memberontak dari gendongan Mita.

​"Mita... Mommy... mommy.. nanti sesak..." suara Andin terdengar kecil dan polos, membuat siapa pun yang mendengar ingin menutup telinga karena tak sanggup.

​Tuan Wijaya hanya diam. Pria itu berdiri kaku, wajahnya pias. Namun, alih-alih memeluk putrinya yang ketakutan, ia justru berbalik dan melangkah keluar tanpa kata. Kesibukannya sebagai pebisnis telah membekukan hatinya, bahkan di depan jasad istrinya sendiri.

​Kini hanya tinggal Andin, Mita, dan tubuh kaku di atas ranjang itu. Andin mendekat, kaki kecilnya terlihat goyah. Dengan tangan gemetar, ia menyibakkan kembali kain putih itu.

"Mommy?? Wake... up..." Tangan kecilnya menyentuh lengan sang ibu, menggoyangnya pelan.

​"Mommy...? Wake up.. Please....." Tangan kecil itu, berpindah menyentuh pipi ibunya. Dingin. Kulit yang biasanya hangat itu kini terasa seperti porselen yang beku.

"Mom... Don't leave me alone..mommy.... please..... please....!!!!" Andin berteriak, suara kecilnya sarat akan kemarahan. Di usia sekecil itu, ia sudah paham betul arti dari kematian.

Ia lelah, tubuh kecilnya hampir mencapai batas. Kejadian hari ini benar-benar menguras sisa tenaganya yang tidak seberapa. Dalam satu tarikan napas dalam, ia berteriak memohon untuk terakhir kalinya. Pada ibunya yang sudah terbaring kaku. Setelahnya gadis kecil itu jatuh tidak sadarkan diri. Tubuhnya hampir mengenai lantai marmer yang dingin, beruntung Mita menangkapnya tepat waktu.

....

Kematian sang ibu adalah mimpi buruk yang paling ditakuti Andin, namun justru itulah yang menjadi kenyataannya. Di balik kemewahan yang mengepungnya, gadis itu hanyalah seonggok daging kosong tanpa arti. Hanya ibunya yang mampu mengisi ruang hampa itu, terlebih tanpa kehadiran seorang ayah. Andin menggantungkan seluruh napasnya pada wanita itu. Tapi takdir merampasnya dengan kejam. Tanpa aba-aba, hidup yang ia kira bahagia, dihancurkan berkeping-keping saat maut merampas cahaya paling terang dalam hidupnya, meninggalkan gadis itu sendirian dalam kegelapan yang pekat.

1
merdi Yanto
plot twist banget bab ini👍
partini
baca sinopsisnya penasaran
Lusy Kunut: Stay tune yah kak, supaya rasa penasarannya terobati👍
total 1 replies
merdi Yanto
cuit cuit cuit😍🤣
merdi Yanto
duh🤭
merdi Yanto
Bau-bau mulai berbalas perasaannya Axel
merdi Yanto
/CoolGuy//CoolGuy/
merdi Yanto
Plot twist banget keluarganyaa
merdi Yanto
🤭🤭🤭🤭
bau bau bucin😍😄
merdi Yanto
Suka cerita dari sok benci jadi bucin akut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!