Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Our Dating?
Sepulangnya dari kampus bersama Axel, Sesilia segera berlalu untuk membersihkan diri. Tubuhnya kelelahan setelah bertarung dengan penelitian seharian dan sangat lengket. Mood-nya juga rusak akibat ulah kekanak-kanakan Andin.
Proses mandinya butuh waktu sekitar satu jam, karena sempat tertidur sebentar di bathtub. Beruntung Axel datang mengetuk pintu kamar mandi karena khawatir.
Setelah berpakaian, Axel datang lagi. Kali ini membawa sepiring sup ayam yang masih mengepul, menguarkan aroma yang membuat cacing-cacing di perut Sesilia keroncongan.
"I know you tired, baby girl. So I made it for you."
"Thank you so much, X." Sesilia menjawab antusias, tangannya segera merebut mangkuk berisi sup dan menghabiskannya hingga tandas. Axel hanya tersenyum melihat tingkah konyol gadis itu.
"It's time to sleep, my love." Axel berkata lembut.
Sesilia hampir meneteskan air liur kala mendengar kata manis itu.
"Ay ay kapten." Jawab gadis itu, kemudian tanpa diminta ia maju dan memberikan satu kecupan singkat dan manis tepat di bibir monster tampannya. Sepersekian detik setelahnya, gadis itu membenamkan tubuhnya dalam selimut tebal. Malu atas tindakan spontan-nya barusan.
Sedangkan Axel masih diam, mencerna situasi. Serangan mendadak dari objek paling di puja-nya se-alam semesta ini hampir meruntuhkan pertahanan yang susah payah ia bangun. Ada sesuatu yang bangkit disana.
Terdengar helaan napas berat dari bibirnya. Kontrol dirinya kian menipis.
"Baby girl, ingat....besok.... kita harus ke mall untuk berbelanja. Ada.... acara amal besok malam." Suara lelaki itu dalam dan berat. Terdengar seperti sedang menahan sakit.
"Are you okey, X?" Kepala Sesilia menyembul dari dalam selimut tebal.
"I'm fine!" Jawab lelaki itu, kemudian segera keluar membawa mangkuk kosong. Terlihat sangat tergesa-gesa.
"Dia...kenapa??" Beo Sesilia sebelum kembali membenamkan wajahnya dalam selimut tebal yang hangat. Acuh tak acuh pada sikap aneh Axel.
.....
Sementara itu Axel Steel, berlari menuju kamarnya dan menguncinya dalam gerakan super cepat. Tubuhnya kepanasan menahan sesuatu yang harus di keluarkan.
"Fuck! fuck! fuck!!!!" Bentaknya pada udara kosong. Ia segera masuk ke dalam bilik kamar mandinya. Menuntaskan sesuatu.
Sejam kemudian, lelaki itu baru keluar dari kamar mandi. Tubuhnya yang atletis hanya dibalut handuk sepinggang. Rambutnya basah, masih menyisakan tetesan air yang jatuh. Otot dada dan perutnya tampak terbentuk sempurna. Wajah tampannya sudah terlihat lega. Tanpa mengenakan pakaiannya, lelaki itu langsung merebahkan tubuhnya ke kasur king size-nya.
Satu jam berlalu sampai akhirnya pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan sosoknya di balik kabut uap tipis. Hanya ada selembar handuk yang menggantung rendah di pinggangnya. Air masih menari-nari di kulitnya, jatuh satu demi satu dari ujung rambut ke atas dada bidang dan perut yang rata sempurna. Merayap pelan di atas otot-otot keras itu. Wajahnya kini tampak tenang, seolah baru saja luruh bersama air. Tanpa peduli pada pakaian yang menunggu, ia merebahkan tubuhnya pada kasur king-size nya. menikmati kenyamanan yang maksimal.
"Hanya satu sentuhan. Dan aku sudah hampir gila." Napasnya terdengar berat.
"You're so damn dangerous baby girl." Bisiknya pelan.
.....
Pagi itu, udara di penthouse terasa lebih cerah dari biasanya. Sesilia baru selesai sarapan ringan, ditemani Axel yang asyik dengan tabletnya.
"Nanti malam ada gala amal, remember?" tanya Axel, tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Sesilia mengangguk. "Sure. Aku sudah siapkan gaun lama."
Axel akhirnya menatapnya dengan alis sedikit terangkat. "Gaun lama? Tidak aku izinkan. Kita harus pergi berbelanja, hari ini."
Bagi gadis itu, ajakan berbelanja adalah hal yang sangat manis. Selama ini, Axel langsung menyiapkan keperluannya tanpa bertanya dulu. "Really? Aku akan segera bersiap-siap." Senyumnya mengembang.
Axel hanya mengangguk tipis. "Bersiaplah. Kita berangkat jam sepuluh."
Perjalanan ke mal terasa berbeda. Biasanya Axel akan mengenakan pakaian formal, sekarang lelaki itu tanpak santai dengan pakaian kasualnya yang senada dengan milik gadis itu. Pakain mereka couple. Sesilia berteriak kegirangan dalam Kepalanya.
Suasana di dalam mobil terasa hangat, ditemani musik klasik yang mengalun pelan. Sesilia sesekali melirik Axel, yang fokus menyetir, mencuri pandang pada sosok lelaki tampan itu.
"Aku tahu, aku tampan, Si." Axel bersuara, menyadari gadis disampingnya tidak berhenti meliriknya dengan wajah semerah kepiting rebus.
"Ups, ketahuan yah. Sorry." Sesilia menjawab jenaka, kemudian kembali berbicara.
"Ini pertama kalinya kita keluar bersama. I like it so much," Gadis itu suka momen-momen santai begini. Jauh dari dunia bisnis Axel yang rumit.
Lelaki itu hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang jarang terlihat. Senyum yang tulus, bukan senyum licik ala pebisnis.
Setibanya di mal, Sesilia agak bingung. Parkiran biasanya penuh, tetapi nampak sepi hari ini. Hanya beberapa mobil mewah yang terparkir, tapi tidak banyak. Mungkin masih pagi, pikirnya.
Begitu masuk pintu utama, suasana mal terasa aneh. Toko-toko memang buka, lampu-lampu menyala, tetapi tidak ada keramaian seperti biasanya. Pengunjung lain juga tidak terlihat lalu-lalang. Hanya beberapa staf mal dan pelayan toko yang berdiri di depan pintu toko masing-masing.
"Kenapa sepi sekali yah hari ini?" Sesilia bertanya heran.
Axel meraih tangannya, menariknya pelan. "Aku sudah sewa mal ini sehari penuh."
Gadis itu terdiam. Rahangnya sedikit menganga. "Sewa seluruh mal?"
"Yes. Agar tunanganku tercinta bisa berbelanja dengan nyaman, tanpa perlu menunggu antrian atau berdesak-desakan," jawab Axel, seolah itu hal paling wajar di dunia. "Kita punya seluruh mal, hanya untuk kita berdua."
Sesilia tidak bisa berkata-kata. Inj adalah aksi gila yang hanya bisa dilakukan Axel Steel.
Romanti, tapi juga sangat... Axel. Dia tidak tahu harus merasa kagum atau geli.
Mereka mulai masuk ke butik-butik kelas atas. Axel memilihkan gaun-gaun dengan warna lembut, bahan sutra atau satin, yang tidak terlalu terbuka tapi menonjolkan keanggunan gadisnya.
"Try this one," kata Axel, menyerahkan gaun biru tua dengan potongan sederhana.
Gadis itu masuk ke ruang ganti dengan patuh. Ketika keluar, Axel langsung menatapnya intens. "Not bad. Tapi potongan lehernya kurang cocok."
Seorang pelayan butik, wanita muda bernama Clara berdiri canggung di samping Axel. Matanya seringkali melirik Sesilia dengan rasa iri dan kagum. Dia belum pernah melihat seorang pria menyewa seluruh mal hanya untuk kekasihnya.
"Bagaimana dengan yang ini, Tuan?" Clara menawarkan gaun lain.
Axel hanya melirik acuh, lalu menggeleng.
"Terlalu ramai. Gadisku tidak perlu banyak hiasan. Dia sudah sangat bersinar."
Pipi Sesilia memerah. Kata-kata Axel selalu punya efek samping, membuatnya tersipu. Pelayan butik di sana hanya bisa menahan senyumnya. Mereka merasa jadi obat nyamuk bagi pasangan ini.
Sesilia mencoba belasan gaun atas arahan Axel. Setiap kali keluar dari ruang ganti, Axel akan menjadi dewan juri yang melihatnya dari ujung kaki sampai ujung rambut.Tatapannya serius.
Ada satu gaun berwarna soft rose gold (merah jambu pucat) yang mencuri perhatian Sesilia. Potongannya sederhana. Bagian dadanya memiliki potongan crowl neck yang jatuh melengkung, bagian pinggangnya menciptakan siluet jam pasir yang sempurna serta tambahan kain tule transparan di bahu yang menjuntai hingga ke lantai.
Sesilia segera mencobanya. Saat keluar, Axel langsung berdiri tanpa sadar.
"Amazing, Mine." Axel berbicara lembut, mendekati gadisnya yang tampak seperti dewi yunani itu. "Kita ambil yang ini." Finalnya.
Sesilia merasa sangat malu di bawah tatapan intens Axel. Lelaki itu benar-benar tidak berkedip sekalipun.
"Kau terlihat seperti dewi Yunani," bisiknya. Tangannya menyelipkan helaian rambut gadis itu ke belakang telinga dengan gerakan selembut kapas. Jarak mereka sangat dekat. Sesilia bisa merasakan napas hangat Axel di pipinya.
Clara, pelayan butik itu, berpura-pura sibuk merapikan tumpukan gaun di rak. Dia mencoba tidak melihat kemesraan dua orang itu.
Setelah memilih gaun utama, mereka pindah ke toko perhiasan. Axel memilih kalung berlian kecil, anting-anting sederhana dan gelang yang serasi. Kemudian ke toko sepatu.
Setiap kali Sesilia mengatakan, "Ini terlalu mahal, X," atau kata penolakan lainnya, monster tampannya itu akan memberikan tatapan tajam.
"I'm so damn rich, baby girl. Siapa lagi yang berhak menghabiskan hartaku, selain kamu!" Balas Axel sewot.
Selama proses belanja itu, Axel tak pernah melepaskan sentuhannya pada Sesilia. Entah itu memeluk pinggang sang gadis, bahunya, atau tangannya. Lelaki itu bersikap sangat protektif, padahal tidak ada pelanggan lain di mal itu selain mereka berdua.
Para pelayan mal yang berjaga di setiap toko hanya bisa berbisik-bisik, mengagumi romansa gila yang mereka saksikan.
Beberapa penjaga toko wanita yang pertama kali bertemu CEO Steel Group sangat terpesona.
"He's so hot!" Bisiknya pada rekannya.
"Yes. Auranya kayak keluar dari buku nggak sih!" Rekannya menjawab tak kalah antusias.
.....
Dua sejoli berbelanja hingga menjelang sore hari. Sebelum pulang mereka menyempatkan makan di salah satu restoran di mal itu, kemudian segera pulang. Axel tidak tega melihat wajah gadisnya yang kelelahan.
Sepeninggal mereka, Mal menjadi sangat heboh. Beberapa pekerja sempat mengambil gambar momen romantis Axel dan Sesilia. Siap disebarkan ke seluruh jagat sosial media.
bau bau bucin😍😄