Amora Tithania Genovieve atau sering di panggil Mora, telah mati karena pembulyan yang di terimanya di sekolah.
Tiba - tiba sosok jiwa bergentayangan yang kebetulan bernama Mora juga, masuk kedalam tubuh Mora yang mati.
Mora yang kembali hidup itu akhirnya bertekad untuk membalaskan dendam atas pembulyan yang di terima oleh Mora yang telah mati, sebelum dia membalaskan dendamnya sendiri.
Akankah orang - orang sadar bahwa Mora bukanlah Mora?? Dan bisakah Mora mendapatkan keadilan atas Mora yang sudah mati?
BACA A GIRL ENTANGLED IN MEMORIES, untuk mengikuti kisah ini dari awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 28. Apakah dia tuan Black?
Byan masih mengompres Mora yang masih demam tinggi. Byan bahkan memakaikan Mora banyak selimut karena Mora terus bergumam..
"Dingin.." Gumam Mora.
"Mora.. Mora.." Panggil Byan, Byan mencoba membangunkan Mora agar mau minum obat lebih dulu.
"Dingin.." Gumam Mora Lagi.
"Mora.. bisa dengar aku?" Bisik Byan di telinga Mora.
"Hmm.." Akhirnya Mora menyahut.
"Bangun ya, kamu harus minum obat lebih dulu." Ujar Byan.
Akhirnya Mora membuka matanya, dia melihat kesekelilingnya karena itu asing dia pun seperti orang kebingungan.
"Apa aku mati lagi? Tapi kenapa tempatnya asing." Gumam Mora.
"Kamu di rumahku, Mora." Ujar Byan, Mora langsung melihat kearah Byan.
"Kenapa aku di sini?" Tanya Mora dengan kepala sakit.
"Kamu pingsan sebelum mengatakan alamat rumahmu, jadi aku membawamu ke rumahku. Kamu demam tinggi, sekarang minum obat dulu okay.." Ujar Byan.
Mora mengangguk, Byan pun menyiapkan obat untuk Mora dan Mora meminumnya dengan bantuan Byan. Setelah minum obat, Mora terfikirkan dengan Andreas yang pasti mencari dirinya.
"Aku harus menghubungi papa." Ujar Mora.
"Asistenku sudah mengabari papamu, dia sudah tahu kemu menginap di rumah temanmu." Ujar Byan, Mora pun bernafas lega.
"Terimakasih.. aku harus memanggil tuan apa?" Tanya Mora.
"Namaku Byanazriel, kamu bisa memanggilku Byan." Ujar Byan.
"Terimakasih, tuan Byan." Ucap Mora.
"Hm, sekarang kamu boleh tidur lagi." Ujar Byan, Mora pun mengangguk karena memang kepalanya masih berputar.
Setelah Mora kembali tidur, Byan pun menyelimuti Mora dan memandangi wajah damai Mora sambil tersenyum.
'Bagaimana caranya untuk mendapatkan gadis ini, Tuhan.. Dia masih sangat muda.' Batin Byan.
Byan takut Mora akan membencinya jika Mora tahu bahwa Byan mencintainya, bagaimanapun Mora seusia Brandon keponakannya.
'Jika aku diam menunggumu, aku takut kamu di miliki orang lain Mora.' Batin Byan.
Byan tidak tahu bahwa cinta itu tidak memandang usia, ada banyak pasangan yang menikah dengan perbedaan usia yang cukup jauh dan mereka hidup bahagia..
Akhirnya Byan bangun dan memutuskan untuk mandi, selang beberapa saat dia kembali keluar dari kamar mandi sudah dengan baju tidur abu - abunya.
Byan mengecek suhu tubuh Mora yang ternyata sudah mulai normal, Byan pun mengambil bantal dan memilih tidur di sofa, sambil memandangi gadis kecil yang di cintainya itu.
Ke esokan harinya..
Mora bangun dari tidurnya ketika matahari mulai sedikit menyingsing tinggi, dia melihat infusan di tangannya sudah tidak terpasang entah siapa yang melepasnya.
"Astaga, apa aku tidur di kamar Byan?" Gumam Mora menyebut nama Byan langsung.
Mora melihat foto Byan yang terpajang sangat besar di dinding kamar Byan, makanya Mora langsung menyimpulkan itu kamar Byan. Mora mengecek segala pakaian nya apakah masih di tempatnya atau tidak, tapi ternyata masih.. Mora pun bernafas lega.
"Astaga Mora, kamu benar - benar payah. Masa kehujanan sedikit langsung jatuh sakit, mana sekarang kamu jadi merepotkan orang." Gumamnya.
Beruntungnya itu hari libur sekolah, jadi Mora tidak perlu buru - buru untuk sekolah. Mora turun dari ranjang dan melihat kesekeliling kamar Byan..
"Benar - benar maskulin." Gumam Mora, Nuansa kamar Byan begitu mencerminkan seorang pria yang gila bersih.
Mora hendak keluar dan membuka pintu kamar, tapi saat itu juga Byan membuka pintu juga jadi Mora terhuyung ke belakang. Beruntungnya Byan langsung menangkap tubuh Mora sebelum Mora menyentuh lantai.
"Hampir saja.." Gumam Mora, sambil berpegangan bahu Byan kuat - kuat.
"Kamu tidak apa - apa? Maaf aku tidak tahu kamu di belakang pintu." Ujar Byan.
"Hehe, tidak apa - apa." Ujar Mora dengan senyum konyol nya, lalu melepaskan pegangannya dari Byan.
"Bagaimana kondisimu?" Tanya Byan, lalu tangannya menyentuh kening Mora.
Mora sedikit merasa aneh dengan sikap Byan, padahal waktu Mora asli pertama kali bertemu Byan, Byan sangat galak bahkan menodongkan senjata api padanya.
'Tunggu, senjata api.. benar, hari itu dia menodongkan senjata api pada Mora yang asli. Aku yakin identitasnya tidak sembarangan, atau jangan - jangan dia memang tuan Black dari Black Fire?' Batin Mora.
"Kamu sudah tidak demam, itu bagus." Ujar Byan.
Mora masih bertanya - tanya dan masih berargumen sendiri di dalam otaknya, tapi tatapannya tak lepas dari Byan. Byan yang menyadari Mora terus menatapnya pun akhirnya bertanya.
"Apa ada yang aneh di wajahku?" Tanya Byan.
"Bukan wajahmu, tapi kamu yang aneh." Sahut Mora, Byan pun mengernyit.
"Saat pertama kali kita bertemu di bangunan terbengkalai saat tuan terluka, tuan sangat galak bahkan menodongkan senjata padaku, kenapa kali ini tuan sangat baik padaku?" Tanya Mora, Byan tertegun dan terdiam.
"Saat itu aku sedang panik dan terluka, itu sebabnya aku menjadi galak, maaf ya.." Ujar Byan.
'Sudahlah, siapapun dia selama dia tidak jahat padaku aku tidak akan melakukan apapun.' Batin Mora.
"Tuan, terimakasih atas tumpangan nya dan perawatan yang tuan lakukan, aku sudah terlalu merepotkan." Ujar Mora.
"Tidak masalah, jangan sungkan. Ini.. di dalam kantong ini ada satu set pakaian, kamu segarkan diri dulu lalu kita sarapan bersama." Ujar Byan.
"Okay, terimakasih." Sahut Mora.
Byan pun keluar dari kamar Mora meninggalkan Mora dengan sejuta teka teki di kepala nya. Tapi Mora terkejut ketika ponselnya berdering, itu adalah panggilan dari Andreas.
"Astaga, aku lupa sekarang aku punya orang tua." Gumam Mora, lalu mengangkat panggilan itu.
"Halo papa." Ujar Mora.
"Sayang, kenapa kamu tidak pulang - pulang? Kamu baik - baik saja kan?" Tanya Andreas dengan khawatir.
"Aku baik - baik saja, pa.. maaf semalam aku tidak mengabari papa, hehe." Ujar Mora.
"Kamu di mana sebenarnya? Mau papa jemput kamu?" Tanya Andreas.
"Tidak usah, setelah ini aku akan pulang, janji." Ujar Mora.
"Ya sudah, hati - hati di jalan nak." Ujar Andreas.
"Ya, pa.. Bye.." Sahut Mora lalu mematikan panggilan itu.
Mora segera masuk kedalam kamar mandi, yang lucunya didah di sediakan satu set alat mandi perempuan di wastafel dari mulai sikat gigi, sabun mandi perempuan dan shampo perempuan.
'Niat sekali dia menyiapkan ini semua.' Batin Mora, tapi akhirnya dia mandi juga.
Sementara itu di meja makan, Byan sedang bekerja dari ponselnya sembari menunggu Mora turun, sampai tiba - tiba ada sebuah panggilan masuk dari ibunya.
"Halo mam.." Ujar Byan.
"Byan, mama sudah pulang ke Mansion tapi kamu tidak ada dan malah meninggalkan keponakanmu sendirian, teganya kamu." Ujar Ryn, Byan sampai menjauhkan ponselnya dari kuping.
"Ma, kapan mama akan punya menantu kalau aku tidak berjuang mendapatkan menantu untuk mama?" Ujar Byan.
"Eh, kamu sedang mencarikan menantu untuk mama?" Tiba - tiba saja nada suara Ryn berubah menjadi antusias.
"Ya, ma." Sahut Byan.
"Itu bagus, cepat dapatkan hatinya dan cepat bawa dia ke hadapan mama dan papa, okay?" Ujar Ryn.
"Iya ma, aku akan berjuang dulu dengan keras.." Ujar Byan.
"Semangat sayang, bye.." Ryn yang justru mematikan panggilannya.
Byan pun menggelengkan kepalanya, ibunya itu adalah wanita yang paling dia sayang dan paling dia takuti juga, walau kadang cerewet, tapi Ryn adalah ibu terbaik yang bertaruh nyawa untuk melahirkannya kedunia.
Sementara di Mansion Byan, Ryn sedang tersenyum - senyum bahagia menatap layar ponselnya.
"Mama kecil, kenapa mama kecil malah senyum - senyum? Bukannya tadi mama kecil bilang mau memarahi paman?" Tanya Brandon.
"Pamanmu sedang berjuang mendapatkan hati calon bibimu, jadi mama kecil tidak jadi memarahinya." Sahut Ryn.
"Paman sedang bersama pacarnya? Bisa - bisanya dia bersama pacarnya dan meninggalkan keponakannya di Mansion sendirian." Ujar Brandon kesal.
"Hush! Jangan begitu. Kamu tidak tahu saja ini adalah kali pertama pamanmu mengejar wanita. Sudah, maafkan pamanmu kamu boleh minta apapun pada mama kecil." Ujar Ryn.
"Mama kecil, ini bukan masalah aku boleh minta apapun, ini masalah tanggung jawab seorang paman pada keponakannya.."
"Ps baru??" Potong Ryn.
"Mama kecil masih saja melindungi paman? Aku.."
"Liburan ke Hawai?" Potong Ryn lagi, Brandon menelan ludahnya, lalu..
"Oke." Ujar Brandon, Ryn pun terkekeh mendengarnya.
Ck, semudah itu Brandon berubah pendirian, dasar bocah. Tapi memang Brandon jarang ke luar negeri, walau dia di besarkan oleh Ryn dan Lars juga Byan, tapi ketiganya sangat jarang membawa Brandon ke luar negeri karena demi kemanan Brandon sendiri.
"Libur panjang kali ini kita ke Hawai." Ujar Ryn.
"Yeay.. Terimakasih mama kecil." Ujar Brandon lalu memeluk Ryn.
Kembali ke Vila Byan, Byan melihat Mora yang turun dengan pakaian yang baru di beli tadi dengan rambut yang di urai.
"Maaf, apa aku lama?" Tanya Mora.
"Tidak sama sekali, ayo makan." Ajak Byan dan Mora tersenyum sambil mengangguk.
'Wanginya tetap sama, padahal sabun mandi yang di siapkan tadi bukan bau seperti ini, ini pasti aroma asli tubuhnya.' Batin Byan ketika menghirup aroma Mora.
...TO BE CONTINUED.....