NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden sukses membuat Cia menyipitkan mata. Ia menggeliat pelan, merentangkan tangan untuk mencari guling kesayangannya, namun yang ia rasakan justru sebuah permukaan datar yang rapi dan dingin.

Cia membuka mata sepenuhnya. Sebelah kasurnya kosong melompong. Sprei di bagian itu terlipat tanpa cela, seolah tidak pernah ditiduri semalaman.

Gadis itu mengerjap, mengumpulkan kesadarannya yang masih berserakan. Ia melirik jam beker di nakas. Pukul 05.30 pagi. Bagi Cia yang terbiasa bangun pukul enam lebih saat tidak ada jadwal jaga pagi, ini masih terhitung sangat awal.

Suara air mengalir dari arah kamar mandi membuat Cia tersadar sepenuhnya. Astaga. Semalam gue beneran udah nikah.

Pintu kamar mandi terbuka. Ren melangkah keluar dengan handuk kecil mengalung di lehernya. Pria itu sudah mengenakan celana training hitam dan kaus abu-abu yang sedikit kebesaran—mungkin agar tidak menggesek luka di bahunya. Rambutnya yang cepak tampak basah, meneteskan butiran air yang mengalir turun ke rahang tegasnya.

Melihat pemandangan itu pagi-pagi buta membuat Cia refleks menarik selimut hingga sebatas hidung, persis seperti kepompong.

Ren menghentikan langkahnya, menatap gundukan selimut di atas kasur dengan sebelah alis terangkat. "Kamu sudah bangun."

Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan datar.

"E-enggak, ini masih merem," cicit Cia dari balik selimut, merutuki jawaban konyolnya sendiri.

Terdengar dengusan pelan, nyaris seperti tawa kecil yang tertahan. Suara langkah kaki Ren mendekat, lalu kasur di sebelah Cia sedikit melengkung ke bawah akibat beban pria itu.

"Bangun, Cia. Mandi dan bersiap. Kita berangkat ke rumah dinas jam delapan tepat," ucap Ren. Suaranya terdengar lebih serak di pagi hari, membuat bulu kuduk Cia meremang samar.

Cia menurunkan selimutnya perlahan, menyisakan matanya yang menatap Ren dengan raut memelas. "Jam delapan? Pagi banget, Kapten. Nggak bisa agak siangan? Jam sepuluh gitu? Aku belum packing semua barang-barangku."

"Barang-barangmu sudah saya masukkan ke dalam dua koper besar di sudut ruangan sejak jam empat pagi tadi," balas Ren santai, menunjuk dua koper raksasa dengan dagunya.

Mata Cia membelalak. Ia menoleh ke sudut kamar, lalu kembali menatap Ren dengan mulut setengah terbuka. "Kamu yang packing? Jam empat pagi?! Bajuku... baju-baju di lemari..."

Wajah Cia mendadak semerah tomat saat menyadari sesuatu. Pakaian dalamnya!

Ren yang sepertinya bisa membaca jalan pikiran istrinya, tetap mempertahankan ekspresi datarnya, meski ada kilat jahil yang sangat tipis di mata elangnya. "Semuanya. Termasuk yang ada di laci terbawah lemarimu. Saya sudah menyusunnya sesuai kategori."

Cia memekik tertahan, menarik selimutnya kembali hingga menutupi seluruh kepala, menyembunyikan wajahnya yang serasa ingin meledak. Terdengar suara langkah Ren yang menjauh dan pintu kamar yang dibuka, disusul suara berat pria itu.

"Tiga puluh menit, Cia. Atau saya tinggal."

Perpisahan di ruang tamu keluarga Cia berlangsung lebih emosional dari yang Cia duga.

Mama memeluk Cia erat-erat, mencium kedua pipi putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Jadi istri yang baik ya, Sayang. Kurangi ngomelnya. Turuti kata suamimu. Kalau ada apa-apa, jangan langsung marah, bicarakan baik-baik."

"Iya, Ma," gumam Cia dengan suara bindeng, menahan agar air matanya tidak merusak riasan tipisnya.

Ayah Cia berdiri di samping Ren, menepuk bahu menantunya itu dengan bangga. "Titip putri Om—maksudnya, titip putri Papa, Ren. Dia memang keras kepala, tapi hatinya lembut. Tolong bimbing dia."

Ren mengangguk, sikapnya sangat hormat. "Siap, Pa. Saya akan menjaga Cia dengan nyawa saya."

Kalimat itu diucapkan dengan nada datar, tanpa intonasi berlebihan, namun ketegasannya membuat ayah Cia tersenyum lega, dan membuat jantung Cia berdentum aneh. Nyawa. Kata itu selalu terdengar terlalu berat, namun di bibir Ren, itu terdengar seperti sebuah janji suci yang tak bisa dilanggar.

Perjalanan menuju pangkalan militer memakan waktu sekitar satu jam menggunakan Jeep Wrangler hitam milik Ren. Sepanjang jalan, keheningan merajai kabin mobil. Cia sibuk menatap keluar jendela, memainkan ujung seatbelt-nya dengan gelisah, sementara Ren fokus pada kemudi.

Gerbang besar dengan penjagaan ketat mulai terlihat. Beberapa prajurit bersenjata yang berjaga di pos langsung mengambil sikap sempurna dan memberikan hormat saat melihat mobil Ren mendekat. Ren membalas hormat itu dengan dua jari di pelipis.

Jantung Cia berdebar makin cepat saat Jeep itu memasuki area perumahan dinas. Sederet rumah berdesain seragam dengan cat hijau pudar dan halaman kecil menyambut pandangannya. Tidak ada pagar tinggi, hanya tanaman perdu yang dipangkas kotak-kotak sebagai pembatas antarrumah.

Suasananya sangat... rapi. Terlalu rapi hingga terasa kaku. Beberapa ibu-ibu yang sedang menyapu halaman menoleh ke arah mobil Ren, berbisik-bisik sambil mencuri pandang.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah tipe 45 yang berada di deretan paling depan.

"Kita sampai," ucap Ren, mematikan mesin mobil.

Cia menelan ludah, membuka pintu mobil dan melangkah turun. Ia menatap rumah barunya. Rumah itu sangat sederhana. Jauh berbeda dengan apartemen luas berlantai kayu tempat ia dibesarkan.

Ren berjalan ke bagasi, menurunkan dua koper raksasa Cia hanya dengan tangan kanannya, mengingat bahu kirinya masih cedera.

"Sini, biar aku bawa yang satu," Cia buru-buru mendekat, merasa tidak enak.

"Bawa tas kecilmu saja," tolak Ren singkat. Pria itu menggeret dua koper tersebut dengan mudah menuju pintu depan, membuka kuncinya, dan melangkah masuk.

Bagian dalam rumah itu ternyata lebih 'kering' dari luarnya. Tidak ada foto, tidak ada hiasan dinding, tidak ada vas bunga. Hanya ada satu sofa kulit berwarna cokelat tua di ruang tamu, sebuah meja kayu jati, dan televisi yang tampak jarang dinyalakan. Udaranya berbau pembersih lantai rasa pinus. Sangat bersih, tapi kosong.

"Kamar utama di sebelah kanan. Kamar kosong di sebelah kiri bisa kamu pakai untuk menyimpan barang-barang kerjamu atau buku kedokteranmu," jelas Ren, meletakkan koper Cia di depan pintu kamar utama.

Cia mengedarkan pandangan, menghela napas panjang. "Ini rumah atau ruang tunggu dokter gigi? Kaku banget."

Ren yang sedang menuangkan air putih dari dispenser di dapur kecil menoleh. "Saya jarang pulang kalau tidak ada keperluan. Buat apa banyak barang jika hanya untuk mengumpulkan debu?"

"Ya tapi kan..." Cia menggantung kalimatnya. Ia mendadak sadar, ini bukan apartemennya. Ia tidak berhak protes terlalu banyak.

Cia berjalan menuju dapur, melihat isi kulkas yang hanya berisi air mineral, beberapa butir telur, dan botol saus sambal. "Kita mau makan siang pakai apa? Nggak ada bahan makanan sama sekali. Kamu biasanya makan di mana?"

"Saya biasa makan di kantin barak," jawab Ren, meneguk airnya perlahan. Ia meletakkan gelasnya dan menatap Cia. "Tapi mulai sekarang, karena kamu ada di sini, kita akan membagi tugas. Saya yang belanja bahan makanan awal bulan, kamu yang memasak. Jika kamu sibuk shift rumah sakit, kita bisa memesan katering asrama."

Cia melongo. "Memasak? Kapten, aku kan udah bilang dari awal, kemampuanku di dapur itu cuma sebatas merebus mi instan dan bikin telor ceplok. Kalau aku masak, bisa-bisa bapak-bapak di batalyonmu keracunan semua!"

"Kalau begitu, belajar," balas Ren enteng, nada suaranya tidak menerima bantahan. "Kamu cerdas. Bisa menghafal ribuan istilah anatomi tubuh manusia, masa menghafal resep sayur sop saja tidak bisa?"

Skakmat. Cia merengut kesal, menyilangkan tangan di dada. Mulutnya berkomat-kamit tanpa suara, menirukan ucapan Ren dengan ekspresi mengejek, persis anak kecil yang sedang dimarahi.

Ren melihat tingkah kekanakan itu. Anehnya, alih-alih kesal, sebuah perasaan hangat yang asing menyusup perlahan ke sudut hatinya. Pria itu berjalan mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Cia harus mendongak untuk menatap wajahnya.

Aroma mint yang tajam kembali menyapa penciuman Cia.

"Jangan mengomel di belakang komandanmu, Prajurit," bisik Ren pelan. Telunjuk pria itu terangkat, mengetuk dahi Cia dengan pelan, sangat pelan, nyaris seperti sebuah sentuhan sayang.

Wajah Cia seketika memanas. Ia mundur selangkah, salah tingkah. "S-siapa yang ngomel! A-aku mau beresin baju dulu!"

Gadis itu berbalik cepat, setengah berlari menuju kamar utama, meninggalkan Ren yang berdiri di dapur dengan lengkungan sangat tipis di sudut bibirnya.

Sore harinya, kebosanan mulai melanda Cia. Ia sudah selesai menyusun bajunya (dan membongkar ulang susunan rapi buatan Ren karena ia tidak suka letak kausnya). Ren sendiri sedang duduk di teras depan, membersihkan sepatu botnya dalam diam.

Merasa sumpek, Cia memutuskan keluar ke teras, membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkan satu cangkir di meja kecil di sebelah Ren, lalu duduk di kursi seberangnya.

"Makasih," gumam Ren tanpa menatap Cia, tangannya sibuk menyemir kulit sepatu dengan gerakan memutar.

Cia menopang dagu, menatap Ren lamat-lamat. Pria ini mengenakan kaus oblong putih usang dan celana loreng yang digulung sebatas betis. Tampilannya sangat santai, jauh dari kesan kaku seperti saat memakai seragam, namun aura intimidasinya tidak berkurang sedikit pun.

"Mas Ren," panggil Cia tiba-tiba.

Gerakan tangan Ren terhenti. Ia mengangkat wajah, menatap Cia dengan pandangan sedikit terkejut karena panggilan itu. "Ya?"

"Luka di bahumu... perlu diganti perbannya sore ini. Jangan ditunda," ucap Cia, nada suaranya berubah profesional layaknya seorang dokter yang sedang memberikan instruksi pada pasiennya.

"Nanti malam saja. Saya masih ada jadwal briefing sore dengan perwira staf di aula batalyon jam empat."

Cia mendesah kasar. Ia melirik jam tangannya. Jam 15.45. "Lima belas menit lagi? Kamu mau briefing dengan luka yang belum dibersihkan dari semalam? Nggak. Buka kausmu sekarang, aku ganti perbannya. Aku udah bawa kotak P3K dari dalam."

Ren menatap Cia, rahangnya sedikit menegang. "Ini di teras, Cia. Terbuka. Istri tentara lainnya bisa melihat."

"Lalu? Kamu suamiku. Aku doktermu. Memangnya kenapa kalau mereka lihat aku obatin luka suamiku sendiri?" tantang Cia, menatap mata elang itu tanpa gentar. "Atau kamu lebih suka lukanya infeksi dan kamu harus diamputasi? Pilih mana?"

Ada keheningan sejenak. Ren menatap wajah keras kepala di depannya. Tidak pernah ada orang yang berani mendiktenya seperti ini, bahkan Letnan Bima sekalipun. Namun, melihat sorot kekhawatiran yang disembunyikan rapat di balik nada judes Cia, dinding pertahanan Ren perlahan melunak.

Sambil menghela napas pasrah, Ren menarik kausnya melewati kepala, mengekspos dada bidang dan punggungnya yang penuh bekas luka di udara sore yang teduh.

Cia segera berdiri, melangkah ke belakang punggung Ren dan mulai membuka plester kasa yang menempel. Tangannya bergerak sangat telaten dan lembut. Sesekali, saat ujung jarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit punggung Ren yang hangat, otot pria itu terlihat menegang menahan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh sarafnya.

"Selesai," ucap Cia setelah menempelkan plester baru. Ia menepuk pelan bahu kanan Ren.

Tepat saat Ren baru saja memakai kembali kausnya, suara decitan rem motor terdengar dari depan pagar rumah mereka.

Sebuah motor matik berhenti. Dua orang wanita turun dari sana. Wanita pertama mengenakan seragam hijau seragam Persit (Persatuan Istri Tentara) yang sangat pas di badan, berwajah tegas dengan lipstik merah menyala. Wanita kedua tampak sedikit lebih muda, juga mengenakan seragam yang sama, membawa sebuah map tebal di tangannya.

Melihat kedatangan mereka, Ren segera berdiri dari kursinya. Sikap santainya seketika berubah kaku.

"Selamat sore, Kapten," sapa wanita berlipstik merah itu dari balik pagar rendah. Senyumnya terlihat formal.

"Sore, Ibu Rima," balas Ren sopan. Ia menoleh sedikit ke arah Cia. "Cia, kemari. Ini Ibu Rima, istri dari Mayor Guntur, Wakil Komandan Batalyon kita."

Cia yang masih memegang kotak P3K, segera meletakkannya dan berjalan menghampiri pagar dengan senyum ramah. "Sore, Ibu. Saya Cia."

Rima menatap Cia dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya seolah sedang memindai spesifikasi senjata di gudang logistik. Tajam dan penuh penilaian.

"Oh, jadi ini dokter muda yang bikin Kapten Ren buru-buru ambil cuti nikah? Masih sangat muda, ya," ucap Rima. Nadanya terdengar ramah, namun ada ketegasan di baliknya yang membuat Cia sedikit waspada.

"Istri yang baik harus tahu aturan asrama, Mbak Cia," Rima memberikan isyarat pada wanita di sebelahnya. Wanita muda itu maju, menyodorkan map tebal yang dibawanya kepada Cia.

"Ini apa, Bu?" tanya Cia bingung, menerima map hijau tersebut.

"Buku panduan tata krama Persit, jadwal piket kebersihan asrama, daftar kegiatan sosial bulanan, dan jadwal senam bersama setiap hari Jumat jam enam pagi," jelas Rima lancar.

Cia menatap map itu dengan horor. "Piket? Senam pagi?"

Rima tersenyum tipis, sebuah senyum penuh arti. "Besok pagi jam tujuh, ada pertemuan pembekalan untuk istri perwira baru di aula asrama. Anda diwajibkan hadir mengenakan seragam Persit harian. Kapten Ren pasti sudah mengambilkannya untuk Anda di bagian administrasi."

Rima menatap Ren sekilas, lalu kembali pada Cia. "Di dunia sipil, mungkin Anda seorang dokter. Tapi di gerbang ini, Anda adalah istri perwira. Sikap Anda adalah cerminan kehormatan suami Anda. Jangan permalukan kesatuan. Selamat beristirahat, Kapten, Mbak Cia."

Tanpa menunggu balasan, kedua wanita itu pamit dan melaju pergi dengan motor mereka, meninggalkan debu tipis di udara.

Cia berdiri mematung di teras. Tangannya mencengkeram map hijau itu erat-erat. Perlahan, ia menoleh ke arah Ren.

"Besok jam tujuh pagi?" suara Cia bergetar antara panik dan ingin marah. "Aku ada jadwal jaga IGD besok pagi jam delapan, Ren! Aku harus konsul ke dokter residen jam setengah delapan!"

Ren menatap istrinya dengan ekspresi datar yang kembali terpasang rapi.

"Selamat datang di dunia militer, Cia," ucap Ren tenang, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Pilih prioritasmu dengan bijak, karena di sini... tidak ada kompromi untuk sebuah kewajiban."

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!