Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Kirana tidak ingin datang ke rumah Pak Hendra.
Namun ia datang.
Bukan karena rindu keluarga. Bukan karena takut pada perintah Pak Hendra. Ia datang karena nama Mahendra disebut, dan setiap kali nama itu muncul, wajah Raka menjadi sedikit lebih tertutup.
Ia harus tahu.
Raka menemaninya dengan kemeja hitam sederhana yang sudah disetrika Kirana pagi tadi. Ia sempat menolak, berkata bisa menyetrika sendiri, lalu hampir membuat bagian lengan mengilap karena suhu terlalu panas. Kirana mengambil alih tanpa komentar.
Sekarang laki-laki itu berjalan di sampingnya menuju pintu rumah Hendra, tampak tenang seperti sedang masuk ke warung, bukan rumah orang yang dua hari lalu menghakimi mereka.
Kirana menahan napas saat pintu dibuka.
Nadira berdiri di ruang tamu.
Gaunnya berwarna krem lembut. Rambutnya tergerai rapi. Senyumnya tipis, dibuat seolah ia sudah memaafkan dunia.
"Kirana. Raka." Nadira melangkah mendekat. "Terima kasih sudah datang."
Kirana menatapnya. "Kami diundang."
"Tentu. Ini rumah keluarga."
"Bukan rumahku."
Senyum Nadira hampir retak.
Bu Ratna muncul dari ruang makan. "Jangan mulai membuat suasana tidak enak."
"Saya belum mulai, Bu."
Raka batuk kecil, seperti menahan tawa.
Kirana meliriknya.
Pak Hendra duduk di ruang tengah bersama seorang pria berusia empat puluhan yang memakai jas biru tua. Kirana tidak mengenalnya. Di samping pria itu ada seorang asisten muda.
Pak Hendra berdiri.
"Ini Pak Surya, konsultan kerja sama dari Mahendra Group."
Raka menatap pria itu sebentar.
Pak Surya juga menatap Raka.
Ada jeda kecil, terlalu kecil untuk orang lain sadari, tapi cukup bagi Kirana.
Pak Surya tahu Raka.
Atau setidaknya mengenalnya.
"Selamat malam," kata Pak Surya sopan.
Raka mengangguk. "Malam."
Pak Hendra mempersilakan semua duduk. Makan malam disiapkan di meja panjang. Nadira sengaja duduk di seberang Raka. Kirana duduk di samping Raka, tidak mau memberi celah permainan kecil.
Makanan tersaji mewah: sop buntut, ikan bakar, sate lilit, salad mangga, dan beberapa menu Barat yang tampak dibuat katering hotel. Bu Ratna berbicara tentang acara amal, Pak Hendra berbasa-basi tentang proyek, Nadira sesekali menatap Raka.
Raka makan dengan tenang.
Tidak seperti orang yang canggung di meja keluarga kaya.
Kirana makin curiga.
Setelah makan, Pak Hendra mulai masuk ke inti.
"Pak Surya, soal proyek properti kami yang tertunda, sebenarnya kami ingin memahami apa kekurangannya. Keluarga kami selalu menjaga komitmen."
Pak Surya tersenyum profesional. "Mahendra Group memang menghargai komitmen. Karena itu kami sangat berhati-hati memilih mitra."
Kalimat itu halus.
Tapi menusuk.
Wajah Pak Hendra kaku. "Tentu."
Bu Ratna menambahkan, "Kalau ada isu tentang keluarga kami beberapa hari ini, itu hanya masalah pribadi. Tidak ada hubungannya dengan bisnis."
Pak Surya menaruh gelas. "Di bisnis keluarga besar, masalah pribadi sering menunjukkan karakter pengambil keputusan."
Nadira menatap Kirana seolah semua ini salahnya.
Kirana balas menatap datar.
Pak Hendra tertawa kecil. "Saya paham. Karena itu kami menyelesaikan semuanya secara baik. Raka sekarang bersama Kirana."
Pak Surya melirik Raka.
"Begitu?"
Raka tidak menjawab. Ia mengambil air dan minum.
Pak Hendra tampak tidak nyaman. "Raka, kamu mungkin bisa menjelaskan pada Pak Surya bahwa keluarga kami tetap bertanggung jawab."
Raka meletakkan gelas.
"Saya tidak mewakili keluarga ini."
Ruangan hening.
Nadira menunduk, menyembunyikan senyum tipis. Ia pikir Raka sedang mempermalukan Pak Hendra. Bu Ratna terlihat tersinggung. Pak Hendra menahan marah.
Pak Surya justru mengangguk pelan.
"Jawaban yang jujur."
Kirana menatap Pak Surya.
Kenapa reaksinya seperti itu?
Pak Hendra cepat mengubah arah. "Raka memang masih emosional. Maklum, anak muda."
Raka menoleh. "Saya dua puluh delapan."
Nadira tertawa lembut. "Raka, Papa hanya bermaksud baik."
"Saya tahu maksud Pak Hendra."
Nada Raka membuat Nadira berhenti tertawa.
Pak Surya akhirnya berkata, "Mahendra Group akan meninjau ulang proposal kerja sama. Namun keputusan tetap di tangan direksi."
Pak Hendra mencoba tersenyum. "Tentu. Kami menunggu kabar baik."
Setelah pembicaraan bisnis mereda, Nadira berdiri.
"Raka, boleh bicara sebentar?"
Kirana menatapnya.
Nadira tersenyum. "Di taman saja. Aku ingin meminta maaf secara pribadi."
Kirana hampir menjawab, tapi Raka lebih dulu berkata, "Minta maaf di sini saja."
Wajah Nadira berubah.
Bu Ratna berkata, "Raka, Nadira sudah berusaha baik."
"Kalau baik, tidak perlu tempat tersembunyi."
Kirana menunduk untuk menyembunyikan senyum.
Nadira menarik napas. "Baik. Aku minta maaf. Aku akui saat itu aku panik. Aku merasa dikhianati. Tapi setelah berpikir, mungkin semua ini memang takdir."
Kirana menatapnya.
Takdir?
Nadira melanjutkan dengan suara lembut, "Kamu dan Kirana sudah terlanjur bersama. Aku tidak akan menghalangi. Tapi Raka, janji keluarga kita dulu tetap pernah ada. Aku harap kita tidak menjadi musuh."
Raka memandangnya seperti sedang melihat naskah buruk.
"Kita tidak pernah menjadi apa pun, Nadira."
Kalimat itu jatuh dengan tenang.
Dan kejam.
Wajah Nadira pucat.
Pak Hendra berdeham. "Raka..."
Raka berdiri. "Kami pamit."
Kirana ikut berdiri, tapi Pak Hendra memanggilnya.
"Kirana, tunggu."
Ia berhenti.
Pak Hendra mengambil amplop cokelat dari meja kecil. "Ini dokumen. Karena situasi kalian sudah begini, keluarga perlu membicarakan langkah resmi. Lamaran, pernikahan, atau setidaknya pernyataan bersama agar gosip berhenti."
Kirana tidak mengambil amplop itu.
"Aku tidak akan menikah hanya untuk membersihkan nama keluarga."
Bu Ratna berkata dingin, "Namamu juga ikut bersih kalau keluarga bicara."
"Nama saya kotor karena kalian."
Bu Ratna berdiri. "Jaga mulutmu."
Kirana menatapnya. "Saya sudah terlalu lama menjaga mulut agar kalian nyaman."
Pak Hendra menekan pelipis. "Kirana, Papa tidak mau bertengkar."
"Aku juga."
"Lalu apa maumu?"
"Untuk sekali saja, jangan putuskan hidupku di ruang keluarga ini."
Pak Hendra terdiam.
Raka menatap Kirana dengan sesuatu yang lembut di matanya.
Pak Surya yang sejak tadi diam akhirnya bicara. "Saya rasa keputusan pribadi memang sebaiknya dibuat oleh pihak yang menjalani."
Pak Hendra tampak makin malu.
Kirana mengambil tasnya. "Kami pulang."
Di teras, Nadira menyusul mereka.
"Kirana."
Kirana berhenti.
Nadira tidak lagi tersenyum. "Kamu merasa hebat karena Raka membelamu?"
"Tidak."
"Jangan terlalu percaya. Laki-laki yang punya rahasia biasanya meninggalkan perempuan saat rahasianya terbuka."
Kirana menatap Raka sekilas, lalu kembali ke Nadira.
"Mungkin. Tapi setidaknya aku tidak perlu merebut lagi sesuatu yang sudah kubuang."
Nadira mengangkat tangan.
Raka menangkap pergelangan tangannya sebelum tamparan itu mengenai Kirana.
Gerakannya cepat dan dingin.
"Jangan."
Nadira menatap tangan Raka yang memegang pergelangannya. Wajahnya campuran malu, marah, dan sesuatu yang hampir seperti rindu.
"Dulu kamu tidak pernah membelaku seperti ini."
Raka melepaskan tangannya.
"Dulu kamu tidak pernah layak dibela."
Nadira seperti ditampar tanpa disentuh.
Kirana menarik napas. "Ayo."
Mereka keluar dari gerbang rumah Hendra dengan langkah cepat.
Di jalan, Kirana akhirnya berhenti.
"Pak Surya mengenalmu."
Raka diam.
"Jangan bohong."
"Dia pernah melihat saya."
"Sebagai sopir Bima?"
"Mungkin."
"Raka."
Ia menatapnya. Lampu jalan menerangi setengah wajahnya, membuat ekspresinya sulit dibaca.
"Kirana, saya memang punya urusan dengan Mahendra Group. Tapi saya belum bisa menjelaskannya malam ini."
"Kenapa?"
"Karena kalau saya jelaskan setengah, kamu akan salah paham. Kalau saya jelaskan penuh, ada hal lain yang ikut terbuka."
"Hal apa?"
"Tentang kenapa saya dulu datang memenuhi janji keluarga Nadira."
Kirana terdiam.
Raka melanjutkan, "Ada seseorang yang saya cari. Saya pikir orang itu Nadira."
Dada Kirana terasa aneh. "Seseorang?"
"Seorang anak perempuan yang pernah menyelamatkan saya bertahun-tahun lalu. Ada gelang lama sebagai petunjuk."
Kirana langsung teringat gelang Nadira.
"Gelang naga dan burung itu?"
"Iya."
"Jadi kamu datang karena Nadira punya gelang itu."
"Awalnya."
Kirana menatap jalan. Angin malam terasa panas.
"Sekarang?"
Raka menjawab tanpa jeda.
"Sekarang saya tahu Nadira bukan orang yang saya cari."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Karena orang yang menyelamatkan saya tidak mungkin tumbuh menjadi perempuan seperti dia."
Kirana ingin percaya pada kalimat itu.
Namun bagian lain dirinya bertanya: jika bukan Nadira, siapa?
Raka menatapnya.
"Kita pulang?"
Kirana mengangguk.
Malam itu mereka pulang dengan taksi online. Tidak banyak bicara. Namun diamnya tidak sama seperti dulu.
Ada rahasia baru di antara mereka.
Di rumah Hendra, Nadira berdiri di kamar dengan napas memburu. Pergelangan tangannya masih terasa panas bekas pegangan Raka.
Bu Ratna masuk.
"Kamu kehilangan kendali."
"Dia mempermalukanku."
"Karena kamu membiarkan Kirana memancingmu."
Nadira menatap ibunya. "Raka mencari anak perempuan yang pernah menyelamatkannya. Gelang itu petunjuknya."
Bu Ratna diam.
Nadira menyipitkan mata. "Mama tahu sesuatu?"
"Gelang itu dulu milik keluarga kita."
"Tapi kenapa Raka begitu yakin?"
Bu Ratna memandang keluar jendela.
Pertanyaan itu membawa ingatan lama yang seharusnya terkubur.
Gelang itu bukan milik Nadira sejak awal.
Dan jika Raka terus mencari, bukan hanya kebohongan Nadira yang bisa terbuka.
Ada rahasia lain yang jauh lebih berbahaya.