Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Kasus yang Mempertemukan
"Bu, anda mendapat surat dari atasan," kata Tejo, Penyidik pembantu yang selalu bekerja bersama dengan Emma.
"Ck, pasti skors lagi. Lagu lama kembali berdendang." Emma melempar surat pemberitahuan dengan ogah-ogahan.
"Paling tidak, turunkan kakimu lah Bu. Kalau Pak Irwan lihat bisa ngamuk lagi."
Sudah menjadi kebiasaan, Emma meletakkan kedua kakinya di atas meja saat mencoba memecahkan beberapa kasus, seperti memang letak kaki seharusnya memang di situ.
Seolah mendengarkan nasehat Tejo-junior setianya, Emma menurunkan kakinya. Namun ia melakukannya bukan karena introspeksi atau semacamnya, tapi bermaksud menemui Pak Irwan.
"Skors selama sebulan ya? Apa alasannya? Oh... Bapak takut, saya mengobrak-abrik Chanel Bapak?" Teriaknya di depan muka Pak Irwan tanpa rasa takut sedikitpun.
"Lancang sekali kamu!" Pak Irwan melotot dan menggerakkan giginya seperti anjing yang melihat musuh.
"Kalau bukan, apa masalahnya? Saya sudah hampir menangkap pembunuh itu. Tapi apa? Bapak lepaskan dia dengan alasan kurang bukti," kata Emma tak mau kalah.
"Karena memang kurang bukti! Yang kamu punya hanya bukti tidak langsung!"
"Bukti tidak langsung? Saya bahkan membawa senjata pelaku beserta sidik jarinya. Tapi Bapak bilang itu kurang?"
"Bisa saja dia dijebak. Cctv! Kamu perlu video cctv!" Pak Irwan masih saja ngotot.
"Cctv? Seolah tidak ada yang berusaha menghancurkan bukti cctv. Dan entah kenapa semua cctv di area tersebut mati. Ahh... Berdebat dengan Bapak tidak ada untungnya. Yang ada aku capek sendiri!" Gumamnya sambil berjalan keluar kantor dan mengakhirinya dengan bantingan pintu.
Brakkk!!!!
Tejo yang menguping di balik pintu gemetar hebat. Dia takut partner kerjanya dicopot jabatannya. Sedangkan dirinya pasti kena imbas juga.
Emma yang berjalan dengan emosi yang menggebu tak menghiraukan keadaan sekitar. Dia bahkan tidak mendengar teriakan Tejo yang memanggilnya terus menerus.
"Bu... Bu Emma!" Tejo berlari mengikuti atasannya yang sedang marah itu.
"Bu, mau kemana?"
"Kemana lagi? Ya pulang! Bukankah aku dapat skors!" Kata Emma membuka pintu mobil dengan kencang.
"Tapi Bu?"
"Kamu disini saja! Kalau nggak mau kena masalah lagi!" Perintah Emma.
Tejo hanya diam, pasrah dengan perintah Emma yang menurutnya ada benarnya.
"Kalau ada apa-apa hubungi aku," mata anjing Tejo berbinar seolah sedih berpisah dengan majikannya.
"Iya, iya nanti aku hubungi kalau ada apa-apa. Aku nggak bakal bikin ulah lagi. Tenang aja!"
"Terakhir kali ibu juga bilang gitu, tapi apa yang terjadi? Anda kena skors. Kan sudah saya bilang, jangan menyelidiki sendirian." Guman Tejo.
"Iya, iya bawel amat lu!"
Emma melanjutkan langkahnya untuk mengendarai mobilnya.
...****************...
Emma sengaja membuka sedikit jendela mobilnya, membiarkan angin semilir menerpa rambut lepeknya. Perjalanan yang menenangkan, mungkin. Baginya, yang sehari-sehari selalu disibukkan dengan tumpukan kasus itu, perjalanan ini membuatnya sedikit bernafas.
"Haaah.... Anggap saja ini liburan hehe. Yuhuuuu!!!" Dia berteriak kencang di tengah-tengah tol.
Emma memang bermaksud untuk pulang ke rumah. Tapi entah kenapa, mobilnya melaju lebih jauh dari rumahnya. Bahkan tidak terasa sudah seharian ia menyetir. Hingga ia tersadar bahwa mobilnya telah mengantarkannya ke kampung halaman. Kampung dimana orang tuanya tinggal, Kampung Maju Mundur.
'Akhirnya aku pulang juga,' batinnya sembari berjalan ke rumah nyamannya. Tentu saja Emma disambut dengan hangat dan penuh kasih sayang oleh kedua orang tuanya.
"Sebentar, kok kamu tiba-tiba pulang nggak ngabarin ibu? Kamu pasti kena masalah ya di kantor? Ngaku aja udah!" Tanya Ibu Emma, Bu Tiwi yang sering dikira kakaknya karena terlalu awet muda.
"Jadi nggak boleh nih? Ya udah deh balik Jakarta aja!" Goda Emma.
"Yaelah, gitu aja ngambek. Awas cepet tua!" Ejek Bu Tiwi.
"Sudah, sudah anak baru pulang dimarahin. Cepetan masuk, mandi, dan istirahat." Kata Pak Izul, ayah Emma.
"Siap Daddy!!!" Emma hormat seperti bersama dengan atasan.
"Dasar! Disekolahin tinggi-tinggi terus dijadiin polisi eh malah kerjaannya buat masalah terus, capek aku tuh!" Lagi-lagi Bu Tiwi ngedumel.
Namun, Emma tak menghiraukan kicauan ibunya dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
...****************...
Kamarnya masih seperti dulu, banyak tumpukan buku usang bekas persiapan tes Kepolisian 10 tahun yang lalu dan banyak sticky note yang menempel di tembok. Hanya lebih bersih saja, karena setiap hari Bu Tiwi membersihkan kamar anaknya tersebut sebagai pelepas rindu.
Semua yang ada di kamarnya menyimpan kenangan, berapa sulitnya perjuangannya untuk masuk ke Kepolisian. Namun apa yang terjadi sekarang? Dia kembali ke kamar ini dalam posisi di skors. "Ya, setidaknya aku tidak dipecat."
"Huft..." Emma melempar badannya ke kasur empuk miliknya dan menatap plafon yang mulai berjamur. "Ini memang cita-citaku dari SMA. Ini versi diriku yang aku idam-idamkan sejak kecil. Aku harus terima ini!" Pikirannya melayang membayangkan dirinya waktu SMA.
SMA, masa yang indah. Semua dipenuhi dengan persahabatan yang seru, cerita pencarian jati diri, pencarian cita-cita, harapan, dan Levi.
Seketika Emma membuka matanya setelah mengingat Levi. Dia bukan mantan pacar atau sejenisnya tapi dia cinta pertama dan satu-satunya orang yang pernah ia cintai. Dia ingat, hanya dengan mendengar namanya disebut jantungnya berdebar dan ingin pingsan. Sungguh cinta bertepuk sebelah tangan yang tragis. "Sekarang dia dimana ya? Apa pekerjaannya? Dia dulu anggota band sih. Pasti udah jadi artis," pikir Emma.
Seolah tak ingin larut dengan bayangannya akan cinta pertamanya itu, dia memutuskan untuk segera tidur. Mungkin besok ia akan pergi ke sekitar lingkungan SMA untuk melepas rindu. Memikirkannya saja, sudah membuatnya tak sabar.
Keesokan harinya, Emma benar-benar pergi ke sekitar SMA-nya. Ia berjalan menyusuri jalan trotoar seberang sekolah. Ia melihat ada banyak penjual jajanan yang siap menyambut kepulangan para siswa.
"Wah...sekarang gedungnya tinggi-tinggi banget. Ada 4 lantai lagi. Mmm... Sedikit bahaya sih." Batin Emma sembari menghitung banyak tingkat di gedung sekolah.
"Sebentar apa itu?" Katanya sambil mengunyah cilok.
Dia menyipitkan matanya untuk menjaganya fokus. Namun masih saja tak jelas. Di atas gedung tertinggi dia melihat sosok berseragam yang sedang melihat ke bawah.
"Apa yang sedang ia lakukan?" Emma berlari cepat menyeberang jalan. Namun usahanya sia-sia.
BRAK!!!!
Di depan matanya, ia melihat seorang siswa jatuh bersimbah d*rah.
Semua orang kaget. Semua berhamburan dan mendekat. Bahkan Emma hampir terjatuh karena ada bapak-bapak yang menabraknya.
Emma sekuat tenaga berlari kearah siswa tersebut untuk memeriksa keadaannya.
"Cepat telpon ambulan cepat!" Teriaknya pada semua orang. Namun anak itu tak tertolong. Emma tak bisa merasakan detak jantungnya.
"Tidak, tidak. Ya Tuhan kumohon! Dion! Bertahanlah! " Teriak salah satu orang yang ada di dekatnya.
Mendengar ada seseorang mengenalnya, Emma menoleh. "Kamu mengenalnya?"
"Tentu saja, dia muridku," kata laki-laki itu.
Betapa terkejutnya Emma setelah tahu laki-laki yang mengatakan kalau itu muridnya adalah seseorang yang ia kenal.
Tentu saja ia mengenalnya, ia adalah Levi, cinta bertepuk sebelah tangannya.