NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:708
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Malam Sabtu Kliwon: Penagihan Janji

Waktu adalah sipir penjara yang paling kejam; ia tidak bisa disuap, tidak bisa dihentikan, dan terus berjalan menyeret Sekar menuju lubang eksekusinya. Tiga hari setelah konfrontasi berdarah di depan cermin pecah itu, malam yang teramat ditakuti akhirnya tiba. Sabtu Kliwon.

Sejak matahari terbenam di ufuk barat dengan warna merah tembaga yang ganjil—seolah-olah langit sedang memuntahkan darah segar—seluruh kampung tempat tinggal Sekar diselimuti oleh kesunyian yang tidak wajar. Tidak ada suara jangkrik yang biasanya saling menyahut di semak-semak. Tidak ada lolongan anjing liar yang kerap memecah keheningan malam. Bahkan para tetangga seakan serentak mengunci pintu rumah mereka lebih awal, seolah-olah insting primitif manusia mereka telah mencium aroma bahaya yang sedang mengalir turun dari lereng gunung.

Di dalam rumahnya, Sekar duduk di tengah ruang tamu. Dia sengaja tidak mengunci diri di kamar. Belajar dari kematian Bagas dan ayahnya, sekat dinding atau tralis besi tidak lebih dari sekadar tumpukan mainan rapuh di hadapan Sang Kalingga.

Rahayu, ibunya, duduk beberapa meter di seberangnya di atas tikar pandan. Wanita tua itu memegang seuntai tasbih kayu, jemarinya yang keriput menggerakkan butiran-butiran kayu itu dengan kecepatan yang tidak wajar, sementara bibirnya merapalkan doa-doa pelindung dengan suara yang terputus-putus karena gemetar. Namun, doa itu terdengar kosong. Di dalam rumah yang telah ditandai oleh iblis, kata-kata suci seakan menguap sebelum sempat menyentuh langit-langit.

"Bu... hentikan," bisik Sekar datar. Tatapan matanya kosong, terpaku pada pintu depan rumah yang terbuat dari kayu jati tua. "Dia sudah ada di halaman depan."

Rahayu tersentak, tasbih di tangannya nyaris terlepas. "Nduk, jangan bicara begitu. Sebut, Nduk, sebut nama Gusti Allah..."

Sekar tidak menyahut. Dia tidak sedang berhalusinasi. Jauh di dalam rongga dadanya, jantungnya berdegup dengan frekuensi yang asing—sebuah detakan ganda yang aneh, seolah ada jantung lain yang sedang menumpang hidup di dalam tubuhnya. Punggung kanannya tidak lagi terasa hangat; sejak magrib tadi, belikatnya terasa seperti ditempeli sebilah lempengan besi yang membeku dari neraka.

Wushhhh!

Hantaman angin kencang mendadak datang entah dari mana, memukul dinding luar rumah mereka dengan kekuatan yang masif. Struktur bangunan tua itu berderit keras, debu-debu halus berjatuhan dari sela-sela eternit plafon. Jendela kaca di ruang tamu bergetar hebat, mengeluarkan suara berisik yang memekakkan telinga.

Bersamaan dengan itu, bau bunga kenanga busuk yang amat pekat terlempar masuk melalui celah-celah ventilasi. Wanginya begitu tebal, seolah-olah ada ratusan karung bunga makam yang telah membusuk berhari-hari sedang ditumpahkan tepat di dalam ruang tamu mereka. Bau itu langsung menyumbat tenggorokan, memicu rasa mual yang hebat.

Ctak!

Lampu neon di ruang tamu berkedip sekali, mengeluarkan suara letupan kecil, lalu mati total. Kegelapan pekat yang mutlak langsung menelan seluruh ruangan. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah seberkas sinar bulan mati dari luar jendela yang menciptakan siluet-siluet kelabu yang kaku.

"Sekar! Sekar, kamu di mana, Nduk?!" jerit Rahayu histeris di tengah kegelapan. Suara gesekan tubuhnya yang merangkak panik di atas tikar pandan terdengar kacau.

"Aku di sini, Bu. Jangan bergerak," jawab Sekar. Anehnya, suaranya terdengar teramat tenang—ketenangan yang lahir dari keputusasaan yang telah mencapai titik nadir.

Lalu, suara itu dimulai.

Dari segala arah—dari bawah lantai tegel yang dingin, dari balik dinding bata yang lembap, hingga dari atas langit-langit bambu—terdengar suara desisan yang masif.

Sssss... sreeet... sssss...

Itu bukan suara desisan dari satu atau dua ekor ular. Itu adalah paduan suara mengerikan dari jutaan lidah bercabang yang sedang bergerak serentak. Suara gesekan sisik-sisik mati di atas permukaan keras terdengar begitu dekat, seolah-olah seluruh fondasi rumah mereka telah berubah menjadi sarang ular raksasa yang sedang menggeliat bangun.

Sekar bisa merasakan sensasi mengerikan di bawah telapak kaki telanjang yang ia pijakkan ke lantai. Tegel rumahnya mendadak terasa bergerak, bergelombang kaku, seolah-olah ada ribuan tubuh melata yang sedang merayap tepat di bawah lapisan semen, mendesak untuk pecah dan keluar ke permukaan.

Rasa sakit yang belum pernah dirasakan Sekar seumur hidupnya mendadak meledak di punggung kanannya.

"AAAAAGHHH!" Sekar menjerit kesakitan, tubuhnya ambruk ke atas lantai dengan posisi meringkuk.

Rasa sakit itu luar biasa intens, seperti kulit punggungnya sedang disilet secara melingkar oleh ratusan pisau bedah yang membara, lalu ditarik paksa dari dagingnya. Di dalam kegelapan, Sekar bisa mendengar suara robekan yang mengerikan—suara kulit manusianya yang mengelupas dan memisahkan diri dari jaringan otot.

Sreeet... sreeeet...

Cairan kental yang hangat dan anyir mulai mengalir deras, membasahi seluruh bagian belakang kaus yang dikenakannya, menetes hingga ke lantai. Itu adalah darah segar. Namun, robekan itu tidak berhenti di sana. Di bawah lapisan kulit yang terkelupas itu, sesuatu yang lain sedang mendesak keluar dengan paksa.

Dari balik pori-porinya yang hancur, struktur baru mulai mengeras dengan cepat. Sisik-sisik ular yang asli—bukan lagi sekadar tanda lahir, melainkan kepingan-kepingan keratin berwarna hitam legam dengan tepian sewarna emas tua—mulai mencuat keluar satu demi satu. Sisik-sisik itu saling mengunci, bergeser kaku, merayap naik menembus leher belakangnya dan mulai menyebar ke arah pundak kiri.

Setiap kali satu keping sisik baru terbentuk, Sekar merasakan sensasi dingin yang mematikan menjalar ke tulang belakangnya, perlahan-lahan mematikan saraf manusianya, menggantikannya dengan kekakuan reptil yang dingin. Dia tidak bisa lagi menggerakkan lehernya secara normal; otot-otot di bagian atas tubuhnya kian mengeras seumpama kerangka mahluk melata.

"I-Ibu..." Sekar mendesis. Suaranya kini telah berubah sepenuhnya, kehilangan nada feminin manusianya, berganti dengan suara ganda yang berat dan berdesis tajam di setiap akhir kata. "Dia... Dia sudah membuka pintu..."

Di ujung ruang tamu, pintu depan yang terkunci rapat dengan dua selot besi mendadak terbuka perlahan tanpa mengeluarkan suara derit sedikit pun. Pintu itu mengayun lebar-lebar, mengundang kegelapan malam di luar untuk menyatu dengan kegelapan di dalam rumah.

Di ambang pintu yang terbuka itu, berdiri sebuah siluet yang teramat tinggi, memotong garis samar cahaya bulan. Kabut hitam yang tebal meluncur masuk mendahuluinya, merayap di atas lantai seumpama karpet beludru hidup yang membawa hawa kematian yang mutlak.

Siluet di ambang pintu itu bergerak maju dengan keanggunan yang janggal dan mematikan. Dia tidak melangkah. Tidak ada suara ketukan langkah kaki manusia di atas lantai tegel yang dingin. Yang terdengar hanyalah suara gesekan berat yang konstan—suara ratusan kilogram daging dan sisik tebal yang menyapu lantai, menimbulkan getaran frekuensi rendah yang membuat kaca-kaca jendela yang tersisa bergetar halus.

Saat sosok itu melewati batas bias cahaya bulan mati, wujud aslinya yang mengerikan terhampar nyata di depan mata Sekar dan ibunya.

Mahluk itu adalah perwujudan dari mimpi buruk purba. Dari pinggang ke atas, bentuk tubuhnya menyerupai seorang pria jangkung dengan dada bidang yang kokoh, namun kulitnya tidak berwarna sawo matang atau putih, melainkan kelabu pucat seumpama mayat yang telah direndam di dasar air selama berabad-abad. Di beberapa bagian bahu dan lengannya, gumpalan sisik hitam mengilap tumbuh menyembul dari balik daging, berkilat tajam tertimpa cahaya suram.

Namun, dari pinggang ke bawah, seluruh kedagingan manusianya lenyap seutuhnya. Tubuh bagian bawah itu bertransformasi menjadi ekor ular raksasa sewarna legam yang besarnya menyamai batang pohon kelapa tua. Ekor itu meliuk-liuk horizontal di atas lantai ruang tamu, meremukkan sudut tikar pandan tempat Rahayu terduduk hingga hancur menjadi serpihan kering.

Di atas kepalanya yang tegak, bertengger sebuah mahkota emas kuno dengan ukiran naga kembar yang saling melilit. Wajah tampannya yang dingin—yang sebelumnya Sekar lihat di dalam cermin—kini tampak jauh lebih distorsif dan mengerikan. Rahang bawahnya tampak sedikit lebih panjang, dan sepasang mata emas dengan pupil vertikal yang menyempit itu memancarkan pendar gaib yang sanggup mengunci mati kesadaran siapa pun yang menatapnya.

"S-Sang Kalingga..." Rahayu merangkak mundur dengan histeris hingga punggungnya membentur kaki meja kayu di sudut ruangan. Napasnya tersengal-sengal, sementara air matanya mengalir deras membasahi wajahnya yang dipenuhi ketakutan yang teramat murni. "Ampun, Sang Penguasa... Jangan bawa anak saya... Ampun..."

Kalingga sama sekali tidak melirik ke arah Rahayu. Baginya, wanita tua itu tidak lebih dari sekadar serangga fana yang masa kontraknya telah usai. Sepasang mata emasnya terkunci mutlak pada Sekar yang masih merayap kesakitan di atas lantai, berlumuran darahnya sendiri.

"Waktunya telah genap, Sabtu Kliwon-ku," suara Kalingga menggelegar langsung di dalam gendang telinga Sekar. Suara baritonnya begitu berat, bergetar dengan desisan yang sanggup meruntuhkan sisa-sisa pertahanan mental Sekar. "Napas yang kupinjamkan dua puluh dua tahun lalu di Sendang Kalingga... kini menuntut kepulanganmu."

Sekar berusaha menengadah, mencengkeram lantai tegel dengan kuku-kukunya hingga berdarah. Di dalam kepalanya, rasa sakit dari punggungnya yang terus mengelupas beradu dengan hipnotis mistis yang dipancarkan oleh kehadiran mahluk tersebut.

"T-tidak... pergi..." desis Sekar, suaranya makin parau, menyisakan desisan panjang di ujung lidahnya yang mendadak terasa kelu dan kaku.

Kalingga terkekeh pelan. Suara tawa itu terdengar kering, berdesis seumpama ribuan sisik ular yang bergeser di atas tumpukan daun kering. Bagian ekor raksasanya bergerak maju, meluncur luwes di atas lantai tegel, melingkari tubuh Sekar yang ringkih tanpa menyentuhnya terlebih dahulu—sebuah kepungan absolut yang menutup seluruh akses keluar bagi Sekar.

Hawa sedingin es yang pekat mendadak menguar dari tubuh Kalingga, menurunkan suhu ruangan hingga ke titik yang membekukan. Uap napas Sekar keluar dengan kental di udara yang pengap oleh bau kenanga busuk.

Kalingga menundukkan tubuh jangkungnya yang pucat. Gerakan lehernya begitu luwes, memanjang dan meluncur turun di atas tubuh Sekar yang gemetar. Lengannya yang panjang, dengan kuku-kuku hitam meruncing tajam, bergerak maju secara perlahan.

Di dunia nyata, Sekar merasakan seluruh tubuhnya lumpuh total. Dia tidak bisa berteriak, tidak bisa memejamkan mata, bahkan tidak bisa menggerakkan satu jari pun. Ketakutan yang amat murni mengunci sistem sarafnya saat tangan bersisik dingin milik Kalingga mulai merayap naik, mendekati wajahnya.

Ujung kuku hitam Kalingga yang sedingin es menyentuh lembut pipi kanan Sekar—tepat di bagian kulit pipinya yang sejak beberapa hari lalu mulai mati rasa. Saat kulit mereka bersentuhan, Sekar bisa merasakan getaran ganjil yang merambat masuk ke dalam tengkoraknya, sebuah rasa kepemilikan mutlak yang mengonfirmasi bahwa jiwanya memang bukan lagi miliknya sendiri.

"Jangan menangis, Cah Ayu..." bisik Kalingga tepat di depan wajah Sekar. Napas mahluk itu tidak terasa hangat, melainkan membawa embusan angin malam yang berbau anyir darah dan kemenyan. "Kulit fana ini hanya menghalangimu dari singgasanaku. Ikutlah denganku... pakailah jubah keabadianmu di bawah bumi."

Sekar membelalak gila. Dari sudut matanya yang basah oleh air mata, dia bisa melihat sisik-sisik hitam di punggungnya kini telah merayap naik, melewati pangkal leher, dan mulai muncul satu demi satu di atas kulit rahangnya. Proses metamorfosis itu sedang dipercepat oleh sentuhan fisik Sang Kalingga.

Di sudut ruangan, Rahayu hanya bisa menyaksikan dengan tatapan kosong dan tubuh yang gemetar hebat saat tubuh anak perempuannya mulai dilingkari oleh ekor ular raksasa yang hitam legam, perlahan-lahan mengangkat tubuh Sekar yang kaku dari atas lantai menuju kegelapan malam yang tak berujung.

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!