NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

Keheningan yang mencekam kembali meledak di dalam ruangan setelah ancaman dingin Arkan berdengung di telinga mereka. Wajah Clarissa yang tadinya memancarkan ketenangan berkelas, kini memucat sempurna. Ancaman tentang pengosongan saham di lantai bursa bukanlah gertakan kosong jika keluar dari mulut seorang Arkananta Mahendra.

"Arkan! Kamu benar-benar sudah dibutakan oleh perempuan panti ini!" Pekik Sofia dengan napas memburu, tangannya gemetar menunjuk ke arah Milly yang masih berdiri tegak berlindung di balik punggung tegap suaminya. "Kamu mengancam keluarga Gunarto? Kamu mengancam ibumu sendiri hanya demi membela dia?!"

Nenek Ambar melangkah maju, tongkat emasnya dihentakkan dengan getaran amarah yang luar biasa. "Arkananta, ingat posisi mudamu! Silsilah Mahendra dibangun dengan reputasi dan kehormatan, bukan dengan emosi murahan! Jika kamu bersikeras mempertahankan perempuan tidak tahu adat ini, Eyang tidak akan segan-segan mencabut restu dari dewan komisaris utama!"

Milly, yang mendengar ancaman berat dari sang nenek, merasakan debaran di dadanya kembali berkejaran. Ia tahu seberapa besar arti Mahendra Group bagi Arkan. Namun, sebelum rasa cemasnya mengambil alih, ia merasakan remasan lembut di jemarinya. Arkan sama sekali tidak goyah.

"Silakan lakukan itu, Eyang," sahut Arkan, datar tanpa riak, seolah dewan komisaris utama hanyalah sekumpulan nama tanpa arti. "Namun perlu saya ingatkan, pemegang kendali mutlak atas seluruh aliran modal Mahendra Group saat ini ada di tangan saya. Jika Eyang ingin memicu perang internal di dalam korporasi hanya karena masalah domestik malam ini, saya siap melayani besok pagi pukul sembilan tepat di ruang rapat utama."

"Kau...!" Nenek Ambar tersedak oleh kata-katanya sendiri, wajah keriputnya menegang menahan syok. Pria muda yang dulu mereka didik untuk menjadi mesin korporat yang patuh, kini telah berubah menjadi singa utuh yang tidak bisa lagi dikekang oleh rantai silsilah keluarga.

Clarissa yang menyadari situasi telah berbalik menjadi sangat berbahaya bagi posisi keluarganya, segera menyentuh lengan Sofia. Ia tahu, menantang Arkan yang sedang dalam mode protektif seperti ini adalah tindakan bunuh diri secara finansial.

"Tante Sofia, Eyang... sebaiknya kita pergi sekarang," bisik Clarissa dengan sisa-sisa harga diri yang berusaha ia kumpulkan. Matanya sempat melirik Milly dengan kilat kebencian yang mendalam, namun ia buru-buru menyembunyikannya. "Arkan sedang tidak bisa diajak bicara secara rasional malam ini. Kita tidak perlu memperpanjang masalah di rumah yang... sudah tidak ramah ini."

Sofia mendengus tajam, menatap Milly dengan pandangan yang seolah ingin menguliti gadis itu hidup-hidup. "Urusan kita belum selesai, Milly. Kamu mungkin bisa berlindung di balik punggung Arkan malam ini, tapi dunia nyata tidak sesederhana ruang santai ini. Kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan di lingkungan kami."

"Saya tidak perlu bertahan di lingkungan Anda, Tante," balas Milly santai, senyum manisnya kembali terkembang dengan sisa-sisa keberaniannya yang tak habis-habis. "Saya hanya perlu hidup dengan suami saya. Dan sejauh ini, ruangan ini terasa sangat hangat untuk saya."

Dengan langkah kaki yang dihentakkan kasar, Sofia dan Nenek Ambar akhirnya berbalik, diikuti oleh Clarissa yang berjalan cepat di belakang mereka. Pintu ganda mansion kembali ditutup dengan dentuman keras, meninggalkan kesunyian malam yang perlahan-lahan merayap kembali ke dalam ruangan.

Milly mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan, bahunya mendadak merosot lemas. Jiwa keras kepalanya baru saja menguras seluruh energinya. Ia berbalik, menatap Arkan yang kini sedang memandangnya dengan seulas senyuman tipis yang sangat langka.

"Tuan... apa saya melakukan kesalahan?" Milly memijat pelipisnya, kacamatanya kembali melorot. "Apakah saya baru saja menghancurkan hubungan kekeluargaan Anda dalam waktu kurang dari sepuluh menit?"

Arkan terkekeh pelan, melangkah mendekat lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggang Milly, menarik gadis ceroboh itu ke dalam dekapan hangatnya. "Tidak, Milly. Kamu baru saja menunjukkan kepada mereka, siapa pemilik mansion ini yang sebenarnya. Dan jujur saja... caramu membalas ucapan Clarissa tadi adalah laporan terbaik yang pernah kudengar sepanjang tahun ini."

" Apakah sikap semua orang kaya seperti itu?" gumam Milly sembari bersandar di sofa.

Arkan ikut mendudukkan dirinya di sebelah Milly. Alih-alih langsung menjawab, ia mengambil cangkir cokelat hangat milik Milly yang sempat terabaikan, lalu menyesapnya sedikit seolah ingin ikut merasakan ketenangan yang tersisa dari manisnya cokelat itu.

"Tidak semua, Milly," jawab Arkan dengan nada suara yang melembut, sangat kontras dengan suaranya saat menghadapi sang nenek tadi. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruang santai yang tinggi. "Tapi bagi orang-orang seperti ibuku dan Eyang, kekayaan bukan lagi sekadar alat tukar. Itu sudah menjadi identitas, tameng, dan harga diri. Ketika mereka melihat seseorang yang tidak memiliki 'tameng' yang sama sepertimu, mereka otomatis menganggapmu lemah."

Milly menoleh, menatap profil samping wajah Arkan yang tampak lelah namun rileks. "Tapi mereka terlihat sangat menakutkan saat marah. Seperti... dunia ini bisa mereka hancurkan hanya dengan jentikan jari."

Arkan terkekeh pelan, sebuah tawa pendek tanpa rasa humor. Ia menoleh menatap Milly, lalu mengangkat tangan untuk merapikan beberapa helai rambut Milly yang berantakan ke belakang telinganya.

"Mereka terlihat menakutkan karena mereka egois, Milly. Mereka terbiasa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan uang. Saat kamu membalas ucapan Clarissa dengan telak tadi, kamu baru saja merubuhkan ilusi bahwa uang bisa membeli segalanya termasuk harga dirimu," bisik Arkan tulus. Genggaman tangannya di jemari Milly kembali mengencang. "Jangan biarkan mereka membuatmu merasa kecil. Di rumah ini, di duniaku, kamulah satu-satunya aturan yang kupatuhi."

Milly merasakan desiran hangat yang asing kembali memenuhi dadanya. Kata-kata Arkan malam ini terasa begitu nyata, terlalu indah untuk diucapkan oleh seorang pria yang mengikatnya dalam sebuah pernikahan hitam di atas putih.

" Tuan Arkan..." panggil Milly pelan, matanya menatap lurus ke dalam manik mata elang suaminya. "Kenapa tuan membela ku sejauh itu? Sampai mengancam dewan komisaris dan keluarga Gunarto? Bukankah... perjanjian kita tidak mencakup perang keluarga seperti ini?"

Arkan terdiam sejenak. Tatapannya turun menatap jemari mungil Milly yang berada di dalam genggamannya. Ada jeda yang cukup lama sebelum pria itu kembali bersuara, mengembuskan napas pendek yang terasa berat namun lega.

"Aku sudah mengatakannya tadi, Milly. Kontrak itu sudah lama hangus di mataku," ucap Arkan, suaranya bergetar dengan emosi yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik dinding esnya. "Awalnya, aku mengira pernikahan ini hanyalah umpan untuk memancing musuhku. Tapi sepertinya pernikahan ini juga sebagai simbol penolakan perjodohan yang diatur untukku dan Clarissa."

Arkan memajukan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka hingga Milly bisa merasakan embusan napas hangat sang Presdir di wajahnya.

"Jadi nona Milly, kini peranmu bertambah satu lagi dan kali ini mungkin akan sedikit berat dan yang kulakukan tadi ...." bisik Arkan tepat di depan bibir Milly, matanya memancarkan kepastian mutlak yang membuat jantung Milly serasa berhenti berdetak. "Aku sedang membela istriku. Wanita yang ingin kujaga, tidak peduli seberapa banyak pasokan baja yang harus kukorbankan di luar sana."

Jantung Milli rasanya membeku mendengar ucapan Arkan , ia lalu menempelkan telapak tangan nya di dahi Arkan seolah memeriksa sesuatu. " Apakah obatmu hanis ,tuan? Kenapa ucapanmu membuatku merinding?"

Arkan yang sebenarnya ingin mengatakan sesuatu,langsung menariknya lagi dan menyentil dahi Milly pelan, wanita di sampingnya ini benar-benar membuatnya hilang akal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!