Renita Rakhwati Putri, Gadis yang sudah siap menikah, namun tak kunjung ada laki-laki yang datang kepada nya. Hingga akhirnya, adiknya yang telah memiliki pasangan berniat untuk menikah muda.
Namun niat adik nya terhalang restu sang ayah. Karena ayah dari Renita masih percaya hal-hal kuno, dan menganggap adik yang menikah melangkahi kakak nya adalah suatu aib yang sangat memalukan dan melanggar adat.
Renita akhirnya di paksa menikah secepat nya, karena laki-laki calon suami sang adik sudah tidak mau menunggu lama lagi. Renita harus berkorban menikah cepat dan kilat demi sang adik.
Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di naskah novel Ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Hari ini, mas Hamzah dan aku akan menuju kerumah Ibu dan Ayah. Aku sudah sangat rindu dengan adik-adik juga disana. Meskipun kita masih dalam satu kota. Tapi jarak nya memang lumayan jauh. Jakarta memang begini, bahkan yang sebenarnya dekat pun jadi terasa sangat jauh. Terkadang hatiku menjadi sangat kelabu, jika teringat adikku Zaskia. Bagaimana kabarnya?, apa dia sudah pulang kerumah?. Kenapa orang rumah bahkan tidak ada yang memberikan kabar padaku jika memang dia sudah balik dari persembunyiannya selama dua Minggu lebih?. Zaskia bahkan tidak tahu, bahwa kakak nya telah berkorban hanya demi agar dia secepatnya pulang kerumah dan menikah dengan laki-laki idamannya. Tidak ada Zaskia di foto pernikahanku dengan mas Hamzah. Lebih pahitnya lagi, hanya Zaskia yang belum tahu siapa aku yang sebenarnya. Adelia dan Safira, mereka sudah tahu. Bahwa aku bukanlah anak yang lahir dari satu ayah yang sama. Mereka tahu, bahwa aku hanyalah kakak tiri yang ikut dibesarkan diantara mereka. Aku tidak tahu, apakah Zaskia akan membenciku jika mengetahui bahwa aku bukanlah kakak kandungnya?. Biar bagaimanapun, aku sudah menganggap mereka bertiga seperti adik kandungku sendiri. Karena mereka juga lahir dari satu rahim yang sama meskipun beda Ayah. Adelia dan Safira sudah tahu, mengapa ayah jauh lebih kasar padaku dari pada ke mereka bertiga. Hanya Zaskia, ya hanya dialah yang belum mengetahui fakta yang sebenarnya. Aku bersyukur, baik Safira maupun Adelia masih mau menerimaku seperti dulu, sebelum mereka mengetahui setatusku yang sebenarnya.
"Dek, mau bawa oleh-oleh nggak buat Ibu dan Ayah?,". Tanya mas Hamzah ditengah-tengah kemacetan Jakarta.
"Apa ya mas?, buah saja kali yah?. Nanti kalau ada toko buah mampir ya mas,".
"Yasudah boleh dek,".
"Dek?, Saudara tirimu ada berapa?,".
"Kenapa mas tiba-tiba bertanya demikian?,".
"Mas hanya ingin tahu sayang. Biar bagaimanapun mereka adik ipar mas,".
"Ada tiga orang mas. Semuanya perempuan,".
"Tiga?, bukannya yang pas di pernikahan kita hanya ada dua dik?,".
"Harusnya tiga, tapi yang datang hanya dua mas Hamzah,". Jawabku sekenanya.
Mas Hamzah tidak tahu, kenapa Ayah mengenalkanku padanya. Kenapa ayah menyuruhnya untuk segera melamar dan menikahiku. Suamiku tidak pernah tahu, bahwa salah satu adikku kabur dari rumah hanya karena agar dapat restu dari Ayah untuk menikah dengan laki-laki pilihannya. Dan mas Hamzah bahkan tidak tahu, kalau alasan restu untuk Zaskia tidak diberikan oleh Ayah, hanya karena aku sebagai kakak sulungnya belum juga menikah-menikah. Biar bagaimanapun, ini adalah aib adikku Zaskia. Aku tidak mungkin menceritakan kejadian yang sejujurnya pada mas Hamzah, bahwa adikku yang notebene seorang perempuan rela kabur dari rumah hanya demi agar mendapatkan restu menikah dengan laki-laki yang sangat dicintainya. Akan hancur dan tercoreng nama baik Zaskia didepan mas ipar nya sendiri. Tidak hanya nama baik Zaskia, tapi nama baik keluargaku. Apa yang akan dipikirkan oleh mas Hamzah jika tahu, salah satu putri mertuanya melakukan hal tidak terpuji seperti itu?.
"Sibuk sekali apa dek?, sampe mbak nya menikah tidak bisa datang?,".
"Iyah mas, sibuk dia,". Jawabku berbohong.
Sebenarnya jarak antara rumahku dengan rumah Ayah dan Ibu tidak lah terlalu jauh. Hanya butuh waktu kurang dari satu jam, tepatnya hanya memakan waktu empat puluh lima menit saja. Tapi jika dalam kondisi macet parah seperti sekarang, bahkan bisa memakan waktu hingga satu jam lebih. Ditengah kemacetan, aku melamun dan berdoa. Semoga setelah pernikahanku dengan laki-laki pilihannya Ayah. Sikap Ayah padaku bisa berubah. Aku tidak lagi dibeda-bedakan diantara ketiga adikku. Atau, aku tidak lagi dikatai dengan perkataan yang menyakitkan jiwa. Lebih parahnya lagi, aku tidak di kasari secara fisik dan dijadikan sumber kesalahan karena kaburnya Zaskia. Semoga Ayah bisa sadar, bahwa aku telah berkorban hanya demi putri kesayangannya itu bisa balik lagi kerumah dan menikah dengan laki-laki pilihannya itu. Kadang aku juga ingin, merasakan kasih sayang seorang Papah. Wajar bukan?, aku yang sedari bayi kehilangan sosok Papah untuk selamanya kemudian mendambakan kasih sayang dari seorang Ayah, meskipun dari Ayah tiri?. Salahkah aku?, aku tidak minta untuk di nomor satukan. Tapi aku hanya ingin tidak lagi merasakan yang namanya di beda-bedakan di tengah-tengah keluarga. Hanya itu saja, tidak lebih.
"Kamu tidur saja dek. Macetnya lumayan,".
Ucap mas Hamzah padaku.
"Iya sebentar lagi mas. Kamu hati-hati yah bawa mobilnya,".
"Iya dek. Siap,".
Satu jam berlalu, kemacetan yang memakan banyak waktu telah dilewati. Bahkan mas Hamzah ternyata telah membeli beberapa parsel buah untuk oleh-oleh. Aku tidur lumayan lama. Bahkan yang membangunkanku adalah mas Hamzah. Ternyata sudah sampai di depan pelataran rumah. Ada satu buah mobil yang sangat asing bagiku, karena ini kali pertamanya aku melihat mobil dengan plat nomor itu terparkir didepan rumah. Mungkin sedang ada tamu kantor Ayah dan Ibu, pikirku. Aku berjalan, dan kemudian mengucapkan salam.
Betapa terkejutnya aku, ternyata Zaskia sudah pulang kerumah ini. Entahlah sejak kapan dia balik dari acara kaburnya itu. Dia juga sepertinya kaget melihatku. Tapi kenapa tidak ada rasa bersalah dari sorot matanya begitu menatapku?. Dan laki-laki yang didepan Ayah?, apa itu laki-laki yang sangat dicintai oleh adikku?. Yang membuat adikku nekat kabur dari rumah hanya agar mendapatkan restu, namun pada akhirnya aku yang mendapatkan siksaan dari Ayah?. Sedang apa laki-laki itu kesini?. Apa dia akan melamar Zaskia?.
"Waallaikumussalam,". Jawab semua orang yang ada di ruang tamu.
Mas Hamzah kemudian menyusulku dengan beberapa kantong keresek berisi parsel di tangannya.
"Zaskia?,". Hanya itu yang keluar dari mulutku. Ini kali pertama mas Hamzah melihat Zaskia.
"Renita, kamu dan Hamzah masuk kedalam dulu saja. Istirahat,". Perintah Ibu padaku. Sepertinya Ibu tahu tatapan kaget dan bingungku dengan hadirnya Zaskia dirumah ini.
Aku menggandeng mas Hamzah menuju ke kamarku. Aku sedari tadi masih sangat shock. Aku hanya diam saja, ada banyak pertanyaan yang sangat ingin aku ketahui jawabannya.
"Dek, itu adik mu yang tidak bisa datang di acara pernikahan kita?,". Tiba-tiba mas Hamzah menanyakan tentang Zaskia.
Aku tidak menjawab apapun, selain menganggukkan kepalaku pelan.
"Kemu kenpa seperti orang yang shock begitu dek?,".
"Nggak papa mas. Kamu istirahat dulu saja disini yah. Aku mau ke kamar Adelia dulu,". Aku berpamitan pada mas Hamzah, dan keluar menuju kamar Adelia begitu menutup pintu kamarku.
"Tokk... tokk... tokk.. Adel?. Ini kak Renita,". Ucapku sembari mengetuk pintu kamar Adelia adikku.
"Ha!!, Kak Renitaaaa...??!!. Kapan datang kak?,". Adelia begitu girang mengetahui aku datang kerumah.
"Sini kak masuk,". Perintahnya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Kak Renita baru sampai dek,". Jawabku seadanya.
"Kak Renita kesini sendirian?. Kemana kak Hamzah nya?. Sedang praktek ya kak?,". Adelia menanyakan keberadaan kakak iparnya.
"Kak Hamzah ikut kesini kok. Dia sedang istirahat dikamae. Adel, Zakia?,". Belum selesai aku berbicara, Adelia sudah lebih dulu mengerti arah pertanyaanku.
"Hmmm... kak Zaskia udah dua hari pulang dan dirumah kak. Orang rumah memang sengaja tidak memberikan kabar kepulangan kak Zaskia pada kak Renita. Karena takut mengganggu waktu quality time kak Re dengan kak Hamzah,".
"Lalu laki-laki itu?,".
"Ya itu dia laki-laki yang mampu membuat kak Zaskia kabur dari rumah kak. Dia disuruh datang oleh Ayah kerumah. Mungkin malamnya kak Zaskia sudah bicara dengan Ayah dan Ibu lagi mengenai restu,".
"Dia datang mau melamar Zaskia?,". Tanyaku penasaran.
"Tidak tahu jelasnya kak. Tapi ngga tahu ini benar atau tidak, perasaan Adel kok kaya merasa calon suami kak Zaskia seperti tertekan. Maksudnya Adel seperti terbebani gitu kak. Kaya nggak ada aura kebahagiaan karena akan menikah dan sudah mendapat restu yang sudah lama di nanti-nantikan,".
"Sssttt... jangan suudzon dek. Apalagi sampe kak Zaskia dengar. Nanti dia marah besar sama kamu. Jangan yah dek. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka,". Jawabku.
"Iya kak. Aamiin,".
Enak sekali jadi kamu Zaskia. Sudah kabur dua Minggu lebih. Pulang-pulang kerumah, Ayah langsung memberikan kamu restu untuk menikah dengan laki-laki pilihan kamu. Sedangkan aku?, nasibku bertolak belakang denganmu. Menjadi anak yang patuh pun, tetap diperlakukan kasar dan di salah-salahkan terus oleh Ayah. Semoga kamu bahagia dengan laki-laki pilihan kamu adikku. Biarlah kak Renita saja yang merasakan, menjalani pernikahan karena paksaan. Tidak mengapa, asal adikku bisa bahagia. Itu sudah lebih dari cukup bagi kak Renita.
Belum apa" banyak bawangnya 😭
sukses
semangat