Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.
Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Adzan subuh baru saja selesai berkumandang. Setelah menyelesaikan salat subuhnya, Arin bergerak menuju sudut ruangan untuk mengambil kantong plastik sampah yang berisi remasan kertas ancaman semalam. Ia kemudian membuka pintu mess untuk membuangnya ke bak utama di ujung koridor.
Begitu pintu terbuka, langkah Arin langsung terhenti.
Ia terkejut mendapati seorang pria duduk meringkuk di lantai, bersandar pada dinding tepat di samping pintunya. Kedua lengannya memeluk lutut untuk menghalau dinginnya angin pagi. Regan sedang tertidur pulas dengan wajah yang tampak begitu lelah.
Arin mengembuskan napas pendek. Ia mendekat, lalu menendang pelan ujung sepatu Regan dengan kakinya.
"Bangun," ucap Arin dingin.
Regan tersentak. Kesadarannya perlahan terkumpul saat melihat sosok Arin berdiri di hadapannya. Ia segera menegakkan tubuh, mengucek matanya yang memerah.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Arin tanpa ekspresi.
"Rin... kamu udah bangun?" suara Regan terdengar serak khas orang baru bangun tidur. Ia menatap sekeliling koridor yang masih remang. "Jam berapa sekarang?"
"Jam lima."
"Masih jam lima..." Regan bergumam, lalu mendongak menatap kantong plastik di tangan Arin. "Kamu mau kemana, Rin?"
"Buang sampah. Masuk sana, dingin di luar," ketus Arin, lalu melangkah melewatinya begitu saja.
Regan terpaku di tempatnya. Matanya terbelalak lebar, menatap punggung Arin yang mulai menjauh dengan rasa tidak percaya yang membuncah di dadanya.
Masuk sana, dingin di luar.
"Makasih, Rin," bisik Regan lirih dengan suara seraknya.
Ia segera bangkit berdiri, meskipun kakinya terasa kaku dan kesemutan akibat semalaman mendekam di lantai dingin. Dengan langkah pelan, ia melangkah masuk ke dalam mess Arin yang hangat.
Suasana di dalam hening. Regan menoleh ke arah tempat tidur dan mendapati Zayyan yang masih terlelap dengan tenang di bawah selimut. Rasa hangat langsung menjalar di dada Regan, menggantikan rasa dingin yang sempat menyiksa tubuhnya.
Matanya yang masih terasa sangat berat dan perih membuat pertahanannya runtuh.
Ia menaiki ranjang dengan hati-hati, lalu merebahkan tubuhnya yang lelah di samping Zayyan. Ditariknya tubuh mungil sang anak ke dalam dekapan hangatnya, mendekapnya erat namun penuh kelembutan. Menghirup aroma tubuh putranya yang menenangkan, Regan memejamkan mata dan kembali terlelap.
Arin kembali ke kamar setelah membuang sampah. Langkahnya terhenti di ambang pintu saat melihat pemandangan di atas ranjang. Regan tidur meringkuk, memeluk Zayyan erat.
Tak ada amarah yang meledak, tak ada usiran. Arin hanya menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu mengembuskan napas pendek. Ia memilih mengabaikan kehadiran pria itu untuk sementara.
Arin mengambil handuk dan pakaian kerjanya, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Setengah jam berlalu. Arin keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian rapi, siap untuk berangkat bekerja. Rambutnya yang sedikit basah disisir rapi. Setelah siap, ia berjalan mendekati sisi ranjang tempat Regan tertidur.
Arin mengulurkan tangan, lalu menepuk bahu Regan beberapa kali secara tegas.
"Regan, bangun," panggil Arin dengan suara datar namun jelas.
Regan bergerak gelisah, lalu perlahan membuka matanya. Kesadarannya langsung terkumpul sepenuhnya begitu melihat Arin sudah rapi berdiri di samping tempat tidur. Ia segera memosisikan dirinya duduk di tepi ranjang, merasa agak canggung.
"Arin..." gumam Regan serak.
"Bangun. Saya mau membangunkan Zayyan, dia harus siap-siap sekolah," ucap Arin dingin tanpa basa-basi, memberi isyarat agar Regan menyingkir dari kasur agar ia bisa membangunkan putranya.
Regan segera turun dari ranjang dengan kikuk, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Ia berdiri agak menjauh, memberikan ruang bagi Arin.
Arin duduk di tepi kasur, lalu mengusap lembut pipi putranya. "Zayyan... Sayang, bangun yuk. Sudah Pagi, waktunya sekolah."
Bocah kecil itu melenguh, mengerjapkan matanya perlahan. Begitu matanya terbuka sepenuhnya, hal pertama yang dilihatnya adalah Arin, lalu pandangannya beralih pada sosok Regan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Om Baik?" gumam Zayyan dengan suara khas bangun tidur, matanya langsung berbinar. "Om tidur di sini semalam?"
Regan tersenyum tipis, ada rasa hangat yang membuncah di dadanya mendengar suara polos itu. Namun, ia tidak berani menjawab dan langsung melirik Arin, takut salah bicara.
Arin tidak mengalihkan pandangannya dari Zayyan. Ia hanya mengusap rambut anaknya lembut. "Om Regan cuma mampir sebentar pagi ini. Sekarang Zayyan mandi ya, Ibu sudah siapkan air hangat."
Zayyan mengangguk patuh, lalu turun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah pintu kamar mandi tertutup, keheningan canggung kembali menyelimuti ruangan. Arin bangkit berdiri, merapikan seprai yang berantakan tanpa menatap Regan.
"Setelah Zayyan berangkat, kamu juga harus pergi dari sini," ucap Arin memecah kesunyian, suaranya tetap sedatar sebelumnya.
Arin melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk memandikan Zayyan, meninggalkan Regan sendirian di ruangan tengah.
Mendengar suara gemercik air dari dalam, Regan menunduk menatap ponselnya. Perutnya sendiri sudah keroncongan, dan ia tahu Arin pasti belum sempat memasak karena harus bersiap kerja. Tanpa pikir panjang, ia membuka aplikasi dan memesan beberapa menu sarapan bubur ayam hangat dan susu kotak untuk Zayyan.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Zayyan keluar dengan rambut basah, berjalan kecil sambil memegangi handuk yang melilit tubuhnya.
Melihat anak itu celingukan mencari pakaiannya, Regan langsung bergerak cepat. Ia mengambil seragam sekolah yang sudah disiapkan Arin di atas meja.
"Zayyan, sini. Biar Om yang pakaikan bajunya, ya?" tawar Regan lembut, berlutut di depan putranya agar tinggi mereka sejajar.
Zayyan menatap Regan sejenak, lalu mengangguk polos dengan senyuman lebar. "Mau, Om!"
Regan dengan telaten membuka lilitan handuk Zayyan, lalu mulai memakaikan kemeja seragam putih itu satu per satu ke lengan kecil putranya. Tangannya terasa sedikit kaku namun penuh kehati-hatian saat mengancingkan baju Zayyan. Ada rasa haru yang membuncah di dada Regan bisa melakukan hal sederhana ini untuk anaknya sendiri.
"Kancingnya yang paling atas jangan dipasang dulu, Om. Nanti Zayyan sesak," celetuk Zayyan sambil mendongak, menatap wajah Regan yang jaraknya sangat dekat.
Regan tersenyum lembut, jarinya berhenti di kancing teratas seragam putih itu. "Oh, iya? Maaf ya, Om baru tahu. Berarti diginiin aja ya, biar Zayyan nyaman?" Regan sedikit melonggarkan kerah baju Zayyan.
"Iya, makasih Om Regan!" Zayyan tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi. "Om pinter pasang baju. Biasanya Ibu yang pasangin kalau Ibu nggak telat."
Arin berdeham pelan, memecah momen di antara keduanya. Ia melangkah mendekat, membuat Regan refleks mendongak dan Zayyan menoleh.
"Sudah selesai?" tanya Arin.
"Tinggal pakai celana dan sabuknya, Rin," jawab Regan agak gugup. Ia meraih celana pendek merah hati dari atas meja. "Boleh aku selesaikan?"
Arin tidak menjawab iya atau tidak, ia hanya berjalan menuju meja rias kecil untuk mengambil sisir minyak rambut Zayyan. Sikap diamnya dianggap Regan sebagai izin.
"Om, nanti kalau Zayyan sudah besar, Zayyan mau punya dasi kaya punya Om, kemarin" bisik Zayyan pada Regan.
"Boleh. Nanti kalau Zayyan sudah besar, Om belikan dasi yang paling bagus. Mau warna apa?"
"Warna biru! Kaya warna mobil mainan Zayyan," sahut Zayyan riang.
"Oke, warna biru. Janji, ya?" Regan mengacungkan jari kelingkingnya. Zayyan dengan cepat menyambutnya, menautkan kelingking kecilnya ke kelingking Regan yang jauh lebih besar.
Arin yang mendengar percakapan itu dari balik punggung mereka hanya bisa memejamkan mata sesaat.
Janji? batin Arin miris.
"Zayyan, sini biar Ibu sisir rambutnya," panggil Arin, membalikkan badan.
Zayyan langsung berlari kecil mendekati Arin, duduk diam saat ibunya mulai merapikan rambutnya yang masih agak lembap. Sementara itu, Regan bangkit berdiri, membersihkan celananya yang sedikit kotor karena berlutut di lantai.
Tepat saat Arin selesai menyisir rambut Zayyan, sebuah ketukan terdengar di pintu mess.
"Ah, itu pasti makanan yang aku pesan," ujar Regan cepat. Ia menatap Arin dengan pandangan meminta izin sebelum melangkah ke pintu. "Aku buka dulu ya, Rin."
Arin hanya diam, tidak melarang ataupun mengiyakan. Ia sibuk merapikan tas sekolah Zayyan, memasukkan buku tulis dan kotak pensil dengan gerakan yang sengaja dibuat busy.
Regan membuka pintu mess dan menerima sekantong plastik besar berisi beberapa mangkuk bubur ayam hangat dan susu kotak. Setelah menyelesaikan pembayaran, ia kembali masuk dan meletakkan makanan tersebut di atas meja makan kecil yang terletak di sudut ruangan.
"Zayyan, ayo sarapan dulu. Om sudah belikan bubur ayam kesukaan Zayyan," panggil Regan hangat.
Zayyan langsung menoleh, matanya berbinar. "Wah, bubur ayam! Pakai kerupuk banyak nggak, Om?"
"Banyak banget. Kerupuknya sengaja Om minta dipisah biar tetap garing," jawab Regan sembari membuka salah satu mangkuk styrofoam dan menuangkannya ke mangkuk beling milik Arin yang ia temukan di rak.
Zayyan segera berlari kecil dan duduk di kursi plastik. Namun sebelum menyuap, bocah itu mendongak, menatap Arin yang masih berdiri di dekat kasur. "Ibu nggak makan? Om Regan juga?"
Regan ikut menoleh pada Arin, tatapannya penuh harap. "Rin, sarapan dulu. Aku pesan tiga porsi. Kamu harus kerja, kan? Nanti maag kamu kambuh."
Arin menatap mangkuk bubur yang mengepulkan uap tipis itu, lalu beralih pada wajah Regan. Perhatian kecil pria itu justru terasa menghimpit dadanya. Di luar sana, bahaya nyata sedang mengintai dari balik bayang-bayang, dan Regan masih sempat mengkhawatirkan penyakit maag-nya.
"Ibu makan nanti saja di tempat kerja," jawab Arin akhirnya. Ia berjalan mendekat hanya untuk mengambil sebotol air mineral dan memasukkannya ke kantong samping tas Zayyan.
Arin kemudian melirik jam dinding yang terus berputar, lalu menatap putranya yang mulai menyuap bubur. "Zayyan, cepat habisin sarapannya. Biar Ibu pesan ojolnya."
Regan yang baru saja hendak menyuap buburnya langsung mendongak. "Rin, nggak usah pesan ojol. Biar aku saja yang mengantar Zayyan ke sekolah."
Zayyan yang mendengar hal itu langsung menaruh sendoknya dan menatap Arin dengan mata berbinar-binar. "Iya, Bu! Mau diantar Om Regan naik mobil. Boleh ya, Ibu?"
Arin menatap wajah penuh harap putranya, lalu beralih pada Regan yang sedang menanti jawabannya dengan cemas. Mengingat waktu yang kian mempepet dan antrean ojol yang kadang tidak pasti di jam masuk sekolah, Arin akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Ya sudah," putus Arin pasrah. Ia meraih tas kerjanya, lalu menatap Zayyan dan Regan bergantian. "Ibu berangkat dulu, udah mau telat nanti. Jangan lupa dikunci pintunya."
"Iya, Bu," jawab Zayyan patuh.
Arin mengangguk pelan, menyempatkan diri mencium kening Zayyan sejenak sebelum melangkah cepat keluar dari mess menuju restoran tempatnya bekerja yang terletak tepat di depan kompleks mess tersebut. Sementara itu, Regan menatap punggung Arin yang menjauh dengan perasaan campur aduk, namun ada sedikit rasa lega karena setidaknya pagi ini ia diberikan kesempatan untuk dekat dengan putranya.