NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:37.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Langkah kaki Regan terdengar begitu pelan saat ia memutar kunci, membuka pintu triplek tersebut tanpa menimbulkan decitan berarti. Kunci serep yang berhasil ia paksa dari genggaman Fahri tadi sore yang sukses membuat sahabat sekaligus pemilik mess itu mengamuk dan hampir melayangkan pukulan ke wajahnya.

Regan mendorong pintu perlahan, melangkah masuk ke dalam ruangan serba terbatas itu. Cahaya remang dari lampu jalan luar menerobos lewat celah ventilasi, menyoroti dua sosok yang sedang terlelap di atas kasur tipis di lantai.

Dengan gerakan sangat tenang dan hati-hati, Regan melepas sepatunya, lalu mengikis jarak. Pria itu merebahkan tubuh jangkungnya di sisi kosong kasur tipis tersebut, tepat di sebelah Arin yang tidur membelakanginya, memeluk Zayyan yang terlelap pulas di tengah.

Namun, gerakan kasur yang amblas membuat Arin terbangun dari tidur lelapnya. Begitu membalikkan badan dan mendapati sesosok tubuh pria tinggi besar berada di sampingnya, mata Arin membelalak lebar. Napasnya tersengal kaget, dan mulutnya refleks terbuka hendak berteriak.

Greb!

Telapak tangan besar Regan dengan cepat membungkam bibir Arin.

"Shhht..." bisik Regan amat pelan di depan wajah Arin, sorot matanya tajam namun memohon di kegelapan.

"Jangan teriak, Rin. Nanti Zayyan bangun."

Arin menepis tangan Regan dengan kasar, matanya menyalang penuh kemarahan dan ketakutan. Ia buru-buru menyandarkan tubuhnya ke dinding, merengkuh Zayyan makin erat ke dalam dekapannya.

"Ngapain kamu ke sini?!" bisik Arin menahan amarah, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Tidur," jawab Regan singkat dan santai, tanpa rasa dosa sedikit pun. Ia justru menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma ruangan yang sepenuhnya berbau Arin dan anaknya.

"Kamu gila, ya?!" desis Arin tajam, jemarinya mengepal kuat sampai memutih.

"Dari mana kamu dapat kunci ruangan ini?!"

"Pak Fahri gila! Harusnya dia nggak kasih kunci ini ke kamu!" desisnya penuh kekesalan.

"Dia nggak punya pilihan, Rin. Aku nggak akan pergi sebelum dapet apa yang aku mau," balas Regan santai.

"Mau kamu apa lagi, Regan?! Keluar sekarang sebelum aku jerit dan panggil warga!" ancam Arin.

Bukannya takut, Regan justru mengikis jarak, memangkas selisih ruang di antara mereka hingga Arin bisa merasakan kehangatan napas pria itu. Tatapan Regan yang tadinya santai perlahan berubah menjadi begitu dalam dan pekat.

"Jerit aja kalau kamu mau Zayyan terbangun dan bingung lihat ayahnya diusir malam-malam," bisik Regan lirih.

"Kamu jahat, Regan... Kamu egois," bisik Arin.

Jemari Regan terulur, perlahan mengusap sudut mata Arin yang basah. Arin sempat menghindar, namun Regan menahannya dengan lembut.

"Aku nggak akan pergi malam ini, Arin," ucap Regan.

Arin langsung memutar tubuhnya, berniat bangkit dari kasur tipis itu. "Kalau kamu melempar alasan Zayyan biar nggak pergi, terserah. Kamu tidur di sini, aku sama Zayyan tidur di ruang tengah!" desisnya penuh kekesalan sambil bersiap menggendong Zayyan yang masih terlelap.

Namun, belum sempat Arin mengangkat tubuh kecil itu, pergelangan tangannya sudah ditahan oleh jemari Regan yang hangat dan kokoh.

"Jangan pindah, Rin. Jangan jauhin Zayyan dari aku," bisik.

Pria itu menatap Arin lurus-lurus di bawah temaramnya cahaya kamar, lalu perlahan merebahkan kepalanya di atas bantal yang sama, mengikis jarak di antara mereka. Matanya beralih menatap wajah mungil Zayyan, sebelum kembali menatap Arin.

"Aku cuma mau tidur sama anak dan istri aku..." ucap Regan lirih.

"Udah lama banget aku nggak ngerasain ini, Arin. Tolong... malam ini aja."

Harusnya ia membenci pria ini, harusnya ia menjauh, tapi keberadaan Regan yang kini berbaring tepat di sisinya memeluk Zayyan dari belakang hingga mereka bertiga berada dalam satu lingkaran dekapan membuat seluruh pertahanannya runtuh seketika. Ini bukan dari bagian dari rencananya.

Dengan dengusan pasrah yang dipenuhi kekesalan pada dirinya sendiri, Arin akhirnya menarik selimut tipis mereka hingga menutupi dada.

Pria itu menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Arin, membenamkan hidungnya di sana lalu menghirup aroma tubuh wanita itu secara perlahan aroma lembut yang amat familier dan selalu ia rindukan selama sembilan tahun terakhir.

Dengusan napas hangat Regan yang menerpa kulit lehernya membuat Arin meremang. Tubuh Arin serta-merta menegang, dan ia berusaha mendorong dada Regan dengan jemarinya.

"Regan, apaan sih..." bisik Arin.

"Jangan aneh-aneh!"

Bukannya menjauh, Regan justru makin membenamkan wajahnya di leher Arin, menghirup dalam-dalam wangi khas Arin yang bercampur dengan minyak telon Zayyan. Aroma sederhana yang terasa jauh lebih menenangkan ketimbang tempat tidur megahnya di rumah.

"Aku kangen wangi kamu, Rin..." gumam Regan pelan, suaranya terdengar berat dan parau di leher Arin.

"sembilan tahun aku nggak pernah bisa tidur nyenyak gara-gara nyari wangi ini."

"Nggak usah drama," potong Arin.

"Lepas, Regan. Sesak."

Regan hanya melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Arin, menarik tubuh wanita itu serta Zayyan makin rapat ke dalam dekapannya. Pria itu memberikan satu kecupan singkat yang lembut di sudut leher Arin sebelum akhirnya menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.

"Diam sebentar aja, Arin..." bisik Regan lirih, memejamkan matanya rapat-rapat.

"Biarkan kayak gini sampai pagi."

Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah jendela mess yang sempit. Zayyan perlahan terbangun saat merasakan sentuhan lembut yang mengusap rambutnya. Mata bulat bocah kecil itu berkedip beberapa kali, terkejut namun langsung berbinar mendapati sosok pria tinggi besar berbaring tepat di sampingnya.

"Om Regan!" pekik Zayyan gembira. Ia mengucek matanya sebentar, lalu menatap Regan penuh rasa penasaran.

"Om tidur di sini semalam? Kok aku nggak tahu, Om?"

Regan terkekeh pelan, matanya menyipit hangat saat menatap putra kecilnya itu. "Om datangnya malam, kamu udah tidur sih," sahut Regan lembut.

"Sini, Om cium dulu."

Regan langsung menarik Zayyan ke dalam dekapannya dan mendaratkan kecupan gemas di pipi bocah itu, membuat Zayyan tertawa geli.

Sementara itu, Arin sebenarnya sudah lebih dulu bangun sejak subuh. Wanita itu kini tengah sibuk di dapur kecil mess, berkutat dengan kompor dan alat masak untuk menyiap kan sarapan.

Puas bermanja-manja dengan Zayyan, Regan mengacak rambut bocah itu gemas lalu menunjuk ke arah kamar mandi. "Sana kamu mandi dulu. Nanti Om yang antar ke sekolah."

Mata Zayyan berbinar gembira. "Asyik! Antar naik mobil cepat ya, Om!"

"Mau Om bantu mandinya?" tawar Regan seraya bersiap bangkit.

Zayyan dengan cepat menggelengkan kepala. "Nggak usah, Om! Kata Ibu nggak boleh, aku udah besar," tolak bocah itu dengan polos sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

Regan terkekeh pelan mendengar jawaban putranya. "Ya sudah, kamu mandi dulu sana. Biar Om siapin baju sekolahnya."

Tanpa membantah lagi, Zayyan melangkah riang menuju kamar mandi kecil di sudut mess.

Setelah pintu kamar mandi tertutup, Regan membalikkan badan dan berjalan menuju area dapur kecil. Ia melangkah mendekati Arin yang masih sibuk berkutat dengan piring-piring, mencoba sibuk agar tidak perlu menatapnya.

"Ada yang bisa aku bantu?" tawar Regan, berdiri cukup dekat di belakang Arin.

Arin bahkan tidak menoleh sedikit pun. "Nggak ada. Udah sana, kamu cuma buat sempit aja di sini!" desisnya dingin, terus mengeringkan tangannya dengan serbet.

Regan terdiam sejenak, memandangi punggung Arin yang tampak kaku sebelum akhirnya membuka suara dengan nada tenang namun penuh penekanan.

"Nanti malam aku mau bawa kalian ke rumah aku. Ketemu sama Mama dan Papa."

Gerakan tangan Arin terhenti seketika. "Nggak, aku nggak mau," tolaknya cepat tanpa ragu.

"Kenapa kamu nggak mau?" tanya Regan, alisnya bertaut bingung. "Apalagi, Arin? Semalam aku udah pastiin sama Mama dan Papa, mereka mau ketemu kalian."

Arin membalikkan badan, menatap Regan dengan sorot mata dingin dan lelah. "Emang kita ada hubungan apa? Kalau kamu mau bawa Zayyan, silakan."

Mendengar ucapan Arin, raut wajah Regan mendadak berubah keras. Sorot matanya menajam, merasa tersinggung dengan kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Arin.

"Aku mau bawa kalian berdua! Kamu istri aku dan Zayyan anak aku. Titik, nggak ada penolakan!" tekan Regan tegas, memotong segala kemungkinan ucapan Arin selanjutnya.

Arin membuang muka, menghembuskan napas panjang sarat kekesalan dan kepasrahan. Ia malas berdebat lebih panjang dengan pria keras kepala di depannya ini.

"Terserah kamu aja... Suka-suka kamu aja lah," balas Arin acuh tak acuh, membalikkan badan dan kembali mengabaikan Regan seolah pria itu tidak ada di sana.

1
Anonim
ANJING DEMI TUHAN ... INGIN BUNUH REGAN
Anonim
ANJING REGAN GOBLOK... DEMI TUHAN INGIN GUE BUNUH
Anonim
MENDING BUNUH DIRI .... BUNUH DIRI MU RIN... BUNUH ANAKMU JUGA ....
Anonim
GOBLOK SUMPAH DEMI TUHAN INGIN MEMBUNUH SI REGAN
sunaryati jarum
Kamu sebenarnya masih cinta pada Regai,tapi apa yang membuatmu kecewa dan membenci Regan.
sunaryati jarum
Cepat diungkap dong, penyebab mereka berpisah.Kok mereka sudah sah berpisah apa sudah resmi bercerai. Kasihan Regan pria yang begitu setia tidak bersatu dengan orang yang dicintainya
Anonim
ah ternyata masih masokis
Anonim
ah masokis sekali
Anonim
owalah si arin fiks punya penyakit mental
sunaryati jarum
Kenapa menyiksa diri dan lamban mencari penyebab perginya Ari sembilan laludan Regan bilang aku yg salah tapi dia sendiri tidak tahu alasan Arin pergi.
sunaryati jarum
Penyebab perginya Arin demi keselamatan diri dan kandungannya kok belum terungkap
Ucie
kyaknya bapaknya regan deh...🙏
sunaryati jarum
Arin selesaikan dulu masalahmu.dengan Regan, kemarin sudah ketemu ibunya dan ayah Regan.Benarkah sembilan tahun lalu mereka yang mengancam mu atau kemarin yang menelpon kamu untuk menjauhi Regan lagi.Jangan membuat teka- teki yang jawabnya masih samar,pada emak
sunaryati jarum
Kok belum terungkap orang yang menyebabkan Arin.pergi sembilan tahun yang lalu
May Satibi Satibi
terlalu s Arin mh kan bisa ngmng biasa aja🤦
Fitri Yah
sebenarnya siapa sih yg mengancam arin suruh pergi jauh2.... bertanya dgn nada halus???
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Penasaran wanita paruh baya yang mengancam Arin , semoga Ny Farah dan Papa Gani benar - benar tulus menerima Arin dan Zayyan
sunaryati jarum
Akhirnya Arin bersedia ke rumah orang tua Regan ,semoga masalah jadi selesai
sunaryati jarum
Semoga kesalahpahaman Arin pada orang tua Regan terurai,pada ada orang yang suka Regan,ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!