Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan Dalam Dekapan.
Hanya ada dua pilihan di tanganku.
Pilihan pertama adalah mengatakan yang sebenarnya kepada Hwi Sol Oppa tentang kematian orang tua kami, yang berarti pria yang kucintai harus menerima hukuman atas perbuatannya. Pilihan kedua adalah menyimpan rapat-rapat rahasia tersebut dan mencoba menerima serta memaafkan Eun Dam kembali.
Aku terduduk di dalam kamar yang sunyi. Hanya suara isak tangisku yang terdengar memenuhi ruangan.
Dadaku terasa sesak. Perasaan bimbang dan kalut ini belum pernah kurasakan sebelumnya. Kedua pilihan yang ada di hadapanku sama-sama menyakitkan dan memiliki konsekuensi yang tidak ringan.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu membuatku tersentak dan segera menghapus air mata yang membasahi pipiku.
"Seolhwa..."
Suara Hwi Sol Oppa terdengar dari balik pintu.
"Oppa sudah membuatkan makanan untukmu. Ayo keluar, kita makan bersama."
Aku menarik napas panjang sebelum membuka pintu.
Tak lama kemudian, kami duduk berhadapan di meja makan. Sebisa mungkin aku bersikap seperti biasa. Aku tidak ingin membuat Hwi Sol Oppa curiga atau mengkhawatirkan sesuatu.
Namun, di tengah makan malam yang tenang, Oppa tiba-tiba membuka pembicaraan.
"Sayang, sebenarnya ada sesuatu yang ingin Oppa tanyakan."
Aku langsung menghentikan gerakan tanganku.
"Apa alasan Tuan Seok menculikmu? Apa hanya karena dia tahu kalau kamu dekat dengan Eun Dam? Dan sebenarnya, apa hubungan mereka dengan Eun Dam?"
Deg!
Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat.
Aku panik. Untuk saat ini, aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.
"Hmm... soal itu..."
Aku menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kegugupanku.
"Tuan Seok ingin membalas dendam kepada Eun Dam dengan menyakitiku. Mungkin karena dia tahu hubunganku cukup dekat dengan Eun Dam, jadi dia menjadikanku sandera."
Aku berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Kalau soal hubungan antara Tuan Seok dan Eun Dam, aku juga tidak mengetahuinya. Tapi bukankah yang terpenting sekarang semuanya sudah baik-baik saja, Oppa? Lagi pula, Tuan Seok dan anak buahnya sudah ditangkap."
Aku memaksakan sebuah senyum tipis.
Meski begitu, hatiku terasa semakin sesak. Kebohongan yang baru saja kuucapkan membuat perasaanku dipenuhi rasa bersalah.
***
Sore harinya, aku memutuskan untuk menjenguk Eun Dam di rumah sakit.
Dari balik kaca pintu ruang perawatannya, aku melihat pria itu sedang terbaring di atas ranjang sambil melamun. Tatapannya kosong, seolah pikirannya sedang mengembara ke tempat yang jauh.
Aku menarik napas pelan sebelum membuka pintu dan melangkah masuk.
Mendengar suara pintu terbuka, Eun Dam menoleh ke arahku. Raut wajahnya yang semula datar langsung berubah.
"Seolhwa..."
Suara pria itu terdengar lirih.
"Aku pikir kamu sudah tidak ingin menemuiku lagi."
Tatapannya begitu sendu hingga membuat dadaku terasa sesak.
"Kamu sendirian?" tanyaku. "Di mana orang tuamu?"
"Mereka sudah kusuruh pulang ke Daegu."
Eun Dam menundukkan pandangannya.
"Untuk saat ini, aku tidak sanggup melihat mereka. Mereka begitu mempercayai dan membanggakanku, padahal kenyataannya aku adalah dalang di balik kematian orang tuamu."
Ucapannya terhenti sejenak.
"Dan..."
Ia mengepalkan kedua tangannya di atas selimut.
"Aku sudah siap jika kamu dan Oppamu ingin memasukkanku ke penjara. Aku akan menerima hukuman itu."
Aku hanya terdiam. Tidak ada satu pun kata yang mampu keluar dari bibirku.
Tak lama kemudian, beberapa petugas kepolisian datang untuk melakukan interogasi.
Aku melihat kecemasan yang sempat melintas di wajah Eun Dam. Namun, seperti biasa, pria itu berusaha menutupinya.
Sebelum interogasi dimulai, salah seorang petugas menyampaikan informasi yang cukup mengejutkan.
"Kami ingin memberitahukan bahwa Tuan Seok telah mengakhiri hidupnya di dalam tahanan. Beberapa anak buahnya juga ditemukan meninggal."
Aku dan Eun Dam saling menatap dengan wajah terkejut.
Tak lama setelah itu, interogasi pun dimulai.
Para petugas mengajukan berbagai pertanyaan kepada Eun Dam. Hingga akhirnya mereka sampai pada pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab.
Aku dapat melihat perubahan ekspresi pria itu dengan jelas.
Bibirnya bergetar.
Tatapannya kehilangan fokus.
Ia terus menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan kecemasan yang semakin menguasainya.
"Aku akan mengatakan semuanya," gumamnya pelan.
"Aku akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanku."
Ia mengangkat kepalanya dan menatap para petugas.
"S-sebenarnya, saya..."
Namun sebelum ia sempat melanjutkan kalimatnya, aku segera memotong pembicaraannya.
Aku tahu persis apa yang akan dikatakannya.
Aku tahu Eun Dam berniat mengakui semuanya.
Karena itu, aku segera menjelaskan seluruh kejadian yang kualami sejak diculik oleh Tuan Seok. Aku menceritakan apa yang kulihat dan kualami, lalu memohon agar kasus tersebut segera ditutup.
Ruangan itu mendadak sunyi.
Eun Dam hanya diam menatapku.
Sorot matanya dipenuhi keterkejutan dan kebingungan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja kulakukan untuknya.
Setelah interogasi selesai, para petugas kepolisian pun meninggalkan ruangan.
Keheningan segera mengambil alih.
Aku dan Eun Dam hanya saling menatap tanpa mengatakan apa pun.
"Seolhwa..."
Suara pria itu terdengar begitu pelan hingga nyaris tak terdengar.
Aku mengangkat pandangan.
Air mata perlahan jatuh di pipinya.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanyanya dengan suara bergetar.
Melihatnya menangis membuat dadaku terasa sesak. Tanpa kusadari, air mataku ikut mengalir.
Aku melangkah mendekat ke arah ranjangnya.
Bagaimana mungkin aku membenci pria yang menjadi cinta pertamaku?
Bagaimana mungkin aku membiarkan pria yang rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkanku menderita sendirian di balik jeruji penjara?
Pertahanan yang selama ini kubangun akhirnya runtuh.
Tangisku pecah.
"Eun Dam..."
Suaraku tercekat oleh isak tangis.
Pria itu menundukkan kepala. Bahunya bergetar menahan emosi yang selama ini ia pendam.
"Maafkan aku..." lirihnya.
Air matanya semakin deras.
"Maafkan aku, Seolhwa... dan terima kasih."
Aku menggeleng pelan.
"Aku belum sepenuhnya memaafkanmu."
Kalimat itu membuat Eun Dam membeku.
"Tapi... aku juga tidak bisa benar-benar membencimu."
Tangisku kembali pecah.
Semua luka, kemarahan, kerinduan, dan cinta yang selama ini berusaha kusembunyikan bercampur menjadi satu.
Eun Dam menatapku dengan mata yang memerah.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, Seolhwa."
Suaranya terdengar begitu rapuh.
"Sungguh... aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri jika kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu."
Dadaku semakin terasa sesak.
Air mata terus mengalir tanpa bisa kuhentikan.
"Aku juga..."
Aku menggigit bibirku, berusaha menahan tangis.
"Aku juga mencintaimu, Eun Dam."
Eun Dam perlahan meraih tanganku.
Jemarinya yang hangat menggenggam tanganku dengan lembut sebelum menarikku mendekat ke arahnya.
Sesaat kemudian, pria itu memelukku erat.
Pelukan itu terasa begitu hangat, seolah ia takut aku akan menghilang jika melepaskannya.
"Aku berjanji padamu, Seolhwa."
Suaranya terdengar berat dan dipenuhi penyesalan.
"Aku akan menjadi pria yang lebih baik. Pria yang selalu berusaha membuatmu bahagia. Pria yang mencintaimu dengan segenap hati yang kumiliki."
Aku dapat merasakan tubuhnya sedikit bergetar.
Ia mempererat pelukannya.
"Aku mohon..."
Lirihnya nyaris tak terdengar.
"Jangan tinggalkan aku."
Air mata kembali menggenang di pelupuk mataku.
"Dan tetaplah di sisiku, Seolhwa."
Untuk pertama kalinya, aku bisa merasakan ketakutan yang begitu besar dalam dirinya.
Ketakutan akan kehilangan orang yang dicintainya.
Perlahan, aku membalas pelukannya.
Menyandarkan kepalaku di dadanya sambil membiarkan air mata jatuh tanpa henti.
"Selama kamu tidak melepaskan tanganku lagi..."
Suaraku bergetar.
"...aku akan tetap di sisimu, Eun Dam."
Ruangan itu kembali dipenuhi keheningan.
Hanya suara tangisan kami yang terdengar.
Untuk sesaat, dunia terasa berhenti berputar.
Namun jauh di dalam hatiku, rasa bersalah kembali muncul.
Maafkan aku, Oppa...
Maafkan aku karena harus menyembunyikan kebenaran ini darimu.
Maafkan aku karena memilih untuk merahasiakan semuanya.
Aku tahu ini salah.
Tapi aku juga tahu satu hal.
Aku benar-benar mencintai Eun Dam.