Kematian Arin yang tidak disangka malah menimbulkan petaka. Padahal keluarga dan semua teman sahabat tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba mereka mendapatkan teror dari makhluk yang mengaku roh dari Arin. Ikuti kisahnya . Banyak rahasia tersembunyi di balik apa yang terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🌹Ossy😘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bara pulang setelah kenyang makan rujak. Bahkan dia masih membawa pulang jambu satu kantong plastik ukuran sedang. Mama sangat suka jambu katanya. Makanya tanpa rasa malu dia meminta pada Rama tadi.
Bara mengendarai motornya dengan perlahan. Tatapannya lurus ke depan. Namun dia memperhatikan sekitarnya dengan seksama. Bara berharap bisa bertemu dengan Paijo. Dia ingin meminta kejelasan tentang ucapannya tadi pagi. Bara ingin menyelidiki dari Paijo terlebih dahulu. Karena dengan jelas dia mendengar ucapan Paijo tadi pagi.
Bara berputar beberapa kali di kampung Arin. Matanya melihat dengan seksama. Namun tidak juga menemukan apa yang dia cari.
" Saya lupa, kenapa tadi tidak bertanya pada Rama atau Ran ya. Di mana rumah Paijo. Kan saya tidak harus membuang waktu seperti ini.." Bara menggerutu ketika menyadari kebodohannya. Beberapa kali berputar di tempat yang sama pasti akan menimbulkan kecurigaan. Akhirnya Bara melajukan motornya ke arah jalan pulang.
Pas tepat di pertigaan jalan, matanya melihat orang yang dia cari.
" Nah itu dia. Itu Paijo bukan. Dia sedang berbincang-bincang dengan siapa ya. Tapi bukan dengan yang tadi pagi.." Bara menghentikan motornya tidak jauh dari tempat Paijo berbincang. Pura-pura membuka ponsel agar tidak dicurigai. Berpura-pura mengangkat panggilan telepon agar tidak terlihat mencolok kalau dia sedang mengawasi Paijo.
Mata Bara menatap ke arah Paijo. Dan untung saja Paijo tidak menyadarinya hal itu. Dari tempatnya berada, dengan jelas Bara bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan. Dan ternyata benar. Paijo sedang bercerita tentang arwah penasaran. Tentang arwah Arin yang telah menghantui warga.
Kepala Bara terasa mendidih.Dia merasa kesal . Namun tidak mungkin dia mendatangi Paijo dan memukulnya. Bara mencari cara agar bisa mengorek keterangan pada Paijo . Akhirnya dengan penuh percaya diri Bara mendekati tempat Paijo dan temannya berbincang.
" Permisi mas, mau nanya rumahnya. Rama di mana ya..?" Bara berpura-pura bertanya alamat rumah Rama. Bara berpikir kalau Paijo pasti tidak mengetahui kalau dirinya sering ke rumah Rama.
Paijo menoleh dan mengamati Bara. Bahkan dia melihat dari ujung kaki sampai ujung rambut. Pandangannya tidak bisa ditebak.
" Rama anaknya Yanto ya,..?" Paijo memandang Bara penuh selidik. Dia lihat dari atas ke bawah dengan pandangan penuh curiga.
"Iya benar mas. Rama putra bapak Yanto .." Jawab Bara.
" Oh, ya Gue tahu. Itu rumahnya lurus pertigaan belok kanan. Ada apa nyari Rama..." Paijo memandang lekat pada Bara. "Kamu belum tahu tentang cerita keluarga Rama .. " Sambung Paijo lagi.
" Maksudnya cerita apa..?" Bara pura-pura tidak tahu. Dia terlihat ingin tahu .
" Cerita kalau arwah kakaknya yang meninggal kemarin gentayangan..." Jawab Paijo penuh semangat. Paijo akan sangat bersemangat bila harus bercerita tentang hal tersebut.
" Arwah Arin maksud mas ya.. Memang bagaimana ceritanya.." Bara terlihat bersemangat juga. Sengaja dia tunjukkan agar Paijo mau menceritakan semuanya.
" Jadi benar Lo belum tahu. Kalau ingin tahu, belikan gue rokok dulu dong. Biar kita enak ngobrolnya. Bagaimana kalau sambil ngopi juga..." Paijo semakin bersemangat ketika melihat Bara yang terlihat antusias.
Bara sengaja melakukannya, dengan maksud Paijo mau terbuka untuk bercerita. Bara mengangguk mantab. Dia akan mengorek semua cerita dari Paijo nantinya.
" Mau ngopi di mana mas, Saya ikut saja.."
" Warung depan saja bagaimana..." Jawab Paijo tambah bersemangat.
Bara merasa senang karena pancingannya berhasil. Dia mengikut arah langkah Paijo. Dia pasti bisa mengorek keterangan dari Paijo. Mereka masuk ke dalam warung yang terlihat cukup ramai. Bara merasa canggung melihat suasana warung tersebut. Di dalam terlihat pembeli yang bertampang sangar. Mungkin mereka preman. Namun demi sebuah informasi Bara meyakinkan hati untuk tetap maju.
" Mbok, pesen kopi hitam dua ya.. " Ucap Paijo tanpa minta persetujuan pada Bara terlebih dahulu.
Bara hanya diam saja. Untung saja dia bisa minum kopi hitam. Namun suasana warung saja yang membuat dia tidak nyaman. Dan suatu keberuntungan juga, tempat duduk dipojok masih kosong. Mereka berdua segera menempatinya.
" Mas, sebenarnya ada cerita apa tentang keluarga Rama.." Bara membuka percakapan setelah kopi ya mereka pesan sudah tersaji.
" Sabar dulu, gue mau minum dulu.." Jawab Paijo kasar. Dengan perlahan Paijo mulai meminum kopinya. Karena masih panas, dia meletakkan kembali gelasnya dan mengambil pisang goreng yang ada di piring depan mereka. Paijo mengunyah dengan cepat pisang tersebut dan mengambil lagi pisang yang ada. Dua pisang sudah masuk ke dalam perutnya. Namun belum ada satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya. Bara terlihat tidak sabar. Membuang waktu saha pikirnya.
" Mas, kapan mulai bercerita..." Tanya Bara pada akhirnya. Dia sudah tidak sabar ingin segera mendengar cerita yang keluar dari mulut Paijo.
Paijo memandang sekilas ke arah Bara. Kemudian meminum kopinya. "Jadi begini, Lo tahu kan kalau kakak Rama sudah mati. Dan dia menjadi arwah penasaran..."
Bara sangat kesal mendengar kalimat yang keluar dari mulut Paijo. Sangat kasar. Namun demi sebuah informasi dia harus bisa menahannya.
" Lalu bagaimana, Siapa yang pernah di datangi arwah gentayangan tersebut.." Tanya Bara.
" Jo, yang benar. Lo dapat kabar dari mana.." seorang pembeli yang duduk tidak jauh dari mereka ikut menyahuti perkataan Paijo. Mungkin dia menyimak percakapan antara Paijo dan Bara.
" Memangnya Lo belum dengar kang. Semua warga sudah tahu. Di depan rumah pak RT sama di pinggir sungai kemarin malam dua orang warga melihat sosok si Arin itu gentayangan.." Ucap Paijo berapi-api. Dengan semangat dia menceritakan hal yang dia ketahui.
" Masa sih Jo, ga percaya gue. Dia kan orang baik mana mungkin jadi arwah penasaran.." Jawab pembeli yang lain.
" Tidak percaya ya sudah. Memang itu yang terjadi..." Paijo semakin sewot ketika ada yang tidak percaya dengan ucapannya.
Bara hanya menyimak perdebatan tersebut. Bara mengamati sikap Paijo. Akan dapat diketahui itu sebuah kebohongan atau kebenaran dari sikap orang yang bercerita.
" Kok seram ya, Apa boleh saya bertemu dengan orang yang melihat arwah gentayangan itu mas..?" Ucap Bara. Dan dia melihat Paijo terkejut.
" Bisa, kapan mau bertemu. Ayo gue antar ke rumahnya.." Jawab Paijo segera beranjak dari tempat duduknya.
" Nanti dulu Jo, gue mau tanya dulu. Buru-buru amat sih..." Ucap pembeli yang lain yang sejak tadi hanya menyimak.
" Mau tanya apa lagi.. Masih meragukan cerita gue. Hah..." Entah mungkin sifat Paijo yang temperamental, dia terlihat selalu kasar dalam berbicara.
" Bukan begitu Jo, sabar dulu apa. Makan dulu kalau lapar. Dari tadi Jawaban Lo ngegas terus..." Ucap orang tadi begitu santai. Sepertinya orang tersebut tahu sifat Paijo. Bara hanya memperhatikan saja. Siapa tahu dia bisa mendapatkan titik terang dari kalimat yang keluar dari salah satu dari mereka.
" Lagian kalian tidak percaya. Makanya ayo gue anterin ke rumah yang melihat penampakan tersebut.." Paijo sudah terlihat sedikit tenang.
" Mas, menurut berita yang saya dengar makamnya dibongkar ya. Yang hilang apanya.." Tanya Bara kemudian.
Mereka semua saling pandang. Kemudian mereka menggelengkan kepala secara bersamaan. Mereka semua tahu tentang berita tersebut. Namun mereka tidak tahu apa yang hilang dari jenazah Arin. Bahkan ada diantara mereka yang ikut membongkar makam tersebut.
" Bahkan jenazah tersebut masih dalam keadaan seperti semula. Makanya saya heran apa maksud dari si pembongkar makam dan berita belakangan yang tersebar sangat menyeramkan. Apa benar arwah almarhumah putri pak Yanto menjadi gentayangan..." Ucap salah satu dari mereka membuat mereka yang ada di warung terdiam.
" Kalian masih ragu dengan berita itu. Kan gue sudah bilang ayo gue antar ke rumah orang yang melihat arwah gentayangan itu..." Paijo terlihat emosi lagi. Dia sudah berdiri. Siap untuk keluar warung.
" Iya mas, saya percaya.." Ucap Bara pada akhirnya. Dia mengalah karena dia juga mengalaminya. Namun dia belum bisa menemukan satu kalimat pun yang bisa menjadi kunci dari semua pertanyaan yang ada di dalam kepalanya.
Akhirnya Bara memutuskan pulang setelah dipaksa untuk membayar semua makanan yang dimakan Paijo. Untuk tidak banyak. Bukan tidak mau membayarkan, namun karena tidak mendapatkan yang dia inginkan yang membuat Bara kesal.
Padahal tadi pagi dia jelas sekali mendengar ucapan Paijo bersama temannya. Mungkin Bara harus mengancam Paijo, namun dengan alasan apa, Bara belum mendapatkan alasan itu. Mungkin Bara harus lebih bersabar lagi.
Bara menjalankan motornya dengan cepat. Jajanan ibukota hari Minggu ini, tidak terlalu padat. Dia bisa dengan cepat sampai di rumah. Bara ingin segera berendam. Kata-kata Paijo tadi telah membuat darahnya mendidih. Begitu kasar menghina Arin. Tentu saja Bara tidak rela. Arin dihina dan dicaci.
Setelah memasukkan motornya ke garasi dan meletakkan jambu di meja makan, bergegas Bara masuk ke kamar dan segera berendam. Sambil berendam dia memikirkan langkah selanjutnya. Dia harus sesegera mungkin bisa menarik kesimpulan dari kejadian demi kejadian yang dialaminya dan teman-temannya.
" Sepertinya harus segera bertindak, mungkin ke rumah sakit dulu.. Di sana sepertinya yang pertama kali harus diselidiki." Gumam Bara. Dia berbicara sendiri. Kepalanya terasa berdenyut memikirkan yang terjadi.
Tok... Tok... Tok..
Terdengar pintu kamar Bara diketuk. Namun bara tidak mendengar. Dia sedang asyik melamun. Dia sedang merelaksasi tubuhnya. Yang terasa lelah.
Tok... tok... Tok.
" Bara, nak ... Bara.. kamu sudah pulang.."
Terdengar suara Hary memanggil sang putra. Namun tidak ada jawaban. Hary membuka pintu. Dia melihat lamar kosong. Hary tahu kalau Bara sudah pulang. Makanya dia menyusul ke kamar.
Hary melangkah masuk. Kali ini dia ingin bertemu Bara untuk bercerita tentang suatu hal yang penting. Maka dari itu dia tadi mengejar Bara ketika melihat Bara pulang. Namun dia malah tidak menemukan Bara di dalam kamar.
Tak lama kemudian terdengar pintu kamar mandi terbuka. Terlihat Bara keluar dari kamar mandi masih berbalut dengan handuk. Bara terkejut saat melihat sang Papa sedang duduk sambil menatap ke satu arah seperti melihat sesuatu.
" Pa... Ada apa..."
Hary tidak mendengar panggilan Bara. Hary masih terlihat melamun. Dia seperti sedang fokus melihat sesuatu.
"Pa.... Pa.. Papa kenapa...?"
" Astaghfirullah..."
Hary terkejut. Dia menoleh ke arah Bara. Hary menarik nafas panjang.
" Papa ada apa kemari...?" Tanya Bara sambil memakai baju dan celana.
" Papa ingin berbincang sebentar ada yang mau papa ceritakan ke kamu.. "
" Sebentar Bara sholat dzuhur dulu..Papa tunggu ya..."
" Baiklah nak, .."
Bara menggelar sajadah dan memulai melaksanakan sholat Dzuhur. Setelah selesai sholat Bara melihat sang papa tertidur pulas. Padahal dia hanya sholat selama sepuluh menit. Ternyata sang papa terlihat sudah pulas.
Bara menyusul sang papa merebahkan tubuhnya. Dia juga merasa capek dan lelah. Tidak lama kemudian terlihat nafasnya sudah teratur. Mereka berdua tidur dengan nyenyak siang itu.
Bersambung
Tertunda lagi ceritanya. Kapan dong papa Hary bercerita.
Nanti ya setelah bangun tidur. Kasian kalau mereka dibangunin..
Terima kasih untuk yang sudah mampir. Love untuk kalian ❤️❤️❤️
bakalan cerita ga ni si Ran😵😵
eh eta penunggu pohon jambunya mulai nongolin diiri yaa 🙈🙈hiii ko seremm🏃♀🏃♀
terimakasih sudah menghadirkan cerita ini sukses terus oyys.
di tunggu novel berikutnya